Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
114


Mike berusaha mengumpulkan kesadarannya dari rasa tidak percaya setelah mendengar ucapan Johan. Dia menatap Johan dalam, mencari kebenaran ucapan lelaki itu lewat sorot matanya. Di saat dirinya melihat Johan tersenyum simpul dengan diiringi anggukan, membuat Mike akhirnya percaya.


"Saya tidak percaya dengan apa yang kudengar, Tuan." Mike menggaruk rambut secara pelan.


"Aku serius, Mike." Johan bicara dengan begitu tegas.


"Tuan ... kenapa Anda tidak mencari lelaki lain yang lebih pantas bersanding dengan Nona Muda? Saya tidak pantas, Tuan." Suara Mike terdengar melirih.


"Siapa yang bilang tidak pantas? Kamu justru sangat pantas untuk Cacha," ucap Johan tanpa mengalihkan pandangan dari anak buah kesayangannya.


"Tuan, saya ini hanya anak buah Anda, bukan seorang presiden direktur atau sejenisnya. Apalagi usia kami yang terpaut sangat jauh," tutur Mike. Sebelum dirinya merasakan kebahagiaan karena Johan memilihnya, Mike sudah sadar diri terlebih dahulu.


Seberapa besar pun rasa cinta untuk Cacha, Mike berusaha sadar diri kalau mereka sangat berbeda.


"Mike, aku mencari lelaki yang mampu menjaga putriku dengan segenap jiwa dan raganya. Mencintainya dengan sangat tulus, dan aku menemukan pada dirimu. Aku tidak peduli meski kamu hanyalah seorang anak buah. Karena lelaki yang bertanggung jawab, itu yang lebih penting bagiku." Nada bicara Johan terdengar sangat tegas.


"Besok aku akan ke Bandung dan menemui Cacha. Aku tidak mau berlama-lama mereka bersandiwara, sebelum semua terlambat, kita harus menghentikannya!" kata Johan. Mike tidak menjawab apa pun, karena hatinya masih merasa begitu bimbang.


"Sekarang pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah, Mike," suruh Johan.


"Baik, Tuan." Mike sedikit membungkuk hormat, lalu berpamitan pergi dari ruangan itu.


Setelah pintu ruangan itu tertutup, Johan menghela napas panjang. Namun, tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka dan Mila terlihat masuk ke ruangan dengan langkah tegas.


"Kenapa, Mil?" tanya Johan, memandang Mila dengan sangat lekat.


"Kamu bicara apa dengan Mike, Mas? Kok kelihatannya serius sekali." Mila bertanya balik. Dengan percaya diri, Mila duduk di pangkuan Johan, melingkarkan kedua tangan di leher lelaki itu.


"Apa?" pekik Mila tidak percaya, kedua mata wanita itu bahkan terlihat melebar dengan sangat sempurna. "Kamu yang benar saja, Mas." Mila menurunkan tangannya.


"Aku benar, Mil!" sahut Johan tegas. Mila menghembuskan napas secara kasar.


"Mas, kenapa kamu ingin menjodohkan mereka. Aku lihat Cacha lebih cocok dengan Rendra." Mila beranjak bangun dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kita belum tahu siapa dan bagaimana Rendra. Walaupun aku yakin Rendra lelaki yang baik, tapi aku tidak yakin dia bisa membuat Cacha bahagia." Johan kembali menghela napas panjangnya.


"Tapi aku lebih setuju kalau Cacha bersama Rendra!" seru Mila. Wanita itu bangkit dari duduk, lalu berdiri di samping Johan dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Kenapa? Bilang saja kamu setuju karena Rendra masih muda dan tampan!" Johan tersenyum sinis. Mila terdiam, entah mengapa dia merasa tersindir dengan ucapan suaminya.


"Bukan karena itu, Mas! Tapi aku ini seorang wanita! Aku ini seorang ibu yang ingin anaknya hidup bahagia, bukan dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai!" teriak Mila. Raut wajahnya tampak begitu marah.


"Mil, cinta bisa ada karena terbiasa. Mike sangat mencintai Cacha dan aku yakin, lama-lama Cacha bisa mencintai Mike." Johan masih berusaha meredam emosinya.


"Kenapa kamu seyakin itu, Mas? Kalau ternyata Cacha tidak bahagia, bagaimana? Itu artinya kamu yang menyakiti hati putrimu sendiri!" sergah Mila.


"Aku tahu yang terbaik untuk putriku!" Johan beranjak bangkit. Sebelum emosi nya naik ke ubun-ubun. Lelaki itu, memilih pergi dari ruangan tersebut. Namun, ketika berjalan melewati istrinya, dengan gerakan cepat Mila menahan tangan suaminya.


"Apa kamu yakin itu terbaik untuk Cacha?" tanya Mila menurunkan suaranya.


"Mil, aku ini seorang ayah yang menginginkan terbaik untuk putri kita satu-satunya. Aku tidak mau Cacha menjalani hubungan dengan lelaki yang pengecut!" tandas Johan. Dada lelaki itu terlihat naik turun, dengan napas memburu. Hatinya sudah dipenuhi amarah yang coba dia redam agar tidak meluap.


"Maksud kamu?" tanya Mila belum paham.