Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
277


Ara mencoba tidak peduli pada ucapan mereka dan memilih pergi dari sana. Namun, dalam hati dia merasa tidak nyaman. Ara segera masuk ke lift dan menuju ke lantai teratas perusahaan itu. Dia tidak peduli setiap karyawan yang dia lewati menatap aneh kepadanya.


Sesampainya di depan ruangan, Ara mengetuk pintu tersebut dan selang beberapa saat kepala Leona terlihat menyembul saat pintu terbuka. Ara pun segera masuk bersama wanita itu.


"Kak, aku mau pergi dengan Bara daripada di sini aku jadi obat nyamuk." Leona berpamitan pergi. Ara dan Febian pun hanya mengiyakan saja.


"Kamu masak apa?" tanya Febian setelah pintu ruangan tertutup rapat.


"Ayam goreng, sambal cabai hijau dan sayur sop. Kamu suka?" tanya balik Ara.


"Tentu saja. Aku rindu sekali masakan seperti ini." Febian mengajak Ara duduk di sofa. Dengan telaten Ara mengambilkan nasi beserta yang lain lalu menyerahkan kepada suaminya.


"Kamu tidak makan?" tanya Febian saat melihat hanya ada satu rantang nasi.


"Aku sudah makan sewaktu mau ke sini. Makanlah, Mas." Ara menyuruh dengan pelan.


"Biar aku menyuapimu." Febian mengarahkan nasi ke mulut Ara, tetapi wanita itu langsung menjauhkan wajahnya.


"Aku masih kenyang, Mas." Ara menolak keras, tetapi Febian tetap saja mengarahkan sendok ke mulut istrinya. Dengan terpaksa Ara membuka mulut dan mereka pun akhirnya saling menyuapi.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Febian saat melihat Ara sedang membereskan rantang yang telah kosong.


"Iya," sahut Ara singkat. Febian menggeser duduknya hingga berdempelan dengan istrinya, lalu dia pun merangkul pundak wanita itu.


"Padahal aku masih ingin ditemani." Febian berkata lembut sembari mendaratkan sebuah kecupan di pipi istrinya.


"Mas, ingat kamu ini lagi kerja, aku tidak mau mengganggu konsentrasimu," tolak Ara. Namun, Febian justru terkekeh seolah tanpa dosa.


"Kamu sama sekali tidak mengganggu." Dengan gerakan perlahan, Febian menyisipkan anak rambut Ara yang tergerai ke belakang telinga. Wajah Ara terlihat merona saat tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.


Saking gemasnya, Febian pun mencium bibir Ara dengan begitu lembut, dan tangannya berada di pinggang sang istri. Ara pun mulai membalas permainan lidah Febian. Karena setiap malam mereka melakukan itu, membuat Ara dan Febian menjadi sedikit lebih ahli.


Febian menyuruh Ara untuk duduk di pangkuannya. Awalnya wanita itu menolak, tetapi dengan sedikit paksaan Ara pun duduk cantik di atas paha Febian. Kedua tangan Febian menangkup pipi Ara lalu dia kembali mencium lembut bibir Ara. Tubuh Febian terasa memanas saat ciuman itu semakin lama terasa menuntut. Ara tak kuasa menahan desah*n saat bibir Febian sudah mulai menyapu seluruh bagian lehernya hingga membuat seluruh tubuh terasa meremang. Dia juga merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.


Sembari menciumi leher istirnya, Febian menyingkap kaos yang dikenakan wanita itu untuk mengeluarkan dua bukit kembar yang sudah menjadi mainannya saat ini. Febian bergantian menyesap cocho chip sebelah kanan dan kiri, sedangkan Ara merem*s rambut Febian saat merasakan gelayar aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Namun, di saat sedang asyik dengan aktivitasnya, ponsel Febian yang berada di saku celana terasa bergetar. Kegiatan itu pun terhenti seketika dan Febian menggeram karena merasa terganggu. Tanpa menyuruh Ara untuk turun, Febian mengambil benda yang terus saja bergetar sejak tadi. Dia kembali menggeram saat melihat nama Leona tertera di layar.


"Ada apa, Le?" tanya Febian setengah membentak.


Ucapan Leona membuat Febian menepuk keningnya karena melupakan sesuatu. Lelaki itu pun hanya mengiyakan.


"Jangan lupa satu jam lagi kita ada rapat." Leona mengingatkan. Febian kembali mengiyakan lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


Febian menyuruh Ara untuk turun sebentar karena dia akan mengunci pintu ruangan juga mematikan CCTV. Setelahnya, Febian mengajak Ara masuk ke kamar berukuran kecil yang berada di ruangan itu. Kamar itu biasanya terpakai saat Febian sedang lembur daripada dia harus kembali ke apartemen. Sesampainya di dalam kamar, Febian pun kembali melakukan pemanasan untuk kembali menaikkan hasrat mereka. Sampai pada akhirnya percintaan panas mereka pun terjadi hampir satu jam.


Seusai bercinta, Ara segera mandi keramas karena tubuhnya terasa sangat lengket. Begitu selesai membersihkan diri, keningnya mengerut saat melihat sebuah gaun tergeletak di atas tempat tidur.


"Ini baju siapa, Mas?" tanya Ara.


"Itu dulu baju Jasmin waktu dia masih bekerja sebagai sekretarisku." Febian sibuk mengambil handuk di lemari sampai tidak menyadari kalau wajah Ara sudah berubah sendu.


"Aku pakai baju yang tadi saja, Mas. Masih bersih, kok." Ara meletakkan gaun itu lagi, lalu memunguti pakaiannya yang masih tercecer di lantai.


"Kenapa? Bajumu sudah kotor." Febian berbalik dan melihat Ara yang sedang memakai dalaman.


"Aku takut dimarahi pemiliknya karena tidak meminta izin terlebih dahulu." Ara memalingkan wajah saat mengetahui Febian menatapnya. Dia berusaha untuk menahan perasaan yang terasa bergejolak dalam dada.


"Tidak akan ada yang marah. Jasmin sudah pergi." Febian berjalan mendekati Ara lalu menangkup wajah wanita itu dan menelisiknya.


"Kamu marah?" tanya Febian saat melihat Ara yang terus saja berusaha menghindar.


"Aku tidak berhak marah, Mas." Ara tersenyum, tetapi Febian melihat kedua mata istrinya yang mulai basah. "Aku hanya tidak mau memakai barang milik orang lain sebelum meminta izin kepada pemiliknya langsung."


Febian menarik Ara masuk dalam dekapannya. Kemudian, dia mencium puncak kepala Ara dengan lama, sedangkan wanita itu hanya bisa dia memejamkan mata.


"Maafkan aku," ucap Febian lirih.


"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Ara dengan suara bergetar menahan tangis.


"Karena aku sudah menyakiti hatimu." Febian memejamkan mata saat rasa sesal mendatangi hati.


"Kamu tenang saja. Aku baik-baik saja, Mas. Bukankah semua orang pasti memiliki masa lalu. Apalagi masa lalu yang indah pasti sulit untuk dilupakan." Ara berusaha melerai pelukan Febian, tetapi lelaki itu justru semakin mengeratkan.


"Mas, bersihkan dirimu. Bukankah setelah ini kamu ada rapat? Biar aku carikan baju ganti untukmu." Ara melerai pelukan itu dengan sedikit paksa. Febian pun hanya menurut dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Ara memakai kembali pakaiannya sebelum mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


Ara menatap nanar sederetan gaun di dalam almari pakaian sisi kiri. Tanpa sadar air mata mengalir saat dirinya merasakan aliran darahnya berdesir hebat dan juga hatinya mencelos sakit. Dia tidak menyangka kalau Febian masih menyimpan baju ganti milik Jasmin padahal lelaki itu sudah putus dengan mantan kekasihnya padahal sudah putus bertahun-tahun lalu.