
Nathan menggenggam erat tangan Nadira saat wanita itu sedang mengejan untuk melahirkan bayi mereka. Ini bukan pertama kali Nadira lahiran, tetapi dia tetap merasa tidak tega melihat istrinya yang begitu kesakitan.
"Semangat, Beb. Aku yakin kamu pasti bisa." Nathan berusaha memberi kekuatan, dan di saat bayi itu lahir, Dokter Angel langsung kalang kabut karena sama sekali tidak terdengar suara tangisan bayi.
Bahkan perawat yang ikut membantu juga kelimpungan mencoba menolong bayi itu. Nadira tak kuasa menahan air mata saat melihat bayi itu yang masih saja terpejam, sedangkan Dokter Angel masih berusaha untuk menangani. Bayi merah itu dibalik dengan posisi kepala di bawah, Dokter Angel memberi usapan di punggung supaya bayi itu bisa menangis.
"Ayo, Sayang. Menangislah." Dokter Angel masih berusaha menolong.
"Mas." Nadira menatap suaminya, terlihat air mata yang sudah memenuhi wajahnya. Nathan pun tak kuasa menahan air mata, tetapi dengan cepat dia menghapusnya.
"Aku yakin bayi kita pasti baik-baik saja." Nathan berusaha meyakinkan meski hatinya merasa sangat gelisah. Mereka membiarkan Dokter Angel yang sedang berusaha membuat bayi itu menangis.
"Menangis, Sayang. Mami dan Papi ingin mendengar tangisanmu." Dokter Angel menepuk punggung bayi itu dan sesekali mengusapnya.
"Jangan menangis. Kamu harus jadi mami yang kuat supaya bayi kita kuat." Nathan berusaha menguatkan.
Benar saja, selang beberapa saat bayi itu mulai mengeluarkan suara. Nathan dan Nadira sedikit bernapas lega. Setelah dilakukan penanganan lagi, akhirnya bayi itu menangis dengan kencang.
Nathan mencium kening istrinya dengan lama untuk menyalurkan kekuatan bagi wanita itu. "Lihatlah, bukankah putri kita adalah anak yang kuat seperti maminya," puji Nathan. Nadira menghapus air mata yang masih memenuhi wajah cantiknya.
"Syukurlah. Nona." Dokter Angel tersenyum penuh kelegaan lalu mengeluarkan plasenta yang masih berada di dalam. Hampir satu jam berlalu, ibu dan bayi sudah bersih. Taklupa Nathan mengadzani putrinya tersebut, lalu menyuruh Mila dan Johan untuk masuk melihat cucu mereka.
"Cantik sekali." Mila menatap cucunya lekat. Bayi mungil yang saat ini berada di box bayi. Mata beningnya mampu membuat kebahagiaan untuk keluarga Alexander maupun Saputra.
"Selamat, Nat. Akhirnya lengkap sudah anak kalian. Putra-putri." Rona kebahagiaan terlihat jelas dari wajah lelaki paruh baya itu.
"Terima kasih banyak, Yah. Mungkin kita hanya bisa memberi kalian dua cucu," ucap Nathan. Langsung disambut tatapan penuh tanya dari kedua orang tuanya.
"Kenapa begitu?" selidik Mila.
"Aku tidak mau melihat Nadira kesakitan lagi. Jadi, bagiku dua anak cukup." Suara Nathan terdengar begitu meyakinkan. Nadira pun hanya mengiyakan saja. Johan dan Mila pun hanya mengikuti keputusan anaknya. Karena mereka tidak akan memaksa anak-anaknya.
"Keponakanku sudah lahir?" Alvino yang baru saja masuk berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Lihatlah, Al. Betapa cantiknya putriku." Nathan menepuk dada tanda bangga.
"Aku tahu kalau putrimu cantik karena maminya cantik. Keturunan Alexander memang luar biasa."
Alvino mengembuskan napas kasar mendengar jawaban adik ipar yang terasa sangat menyebalkan baginya. Alvino memilih menatap keponakan barunya yang cantik dan putih bersih.
"Sudahlah, kenapa kalian selalu saja bertengkar?" ucap Mila diiringi gelengan kepala.
"Nathan yang selalu saja menyebalkan, Aunty." Alvino menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari keponakan barunya. Nathan hendak menimpali, tetapi Johan langsung menahan lelaki itu supaya tidak berbicara.
"Oh iya, Nat. Siapa nama putri cantik kalian?" tanya Johan mengalihkan pembicaraan.
"Citra Mariana Alexa Saputri."
"Bagus juga namanya," puji Alvino tanpa sadar.
"Iya, dong. Babang Nathan gitu." Nathan menepuk dada untuk menyombongkan diri. Alvino yang melihatnya hanya memutar bola mata malas.
"Kamu tahu, Al. Nama ini begitu melekat di hati dan terngiang-ngiang di otakku," ucap Nathan.
"Kenapa begitu?" tanya Alvino penasaran.
"Ciee, kepo nih," ledek Nathan.
"Mas, sudahlah. Kenapa kalian selalu saja seperti ini." Nadira berusaha melerai.
"Biar mereka tahu, Beb." Nathan mencium pipi Nadira dengan penuh kasih sayang.
"Jadi, gini ya. Nama putriku itu aku ambil dari nama tante yang setia menemaniku selama Nadira hamil. Aku tidak akan menjadi manusia yang lupa oleh jasa mereka yang sudah menemaniku sukses sampai pelepasan."
Jawaban Nathan membuat mereka semua melongo, terkecuali Nadira yang hanya menghela napas panjangnya. Johan mengusap dada untuk menyabarkan diri mempunyai putra seperti itu, sedangkan Mila menepuk pundak putranya tanda bangga. Lain lagi dengan Alvino yang rasanya ingin menutup mulut lelaki itu dengan lakban.
"Ngeliriknya biasa aja, dong, Al." Nathan terkekeh saat sorot mata Alvino justru menajam.
"Dasar Kaleng Rombeng!" umpat Alvino kesal.
"Biarpun Kaleng Rombeng gini, adikmu termehek-mehek loh, Al, sama aku." Nathan tergelak keras melihat wajah kesal kakak iparnya.