
Alvino, Mila dan Rania bernapas lega karena Nadira bersedia menikah dengan Nathan meski terlihat jelas kebimbangan di raut wajah gadis itu. Mereka pun bersiap menuju ke rumah sakit untuk melangsungkan ijab kabul. Semua seolah sudah terencana dengan baik. Johan sudah memanggil penghulu dan meminta dua orang anak buahnya untuk menjadi saksi.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Nadira hanya membisu sembari menatap ke luar jendela. Dia berusaha memantapkan hatinya dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Mila yang duduk di sebelah Nadira, tidak sedikit pun melepas tangannya yang menggenggam tangan Nadira. Seolah memberi kekuatan untuk gadis itu. Setibanya di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruangan di mana Davin dan Aluna di rawat. Atas permintaan Johan, mereka berdua dipindah ke ruang VVIP dan ditidurkan dalam satu tempat tidur.
Nadira yang baru memasuki ruangan itu, memelankan langkahnya saat melihat Nathan yang sedang duduk di sofa, hanya menatap sekilas ke arahnya. Lalu memalingkan wajah menghindarinya. Nadira meremas ujung baju yang dikenakannya saat merasakan hatinya berdenyut sakit. Dia tahu pasti Nathan sangat terpaksa menerima pernikahan ini. Nadira menghela napas kasar, lalu berjalan semakin mendekat.
"Nona Muda, apa Anda sudah siap?" tanya Johan sedikit membungkuk. Nadira tidak langsung menjawab, dia hanya menatap gerak-gerik Nathan yang bangkit dari sofa.
"Su-sudah Uncle." Nadira begitu gugup. Apalagi saat Nathan sudah berdiri di depannya. Wajah Nathan benar-benar terlihat dingin. Tidak sedikit pun senyum yang terlihat di bibir lelaki itu.
"Sebelum kita memulai ijab kabul, saya ingin mengatakan kalau pernikahan kalian ini sangat rahasia. Jangan sampai ada seorang pun yang tahu selain kita semua yang berada di ruangan ini," tutur Johan. Mereka mengangguk paham, tapi tidak dengan Nadira.
"Anda tenang saja, Nona. Walaupun pernikahan ini dilakukan secara diam-diam, tetapi pernikahan kalian ini adalah pernikahan resmi baik di mata agama maupun negara," jelas Johan.
Tepat ketika acara ijab kabul akan dilangsungkan, Ardian dan keluarganya datang. Mereka langsung bergabung karena sebelumnya Alvino sudah mengabari kepada om-nya itu. Marvel juga hadir di sana untuk melihat secara langsung pernikahan keponakannya.
Nathan dan Nadira duduk di samping Davin dan Aluna. Airmata Nadira menetes saat melihat kedua orang tuanya yang tidak sekalipun membuka mata. Ini terasa sungguh berat untuknya. Nathan hanya diam, bahkan tidak menatap wajah gadis itu sama sekali. Namun, tangan Nathan menggenggam erat tangan Nadira, membuat tubuh gadis itu menegang seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang bahkan rasanya seperti hampir meledak. Dia mendongak, menatap Nathan yang masih saja tidak menatapnya.
Nadira tersenyum getir saat menatap genggaman tangan mereka. Harusnya dia tidak berharap terlalu lebih. Nadira pun menghela napas panjang. Batinnya begitu bergejolak saat ini, tetapi berusaha tetap terlihat tenang.
"Pak Penghulu, saya Johan Saputra sebagai perwakilan dari Tuan Davino Alexander yang sekarang sedang koma, meminta dengan sungguh kepada Anda untuk bersedia menikahkan Nona muda Elvina Nadira Alexander dengan Jonathan Saputra dengan maskawin seperangkat alat sholat, perhiasan seberat duapuluh gram, uang tunai sebanyak dua milyar dan sebuah rumah di Bandung dibayar tunai," kata Johan. Nadira tertegun mendengar maskawin yang diucapkan Johan. Pernikahan mereka hanya dilakukan secara diam-diam, tapi kenapa maskawinnya sebanyak itu?
"Baik, Tuan. Saya bersedia menikahkan Nona Muda Elvina Nadira Alexander dengan Jonathan Saputra dengan maskawin tersebut," balas Pak Penghulu.
Pak Penghulu menjabat tangan Nathan untuk memulai akad nikah. Nadira hanya menunduk dan pasrah. Dia berharap semua ini tidaklah salah. Tangan kanan Nathan menjabat penghulu itu, sedangkan tangan kirinya masih menggenggam erat tangan Nadira.
"Saya terima nikah dan kawinnya Elvina Nadira Alexander binti Davino Alexander dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" sahut Nathan dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Saat Pak Penghulu itu membacakan doa, barulah Nathan melepas tangannya. Dia lalu membaca sighat taklik. Cacha mendekati Nadira yang terlihat mengusap airmatanya.
"Jangan menangis, Nad." Cacha mengusap bahu sahabat yang baru resmi menjadi kakak iparnya.
"Cha, aku menangis karena melihat daddy dan mommy menangis. Lihatlah." Mereka melihat wajah Davin dan Aluna dan memang benar, ada setitik airmata di sudut mata kedua orang itu.
__________________________________________
Alhamdulillah Sah ya Nathan dan Nadira.
Semoga rumah tangga kalian baik-baik saja.
Hayukkk jangan lupa, kasih like komen, vote dan hadiah sebagai kado pernikahan mereka.
Eitsss, kasih vote karya juga ya karena NN juga ikut lomba loh
Yuk vote sebanyak-banyaknya.