Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
65


"Nad," panggil Cacha saat membuka pintu ruangan. Dia masuk diiringi Rendra dan Mike di belakangnya.


"Kamu sudah selesai, Cha?" tanya Nadira. Cacha mendudukkan tubuhnya di samping Nadira. Gadis itu mengangguk mengiyakan.


"Ada yang mau omongin sama kamu," kata Cacha lesu.


"Apa?" Nadira menatap Cacha dengan penasaran.


"Jangan di sini. Bahaya. Kita keluar aja, Yuk." Cacha menarik lengan Nadira untuk mengajaknya keluar ruangan.


"Lepaskan tanganmu, Cha!" Suara Nathan menggelegar memenuhi ruangan itu.


"Emang kenapa sih, Kak? Lagian Kakak enggak inget siapa Nadira 'kan?" Cacha mencebik ke arah Nathan.


"Mana mungkin Kakak melupakan istri Kakak sendiri, Cha!" Nathan bicara dengan sangat ketus.


"Lah, tadi katanya amnesia. Emang Kak Nathan ini tidak berpendirian teguh," balas Cacha. Alvino menatap Cacha dan Nathan bergantian karena dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


"Ini maksudnya apa, Nat?" Alvino menatap menyelidik. Nathan menghela napas panjangnya.


"Nggak papa, Al." Nathan menjawab sekenanya.


"Kamu yakin?" Alvino beranjak bangun dan berjalan mendekati brankar. Nathan menelan saliva nya susah payah saat melihat sorot mata Alvino yang semakin menajam.


"Al, dengerin penjelasan aku dulu," ucap Nathan penuh memohon saat Alvino sudah berdiri di dekatnya dengan bersidekap. Sementara yang lain hanya menatap dua orang itu.


"Aku kasih waktu dua menit!" ucap Alvino tegas.


"Kamu yang benar saja, Al!" timpal Nathan tak terima. Bibirnya mengerucut karena kesal.


"Waktumu tinggal satu menit limapuluh detik!" Alvino tidak peduli pada Nathan yang merajuk.


Nathan menghembuskan napas kasar. "Baiklah, maafkan aku, Al. Aku berpura-pura lupa Nadira buat ngetes dia doang, Al. Eh bukan pura-pura, tapi aku emang lupa tapi cuman sesaat," tutur Nathan.


"Alesan!" seru Alvino masih dengan sorot mata tajam.


"Kalau begitu aku juga akan ngetes cinta kamu untuk Nadira. Selama seminggu ke depan kamu enggak boleh ketemu Nadira." Kedua mata Nathan membola sempurna mendengar perkataan Alvino.


"Al, kamu yang bener aja!" sentak Nathan tak terima, tapi dia langsung menunjukkan tanda piece saat tatapan Alvino semakin menajam. "Al, aku baru aja baikan sama Nadira, masa udah mau pisahan lagi," rengek Nathan, tapi Alvino tidak peduli.


"Kak ...."


"Ayo kita pulang, Nad." Alvino memotong ucapan Nadira begitu saja. Nadira berjalan mendekat hendak kembali protes, tapi Alvino langsung menyambut Nadira dengan rangkulan dan mengajaknya pergi dari sana diikuti Kenan di belakang.


"Al! Istriku itu, Al!" teriak Nathan. Alvino tidak peduli, dia tetap berjalan keluar ruangan itu. Nathan menggeram kesal.


Setelah pintu ruangan tertutup, Cacha berjalan mendekati Nathan dan duduk di sampingnya. Nathan menatap adiknya dengan sebal.


"Gara-gara kamu sih, Cha! Pakai bilang Kakak ngelupain Nadira. Jadi gini 'kan!" omel Nathan. Bukannya takut, Cacha malah tertawa keras.


"Lah, mana aku tahu kalau Kakak pura-pura. Ya udah sih, Kakak sabar aja. Satu minggu doang 'kan?" tanya Cacha meledek. Nathan mendengus kasar saat mendengar Cacha tertawa.


"Enak banget kamu kalau ngomong. Kakak ini baru aja baikan, Cha. Harusnya Kakak bisa mesra-mesraan sama Nadira." Nathan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Ada untungnya juga kamu dipisah sama El, Nad." Rendra yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara dan duduk di sofa.


"Emang kenapa?" tanya Nathan ketus.


"Karena biasanya, tanggal-tanggal segini waktunya El datang bulan," sahut Rendra santai. Mereka bertiga menatap Rendra dengan mata terbuka lebar.


"Mas! Kamu tahu tanggal Nadira datang bulan?" Cacha berusaha memastikan. Rendra mengangguk mengiyakan, sedangkan Nathan mengepalkan tangannya.


"Ren, kenapa kamu bisa tahu Nadira sedetail itu?" tanya Nathan dengan curiga.


Rendra tergelak keras melihat Nathan yang seperti hendak melahap habis dirinya. "Jangan curiga dulu, Nat. El biasanya sekitar tanggal segini minta cuti karena dia mengalami PMS," terang Rendra.


"Apa benar, Cha?" Kali ini Nathan beralih menatap adiknya, dia yakin kalau Cacha pasti tahu soal Nadira. Cacha mengangguk mengiyakan, tapi tatapan matanya menatap Rendra penuh selidik. Dia curiga kenapa Rendra bisa tahu Nadira dengan sangat mendetail. Rendra memalingkan wajahnya saat tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Cacha.