Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
130


Setelah mendengar kabar kalau Rendra akan melamar Cacha membuat hati Anisa gelisah tidak menentu. Bahkan selama mengobrol dengan orang tua Rendra, gadis itu terlihat begitu memaksakan senyumnya.


Malam hampir larut, Anisa berpamitan pulang. Kebetulan jarak rumah kontrakannya dengan rumah Rendra tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit jika menggunakan sepeda motor.


"Biar aku antar, Nis." Rendra beranjak bangkit dan mengambil kunci mobilnya.


"Tidak usah, Mas. Aku bawa motor, kok," tolak Anisa.


"Motormu biar di sini saja. Besok pagi biar diantar Mario ke rumahmu." Rendra berjalan keluar.


"Tapi, Mas ...."


"Sudahlah, Nis. Biar kamu diantar Rendra saja. Sudah malam, tidak baik anak gadis malam-malam sendirian," kata Bastian.


Akhirnya, mau tidak mau Anisa pulang diantar Rendra menggunakan mobil. Rendra sengaja melajukan mobilnya dengan perlahan karena dia ingin bersama Anisa lebih lama lagi. Namun, sedari tadi gadis itu hanya duduk diam dengan menatap keluar jendela.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Rendra memecah keheningan di dalam mobil.


"Tidak apa, Mas. Memang apa yang mau kita bicarakan?" tanya Anisa. Dia menoleh dan menatap Rendra dari samping.


Wajah Rendra yang begitu tampan sungguh membuatnya jatuh cinta. Sebenarnya, Anisa sudah kagum dengan lelaki itu sejak dulu. Sejak dirinya masih kecil dan dekil. Namun, dia hanya memendam karena dia terlalu minder hingga semakin dewasa, Anisa bertekad mengubah penampilannya demi memikat hati lelaki itu, tapi sayang sekali ... sepertinya mereka tidak berjodoh.


Anisa duduk bersandar dan menghirup napas dalam untuk sedikit mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.


"Mas, selamat ya," kata itu akhirnya terucap dari mulut Anisa.


"Selamat? Untuk?" tanya Rendra dengan kening mengerut. Dia menoleh ke arah Anisa sekilas, lalu kembali menatap jalanan di depannya.


"Kamu akan melamar Nona Cacha, 'kan? Semoga acaranya berjalan lancar." Suara Anisa terdengar begitu berat.


"Dari mana kamu tahu?" Rendra menatap Anisa lagi, tapi kali ini sedikit lama dari tatapan yang tadi. Rendra bisa melihat wajah Anisa yang tampak sendu. Jujur, Rendra merasa sangat tidak enak hati dengan gadis itu.


"Dari Nyonya Nirmala. Kata beliau, besok kalian akan ke Jakarta untuk melamar Nona Cacha," jelas Anisa, kembali tersenyum paksa. Rendra benar-benar merasa tidak nyaman. Dia tahu kalau gadis itu pasti terluka sekarang.


"Mas! Awas!" Rendra membating setir kemudi ke kiri untuk menghindari mobil dari arah depan, karena tanpa sadar dirinya melewati lajur sebelah. Ketika sudah berhasil menghentikan mobilnya, Rendra langsung menarik tubuh Anisa dan mendekapnya erat.


Jantung Rendra terasa berdebar begitu kencang, Anisa pun merasakan hal yang sama. Tubuh Anisa terlihat gemetar ketakutan. "Kamu baik-baik saja?" tanya Rendra khawatir, tanpa melepaskan pelukannya.


Tiba-tiba Rendra merasa seperti dejavu. Berusaha mengingat kejadian yang sepertinya pernah dia alami. Ah iya! Ini terjadi saat dia sedang bersama Cacha. Kejadian ini sama persis seperti yang dia alami saat itu.


Rendra melerai pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Anisa. Dia bisa melihat raut wajah Anisa yang tampak ketakutan, bahkan bibir gadis itu terlihat bergetar.


Tanpa bicara, Rendra meraup bibir itu dan menciumnya dengan sangat lembut. Tubuh Anisa menegang dengan apa yang Rendra lakukan. Ini adalah ciuman pertamanya, dan Rendra pun juga.


Awalnya Rendra sengaja mencium bibir gadis itu hanya untuk memenangkannya saja. Namun, merasakan bibir Anisa yang begitu manis, membuat Rendra menjadi candu. Dengan perlahan dia ******* bibir itu. Memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulut Anisa untuk mengakses seluruh rongga mulut gadis itu.


Anisa yang tadinya hanya diam, kini mulai membalas ciuman itu walau masih begitu kaku. Dia pun ikut terbuai. Namun, tiba-tiba ponsel Rendra terdengar berdering dan menghentikan kegiatan mereka.


"Maafkan aku, Nis." Rendra menatap dalam netra milik Anisa sebelum dirinya mengangkat panggilan itu. Anisa hanya terdiam, tidak menjawab sama sekali.


"Hallo, Cha. Kamu belum tidur?" tanya Rendra dengan lembut. Anisa terdiam, hatinya terasa berdesir sakit. Dia memalingkan wajahnya tidak berani menatap Rendra.


"Kamu sedang apa, Mas?"


"Aku lagi di jalan, habis ada keperluan di luar," sahut Rendra berbohong.


"Oh, aku cuma mau tanya. Besok Kamu jadi ke sini?"


"Jadi dong, Cha. Orang tuaku udah di sini semua dan besok sore kita akan langsung ke Jakarta, mungkin sekitar jam tujuh kita sampai di rumahmu, " jelas Rendra panjang lebar.


Hening. Karena tidak ada sahutan sama sekali dari seberang telepon. "Cha, kamu sudah siap 'kan?" tanya Rendra memecah keheningan.


"Sudah, Mas. Aku menunggumu."


"Baiklah, kalau begitu aku lanjutkan perjalananku dulu," kata Rendra dengan lembut.


"Baik, Mas. Hati-hati di jalan."


Setelah panggilan itu terputus, Rendra meletakkan ponselnya kembali. Kemudian, dia beralih menatap Anisa yang sedang terdiam dengan menatap keluar jendela lagi.


"Maafkan aku, Nis." Suara Rendra terdengar lirih. Dia merasa tidak enak hati dengan gadis itu, meski dalam hati dia ingin sekali mencium bibir manis itu lagi.


"Tidak apa, Mas. Anggap saja kita sedang khilaf. Aku ingin segera sampai rumah, Mas." Anisa memberi kode agar Rendra kembali melajukan mobilnya.


"Ah, maaf." Rendra pun kembali melajukan mobilnya dengan hati-hati. Dia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi.


***


Cacha menatap layar ponselnya setelah panggilannya dengan Rendra terputus. Jujur, hati Cacha masih merasa begitu ragu untuk menerima lamaran dari Rendra, tapi semua sudah terencana dengan matang, mau tidak mau Cacha akan menerima dan belajar mencintai Rendra.


Tiba-tiba Cacha teringat akan Mike, dan dia sangat merindukan lelaki itu. Sejak dari rumah sakit waktu itu, Mike benar-benar menghilang tanpa kabar bahkan tanpa berpamitan padanya sama sekali.


"Mungkinkah Mike benar-benar sudah pensiun? Tapi kenapa dia tidak berpamitan padaku," gumam Cacha. Hati gadis itu merasa begitu kecewa.


Tanpa sadar, Cacha meggulir layar ponselnya dan mencari kontak nama Mike. Awalnya dia akan melakukan panggilan suara, tapi karena sudah malam dia takut mengganggu istirahat lelaki itu.


Akhirnya, Cacha membuka salah satu applikasi chat. Dia akan mengirim pesan untuk lelaki itu, tapi sebelum mengetik pesan, perhatiannya teralihkan pada story yang dibuat Mike sekitar lima belas menit lalu.


Katanya jodoh itu tidak akan pernah tertukar. Setiap manusia itu berhak jatuh cinta meski tidak semua cinta bisa saling memiliki. Seperti kamu dan aku.


Aku tidak akan pernah menyesal pernah jatuh cinta padamu, walaupun saat ini aku harus kembali belajar arti ikhlas. Merelakan mu hidup bahagia dengan orang lain karena aku sadar, siapa aku dan bagaimana posisiku.


Batin Cacha terasa bergejolak setelah membaca story milik Mike itu. Dia tahu siapa yang dimaksud Mike. Dia pun membalas pesan itu.


Maafkan aku, Mike.