
Bandung, Indonesia.
Di sebuah rumah makan dengan desain kekinian, Febian dan Jasmin duduk di antara muda-mudi yang sedang menikmati waktu akhir pekan bersama pasangan mereka. Berbagai menu hidangan sudah tersaji, tetapi Jasmin hanya menatap lesu tanpa berniat menyantapnya. Febian pun menjadi heran kepada sang kekasih.
"Kamu tidak makan?" tanya Febian, meraih piring Jasmin dan hendak menyuapi, tetapi Jasmin langsung menolak begitu saja.
"Bi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Jasmin terlihat begitu ragu. Kening Febian mengerut dan perasaannya mendadak gelisah. Biasanya Jasmin akan memanggilnya sayang atau cinta, tetapi kali ini gadis itu justru hanya memanggil namanya.
"Apa?" Febian meletakkan kembali sendok yang saat ini dipegang.
"Tentang hubungan kita." Jasmin mengalihkan pandangan karena tidak memiliki keberanian untuk menatap Febian. Dia sungguh berat, tetapi mengingat bagaimana sang ayah yang begitu menuntutnya membuat Jasmin memberanikan diri.
"Apa ada yang salah dengan hubungan kita? Kupikir hubungan kita baik-baik saja." Febian semakin menatap heran. Lelaki itu tidak pernah tahu apa kesalahannya karena memang selama ini hubungan mereka baik-baik saja.
"Ya, semua memang baik-baik saja. Bahkan rasa cintaku padamu pun masih tetap sama, tapi ...." Jasmin terdiam. Perasaan ragu benar-benar memenuhi hatinya.
"Tapi apa?" sela Febian tidak sabar.
"Papa meminta kita segera menikah." Febian membisu mendengar ucapan Jasmin. Dia menatap kekasihnya dengan sangat lekat, tetapi Jasmin masih saja memalingkan wajahnya.
"Sayang, bukankah kamu tahu kalau aku akan menikahimu saat aku berusia dua puluh delapan tahun ke atas? Tidak ada dua tahun lagi," ucap Febian.
"Aku tahu, Bi. Aku bahkan sudah bilang papa, tetapi papa tetap memaksa. Bagaimanapun juga aku adalah anak perempuan satu-satunya. Kita juga sudah berpacaran cukup lama. Papa khawatir—"
"Bukankah aku selalu menjagamu bahkan tidak pernah merusakmu?" sela Febian berusaha meredam suaranya agar tidak didengar banyak orang dan menjadi pusat perhatian.
"Aku tahu, Bi, tapi papa masih saja khawatir. Bi, kalau kamu serius dengan hubungan kita, maukah kamu melamar dan menikahiku dalam waktu dekat ini?" tanya Jasmin. Dia menatap Febian dengan begitu memohon.
Febian terdiam dan ragu. Bukannya dia tidak mau menikahi Jasmin dalam waktu dekat, tetapi dia belum siap jika harus menjalin hubungan serius sekarang ini. Dia masih ingin mengelola perusahaan Alexander yang berada di Bandung. Dia ingin benar-benar sukses terlebih dahulu baru akan mulai memikirkan pendamping hidup.
"Beri aku waktu memikirkan semuanya." Febian berusaha menawar.
"Aku beri waktu satu minggu, Bi. Kalau kamu masih saja belum mau menikahiku maka terpaksa hubungan kita harus berakhir." Suara Jasmin terdengar parau menahan tangis. Febian menatap kekasihnya dengan sangat lekat.
"Bi ...."
"Lebih baik sekarang kita makan. Aku tidak mau kamu semakin kurus." Febian meledek dan membuat Jasmin mencebik kesal.
"Aku ini langsing bukan kurus!" timpal Jasmin tidak terima. Febian terkekeh lalu mengusap puncak kepala Jasmin dengan gemas saat melihat bibir gadis itu mengerucut. Akhirnya mereka berdua pun menikmati waktu kebersamaan mereka.
***
Febian masuk ke apartemen miliknya setelah mengantar Jasmin ke apartemen yang berjarak dua lantai dengannya. Ketika pintu sudah terkunci, Febian melangkah menuju ke kamar. Dia berdiri di depan cermin besar yang berada di sana. Menatap pantulan wajahnya yang saat ini terlihat begitu bimbang.
"Bi, kamu tidak ingin menikah?"
"Tentu saja ingin, Dad, tapi belum waktunya. Aku akan menikah setelah Nadira menikah."
"Kenapa? Kalian hanya terpaut satu tahun dan tidak ada salahnya kamu menikah lebih dulu. Bukankah kamu tahu Nadira belum juga menemukan pengganti Nathan. Atau kamu juga sama?"
"Aku masih dalam proses pendekatan, Dad. Aku akan menikah nanti saat usiaku sudah dua puluh delapan tahun."
"Kamu yakin?"
"Ya, aku akan memajukan Alexander Group di Bandung terlebih dahulu."
"Baiklah. Jadilah anak daddy yang hebat dan bisa membuat daddy bangga memiliki putra sepertimu."
Air mata Febian mengalir tanpa sadar saat teringat percakapan dengan Davin beberapa bulan sebelum akhirnya dia harus kehilangan orang yang dia cintai selama-lamanya. Febian tahu, Davin tidak pernah memaksa dirinya harus menikah di usia segitu, tetapi dia tidak mau membuat kecewa sang ayah yang kini telah bahagia di Surga.
"Aku akan memajukan perusahaan dulu, aku tidak mau membuat daddy kecewa. Aku ingin daddy di atas sana bangga padaku dan memuji kalau aku adalah putra bungsunya yang bisa di andalkan." Febian semakin menatap pantulan wajahnya dengan sangat lekat.
"Aku rindu kalian." Febian mengusap air mata yang semakin mengalir membasahi pipi. Di depan orang lain, dia memang terlihat tegar. Namun, di saat sedang sendiri seperti ini, dia akan begitu rapuh. Tidak ada siapa pun, karena kedua kakaknya sudah fokus pada keluarga mereka masing-masing. Hanya ada Erlando, sepupunya, tetapi saat ini lelaki itu juga sedang sibuk mengelola bisnis milik Ardian, papanya.