Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
154


"Bicaralah, setelah itu kembalilah ke ruangan, Mas. Aku tidak mau kalau orang-orang mengira yang tidak-tidak kepadaku karena pengantin pria justru di sini bersama wanita lain!" sarkas Cacha. Rendra menatap Cacha yang masih saja memasang raut wajah datar.


"Maafkan aku, Cha. Aku terpaksa menikahi Anisa karena tuntutan kedua orang tuaku, dan aku tidak bisa menolaknya." Suara Rendra terdengar lirih.


"Tidak apa, aku paham. Aku justru bahagia kalau kita tidak jadi menikah, Mas. Karena aku memang belum sepenuhnya yakin denganmu. Aku tahu hatimu hanya milik Nadira." Rendra terdiam mendengar ucapan Cacha yang lebih seperti sebuah sindiran untuknya.


"Cha, sebenarnya kemarin aku sudah bertekad untuk belajar mencintaimu."


"Dan kamu justru khilaf dengan wanita lain?" sela Cacha dengan senyum setengah meledek. "Leluconmu tidak lucu, Mas!" hardik Cacha. Raut kekecewaan terlihat memenuhi wajah cantik gadis tersebut.


Rendra menangkup kedua tangan di depan dada, dan terus saja mengucapkan kata maaf, tetapi Cacha sama sekali tidak mau menatap lelaki yang sudah sangat menyesal itu.


"Mas, terimalah apa yang menjadi takdirmu saat ini. Kamu tidak berjodoh dengan Nadira, dan kita pun tidak ditakdirkan berjodoh. Sepertinya sebuah pernikahan tidak akan mendapat restu jika tidak ada cinta di dalamnya." Cacha terdiam sesaat, berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Cha—"


"Aku lihat Anisa mencintaimu, dan kamu pun mulai mencintainya. Jadi, aku mohon jangan pernah kamu usik lagi hidupku atau Nadira. Jangan sampai menyesal nantinya. Jujur, aku sangat kecewa denganmu, Mas." Cacha tersenyum getir. Ya, dia bukan hanya marah, tetapi juga sangat kecewa dengan lelaki itu.


"Maafkan aku, Cha," kata Rendra begitu memohon.


"kembalilah ke pestamu, Mas. Sampaikan salamku pada Anisa. Selamat buat kalian, selamat menempuh hidup baru."


Cacha melangkah pergi begitu saja bahkan sebelum Rendra membalas ucapannya. Rendra berteriak memanggil Cacha, tetapi gadis itu tak peduli dan tetap berjalan pergi begitu saja.


Ya Tuhan. Maafkan aku.


Rendra mengusap wajahnya kasar, sebelum akhirnya dia kembali masuk ke ruangan, dan bergabung dengan keluarganya. Bukannya dia tidak mau mengejar Cacha, tetapi dia tidak mau membuat keributan seandainya mempelai pria kabur saat acara.


Nadira menyenggol lengan suaminya saat melihat Rendra sudah masuk kembali ke ruangan, tetapi hanya sendirian. Setelah cukup lama menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Cacha.


Dengan segera, Nadira mengambil ponsel dan hendak menghubungi Cacha, tetapi perhatian Nadira teralihkan pada sebuah pesan masuk dari adik iparnya tersebut.


Nad, bilang ayah bunda. Aku pulang dulu.


Nadira menghela napas panjang setelah membaca pesan itu. Dia tahu, saat ini Cacha pasti sedang sangat terpuruk dan terluka.


"Mas, Cacha sudah pulang. Lebih baik kita pulang sekarang, yuk. Aku khawatir sama dia," ajak Nadira. Dia beranjak bangun dan hendak pergi dari ruangan, tetapi Johan menahannya.


"Kita pulang setelah ini. Biarkan ayah suruh seseorang untuk menjaga Cacha." Johan menahan. Mau tidak mau, Nadira pun kembali duduk di kursinya.


"Sabar sebentar lagi, Beb." Nathan mendaratkan ciuman di kening istrinya. Dia sengaja melakukan itu karena sedari tadi Rendra menatap ke arahnya.


Johan pun menghubungi anak buahnya untuk menyusul dan mengawasi Cacha. Memastikan kalau putri kesayangannya itu baik-baik saja.


***


Bahkan saat rintik hujan mulai turun, gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Tetap menangis untuk mengurangi rasa sesak yang begitu menghimpitnya.


"Ya Tuhan, kenapa perasaanku selalu dipermainkan oleh cinta? Mungkinkah aku tidak boleh bahagia?"


Cacha beralih menyeka air mata yang semakin mengalir deras. Dengan sesekali memukul dada saat merasakan sesak di sana. Bahkan ketika hujan mulai deras. Cacha tetap tidak beranjak, membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan itu.


"Kenapa aku tidak mati saja, Tuhan. Kenapa!" Cacha berteriak, tetapi sesaat kemudian dia terisak pelan.


Namun, Cacha terdiam saat merasakan air hujan tidak lagi menerpa tubuhnya padahal hujan sedang deras-derasnya. Cacha mendongak, dia terkejut melihat sebuah payung menghalau air hujan agar tidak membasahi tubuhnya. Bahkan sebuah tangan memasangkan jaket di pundaknya.


"Jangan hujan-hujanan, Nona. Anda masih terluka, dan butuh banyak waktu untuk istirahat."


Tubuh Cacha menegang saat mendengar suara yang sangat tidak asing baginya. Suara yang sangat dia rindukan. Dengan segera Cacha bangun dari duduk dan berbalik. Dia terkejut melihat Mike yang sudah berdiri memegang sebuah payung, tetapi lelaki itu justru basah kuyup. Cacha menatap Mike dan payung yang berada di atas kepalanya secara bergantian.


"Mike," panggil Cacha dengan suara lirih. Air mata Cacha kembali mengalir membasahi wajah cantiknya.


💦💦 💦


Ada yang bertanya enggak sih? Kok Rendra jadi ngeselin thor?


Jadi gini, kalian pernah sakit hati, atau cinta bertepuk sebelah tangan?


Seseorang yang sakit hatinya, biasanya akan berubah sikapnya.


Terus kenapa Anisa mau aja? Jadi cewek plin-plan banget, enggak punya perasaan.


Eits, walaupun cinta, tetapi bukan berarti Anisa menerima dengan senang hati ya. Di part 146, sudah Othor kasih kode bagaimana sikap Anisa kepada Rendra nantinya ya.


Jadi gimana? Masih mau lanjut?


Kalian enggak sabar nungguin yang mana nih?


°Kabar Kehamilan Nadira


°Pernikahan Mike


°Cacha menemukan cinta sejatinya


°Rendra kalang kabut dengan sikap dingin Anisa.


Terus pantengin! Jangan lupa jempolnya digerakin buat tekan like, komen, dan kasih hadiah juga boleh.


Ada yang doain Othor khilaf dan crazy up lagi enggak? 😂😂