
Nathan membuka pintu dan melihat sang bunda tercinta sedang berdiri di balik pintu dengan tangan terlipat di dada. Senyum wanita paruh baya itu mengembang saat melihat wajah lesu putranya.
"Di mana anak menantu Bunda?" tanyanya.
"Kita baru mau sarapan, Bun. Kenapa sih Bunda ganggu aja," cebik Nathan. Helaan napas kasar terdengar sampai ke telinga Mila.
"Emang Bunda ganggu kamu? Kan kamu enggak bisa celup keris," seloroh Mila. Ia menutup mulutnya menahan tawa.
Nathan menggaruk rambutnya kasar. "Astaga. Kenapa Bunda selalu menyebalkan!" lelaki itu kembali mencebik. Mila tak peduli. Dia tetap menerobos masuk kamar itu, sedangkan Nathan hanya bisa diam saja saat ibu negara berjalan melewatinya dengan santai.
Namun, saat wanita paruh baya itu sampai di depan Nadira, suara lengkingannya sampai ke telinga Nathan yang masih memegang knop pintu. Nadira yang hendak beranjak bangun pun sampai terlonjak kaget.
"Ada apa sih, Bun?" Nathan melangkah lebar mendekati dua wanita yang sangat berharga untuknya.
"Nathan!" pekik Mila. Dia menatap putranya dengan sangat tajam. Nathan menelan ludahnya kasar, meski dia belum tahu apa kesalahannya. "Apa kalian berdua bermain goyang dumang?" tanya Mila menyelidik
"Goyang dumang apaan sih, Bun? Enggak jelas banget!" seru Nathan. Mila menghela napas panjang sembari mengibaskan tangannya di dekat wajah.
"Apa semalam kamu memrawani Nadira?" tanyanya lebih jelas. Wajah Nadira merona merah mendengar ucapan absurd ibu mertuanya.
"Belum, Bun. 'Kan Bunda tahu sendiri kalau Ayang Bebeb lagi tanggal merah dan si Othong harus puasa," sahut Nathan asal. Mila berjalan mendekati Nadira, lalu menyatukan rambut Nadira ke samping kiri hingga leher jenjang Nadira terekspos. Nadira hanya diam saja.
"Lihatlah, banyak sekali stempel yang kamu ciptakan, Nat." Mila menunjuk satu persatu tanda merah keunguan yang nampak jelas memenuhi hampir seluruh leher Nadira. Sementara Nathan hanya menunjukkan dua jari dan rentetan gigi putihnya.
"Bun, kita hanya foreplay doang," jawab Nathan seolah tak bersalah.
"Aunty, memang kenapa sih?" tanya Nadira yang belum paham karena sedari bangun tidur, dirinya belum bercermin.
"Panggil Bunda jangan aunty lagi," suruh Mila.
"Iya, Bun. Memang kenapa?" Nadira mengulangi pertanyaannya lagi. Mila menarik tangan Nadira dan mengajaknya berdiri di depan cermin. Sementara Nathan berpindah ke belakang sofa dan menutupi kedua telinganya.
Kedua mata Nadira melebar saat melihat banyaknya kissmark yang membuat lehernya belang seperti Zebra. Walau ini pertama kali dia mendapatkan tanda kepemilikan itu, tapi dirinya bukan gadis bodoh yang tidak tahu apa itu tanda kepemilikan.
"Kak Nathan!" pekik Nadira. Dia berbalik mencari keberadaan suaminya dengan berkacak pinggang. "Kak Nathan jangan kabur!" teriaknya lagi.
Nathan hanya duduk meringkuk di belakang sofa dan berharap Nadira akan mencarinya ke luar kamar. Nathan menghembuskan napas lega saat mendengar pintu kamar terbuka. Setelah begitu hening, dia segera bangun dengan perlahan. Namun, baru saja setengah duduk, wajahnya sudah berhadapan dengan wajah kesal Nadira.
Nathan tersenyum simpul saat melihat istrinya bersungut-sungut. "Kak Nathan menyebalkan!"
"Aku juga mencintaimu, Sayang." Nathan memeluk Nadira erat lalu menciumi pipi wanita itu berkali-kali. Emosi Nadira langsung lenyap begitu saja. Berganti wajah merona merah.
"Aku tidak bilang cinta!" Nadira memukul dada Nathan berpura-pura marah meski bibirnya tersenyum tipis.
"Ya udah bilang sekarang. Aku pengen denger kamu ngomong, Kak Nathan aku mencintaimu," suruh Nathan. Nada suaranya dibuat begitu manja hingga membuat Nadira begitu gemas dan kembali memukul dada suaminya.
"Kak!"
"Apa, Sayang?"
"Aku juga mencintaimu," sela Nathan. Nadira mendecakkan lidahnya. Tanpa bicara lagi, Nathan langsung mencium lembut bibir istrinya dan melum*atnya. Kedua mata Nadira pun sontak terpejam menerima ciuman Nathan yang begitu memabukkan.
"Ehem!"
Nathan dan Nadira langsung menghentikan kegiatan mereka saat teringat deheman ibu negara yang masih berada di sana.
"Sepertinya Bunda harus pulang dan meminta ayah pulang sekarang juga," celetuk Mila.
"Ya udah sana pulang, Bun." Nathan tidak sedikit pun melepaskan pelukannya meski Nadira sedikit meronta.
"Lepas, Kak. Aku malu sama bunda," kata Nadira, tapi Nathan justru semakin mengeratkan pelukan itu.
"Enggak usah malu. Bunda pernah muda dan hampir tiap hari kaya gini. Masa yang muda kalah sama yang tua, harusnya—"
"Nathan!" pekik Mila dengan berkacak pinggang dan mata yang terbuka lebar. "Kamu bilang Bunda udah tua? Bunda ini masih muda!" imbuhnya.
"Kalau Bunda masih muda, berarti aku masih ranum, Bun," timpal Nathan.
"Astaga! Bahasamu, Nat! Udah lepasin tuh pelukan. Kaya Lala Po aja. Bunda mau ajak Nadira jalan-jalan," perintah Mila.
"Enggak boleh! Nadira tuh masih sakit karena PMS, Bun." Nathan menolak dengan tegas.
"Kalau begitu kalian bersiap-siaplah pulang ke Mansion Alexander. Nanti malam ada acara bakar-bakar," kata Mila.
"Iya, Bun. Nanti kita pulang," sahut Nathan.
"Ya udah, Bunda mau pulang dulu." Ibu negara itu pun berjalan keluar kamar itu.
"Astaga, emak ke sini buat gangguin doang," gerutu Nathan kesal. Nadira hanya tersenyum simpul sambil memukul dada suaminya. Mendengar ibu mertua dan suaminya berbicara, sungguh menguji kesabaran. Nadira salut dengan Uncle Jo yang bisa bersabar menghadapi mereka berdua.
__________________________________
Hay hay! Ada yang kangen Othor enggak nih? Ciee ngarep banget si Othor 😂
Jangan lupa selalu pasang sabuk pengaman ya, karena cerita ini bakalan panjang tentu saja dengan kisah Cacha, Bi dan lainnya.
Dan kita mulai perlahan masuk ke kisah Cacha ya.
Kalian pilih mana Nih?
Team Cacha-Rendra atau Team Cacha-Mike. Silakan kasih jawaban di kolom komentar.
Untuk yang mau gabung di GC WhatsApp, silakan colek Othor ya.
Selamat pagi gaesss