Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
259


Anak buah Febian membukakan pintu untuk perempuan tadi yang awalnya ragu-ragu untuk masuk. Namun, salah satu di antara mereka meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Dengan sedikit terpaksa, perempuan itu menurut. Bibirnya hanya bungkam di saat mobil itu melaju membelah jalanan malam.


Perempuan itu terkejut saat mobil yang ditumpangi berhenti di depan gerbang rumah yang sangat mewah. Kemudian, terlihat seorang satpam berjalan mendekat, tetapi ia langsung kembali dan membuka pintu gerbang setelah anak buah Febian menurunkan kaca mobilnya. Kekaguman perempuan itu semakin menjadi-jadi saat melihat rumah mewah itu dari jarak dekat.


"Kita sudah sampai, Nona." Salah satu di antara mereka turun dan membukakan pintu. Mereka pun bergegas masuk ke rumah.


"Tuan Er, ada teman Nona Leona yang katanya dari kampung," kata anak buah Febian sopan.


Erlando yang sedang sibuk dengan laptopnya, lalu menoleh ke arah mereka. Namun, Erlando terpaku sesaat ketika melihat seorang gadis berpakaian sederhana, tanpa make up, tetapi kecantikannya masih bisa terlihat jelas. Dia benar-benar terpikat pada gadis itu.


"Tuan!" Salah satu anak buah Febian memanggil setengah berteriak untuk menyadarkan lelaki itu.


"Tu-tunggu sebentar." Erlando tergagap. Lelaki itu mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptop lalu menghubungi nomor adiknya. Selang beberapa saat terlihat Leona yang berjalan cepat menuruni tangga dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Ara!" panggilnya yang langsung memeluk gadis tadi. "Syukurlah kamu akhirnya sudah sampai di sini."


Gadis cantik yang dipanggil 'Ara' tadi membalas pelukan Leona dengan bibir tersenyum lebar. Erlando semakin terpikat saat melihat senyum manis milik Ara.


"Eh, tunggu dulu. Kenapa kamu bisa bersama dengan mereka?" tanya Leona penasaran setelah melihat keberadaan dua anak buah Febian.


"Suruh temanmu duduk, Le." Erlando memberi perintah. Leona pun segera mengajak Ara dan kedua anak buah Febian untuk duduk bersama. Setelahnya, Ara menceritakan kejadian yang tadi dialami juga saat Febian datang menolongnya.


"Jadi, Kak Bi memberikan uang seratus juta kepada preman itu?" tanya Leona. Kedua matanya membelalak tidak percaya. Ara mengangguk cepat sebagai tanggapannya.


"Aku juga tidak percaya. Saat aku bilang akan mengembalikan saat sudah bekerja nanti, dia bilang tidak perlu dan aku hanya cukup membalasnya dengan menjaga kegadisanku sampai menikah nanti."


Ucapan Ara tadi kembali membuat Leona dan Erlando tercengang dan menaruh curiga. Namun, mereka tetap berusaha bersikap biasa saja. Erlando pun segera menyuruh Leona untuk mengajak Ara beristirahat karena malam sudah semakin larut dan gadis itu pasti sudah lelah karena perjalanan jauh.


Leona pun menyuruh Ara sementara tidur satu kamar dengannya. Setelah Ara selesai membersihkan diri, kini mereka rebahan bersama.


"Le, kapan aku mulai kerja?" tanya Ara tidak sabar.


"Ra, kamu baru saja sampai, tapi sudah mikirin kerja. Besok pagi kalau kamu sudah benar-benar siap langsung bekerja di kantor Kak Bi," sahut Leona.


"Memangnya aku bisa bekerja di kantor, Le? Aku hanya lulusan SMA." Ara masih tidak percaya.


"Bisalah. Ya, walaupun cuma sebagai Office Girl. Tidak apa-apa 'kan?" tanya Leona sedikit merasa tidak enak hati. Ara menggeleng cepat dengan bibir tersenyum lebar.


Masih terbayang pertemuan Leona dengan Ara di kampung. Beberapa hari Leona tinggal bersama Ara membuat gadis itu merasa begitu nyaman dan kagum dengan perjuangan hidup Ara yang harus menjadi tulang punggung keluarganya menggantikan sang ayah yang sakit stroke. Di kampung, Ara hanyalah penjual jajan keliling, yang memiliki pemasukan tidak tetap. Itulah yang membuat Leona menawarkan Ara pekerjaan di kota.


***


Setelah kepergian adiknya juga anak buah Febian, Erlando tidak bisa lagi berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Akhirnya, dia menutup laptop itu dan bergegas menuju ke kamar. Pikirannya begitu terusik. Wajah Ara yang baru dilihat tadi, terus saja terbayang dalam pikirannya, membuat bibir Erlando tersenyum tanpa sadar.


Namun, senyum Erlando memudar begitu saja saat teringat cerita Ara ketika Febian menolongnya. Entah mengapa, dia begitu curiga dengan sepupunya karena yang dia tahu, lelaki itu tidak akan menolong orang secara sembarangan apalagi dengan mudah mengeluarkan uang seratus juta yang hanya cukup dibalas dengan menjaga keperawanan saja.


"Apakah Bi sudah bisa membuka hatinya untuk orang lain?" gumam Erlando. Dengan segera lelaki itu mencari nomor Febian dan memanggilnya.


"Hallo, Er. Tumben sekali kamu memanggilku selarut ini?" tanya Febian dari seberang telepon.


"Bi, aku mau bertanya soal Ara."


"Ara? Ara siapa?"


"Gadis yang tadi kamu tolong. Kamu tidak tahu nama dia?"


"Tidak. Ah iya, apa dia sudah sampai di rumahmu dengan baik?"


"Sudah. Saat ini sudah tidur bersama Leona. Bi ...." Erlando terdiam karena begitu ragu untuk meneruskan pertanyaannya.


"Ada apa?" Suara Febian menyadarkan Erlando.


"Apa kamu sudah membuka hatimu untuk gadis lain?"


Hening.


Febian tidak langsung menjawab begitu saja. Bahkan Erlando pun ikut bungkam sesaat.


"Aku matikan dulu. Aku sudah capek ingin segera istirahat."


Erlando menatap layar ponsel setelah bunyi panggilan terputus terdengar. Dia mengembuskan napas secara kasar.


"Semoga kamu benar-benar sudah bisa membuka hatimu untuk wanita lain, Bi."