
Di sebuah rumah mewah yang terletak di pusat kota Bandung. Mike duduk di ruang santai yang berada di dekat tangga. Secangkir kopi panas menjadi teman lelaki yang saat ini sedang membaca majalah. Setelah pernikahan sukses yang digelar satu bulan lalu, kini Mike dan Cacha kembali tinggal di Kota Kembang tersebut.
Cacha masih mengelola JS Group dibantu Mike sembari membuka usaha, dan berhenti menjadi anak buah Johan. Sedang asyik membaca majalah bisnis, perhatian Mike teralihkan pada teriakan sang istri yang sedang berlari menuruni tangga.
Dengan gerakan cepat, lelaki itu bangkit berdiri dan menaruh secara sembarang majalah yang barusan sedang dibaca. Mike melangkah lebar mendekati tangga dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Mike! Aku ada kabar bahagia!" teriak Cacha. Dia berlari menuruni tangga, berbeda dengan Mike yang justru melangkah naik.
"Berhenti!" perintah Mike dengan suara keras. Langkah Cacha pun terhenti di tengah tangga. Ketika istrinya sudah berhenti, Mike semakin berjalan cepat lalu menangkup kedua pipi istrinya dengan sayang.
"Kabar bahagia seperti apa yang membuatmu lari-lari seperti ini?" tanya Mike dengan lembut.
"Kamu tahu, Mike?"
"Tidak!" sahut Mike diiringi kekehan. Dengan gemas, Cacha memukul dada bidang lelaki tersebut. Bibirnya mengerucut, Mike yang melihat itu dengan segera mendaratkan ciuman di sana.
"Kamu 'kan belum kasih tahu, jadi mana aku tahu kabar apa yang membuatmu sebahagia ini." Mike masih berbicara dengan sangat lembut. Sebuah kecupan mendarat di pipi Cacha, membuatnya menjadi merah merona.
Selama satu bulan pernikahan, Mike selalu bisa membuat Cacha bahagia dengan sikap romantis yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Bukan hanya perlakuan, tetapi cara bicara Mike pun selalu lembut kepadanya.
"Kamu tahu 'kan kalau Kak Queen sedang hamil? Sekarang Nadira hamil, dan yang lebih membahagiakan adalah ...." Cacha terdiam sesaat untuk mengambil napas dalam-dalam. Mike menunggu dengan harap cemas. Mungkinkah istrinya sudah hamil saat ini? Batin Mike sangat berharap.
"Ana hamil kembar tiga!" ucap Cacha dengan sangat antusias, bahkan wajah wanita itu tampak begitu semringah. Dia naik ke gendongan Mike, dan mereka hampir saja terjatuh karena gerakan Cacha yang tiba-tiba, kalau Mike tidak menahan dengan berpegangan pada besi tepi tangga.
"Aku tahu ini kabar bahagia untukmu, tapi lihatlah. Kita hampir saja terjatuh." Suara Mike sedikit meninggi karena khawatir.
"Maafkan aku, Mike." Cacha yang masih berada dalam gendongan depan, menunduk dalam dengan tangan memegang kedua bahu suaminya.
"Kalau begitu kamu harus mendapatkan hukuman." Mike memegang istrinya dengan erat, sedangkan Cacha melingkarkan tangan di leher suaminya.
Mike melangkah naik tanpa menurunkan Cacha dari gendongannya. Mereka pun masuk ke kamar utama yang berada di lantai dua. Sesampainya di kamar, Mike duduk di tepi tempat tidur, dan Cacha tetap berada dalam gendongannya.
"Kamu bahagia?" tanya Mike, dia menatap dalam istrinya yang kini sudah berada dalam pangkuannya.
"Tentu saja. Memangnya kamu tidak bahagia?" tanya Cacha balik.
"Tentu saja bahagia. Sepertinya kita harus bekerja lebih keras supaya bisa menyusul mereka." Mike membuka kancing piyama yang saat ini sedang dikenakan istrinya. Sementara Cacha hanya membiarkan, dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Tentu saja. Umurku sudah tidak muda lagi, jadi aku ingin segera memiliki anak. Semoga kita lekas mendapatkannya." Mike berbicara dengan sangat lembut. Dia mengusap rambut Cacha ke belakang telinga.
"Tapi, Mike ...." Cacha terdiam dengan wajah ditekuk dan kepala menunduk. Dia begitu ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Mike, setelah cukup lama, tetapi Cacha masih saja bungkam.
"Seandainya aku susah hamil seperti Ana, bagaimana? Hampir tiga tahun, dan dia baru hamil sekarang." Cacha terlihat muram. Jujur, Cacha takut dirinya susah hamil karena dia tahu suaminya sudah ingin segera memiliki momongan karena usianya sudah sangat matang.
Mike tersenyum simpul, kedua tangan lelaki itu berada di pinggang sang istri. Piyama yang dikenakan Cacha sudah terjatuh di lantai, dan hanya menyisakan bra saja. Dia menatap istrinya yang terdiam dengan penuh cinta.
"Nona Ana cukup lama baru bisa hamil, tapi sekali hamil langsung tiga sekaligus. Kalau kamu susah hamil, aku yakin kalau suatu saat kita pasti akan mendapatkannya. Bisa jadi, kita akan mendapat sepuluh bayi sekaligus," seloroh Mike diiringi gelakan tawa.
"Kamu kira aku ini kucing atau tikus! Yang sekali hamil langsung banyak." Cacha mencebik dan memukul dada bidang suaminya karena kesal.
Mike menghentikan tawanya. "Aku hanya bercanda." Lelaki itu mendaratkan ciuman di dada istrinya dengan lembut. Tangan yang berada di pinggang pun kini mulai mengusap punggung istrinya. Membuat tubuh Cacha meremang seketika.
"Mike," Cacha tak kuasa menahan desah*n saat lidah Mike menyapu lehernya. Dia meremas rambut suaminya saat lelaki itu terus menjelajahi tubuhnya.
"Aku mencintaimu, istri kecilku." Mike meraup bibir istrinya. Mereka pun saling berpagutan, dengan lidah saling berbelit. Remasan tangan Cacha di rambut Mike semakin menguat tatkala lelaki itu memainkan pusat tubuhnya.
Tanpa melepas ciuman mereka, Mike menidurkan Cacha. Melepas celana piyama istrinya, lalu mengukungnya. Mike terus saja memberi sentuhan yang membuat Cacha terbuai. Mereka pun akhirnya saling berbagi desah*n hingga mencapai puncak bersama.
Ketika adik kecilnya mengeluarkan cairan kenikmatan, Mike membenamkan dalam-dalam. Berharap akan ada janin yang segera hadir di antara mereka.
💦💦💦
Selamat pagi, Gaes!
Adakah yang kangen Othor? Eh adakah yang kangen Mike dan Cacha?
Lanjut enggak nih, intip pengantin baru?
Ada yang nanyain nih, gimana kisah Rendra dan Febian? Kisah mereka nantinya akan ada di buku baru setelah judul ini tamat yaa.
Jangan lupa dukungan kalian gaess