Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
89


Cacha duduk bersandar dengan menatap keluar jendela mobil, sedangkan Rendra terlihat sibuk dengan setir kemudinya. Hampir sepuluh menit dalam perjalanan, tapi kedua orang itu tidak ada satu pun yang membuka suara.


"Cha," panggil Rendra.


"Hmm." Cacha tidak membuka suara, hanya merespon dengan sebuah dehaman.


"Gimana? Kamu mau lanjutin sandiwara ini 'kan?" tanya Redra hati-hati.


"Semua sudah terlanjur, Mas. Kalau kita putus sekarang, yang ada malah mereka jadi semakin curiga. Nanti saja sekitar dua minggu lagi," sahut Cacha lesu. Hatinya merasa begitu bimbang saat ini. Mereka pun kembali saling diam lagi.


"Mas, kenapa sih kamu menolak perjodohan itu begitu saja? Katanya kamu belum lihat gadis yang akan dijodohkan denganmu." Cacha menatap Rendra yang masih fokus menyetir.


"Entahlah, Cha. Rasanya hatiku tidak memilihnya. Aku tidak mencintainya, Cha." Rendra menghela napas panjangnya.


"Mas, bukannya kamu tidak mencintainya, tapi cintamu untuknya belum hadir. Setiap cinta itu butuh proses, Mas. Apalagi saat ini kamu masih mencintai wanita lain." Rendra menoleh sekilas ke arah Cacha yang masih sibuk menatap luar jendela.


"Kamu tahu, Cha?" tanya Rendra menuntut jawaban.


Cacha tersenyum sinis. "Tentu saja, Mas. Bahkan sorot matamu saja sudah menunjukkan betapa kamu sangat mencintainya, Mas. Tapi aku salut sama kamu, Mas."


"Kenapa?" Rendra kembali menoleh sekilas.


"Karena kamu merelakan orang yang kamu cintai hidup bahagia dengan orang lain yang ia cintai." Cacha terdiam sesaat untuk menghirup napas dalam. "Berbeda dengan aku yang baru mengenal cinta dan langsung tersakiti oleh pengkhianatan," imbuhnya diiringi hembusan napas kasar.


"Bersabarlah, Cha. Aku yakin suatu saat kamu akan mendapat kebahagiaan dan hidup bahagia dengan lelaki yang mencintaimu dengan tulus," kata Rendra, dan Cacha menanggapi dengan senyuman tipis.


"Semoga kamu juga lekas menemukan gadis yang tulus mencintaimu, Mas."


"Semoga saja. Selama kita menjalani hubungan pura-pura ini, aku tidak akan melarangmu untuk dekat atau menjalin hubungan dengan lelaki lain, Cha. Kita hanya perlu bersandiwara di depan orang tuaku saja."


"Baik, Mas." Cacha tersenyum getir. Dia tidak lagi membuka suara dan Rendra pun fokus ke jalanan hingga suasana di mobil itu kembali terasa begitu hening.


Rendra sudah sampai di apartemen Cacha, tapi dia langsung berpamitan begitu saja karena dia masih memiliki kepentingan lain. Setelah mobil Rendra lenyap dari pandangan, Cacha berjalan lesu menuju ke unit apartemennya. Dia benar-benar merasa kehilangan semangat hidupnya.


"Nona Muda!" Cacha yang hendak membuka pintu, langsung menoleh dan melihat Mike yang sedang berjalan mendekat. "Anda baru pulang?" tanya Mike sopan.


"Saya mohon hentikan sandiwara Anda, Nona!" Suara Mike terdengar begitu tegas.


"Jangan mencampuri urusan pribadiku, Mike!" Cacha tak kalah tegas.


"Maafkan saya, Nona. Anda harus ingat, cepat atau lambat Tuan Johan akan mengetahuinya meskipun bukan saya yang mengadu," kata Mike kembali menetralkan suaranya.


"Biarlah, Mike. Dua minggu lagi aku akan menyudahi semuanya. Lebih baik sekarang kamu istirahat dan jangan menggangguku, Mike!" perintah Cacha. Dia langsung masuk begitu saja meninggalkan Mike yang masih berdiri di tempatnya.


Mike menatap nanar pintu yang telah tertutup rapat. Andai Cacha tahu kalau dia sudah menyimpan perasaan kepada gadis itu sejak Cacha masih remaja. Apalagi Tuan Johan menyuruhnya mengajari ilmu menembak dan bela diri membuat rasa cinta perlahan tumbuh di hatinya.


Mike tersadar dari lamunan ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel itu. Helaan napas panjang terdengar saat Mike melihat nama Johan tertera di layar. Dengan berat, Mike segera mengangkat panggilan itu.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam, Mike. Kalian sampai Bandung jam berapa?"


"Sekitar jam dua, Tuan." Mike berbohong.


"Syukurlah. Sekarang di mana Cacha? Kenapa nomor ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali?"


"Nona Muda sedang istirahat, Tuan."


"Baiklah. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku, Mike. Ingat! Hal sekecil apa pun yang menyangkut keselamatan Cacha kamu harus terus melapor padaku."


"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona Muda dengan baik. Kalau ada apa-apa dengan Nona Muda, biar nyawa saya yang jadi taruhannya, Tuan."


"Aku yakin kamu akan menjaga Cacha dengan baik, Mike. Kalau begitu kamu istirahatlah. Biar aku hubungi Cacha Besok pagi saja."


"Baik, Tuan."


Panggilan itu pun terputus. Mike menatap gambar layar depan ponsel yang menampilkan seorang gadis remaja yang terlihat serius dengan pistol di tangannya hendak membidik sesuatu. Mike tersenyum simpul dengan jari yang mengusap layar ponsel itu.


"Semoga Anda hidup bahagia dan tidak jatuh cinta lagi dengan orang yang salah, Nona Muda," gumamnya. Mike pun kembali ke apartemen di sebelah karena dirinya juga merasa lelah dan ingin segera istirahat.