Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
280


Tangan Leona terkepal erat saat mendengar jawaban lelaki itu. Jawaban yang membuatnya meradang. Bara semakin merasa heran saat melihat kemarahan tampak memenuhi wajah istrinya.


"Dia siapa, Sayang?" tanya Bara menyela.


"Dia hanya seorang pecundang yang tega melukai hati Ara!" sahut Leona. Mendengar jawaban juga melihat raut wajah istrinya membuat Bara bisa menyimpulkan tentang lelaki itu.


"Le, kamu tahu di mana Ara? Aku ingin meminta maaf padanya." Hendra tampak begitu memohon, tetapi Leona justru menarik sebelah sudut bibirnya.


"Untuk apa kamu mencari Ara? Untuk menyakitinya lagi?" tukas Leona.


"Tidak, Le. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku menyesal sudah menyakiti wanita sebaik Ara," ucap Hendra memelas. Leona tersenyum sinis saat mendengar ucapan Hendra barusan.


"Kalau begitu, silakan nikmati penyesalanmu." Leona berbalik dan hendak pergi, tetapi Hendra segera menahan lengan wanita itu.


"Lepaskan istriku!" bentak Bara. Dengan segera Hendra melepaskan cekalan tangannya.


"Aku ingatkan kamu! Jangan sampai kamu berani menyakiti Ara lagi atau aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu!" Leona menunjuk wajah Hendra sebelum akhirnya memilih pergi dari sana dan disusul Bara. Hendra hanya menghela napas panjang saat bayangan Ara melintas dalam benaknya.


"Aku harus mencari di mana pun kamu berada!"


***


Febian dan Ara akhirnya memilih menginap di apartemen untuk semalam. Mereka berdua baru saja selesai membersihkan diri lalu makan malam bersama di sebuah restoran yang berada tidak jauh dengan area apartemen. Mereka begitu menikmati makanannya. Namun, kunyahan Ara terhenti saat bola matanya menangkap sesosok wanita yang baru saja masuk ke restoran.


"Mas, aku mau ke toilet dulu." Ara beranjak bangkit. Febian menatap curiga ke arah istrinya yang tampak gugup.


"Jangan lama-lama." Ara hanya mengangguk lalu pergi begitu saja.


Setelah selesai buang air kecil, Ara menatap pantulan wajahnya di kaca. Namun, tubuhnya menegang saat melihat wanita tadi berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap. Ara hanya menatap dari cermin tanpa berani berbalik sama sekali.


"Apa kabar, Kiara Rafania Putri?" tanya wanita itu. Ara berbalik dan menatap wanita itu dengan lekat.


"Ba-bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Ara gugup.


"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Aku tidak menyangka kalau kita akan dipertemukan lagi." Bibir Wanita itu tersenyum sinis. Ara menghela napas panjangnya.


"Aku mau kembali." Ara hendak berjalan keluar, tetapi wanita itu justru mencekal tangannya.


"Tidak! Aku datang ke sini karena bekerja," sahut Ara.


"Kerja? Di mana?" tanya wanita itu menuntut.


"Kamu tidak perlu tahu." Ara menghempaskan tangan wanita tersebut secara paksa lalu melangkah lebar kembali ke mejanya.


Febian menatap heran saat melihat istrinya yang berjalan kembali, tetapi sesekali menoleh ke belakang dengan wajah yang tampak ketakutan. Bahkan napas wanita itu begitu ngos-ngosan.


"Kamu kenapa seperti melihat hantu?" tanya Febian, keningnya terlihat mengerut.


"Tidak papa." Ara meminum segelas air dalam sekali tenggak, setelahnya dia mengembuskan napas lega berkali-kali.


"Kamu yakin tidak berbohong?" tanya Febian penuh selidik.


"I-iya." Ara memalingkan wajah menghindari tatapan Febian.


"Baiklah. Habiskan makananmu." Ekor mata Febian melirik heran ke arah seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet dan sedari tadi terus saja menatap ke arah mereka.


Febian mengambil ponsel lalu mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mengawasi wanita tadi juga mencari informasi tentangnya. Febian yakin kalau wanita itu ada hubungannya dengan Ara.


Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa raga dan tidak akan membiarkan siapa pun membuatmu menangis, Ara.


💦💦


Thor, pendek amat, biasanya panjang-panjang.


ciee, apa nih yang panjang?


hari Senin, sodakoh vote yuk.


nanti Othor bakal up banyak tapi tungguin ya 😂 Othor cicil satu persatu.


selamat pagi, selamat beraktivitas