Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Melamar Bella


" Sean kau mau mengajakku kemana ?? tanya Bella saat dirinya diajak oleh Sean ke sebuah restoran mewah yang bernuansa outdoor.


" kita akan makan malam sayang " jawab Sean


Sean membawa Bella ke meja makan yang telah ia pesan. Di resto yang bernuansa outdoor itu , Sean telah menyulap sedemikian rupa untuk mengejutkan Bella.


" Sean kenapa sepi sekali ? tanya Bella, ia melirik sekeliling resto yang hanya ada dia dan Sean saja.


" mungkin lagi sepi " jawab Sean asal


Sean mendudukkan Bella di meja yang telah tersedia makanannya.


" Sean kita belum pesan makan, kenapa sudah ada makanan ini bukan meja kita Sean " tanya Bella heran.


" aku sudah memesan nya lebih dulu " jawab Sean tersenyum.


Sean dan Bella pun menyatap hidangan yang telah ada di meja. Sesekali Sean melirik Bella dan tersenyum tipis saat Bella sedang makan.


Usai makan malam Sean beranjak dari duduknya dia berjongkok di hadapan Bella. Sontak Bella terkejut dengan sikap Sean.


" Sean apa-apaan ini " tanya Bella melihat Sean berjongkok di hadapan Bella.


" Bella, Will you marry me ? ucap Sean mengeluarkan sebuah kotak merah, iapun membuka kotak tersebut. Sebuah cincin bertatahkan berlian yang begitu indah di dalam kotak cincin tersebut.


" Sean " seru Bella terkejut dengan sikap Sean.


" maaf kan aku bell, aku hanya bisa membuat makan malam romantis seperti ini, aku hanya pria yang mengagumi mu dan mencintaimu sepenuh hatiku, please Bella terima aku, maafkan aku juga yang belum mengingat tentang kenangan kita saat kita menikah dulu. Bella maukah kau menerimaku kembali sebagai suamimu dan juga ayah Zyan ?


Bella menatap haru dengan sikap Sean yang membuatnya luluh, selama menikah dengan Sean , ia tak pernah merangkai kata-kata dengan begitu manis nya.


" please Bella say yes "


" yes Sean " ucap Bella tersenyum


" oh my God, kau menerima ku ? thanks Bella " Sean memeluk tubuh Bella.


" thanks you, sayang "ucap Sean lagi


" iya Sean " balas Bella.


" i'm so happy honey, " Sean memeluk erat tubuh Bella.


" aku juga " balas Bella.


Setelah kejutan yang diberikan Sean, ia mengantar Bella kembali pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Bella, Sean tak henti-hentinya menciumi tangan Bella. Ia begitu bahagia malam ini, Bella resmi menerima pinangannya lagi.


Tiba dirumah Bella, Sean mengantar Bella sampai pintu rumahnya.


" sayang, aku sangat sangat bahagia, terimakasih telah menerima ku lagi " ucap Sean menggenggam tangan Bella.


"iya aku juga Sean, aku bahagia, terimakasih telah menungguku," balas Bella.


Sean mengangguk tersenyum hangat menatap Bella.


" oh ya, aku sudah bilang sama Zyan kamu ingin mengajak tinggal lagi di Jakarta"


" pendapat Zyan bagaimana?


" dia mau tinggal di Jakarta, kamu boleh membawanya ke rumah mu Sean "


" kau juga ikut kan ?


" tidak, aku tidak tinggal dirumah mu " jawab Bella.


" kau akan tetap tinggal disini ? tanya Sean


" tidak Sean aku ikut ke Jakarta juga, tapi tidak tinggal dengan mu aku akan tinggal dengan bibi ku, bi marni "


" kenapa kau tidak tinggal dengan ku saja "


" kita belum menikah Sean, apa kata orang seorang wanita tinggal dirumah lelaki tanpa ada ikatan "


" tapi kau masih istriku bell, semua orang pasti tahu "


" tidak Sean, aku tidak mau sebelum kita menikah kembali, kau tenang saja setelah kita menikah aku akan tinggal dengan mu "


" ya sudah asal kau kembali ke Jakarta lagi aku sudah senang, aku bisa menjaga mu " Sean mengelus pipi Bella.


Sean mengangguk.


" ya sudah aku masuk dulu ya " ucap Bella.


" bell tunggu, " tahan Sean.


" kenapa Sean ?


" kapan kita ke Jakarta?


Bella tersenyum. " setelah aku mengurusi resign ku dan juga sekolah Zyan "


" baiklah " jawab Sean.


Jakarta


Ryan duduk terpaku di balkon kamar apartemennya, ia menatap lurus ke depan. Memandangi kota Jakarta yang gelap diterangi lampu-lampu gedung bergelimang cahaya.


Ryan menyesap segelas whiskeynya menatap foto Bella dan juga Zyan. Kerinduan dengan sosok Bella membuatnya terus menerus meneguk minuman beralkohol itu. Mata Ryan memerah kesadarannya pun mulai hilang.


" Bella, kau wanita yang selalu aku rindukan. Aku merindukanmu, aku sangat ingin mendengar suara indahmu dan juga senyuman mu, tapi aku tak kuat saat mendengar suara mu aku ingin sekali menemui mu, tapi aku tak bisa Bella " lirih Ryan pilu.


" Tuhan kenapa kau membuat ku harus bertemu dengan Bella, kenapa juga kau harus memisahkan kami pada akhirnya, hatiku sakit, aku menginginkan dia tapi hatinya tidak menginginkan aku " Isak Ryan


" aku sangat sangat mencintainya tapi kenapa kau memisahkan kami, kenapa? kenapa kau mempertemukan dia dengan ku,yang pada akhirnya kau memisahkan kami kembali " tangis Ryan pilu.


" apa yang harus aku lakukan agar aku bisa melupakan nya ? aku sungguh menginginkannya tapi aku juga ingin melupakan nya " Ryan menangis tergugu.


Ryan terus menangis dan terus mengeluh di balkon apartemen nya. Tanda sadar Rio sudah masuk kedalam apartemen Ryan. Ia menatap Ryan yang telah mabuk berat dengan segala ocehannya.


" Ryan, Ryan kapan kau akan move on dari wanita itu " guman Rio menghampiri Ryan.


Rio menepuk pundak Ryan yang setengah tidur di meja balkon apartemen nya.


" hai bro, kenapa kau mabuk lagi ?


" sudah ku bilang kau harus move on dari dia, kau menyiksa diri loe sendiri " oceh Rio kesal.


Ryan tak menanggapi ucapan Rio, matanya terpejam namun masih bisa mendengar ucapan Rio.


" hentikan kegilaan loe ini dengan mabuk-mabukkan, loe jangan siksa diri loe sendiri, sudah dua tahun lebih kau bersikap seperti ini, sebagai temen loe gue mohon sama loe hentikan minum-minuman keras, gue takut loe sakit "


Ryan menggelengkan kepalanya dalam setengah tidur nya. " gue sehat, gue gak sakit , gue cuma ingin tenang " ucap Ryan mabuk.


" apa perlu gue bawa wanita itu ke hadapan loe agar loe berhenti mabuk-mabukkan "


" hah, kau mau membawa Bella kesini ? Rio ,Rio kau tidak tahu seperti apa suaminya "


" gue gak peduli , daripada loe harus seperti ini setiap hari ,gue khawatir dengan kesehatan loe " ucap Rio dengan nada cemas.


" jangan khawatirin gue, gue lebih baik seperti ini,"


" kau sudah tak waras ian, seharusnya kau perjuangkan kalau kau masih mencintai nya, jangan malah seperti ini "


Ryan menaikkan sebelah bibirnya, " gue sudah mati-matian mengejarnya selama tujuh tahun, tapi apa balasan nya, gue di campakkan dia belum bisa melupakan suaminya, andai dulu gue tahu suaminya belum mati, mungkin gue akan membunuhnya sekalian " oceh Ryan semakin ngelantur.


" jangan gila kau ian, sudah cukup kau sudah mabuk berat "


Rio meraih tubuh Ryan menjauhkannya dari botol-botol yang membuatnya berpikiran seperti orang gila.


Rio merebahkan tubuh Ryan di kasurnya, walaupun Ryan masih mengoceh tentang Bella, Rio tidak menanggapinya. Ia memilih menjaga Ryan supaya sahabat nya itu tidak meminum minuman beralkohol lagi.


" Ryan , Ryan kenapa kau jadi seperti ini, cuma karena wanita loe menyiksa diri loe sendiri " guman Rio menatap tubuh Ryan yang terbaring.


________________________________________


Jangan lupa like comment and vote 💐💐


maaf baru bisa update, sudah 5 hari kepala author sakit, entah kenapa. Sampai sekarang belum sembuh dari sakit kepala ,mohon doanya ya ,biar author sehat kembali, supaya bisa up setiap hari. duh jadi curhat.


happy reading 💐 💐


salam sehat 😘😘😘