Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Kenyataan


Sean kembali ke Jakarta ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Sabrina, ia ingin memutuskan hubungan dengan tunangannya itu. Mobil melaju kencang membelah jalanan ibukota yang menggelap, lampu disetiap jalan menemani perjalanannya menuju rumah sabrina.


Sampai di depan rumah Sabrina, Sean disambut hangat oleh kedua orang tua Sabrina.


"apa kabar Sean " Daniel menyalami Sean


" baik om " balas Sean.


"ayo masuk,,," ajak Daniel.


Mereka pun masuk dan menuju ruang makan. Makanan sudah tersedia dan siap di santap, masing-masing dari mereka duduk di tempatnya masing-masing. Memulai memakan sajiannya tanpa ada satu patah pun keluar dari mulut mereka.


Setelah santap malam mereka kembali ke ruang tengah. Sean duduk berdampingan dengan Sabrina. Kedua orang tua Sabrina duduk bersebrangan dengan mereka berdua.


"Sean kapan kau akan menikahi Sabin " Daniel memulai pembicaraan.


"om Tante ,, sebelumnya saya minta maaf...saya kesini untuk membicarakan hubungan saya dengan Sabin " ucap Sean.


Sean menghela nafasnya,lalu ia mulai berbicara lagi. " Sabin maafkan aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini "


Kedua orang tua Sabrina terkejut dengan ucapan Sean, terlebih Sabrina yang syok mendengar perkataan Sean.


"Sean....jangan konyol,,,apa yang terjadi hah " bentak Sabrina


"Sean apa-apaan ini,,,,kau jangan mempermainkan Sabrina " teriak Daniel tersulut emosi.


"maafkan saya om,,,saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini,,,dan lagi saya sudah menikah " jelas Sean.


"apa menikah..... dengan siapa kamu menikah Sean " bentak Sabrina.


"kami sudah menikah sejak lama,,,maafkan aku Sabin,,,tapi aku harus kembali pada istriku '"


"istri mu yang mana Sean " geram Daniel.


"Bella.....dia istri ku "


Sabrina dan Daniel melotot tak percaya, apa mungkin Sean ingatan telah kembali. Mereka berdua terlihat syok terlebih Daniel, karena dia yang menyebabkan Sean hilang ingatan.


Sedangkan jeni tampak santai, karena dia tahu Sean masih mempunyai istri,tak sepantasnya sean menikah disaat ia masih berstatus suami wanita lain.


"kau.... mengingat semua Sean " tanya Daniel menyakinkan pikirannya.


"aku belum mengingat apapun setelah kecelakaan,,namun Tio memberitahu bahwa saya telah menikah, dan Bella istri ku"


"itu tidak mungkin Sean....apa Bella yang memaksa mu untuk kembali hah " Sabrina meluapkan seluruh emosinya.


"tidak,,Bella tidak memaksaku untuk kembali padanya,,,tapi aku yang memaksa dia kembali padaku "


"Sean kau benar-benar keterlaluan kau sudah menginjak harga diri kami berkali-kali " ujar Daniel menggebu-gebu


"kapan saya menginjak harga diri om,,,saya datang kemari dengan cara baik-baik dan meminta putus hubungan juga baik-baik..kenapa om seolah menganggap saya menginjak harga diri om berkali-kali."


Kata-kata Sean bagai bumerang untuk Daniel dan juga Sabrina. Sean memang belum mengingat memorinya tapi ketelitian pendengaran dan bicaranya masih tajam.


"Sean....Tante menghargai keputusan mu,,, kalau ingin kembali pada istrimu Tante menghargai itu " jeni mulai berbicara.


"mama " sentak Sabrina dan Daniel.


"kenapa,,,toh Sean memang sudah menikah dan punya istri...kalian jangan egois Sean berhak tahu tentang masa lalunya" kilah jeni.


"jadi Tante tahu kalau saya sudah menikah " tanya Sean tak percaya.


"iya Sean...maafkan Tante..."


"kenapa kau bohong Sabrina " kini Sean mulai tersulut emosi.


"aku....kau sendiri yang bicara kalau aku ini pacarmu Sean " kilah Sabrina.


"kau memanfaatkan ketidakberdayaan ku " bentak Sean, rahangnya mengeras sorot matanya tajam.


"maafkan aku...tapi itu salahmu kenapa kau masih menganggap aku pacarmu "


elak Sabrina.


"harusnya kau bicara padaku Sabin,,,dan juga om kenapa menutupi semuanya" kini mata tajam Sean beralih ke arah Daniel.


"Sean....aku hanya ingin Sabrina bahagia denganmu "


"bahagia " Sean menaikkan sudut bibirnya. "dengan cara menipu ku hah " bentak sean


Sabrina menciut ia ketakutan, setelah sekian lama ia tak melihat Sean marah, dan sekarang Sean kembali ke sifat aslinya yang temperamental. Daniel sedikit ketakutan jika Sean benar-benar sudah mengingat semuanya.


"Sean maafkan kami...Tante hanya tidak ingin kau menderita,,dan lagi kami mendengar kalau kau sampai memaksakan mengingat ingatanmu,,akan berakibat fatal pada dirimu Sean, jadi kami menutupi semua itu,, termasuk Tio asisten mu "


"argghh " teriak Sean.


Sean beranjak dari duduknya, menatap tajam Sabrina.


" ku tegaskan sekali lagi,,,aku sudah tak ada hubungan apapun dengan mu " ucap Sean dingin,, lalu meninggalkan kediaman rumah Sabrina.


Sabrina menangis sejadi-jadinya ia tak terima diperlakukan Sean kedua kalinya, hatinya sangat sakit. Dan Daniel ia merasa terinjak-injak kembali harga dirinya, setelah penghinaan dulu yang menimpanya dan sabrina.


"ini gara-gara mama,,andai mama tidak bicara seperti itu,,Sean tidak akan tahu " bentak Sabrina.


"itu kenyataannya,,, jangan terus menyembunyikannya, dan ingat Sabin,jika Sean kembali mengingat ingatan nya, ia pasti akan memenjarakan mu karna kamu telah mencelakai istrinya" kecam jeni


Mata Sabrina menatap tak percaya, mama nya sendiri malah berbicara seperti itu, bukan nya membela malah sebaliknya.


"sudahlah mama,,, kamu jangan memperkeruh suasana,," cegah Daniel,


"ya sudah terserah kalian saja " jeni beranjak dari duduknya.


Sean memukul setirnya, setelah sekian lama ia baru menyadari kalau selama ini ia telah di tipu oleh Sabrina dan juga Daniel, pantas saja rasa cinta untuk Sabrina terasa hambar.


"arghh sial....dasar wanita ular...ku kira aku percaya padanya,, nyatanya ia hanya memanfaatkan ketidakberdayaan ku saja " umpat Sean.


Sean terus menerus memukul setir mobilnya, meluapkan seluruh kekesalan. Hingga mobil melaju kencang menuju rumahnya. Sean membuka kasar pintu rumahnya, ia membanting benda apapun dihadapannya.


"dasar sialan,,," Sean terus membanting barang-barang yang berada di ruang tamu.


Disudut ruangan 2 orang pelayan ketakutan melihat tuannya kembali mengamuk.


"bagaimana ini,,aku takut " ucap pelayan berambut pendek.


"aku juga takut,,, bagaimana kalau kita hubungi tuan Tio " usul si pelayan satunya.


"ayo " mereka pergi menghindar dari amukan Sean.


"bodohnya aku mempercayai mereka,, nyatanya hanya ingin memanfaatkan ku " teriak Sean, nafasnya memburu, ia melempar guci besar di dekat tangga, menghancurkan berkeping keping.


"akh " Sean memegang kepalanya, nyeri di kepala tiba-tiba menyerangnya.


"akhh sakit " teriak Sean memegang kepalanya.


Tubuh Sean terhuyung ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga terjatuh, matanya kabur ia benar-benar merasa sakit tak tertahankan dikepalanya hingga akhirnya ia tak sadar kan diri.


Pelayan yang melihat tuannya terjatuh tak berdaya, bergegas menolongnya dan memanggil ambulans. Namun Tak lama Tio datang kerumah Sean, melihat tuannya terbaring lemah ia segera membawanya ke rumah sakit tanpa menunggu ambulans datang.


Dengan cepat Sean mendapatkan penanganan serius, Tio mondar-mandir di depan ruangan UGD, ia takut tuannya memaksa mengingat masa lalunya, terlebih saat Tio datang keadaan rumahnya berantakan, itu pasti karena ulah Sean.


Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, Tio langsung menghampirinya.


"bagaimana dok ??? tanya Tio cemas.


"dia baik-baik saja,,dia hanya syok dan lagi emosinya tidak stabil mengakibatkan kepalanya sakit." jelas dokter


"syukurlah " Tio bernafas lega.


"bolehkah saya melihatnya dok" pinta Tio


"silahkan "


Tio masuk ke dalam ruangan tersebut, Sean tampak tenang, sepertinya ia tertidur.


apa yang telah terjadi tuan,,,jangan membuat ku takut,,,,cukup dulu saja saat kau hilang sebagian ingatan mu, batin Tio.


Surabaya


"Daddy " teriak Zyan bangun dari tidurnya.


Bella yang tengah menonton televisi, terkejut mendengar teriakkan Zyan,ia berlari menuju kamar Zyan.


"sayang ada apa ?? Bella memeluk tubuh Zyan.


"mom,,,aku liat Daddy tidur,, tapi gak bangun-bangun mom"


"sayang tenang lah,,,,memang Zyan melihat Daddy Ian tidur dimana???


"bukan ayah ian mom,,,tapi Zyan lihat laki-laki yang dulu pernah bilang kalau dia Daddy Zyan mom"


apa....


"Zyan itu hanya bunga mimpi,,, kembali lah tidur,, mommy akan temani Zyan " Bella mengeratkan pelukannya, mengusap lembut puncak kepala Zyan.


"tapi mom,,,,Zyan takut Daddy kenapa-kenapa"


"sudah ya jangan dipikirkan kembali lah tidur " bujuk Bella


zyan pun kembali terlelap, Bella terus mengelus rambut Zyan hingga benar-benar terlelap.


*ada apa ini,, tumben sekali Zyan bermimpi seperti itu,, apa mungkin terjadi sesuatu pada Sean,


__________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰


happy reading 💐💐💐*