
"ayah, mommy kenapa tidur terus " tanya Zyan.
Mbak Tuti sebelumnya menghubungi Ryan, karena Zyan merengek terus ingin bertemu Bella. Akhirnya ia mengijinkan Zyan untuk ke rumah sakit, lebih baik memberi tahu daripada membuatnya sakit.
"mommy lagi istirahat sayang... doain mommy ya biar cepat bangun " ucap Ryan.
"gitu ya yah , ya udah deh Zyan mau berdoa buat mommy," jawabnya, lalu kedua tangan Zyan diangkat, menengadah tangannya untuk berdoa
"ya Tuhan sembuhkan mommy, supaya mommy cepat bangun, Zyan kangen mommy ya tuhan, amin " doa zyan
"amin " balas Ryan.
Di ruangan inap Bella hanya ada Zyan dan Ryan, sedangkan Ramon sudah kembali ke kantor,dan Sean sedang menyelidiki kecelakaan Bella. Ia ingin mencari bukti-bukti.
"ayah mommy baik-baik saja kan,, kenapa mommy kaya Daddy Sean tidur terus " tanya Zyan polos
"mommy baik-baik saja sayang, yang penting Zyan doain terus mommy ya, biar cepat bangun, " jawab Ryan.
"iya ayah, Zyan akan selalu doain mommy,"
"anak pintar " Ryan mengelus rambut Zyan.
Pukul 9 malam Zyan tertidur di sofa, Ryan sudah menyuruh Zyan untuk pulang namun ia tidak mau, ia ingin menemani mommy nya.
Sean tiba dengan sekantong makanan, ia membawa makanan untuk Zyan dan juga Ryan, walaupun ia membenci rivalnya itu, tapi ia tidak tega melihatnya kelaparan menunggu Bella seharian.
"makan lah,,,kau belum makan kan ?? Sean menyerah kantong plastik makanan.
"tidak perlu, " tolak Ryan datar
"gue tahu loe belum makan, jadi makanlah, kau sudah menunggu Bella seharian pasti kau belum makan, jadi gue bawain, "
"ya sudah " Ryan meraih kantong plastik dari Sean.
Ryan duduk disofa membuka makanannya, dan menyantapnya. Sean duduk disamping Bella, terus menatapnya. Kalau saja Bella tidak bersikeras untuk kembali ke Surabaya, mungkin kejadian ini takkan terjadi.
"kau pulang saja , biar gue yang jaga Bella dan Zyan," titah Sean
"gue gak mau," tolak Ryan.
"come on man, lihat penampilan mu, kau lusuh dan pasti kau tidak mandi seharian, pulanglah dulu saat badan loe sudah segar baru loe kemari "
Ryan nampak berpikir, memang dari semenjak semalam hingga kini ia belum mandi, penampilannya juga acak-acakan. Dan lagi ia butuh istirahat.
"baiklah gue pulang, jaga in Bella dan juga Zyan, kalau ada apa-apa hubungi gue " pinta Ryan.
" iya tentu saja "
Ryan beranjak pergi, mempercayakan Bella dan juga Zyan dijaga oleh Sean.
Sean menghubungi orang suruhannya untuk memastikan kejadian kecelakaan yang menimpa bella.
"kau sudah menemukannya?? tanya Sean
."sudah tuan, saya akan segera menangkapnya " balas orang suruhan Sean.
" bagus.. tangkap dan sekap dia " titah Sean tegas.
"baik tuan " panggilan diakhiri.
Sean mendesah melihat keluarganya terancam ia takkan tinggal diam. ia takkan membiarkan siapapun mencelakai Bella maupun Zyan.
Pagi hari pukul 8 pagi Ryan tiba dirumah sakit, ia langsung ke ruang kamar Bella. Saat ia masuk kedalam, ada mbak Tuti sedang menyuapi Zyan. Sedangkan Sean tak ada.
"mbak pria yang menjaga Bella semalam kemana ??? tanya Ryan.
"bilangnya sih mau sarapan tuan " jawab mbak Tuti.
" oh " Ryan membulatkan bibirnya, ia menghampiri Bella yang masih terpejam.
"hai sayang, gimana perasaan mu sekarang, aku merindukanmu " lirih Ryan sendu.
Ryan melangkah menghampiri Zyan, mengusap lembut puncak kepalanya.
"Zyan, nanti pulang dulu ya,, semalam kan udah menemani mommy, pasti Zyan capek "ucap Zyan lembut.
"tapi Zyan pengen disini aja yah nemenin mommy " jawab Zyan cemberut.
"nanti besok Zyan kesini lagi ya,, Zyan istirahat dulu dirumah, nanti kalau Zyan sampai sakit nungguin mommy, Zyan gak bisa kesini lagi" bujuk Ryan.
"gitu ya yah "
" iya sayang, pulang sama mbak Tuti ya " bujuk Ryan lagi.
"iya yah,, Zyan akan pulang " Zyan menurut.
" anak pintar " Ryan mengelus rambut Zyan.
"mbak titip Zyan ya " ucap Ryan
'' iya tuan " mbak Tuti membereskan barang-barang Zyan.
"ayah Zyan pulang dulu ya,, tungguin mommy " pinta Zyan.
"iya sayang,,, hati-hati dijalan ya "
"iya yah "
" saya permisi tuan " pamit Tuti melangkah keluar menggandeng tangan Zyan.
Ryan kembali duduk disamping Bella, menatap dalam wajah Bella.
sayang..bangunlah jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu
Selang berapa lama Sean masuk kedalam.
"iya, seperti yang kau lihat " balasnya
Sean mencari keberadaan Zyan yang tak ada diruangan.
"kemana Zyan ??? tanya Sean
" Zyan pulang, kasian dia pasti kecapean "
Sean mengangguk. ia pun menghampiri Bella.
"bagaimana kau sudah mengetahui siapa yang menabrak Bella " tanya Ryan datar.
" orang suruhanku sudah mengetahuinya, sebentar lagi mereka menangkap nya " jelas Sean.
Ryan mengangguk.
" sebaiknya kau pulang, ini giliranku untuk berjaga " perintah Ryan
" hah... gue masih ingin disini " desah Sean.
"pulang lah ,,, siapkan tenaga untuk bertemu orang yang menabrak Bella " ucap Ryan datar.
"ah ya... baiklah " Sean menghela nafasnya.
"kalau begitu gue pulang dulu " pamit Sean
Ryan mengangguk.
Sean menuju parkiran mobilnya, dering telepon menghentikan langkahnya.
"ada apa " tanya Sean
" tuan kami sudah menangkapnya,"
Mata Sean menatap tajam, rahangnya mengeras.
" baik,. kirimkan alamatnya padaku " ucap Sean tegas
" baik tuan " panggilan di akhiri
Sean masuk kedalam mobilnya, melajukan dengan kecepatan rata-rata, menuju tempat dimana orang yang menabrak Bella disekap.
Mobil Sean menuju pelataran rumah kosong yang jauh dari jangkauan pemukiman. Ia pun langsung masuk kedalam rumah kosong tersebut, sudah ada beberapa orang suruhannya yang berada di dalam termasuk seseorang yang duduk terikat.
Sean menyunggingkan senyumnya, menatap seseorang yang duduk terikat, mata keduanya beradu, saling menatap.
" Sean " gumannya.
"well, well, well,, ternyata kau yang menabrak istriku, aku tak menyangka kau bertindak sejauh ini , hanya karna aku memutuskan hubungan denganmu" ucap Sean
Ya dia lah Sabrina yang telah menabrak Bella beberapa hari lalu. Orang suruhan Sean mengecek cctv disepanjang jalan dekat kejadian tersebut.
Beberapa hari lalu.
Sabrina mengeratkan genggaman setirnya melihat Bella sedang berdiri sendirian. Ia terus menatap tajam Bella, rasa benci dan dendam membuat dia merencanakan untuk membunuh Bella. ia terus memperhatikannya, hingga Bella berjalan menyebarang jalan. Sabrina menekan pedal gas nya bersiap untuk menabrak Bella, dengan kecepatan tinggi Sabrina terus menekan pedal gasnya.
Tepat Bella saat menyebrang Sabrina menabraknya. Bella terpental beberapa meter dari mobil Sabrina, mobil terhenti. Sabrina menatap puas Bella yang tergeletak tak berdaya, lalu ia langsung menancap gas, meninggalkan tubuh Bella yang terkapar. Ia tak mengetahui bahwa ada cctv dan penjual ketoprak yang melihat aksinya.
Sebelumnya Sabrina mengetahui keberadaan Bella dari orang suruhan Daniel. ia pun langsung berangkat ke Surabaya mencari keberadaan Bella. Dan tepat saat ia akan kembali ke apartemennya, bella sedang berdiri sendirian dipinggir jalan. senyum tersungging di bibirnya, ia berencana akan menabrak Bella sampai mati.
Namun tak lama, saat ia sedang menikmati kepuasannya telah menabrak Bella. Pintu apartemennya digedor oleh seseorang. Sabrina yang kesal membuka pintunya, ia pun langsung dibekap lalu dibawa oleh orang-orang suruhan Sean, dan disini sekarang Sabrina didudukan dan diikat.
" Sean kau disini " tanya Sabrina gugup
"iya tentu saja aku disini, karena disini istriku berada sedang terbaring lemah dirumah sakit akibat ulah mu" tekan Sean menatap tajam sabrina.
"berarti dia belum mati " ucap Sabrina
" jangan kau pikir setelah menabraknya Bella akan mati,, dia masih hidup " ucap Sean tajam, sorot matanya memancarkan aura kemarahan.
Sabrina menaikkan sudut bibirnya. " walaupun kau hilang ingatan kau masih saja mencintai wanita murahan itu " ejek Sabrina
Sean mengapit dagu Sabrina dengan tangannya " jangan kau sebut istriku wanita murahan, kau yang murahan " bentak Sean.
"kau bahkan tidak ingat, kau dulu membeli tubuhnya, apa lagi kalau dia bukan wanita murahan " tukas Sabrina
Sean menghempas dagu Sabrina kasar.
"kau juga murahan, apa aku tidak tahu selama kau pergi ke Paris kau menjalin hubungan dengan para pemilik rumah mode disana, " sarkas Sean
Sabrina melotot tak percaya, kenapa Sean bisa tahu hal itu, bahkan ia menutupi skandalnya itu dengan rapi.
"kau pikir aku tidak tahu " Sean menyunggingkan senyumnya. " aku tahu semuanya " lanjut Sean lagi
"kau... sudah mengingat semuanya Sean " tanya sabrina terbata.
"tidak... aku hanya mendapat informasi dari Tio, dia yang memberikan informasi tentang kehidupan mu disana, "
"aku mencintaimu Sean, maafkan aku " lirih sabrina.
"cih cinta...kau hanya memanfaatkan ku untuk menguasai hartaku, kau dengan ayah mu sama saja , " geram Sean.
" tapi aku benar-benar mencintaimu Sean " Sabrina memelas.
" persetan dengan cintamu itu,. kini tinggal kau pilih, kau ingin masuk penjara atau kau ingin mati di tanganku " Sean perlahan mengeluarkan senjata sejenis revolver dari balik jasnya. Menodongkan ke depan kepala Sabrina.
________________________________________
hai hai terimakasih sudah menunggu, sebenarnya ini bab dari kemarin tapi baru bisa up, dikarena kan author nya lagi gak semangat 🥲, dukung terus ya biar author semangat buat up... jangan lupa like comment and vote
happy reading 💐💐💐