Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Bella kecelakaan


Jakarta


"apa.... asistennya sean telah menangkap orang suruhan kita " seru Daniel terkejut


"iya tuan,, bagaimana langkah selanjutnya ?


"dimana wanita itu sekarang ??


" dia tinggal di Surabaya tuan, ini informasi yang anda minta" anak buah Daniel menyerahkan map tentang informasi Bella.


Daniel menyambar map tersebut, membaca seluruh informasi tentang Bella. Senyum tersungging di bibirnya, sebuah rencana terlintas di pikirannya.


"pergi ke Surabaya dan lakukan rencana kita selanjutnya. " titah Daniel.


"baik tuan "


kita lihat Sean, apa yang akan kau lakukan sekarang dengan keluarga mu , batin Daniel menyeringai.


Di kantor, Sean masih berkutat dengan pekerjaannya. Selama ia sakit pekerjaannya banyak yang tertunda, walaupun ada asistennya tetap saja Sean harus kembali mengecek ulang jikalau ada kesalahan . Sean orang yang segala sesuatu harus sempurna, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.


"Tio bagaimana perkembangan kasus Daniel ? tanya Sean disela-sela kesibukannya.


"sebentar lagi tuan, bukti akan menguatkan untuk menjebloskan Daniel ke penjara " jawab Tio .


"bagus, selesaikan segera aku tidak ingin keluarga Daniel hidup tenang."


"baik tuan "


"ya sudah kau boleh pergi " perintah Sean.


Tio mengangguk berlalu pergi.


Sean mengetuk-ngetuk jarinya dimeja, rasanya rindu tidak bertemu dengan Bella selama seminggu ini. Sean mendial nomor handphone Bella menunggu jawaban beberapa menit.


"hallo " sapa Bella disebrang sana


"hallo istriku " balas Sean


"Sean "


"iya ini aku suami mu sayang, kau apa kabar ??


"kau tahu nomor ku dari mana ??


"itu tak penting sayang, yang terpenting sekarang aku merindukanmu "


"kau menelpon ku cuma ingin mengatakan itu Sean "


"tentu saja, apa lagi selain aku merindukanmu, aku juga rindu tubuhmu " goda Sean.


"kau lelaki cabul, sudah aku banyak kerjaan, jangan ganggu aku," decak Bella.


"suami mu merindukanmu malah kau begitu, harusnya kau ucapan kata-kata mesra dan cinta padaku bell "Rajuk Sean.


"aku bukan istrimu Sean ," Bella mengakhiri panggilannya sepihak.


"damn,,, telpon ku dimatikan, hanya kau yang bisa berbuat begitu " kekeh Sean.


Sean berdiri menatap dinding kaca yang menampakkan pemandangan ibukota yang padat.


hah aku merindukanmu bell, tunggu saja aku akan segera kesana , batin Sean.


Sedangkan Bella berdecak sebal, saat pekerjaan sedang menumpuk dengan seenaknya Sean menghubunginya dengan ucapan yang tak penting


"dasar pria cabul " runtuk Bella, kembali fokus dengan pekerjaannya.


Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


"masuk " sahut Bella.


Lia masuk kedalam ruangan Bella.


"Bella jangan lupa meeting jam 3 sore " Lia mengingatkan


"oh ya ampun,, "


"kamu kenapa bell "


"pekerjaannya ku belum beres, gimana ini " Bella panik


"itu deritamu bell " ledek Lia cengengesan


"ah kau ini... udah sana pergi, mengganggu saja " usir Bella.


"hmm dasar Miss jutek " dengus Lia berlalu pergi dari ruangan Bella.


Bella kembali melanjutkan pekerjaannya yang tidak ada beres-beresnya. Hingga pukul 9 malam Bella baru bisa pulang. Bella menunggu taksi di depan kantor nya, setengah jam ia menunggu tapi tidak ada taksi yang lewat. Terpaksa ia berjalan menuju halte bus, saat sedang menyebrang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh Bella yang menyebrang, tubuh Bella terlempar beberapa meter, darah mengalir dari hidung dan kepalanya.


Mobil yang menabrak Bella, mundur lalu tancap gas meninggalkan tubuh Bella yang terkapar, seorang bapak penjual ketoprak melihat kejadian tersebut, berteriak minta tolong, menghampiri tubuh Bella yang berlumuran darah.


Ambulans dengan cepat datang ke lokasi kejadian, membawa tubuh Bella yang penuh darah.


Dirumah Bella, Zyan terbangun melihat kasur sebelahnya masih kosong.


"mommy " teriak Zyan. " mommy "


mbak Tuti yang sedang menonton televisi berlari menuju kamar.


"Zyan ada apa?? tanya Tuti memeluk Zyan


"mommy mana mbak?? tanya Zyan


"mommy belum pulang sayang,, sebentar lagi pasti mommy pulang " Tuti menenangkan Zyan.


"mbak mommy mana, Zyan takut mbak " Zyan tiba-tiba menangis


"sayang, ko nangis,, tenang ya.. mbak telpon mommy dulu " Tuti menelpon nomor Bella, namun tidak ada jawaban.


Menelpon beberapa kali namun nihil tidak ada jawaban.


"mommy, mommy,, mommy " tangis Zyan.


"sayang sabar ya,,mbak lagi telpon mommy " Tuti mulai panik, ia pun langsung menelpon nomor Ryan.


"hallo mbak ada apa ??


"tuan,, Zyan nangis terus, " panik Tuti


"nangis kenapa mbak,??


"mbak Bella belum pulang tuan, "


"iya tuan,, saya sudah telpon berkali-kali tapi tidak di angkat "


"ya sudah saya akan segera kesana, tenangin Zyan dulu ya mbak "


"iya tuan " panggilan terputus.


Tuti mengendong Zyan menenangkannya yang terus menerus menangis, tak lama mobil Ryan terparkir di halaman rumah Bella. Tuti membukakan pintu.


"tuan " sapa Tuti


Ryan meraih Zyan dari gendongan Tuti. menenangkan Zyan dari tangisannya.


"Bella belum pulang ?? tanya Ryan.


"belum tuan,saya sudah menelepon tapi gak di angkat-angkat "


"kemana dia " guman Ryan cemas.


Ryan duduk di sofa mencoba menenangkan Zyan.


"Zyan sayang tenang ya, mommy pasti pulang " ucap Ryan .


"mommy ayah mommy hik hik hik " Zyan menangis sesenggukan


"tenang sayang, ada ayah ian disini " Ryan mengusap-usap punggung Zyan.


Tuti yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Ryan, terlihat takut dan cemas, tiba-tiba handphonenya berdering, dilihat nomor Bella yang menghubunginya.


",tuan mbak Bella telpon" ucap Tuti


"sini mbak, biar saya saja " meminta telpon Tuti.


"Bella kamu dimana ?? tanya ryan


"hallo, maaf sebelumnya pak, hp pemilik nomor ini sedang berada di rumah sakit. dia kecelakaan " ucap seorang disebrang sana.


"apa.... kecelakaan...di rumah sakit mana ?? tanya Ryan, nafasnya memburu cemas


"dirumah sakit umum pak "


"baik saya akan segera kesana " ucap ryan, lalu mengakhiri panggilannya.


"tuan ada apa??


"Bella kecelakaan ,, saya akan kesana, tolong jaga Zyan mbak " Ryan menyerahkan Zyan yang terlelap, kecapean menangis.


"iya tuan, hati-hati "


Ryan mengangguk, berlalu pergi menuju mobilnya. Jalanan malam cukup lengang mobil Ryan melaju kencang menuju rumah sakit, perasaan cemas dan khawatir terus menyelimutinya.


"Bella,,,sabar sayang " lirih Ryan cemas.


Mobil ryan masuk pelataran rumah sakit, ia langsung keluar dari mobil berlari menuju resepsionis, menanyakan dimana Bella dirawat. Ryan berlari ke ruang UGD, tampak seorang bapak-bapak berada di kursi tunggu UGD.


"pak " bapak-bapak yang yg menolong Bella menghampiri Ryan.


"bapak siapa??? tanya Ryan.


"saya yang membawa korban kemari,pak " jawab bapak-bapak itu.


"terimakasih pak, telah membawa calon istri saya kemari, bagaimana keadaannya pak??


"calon istri anda ditabrak lari, sama mobil pak,"


"tabrak lari ?? ulang Ryan


"iya pak, saat saya sedang mau pulang dagang,calon istri anda menyeberang tapi ada mobil dengan kecepatan tinggi langsung menabraknya,,lalu kabur pak " jelas bapak-bapak itu.


"bapak ingat mobilnya sama plat mobilnya"


"iya pak,, saya langsung mengingatnya, soalnya mobilnya sempat diam tak lama malah kabur "


"Terimakasih ya pak, sudah menolong calon istri saya "


"sama-sama pak, kalau begitu saya pamit pak"


"tunggu pak, apa saya boleh minta nomor handphone bapak, jika suatu saat saya butuh keterangan bapak buat jadi saksi " pinta Ryan.


" boleh pak, " bapak itu menyebutkan nomor handphonenya.


"terimakasih banyak ya pak " ucap Ryan


"iya pak, sama-sama, kalau begitu saya pamit" bapak penjual ketoprak itu pamit berlalu pergi.


Kini tinggal lah sendiri Ryan yang menunggu di depan ruang UGD. Sudah pukul 12 lewat tapi dokter belum juga keluar dari ruangan UGD.


Ryan terus merapal doa untuk kesembuhan Bella, tiap detik jantungnya berdetak kencang, terlintas pikiran yang membuatnya berpikiran negatif thinking.


ya Tuhan,, ku mohon padamu, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Bella, dia Ryan.


Tak lama pintu ruangan UGD terbuka, dokter keluar menghampiri Ryan.


"apa anda keluarga korban " tanya dokter


",iya dok, saya calon suaminya " jawab Ryan.


"korban banyak mengeluarkan banyak darah, tapi sudah kami tangani, korban sudah melewati masa kritis nya, tapi benturan di kepalanya membuat dia koma, kemungkinan selamat cuma 30%, selain benturan dikepalanya kakinya juga patah" jelas dokter


"apa.... " guman Ryan, seketika tubuh Ryan bergetar mendengar penjelasan dokter.


"apa dia bisa sembuh dok," tanya Ryan


"kita berdoa saja , karna benturan di kepalanya cukup keras., kami akan mengusahakan semaksimalnya mungkin " terang dokter.


Ryan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan dokter, tubuhnya lunglai. Air mata tak terasa menetes di sudut matanya.


"saya permisi pak" undur dokter.


Tubuh Ryan melosot, air mata yang tadi hanya menetes, sekarang mengalir deras. Penjelasan yang dokter berikan membuatnya lemah tak berdaya.


ya Tuhan, kenapa harus Bella, lirih Ryan pilu


___________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰


happy reading 💐💐💐