Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Rival


Semenjak kejadian itu kini Sean dan Ryan tak lagi berkunjung ke rumah Bella. Ia mulai aktivitasnya kembali, kerja di perusahaan Ramon .


Ramon dengan senang hati menerima Bella kembali.


Hati Bella merasa kehilangan dengan kedua pria itu. Kini Bella mulai menyadari mereka begitu berarti untuknya, tapi dia tidak bisa memilih diantara mereka.


Hari-hari dijalani Bella, kesibukannya bekerja di perusahaan Ramon , sedikit demi sedikit melupakan kedua pria itu. Tiap bulannya Sean masih mengirimkan uang cukup banyak ke rekening Bella, tapi ia tak sekalipun menghubungi Bella, sekalipun Sean menghubungi ia lebih memilih menghubungi lewat mbak Tuti pengasuh Zyan, untuk mengetahui keadaan anaknya.


" mom sekarang ayah ian sama Daddy Sean gak pernah kemari ya ?? tanya Zyan saat bermain di teras belakang rumahnya.


" mungkin mereka sibuk sayang "


" hmm, gitu ya "


" Zyan jangan sedih ,kan masih ada mommy, " Bella merangkul tubuh Zyan


" iya mom, "


Sebenarnya ia pun tak tega melihat Zyan terlihat sedih kehilangan sosok ayah dan Daddy nya. Namun karena kesalahan Bella yang tak mampu memilih diantara kedua pria itu, kini mereka pergi menjauh. Ryan pun sudah tak menghubungi Bella, nomor Bella telah di blokir olehnya.


" mbak Bella ada tamu " seru Tuti, menghampiri Bella dan Zyan.


" siapa mbak ??


" saya tidak tahu mbak, laki-laki "


Bella mengangguk, ia beranjak dari duduknya melangkah menuju teras depan. Bella melihat seorang lelaki yang membelakanginya. Ia masih mengira-ngira siapa pria tersebut.


" permisi " sapa Bella.


Pria itu membalikkan badannya tersenyum melihat Bella.


" hai bell "


" Devan " seru Bella.


" hai bell, apa kabar ?? tanya Devan tersenyum.


" oh hai Dev, kau kemari " tanya Bella balik.


" iya maaf aku baru kemari "


" ah tidak apa-apa, ayo masuk Dev " ajak Bella.


Bella masuk kedalam diikuti Devan , Bella mempersilahkan Devan duduk.


" kamu sudah sembuh bell " tanya Devan


" iya aku sudah sembuh "


" oh iya kemana Zyan ??


" Zyan lagi main di teras belakang "


Devan mengangguk.


" oh iya aku mau mengantarkan ini " Devan menyerah kan kertas yang terbungkus plastik.


Bella meraihnya melihat sekilas tulisan di kertas yang terbungkus plastik tersebut.


" kau akan menikah Dev ?? tanya Bella


" iya bell, aku akan menikah dengan Irina " ucap Devan tersenyum.


" wah kalian akhirnya menikah, aku ikut senang Dev, aku tak menyangka kau akan menikah dengannya " ucap Bella antusias


" iya awalnya aku tak menyukainya, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai merasakan cinta di dirinya."


" syukurlah Dev, Irina memang sangat menyukai mu"


"iya bell,, aku terlalu cuek dengannya, dulu aku masih belum bisa melupakan kamu bell,tapi melihat Sean yang menjagamu selama dirumah sakit, aku yakin dia benar-benar mencintaimu bell, aku selalu menengokmu bell tapi selalu saja Sean menghalangi aku untuk melihatmu, ya walaupun dia orang yang brengsek, tapi dia sungguh-sungguh mencintaimu, aku bisa melihat dari sorot matanya" ungkap Devan.


Bella terdiam menunduk, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Bella masih mencintai Sean, namun ia tak tega menolak Ryan, karena ryan telah banyak membantunya dalam berbagai hal. Bella merasa berhutang budi pada Ryan, kalau bukan Ryan yang menolongnya mungkin Bella akan terus menjadi simpanan Daniel.


" bell, kamu melamun ?? tanya Devan.


" ah tidak Dev, maafkan aku "


"oh iya kemana Sean ??


" Sean..hmm dia.. di Jakarta "


" oh, pasti dia sangat sibuk " ucap Devan


Bella hanya tersenyum tipis, obralan mereka berlanjut hingga siang hari, setelahnya Devan pamit untuk mengantarkan undangan kepada teman-temannya.


Bella masuk ke kamar nya, duduk termenung di tepi ranjangnya. Air mata menetes dari sudut matanya, ia sangat merindukan Sean.


Dua tahun kemudian


Di sebuah negara di Kanada di kota Toronto. Sean sedang bisnis trip dengan perusahaan disana. Ia mendatangi sebuah perusahaan besar disana, ia ingin menjalin bisnisnya dengan perusahaan tersebut.


Sean mengangguk, melangkah mengikuti langkah sekertaris wanita tersebut. Pintu dengan tulisan CEO perusahaan yang akan menjalin hubungan kerjasamanya terpampang jelas di depan pintunya.


" Mr Sean " sapanya.


" hi Mr Smith how are you ?


" i'm fine, ayo silahkan duduk "


Sean mengangguk lalu duduk di sofa.


" bagaimana perjalanan anda ?? tanya Smith


" baik, sangat baik " jawab Sean.


" kita langsung bahas saja kerjasama kita " lanjut Smith.


" baiklah "


Mereka pun membicarakan tentang kerjasama yang akan dijalankannya oleh mereka berdua. Usai pertemuan dengan Mr Smith, Sean pamit undur diri. Ia akan kembali ke hotel untuk beristirahat.


Tapi sebelum ke hotel Sean menuju restoran, perutnya terasa lapar. Saat dipakiran mobil Sean tak sengaja menabrak seseorang.


" sorry " ucap Sean.


" no problem " balasnya.


Sean menatap sekilas seorang yang tak sengaja ditabraknya.


" Ryan " seru Sean.


" Sean " seorang yang di tabrak Sean itu ialah Ryan, rivalnya.


" kau disini " Sean memicingkan matanya.


" iya, ngapain loe disini " ketus Ryan.


" gue sedang bisnis trip disini " ucap Sean.


" oh, " balas Ryan datar.


" hmm,, Bella apa kabar " tiba-tiba ia menanyakan Bella kepada Ryan


" Bella,,,, gue gak tahu, bukankah dia sama loe " sinis Ryan.


"tidak, gue kira dia menikah dengan loe ?? tukas Sean.


" tidak,, semenjak kejadian itu gue gak pernah lagi bertemu dengannya, aku pergi ke sini " ujar Ryan.


" jadi berarti kau tak menikah dengan Bella " ucap Sean terkejut dengan kenyataan bahwa Ryan tak menikahi Bella.


" tidak,, gue tahu Bella tak pernah bisa mencintai ku, selama dia bersamaku dia hanya menganggap ku sebagai temannya tak lebih, dihatinya masih ada loe., gue juga lelah harus terus membujuknya untuk menerima gue, gue tak ingin egois, biarkan dia bahagia dengan loe " ungkap Ryan


" ah jadi begitu, gue kira kau sudah menikahinya "


" aku tak mau memaksa dia lagi, gue gak ingin dia pura-pura bahagia demi gue, gue ingin dia bahagia dengan caranya, sudah cukup dia menderita selama ini "


Sean diam mematung mendengar penuturan Ryan.


" mending loe ketemui dia, Bella masih mencintaimu, dan lagi Zyan butuh sosok ayah " ujar ryan.


" gue sudah relain dia untuk loe, gue gak bisa memaksa keinginan dia untuk menikah dengan gue"


Sean tak habis pikir ternyata Ryan telah mundur untuk mendapatkan cinta Bella.


",kau serius " ucap Sean


" iya gue udah move on dari dia, semoga dia bahagia dengan loe, Zyan butuh loe disisinya, gue gak mau dia bersedih terus saat tak mempunyai sosok seorang ayah"


Sean bergeming, rasa didadanya bergemuruh sungguh ia tak menyangka Ryan akan menyerah begitu saja, andai Sean tahu Ryan mundur lebih awal ia pasti akan tetap disisi Bella.


" thanks you " Sean menepuk pundak Ryan.


" no problem "


Setelahnya Sean bergegas pergi ke hotel ia ingin kembali lagi ke Indonesia, menemui sang pujaan hatinya.


Senyum terus mengembang dari bibirnya. Ia merindukan Bella, setelah sekian lama ia mencoba melupakan Bella, akhirnya angin segar menerpanya. Rivalnya mundur dari perebutan cinta Bella.


________________________________________


semoga malam bisa up lagi 😚


jangan lupa like comment and vote


biar author semangat up nya 🥰🥰🥰


happy reading