
Seminggu berlalu kondisi Bella sudah cukup membaik, walau kadang sakit dikepalanya terasa. Sean dan Ryan kini berada di rumah Bella, mereka kini berada di ruang tengah.
" bell, ini saatnya kamu memutuskan " ujar Ryan.
" maksud mu apa ian" tanya Bella.
" ini tentang kita " balas Sean.
Bella paham ia pun meminta kedua pria itu untuk membicarakannya diruang tamu. Karena di ruang tengah ada Zyan sedang bermain mobil-mobilan.
Mereka pun duduk, kedua pria itu kini memandangi bella, seperti seorang tersangka yang akan di interogasi dengan kasus berat.
" ehem " Bella berdehem.
" jadi kamu mau pilih siapa bell ? tanya Ryan.
" hmm ,, aku belum bisa memutuskan "
" kenapa bell, ini sudah terlalu lama " ucap Ryan tak sabar.
" tapi aku benar-benar bingung ian"
" putus kan bell, menikah lah dengan ku " pinta Ryan
Sean mendelik tajam ke arah Ryan.
" ian aku tak bisa memutuskan sekarang " Bella memelas.
"bell,, aku telah menunggumu selama bertahun-tahun, menemanimu saat kau berada di titik terendah, ku mohon bell menikah lah denganku " mohon Ryan
" jangan paksa dia " sentak Sean.
" kenapa,? aku yang lebih berhak menikah dengan Bella " tukas Ryan kesal.
" biarkan dia memilih, jangan paksa dia " ujar Sean.
Ryan mendesah, sedangkan Bella ia bingung dengan keputusannya, siapa yang akan dipilihnya.
" apa kau masih mencintai Sean Bella " seru Ryan
" apa ... aku "
" setelah apa yang dia perbuat padamu bell, kamu masih mencintainya. " bentak Ryan
" Ian " Bella kaget mendengar nada suara Ryan yang meninggi
" hei ,bicaralah dengan baik, kau tak perlu membentaknya. " sentak Sean tak terima.
" gara-gara kau kembali, dia menjadi bimbang, seandainya kau tak kembali Bella akan menikah denganku " Ryan menunjuk ke arah Sean emosi.
" memangnya kenapa, kalaupun kita bertemu lagi, berarti memang dia jodohku, bukan jodohmu, kau mau menyalahi takdir hah " bentak Sean tersulut emosi.
Ryan membuang muka kesal
" Ian, tolong beri aku waktu untuk memutuskan " pinta Bella.
" ini sudah terlalu lama bell,,, apa kau memang tidak mencintai ku,,,lalu kenapa kau menerima lamaran ku bell " sentak Ryan.
" stop, kau tak perlu membentak-bentaknya." bentak Sean emosi dengan sikap Ryan
" kau tak perlu ikut campur, kau hanya masa lalunya " Ryan menekan perkataannya
"aku tahu, tapi kau tak perlu membentaknya. " tukas Sean kesal.
" maafkan aku Ian " Bella tertunduk.
" argghh " teriak Ryan, kesal di hatinya ingin sekali meninju sesuatu, namun ia memilih pergi dari rumah Bella.
" ian " teriak Bella ia ingin mengejar namun dicegah Sean.
" biarkan dia pergi, dia butuh sendiri " tahan Sean.
" tapi Sean.... " ucap Bella memelas.
" biarkan dia " ucap Sean.
Bella akhirnya mengangguk, ia kembali duduk di sofa. Sean menghampiri Bella.
" sebaiknya kau istirahat bell " bujuk Sean
Bella mengangguk beranjak pergi menuju kamarnya.
Sean menatap punggung Bella menghilang dari balik pintu kamarnya. Sean kembali menghampiri Zyan yang sedang bermain.
" Zyan sayang, kamu sudah makan " tanya Sean duduk di hadapan Zyan.
" sudah dad, aku sudah makan, "ucap Zyan.
" Zyan sayang ,kamu sayang gak sama ayah ian?? tanya Sean
" sayang dad, "
" kalau sama Daddy gimana ?
" hmm, sayang juga dad "
" kalau ayah ian pergi gimana?
" emang ayah ian mau kemana dad, ??
" tidak kemana-mana, tapi kalau ayah ian pergi keluar kota bagaimana ?
" aku gak mau ayah ian jauh dari Zyan dad, aku sayang ayah ian dad " Zyan mulai terisak.
" gak sayang, ayah ian gak akan pergi kemana-mana" Sean memeluk tubuh Zyan.
Bella mengintip dari balik pintu kamarnya, melihat Sean begitu sangat menyayangi Zyan. Namun Bella belum bisa memutuskan pilihannya. Sean ayah kandung Zyan, sedangkan Ryan dia yang menemaninya dari titik terendah sampai sekarang ia bisa menjalani hidup yang lebih baik.
Mobil Ryan melaju kencang membelah jalanan, pikirannya penuh emosi dengan sikap Bella yang tidak bisa tegas dalam memilih.
" arrrghhh " teriak Ryan memukul setir mobilnya.
Mobil terus melaju, entah kemana ia akan pergi . Ia ingin menenangkan pikirannya yang penuh emosi. Saat ia mulai lelah mengendarai, mobil tiba di tepi danau.
Melempar batu-batuan ke arah danau, melampiaskan kemarahannya.
" argghh sialan, Sean bajingan kau harusnya mati saja saat itu, dasar lelaki tak tahu diri, mati saja kau Sean bajingan " teriak Ryan penuh kemarahan.
" bajingan " umpat Ryan berteriak kencang.
" hai kau " sebuah suara mengalihkan perhatian Sean.
Ryan mengkerutkan keningnya melihat seorang gadis menghampirinya.
" kau tak boleh menyumpahi orang seperti itu " seru gadis itu.
Ryan tak menggubris perkataan gadis itu. Ia kembali menatap lurus kearah danau.
" kau sepertinya sedang patah hati ya " seru gadis itu lagi .
" kenapa kau diam, tadi kau teriak-teriak seperti orang kesetanan "
Ryan masih tetap terdiam.
" hmm... aku tahu kau sedang sedih kan, karena kekasih mu itu memilih orang lain dibandingkan denganmu, ckckck sayang sekali"
" pasti kekasihmu memilih pria itu,, siapa tadi namanya,, oh iya Sean " celotehnya lagi
" hai kenapa kau diam terus ,apa kau tuli " gadis itu menarik tangan Ryan supaya bisa berhadapan langsung.
" lepaskan, kau banyak sekali omong " Ryan menghempaskan tangan gadis itu.
" kau harus ikhlas " ucapnya.
" berisik, " bentak Ryan. Ia pun berlalu pergi menjauh dari gadis aneh yang terlalu banyak bicara dengannya.
" cih dasar Mr pemarah " decih gadis itu.
Esoknya Sean kembali kerumah Bella , seperti biasa dia melihat kondisi Bella, memastikan bahwa Bella minum obat secara teratur.
" terimakasih Sean " ucap Bella setelah minum obat.
" sama-sama "
" dimana Zyan,? tanya Sean
" Zyan sekolah diantar mbak Tuti "
" oh,.. " Sean manggut-manggut
Bella menyenderkan kepalanya di sofa, kepalanya sedikit pusing.
" kau tak apa-apa bell ?? tanya Sean
" tidak Sean, aku baik-baik saja, hmm,, Sean, sepertinya aku mau bekerja lagi "
" kau tak usah kerja bell,, kondisi mu belum membaik "
"tapi Sean, aku perlu uang untuk kehidupan ku dan juga Zyan "
" kau tak usah pikirkan hal itu, aku akan menjamin semuanya, karena kau dan Zyan tanggung jawab ku " imbuh Sean.
" tapi Sean, kita sudah lama berpisah dan lagi aku bukan tanggungan mu lagi sean"
" itu tak masalah, "
" Sean .... " lirih Bella
" sudah jangan kau berpikir macam-macam, sekarang fokus pada kesehatan mu bell, aku tak ingin kau sakit lagi, "
" terimakasih Sean, "
Sean tersenyum mengelus tangan Bella.
"oh ya Ryan tidak kesini ??
" tidak,, sepertinya dia marah padaku " ucap Bella lesu
" bell, apa kau mencintai dia ?? tanya Sean menatap dalam manik hitam Bella, ia ingin kejujuran dari mata Bella.
"entahlah Sean, aku juga bingung, dia begitu baik padaku dan juga Zyan, dia yang selalu menemani ku saat kau tak bersama ku "
Sean menunduk, ada rasa iri dan sakit mendengar ucapan Bella.
" kalau kau ingin menikah dengan Ryan, aku siap untuk mundur bell " ucap Sean
Sontak Bella terkejut dengan perkataan Sean. Pria yang ia kenal tak pernah mengalah atau pun mundur dalam hal apapun, tapi kini dia menyerah dan mundur, menyerahkan cintanya di miliki orang lain.
" kau serius Sean " tanya Bella tak percaya.
" iya aku serius bell, aku ingin kau bahagia, aku sudah membuat hidup mu di dera berbagai masalah dan kau hampir mati karena hidup disisiku " ucap Sean yakin
" ah tidak Sean, ini semua sudah takdir ,jangan menyalahi dirimu, dan aku cukup banyak berterimakasih padamu, kau menemaniku merawat Zyan walau terlambat aku berterimakasih padamu." ujar Bella.
" aku mencintaimu bell,, tapi sekarang aku tak mau egois, kau patut mendapat kebahagiaan dari pria lain"
" Sean " seru Bella sedih.
" apa kau mencintaiku bell ?? tanya Sean.
" aku....... "
" tak apa bell,,, maafkan aku bell untuk kesalahan yang lalu dan sekarang, aku mundur biar kau menikah dengan dia, aku akan mencoba merelakan semuanya." Sean menggenggam tangan Bella.
Bella ingin sekali menangis, air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya ia tahan. Entahlah apa yang Bella rasakan, rasanya sedih saat Sean menyerah begitu saja, masihkah ada rasa dihati Bella untuk Sean, entahlah Bella tak mengetahuinya, yang hanya ia ingin sekali menangis saat Sean menyerah.
___________________________________________
pingin up banyak tapi gak bisa 🥲🥲🥲
Dukung terus yaa like comment and vote
biar author semangat up nya 🥰🥰
happy reading 💐💐💐