
Esoknya Ryan terus menerus menghubungi Bella,namun nomor handphone nya tidak aktif, Ryan terlihat frustasi menjambak rambutnya. Detik selanjutnya ia baru ingat dengan kawannya Ramon,pasti bos Bella tahu sesuatu. Ia langsung mendial nomor Ramon.
"hallo " sapa Ramon disebrang sana
"Mon,,kau tahu Bella kemana??? tanya Ryan tanpa basa-basi.
"hmm dia ke Jakarta ian " jawab Ramon
" apa ada tugas dari mu Mon ??
"ah tidak,, hanya saja dia sedang menjenguk seseorang " jawab Ramon.
"siapa ???
"entahlah Bella tak bilang "
"kau jangan menyembunyikan sesuatu dariku mon " tekan Ryan.
"ee...gue gak sembunyi apa-apa dari loe ian " Ramon gugup.
"kalau sampai kau bohong,,,kau tahu akibatnya Mon " ancam Ryan ,lalu ia memutuskan panggilannya.
Ryan memijat pelipisnya merasa sangat pusing memikirkan Bella dimana, namun ia baru kepikiran untuk menghubungi sahabatnya Rio, yang selalu bisa diandalkan.
"hallo Rio "
"hallo bro ,,,ada apa nih ???
"gue minta tolong ma loe,,,tolong lacak keberadaan Bella "
"Bella... memang dia kenapa bro "
"dia sedang berada di Jakarta, tapi gue gak tahu dia dimana "
"oh oke...gue akan cari keberadaan dia " jawab Rio ," loe mau nyusul juga ke Jakarta??? lanjutnya lagi.
"iya gue sekarang mau berangkat kesana,,tolong bantuin gue,,"
"tenang,,, setelah loe sampai sini pasti gue udah menemui Bella " ujarnya.
"thanks "
"no problem "
Panggilan terputus. Ryan bersiap untuk pergi ke Jakarta, mencari keberadaan Bella, ia sempat berpikir bahwa Bella dibawa oleh orang suruhannya Sean. Tapi ia juga tak punya bukti untuk menuduh Sean.
Jakarta.
Disebuah ruangan inap VVIP Bella dan Zyan kembali menemani Sean ,ia sudah mulai membaik walaupun masih terbaring lemah.
"Daddy mau buah apa ??? nanti aku kupasin " tanya Zyan
"jeruk boleh " pinta Sean.
Zyan langsung mengambil buah jeruk lalu ia mengupasnya perlahan, membersihkan serat-seratnya setelah itu menyuapkan pada Sean. Bella tersenyum melihat interaksi antara Sean dan Zyan. Zyan begitu senang melihat Daddy nya sudah membaik.
"Zyan udah cukup,jangan banyak-banyak, Daddy butuh istirahat " ucap Bella.
"iya mom " Zyan mengangguk.
"bell..aku senang kau kemari,, terimakasih sudah mau merawat ku "
"aku tidak merawat mu Sean...yang merawat mu itu dokter dan perawat "tukas Bella.
Sean tersenyum, Bella wanita yang cukup jutek ternyata.
"bagaimana,,,apa ingatan mu kembali ??? tanya Bella, sebenarnya dari kemarin ia ingin menanyakan hal itu, tapi kondisi Sean belum sepenuhnya membaik.
Sean menggeleng, " aku belum mengingatnya "
Bella menghembuskan nafasnya, ada rasa sesak di dadanya.
"tak apa... jangan dipaksakan " Bella mengelus tangan Sean.
Pintu terbuka nampak Tio masuk kedalam.
"permisi tuan, bolehkah saya bicara berdua dengan nona Bella " pinta Tio kepada Sean.
Sean mengangguk.
"ada apa " Bella menyipitkan matanya.
"mari kita bicara diluar nona " ajak Tio.
"Zyan tunggu disini ya, mommy mau bicara dengan om Tio, Zyan jagain Daddy yah " pesan Bella
"iya mom " Zyan mengangguk
Tio keluar duluan di susul Bella dibelakangnya. Tio mengajak Bella duduk di kursi tunggu di depan ruangan Sean.
"ada apa "
"begini nona,,,saya ingin bertanya,, kemana saja saat anda meninggalkan rumah tuan Sean ??
Ulasan kejadian 5 tahun lalu terlintas di pikirannya. Ada rasa takut dan trauma di hatinya, Bella membenci jika harus menceritakannya tragedi itu.
"nona " panggil Tio , membuyarkan lamunan Bella.
"ah...aku..." Bella tergagap
"katakan saja nona,,,ini demi tuan Sean, saya sangat berharap bisa menemukan pelaku atas kejadian 5 tahun lalu, kecelakaan yang menimpa tuan Sean sangat janggal, ketika saya melihat tuan Sean di rumah sakit itu bukan hanya sekedar kecelakaan,tapi tubuhnya lebam seperti bekas pukulan. " terang Tio.
Bella menghembuskan nafasnya, walaupun sulit ia harus memberi tahu Tio tentang kejadian tersebut.
"aku diculik oleh anak buah Daniel "
Tio membulatkan matanya tak percaya.
"aku diculik lalu di bawa ke sebuah gedung tua, dan di saat itu juga Sean datang menyelamatkan ku,," Bella tertunduk sedih.
"sean di hajar membabi buta oleh anak buah Daniel, mereka sangat banyak sehingga Sean tidak bisa melawan ," Bella mulai terisak.
"aku memohon kepada Daniel untuk tidak menyerang Sean terus menerus, namun dia memintaku jadi pemuas nafsunya, dia menjanjikan Sean hidup,lalu aku menyetujuinya "
"aku dibawa oleh Daniel,,,aku tidak tahu apa yang terjadi pada Sean." Bella menitikan air matanya
"bagaimana anda bisa terlepas dari dia " tanya tio
"aku ditolong oleh ian,,dia yang menyelamatkan ku saat Daniel membawa ku pergi "
"ian.... maksud nona, Ryan Suhendro ??
"iya,, Ryan Suhendro"
"lalu kemana saja nona,,, kenapa tidak kembali ke rumah tuan Sean "
"ian membawaku ke Jepang, kita berdua tinggal disana,,, setelah ian memberi tahu kalau mobil Sean masuk ke jurang dan terbakar, ian membawaku pergi, karna disini tidak aman, aku menurut saja, aku kira Sean telah tewas saat mobilnya hangus terbakar."
"kenapa nona tidak kembali saja,, saya mengkhawatirkan nona,,kalau seandainya nona pulang , Daniel pasti langsung ditangkap. selama ini tuan Sean hidup dengan kepalsuan yang dibuat oleh Daniel dan putrinya Sabrina, bahkan tuan Sean membebaskan Sabrina dari hukumannya, andai nona kembali semua tidak akan seperti ini, walaupun tuan tidak mengingat kejadian itu, tapi bersama nona Bella dia pasti bahagia" ucap Tio panjang lebar
"aku tidak tahu harus bagaimana,, saat itu aku merasa bersalah pada Sean, aku terpuruk saat Sean telah meninggal, bahkan aku sempat ke psikiater untuk memulihkan kondisi mental ku, setelah bertemu Sean kembali aku terkejut perasaan ku sangat senang dan juga sedih,, aku kira Sean telah melupakan aku dan kembali lagi kepada Sabrina, aku tidak tahu kalau dia hilang ingatan "
"saya pun ingin memberi tahu tentang ingatannya yang hilang, namun dokter melarangnya, kalau sampai Sean dipaksakan mengingat kejadian kecelakaan itu, akan berakibat fatal pada kondisi tuan Sean."
"jadi selama ini dia tidak tahu tentang pernikahannya " tanya Bella
"tidak nona...tapi beberapa hari yang lalu saya telah memberi tahunya "
pantas saja dia langsung menemui ku ,,bahwa dia ingat tentang pernikahannya,,batin Bella
" Bella " teriak seseorang yang berlari menghampiri Bella.
Bella menoleh menatap pria yang berlari kearahnya.
"Ian " guman bella
"Bella akhirnya aku menemukanmu " Sean langsung memeluk tubuh Bella
"aku mengkhawatirkan mu sayang " Ryan mengecup puncak kepala Bella.
"kau tahu aku disini " ucap Bella terbata.
"iya sayang,,,, kenapa kau pergi tanpa memberi tahu ku,,,,aku sangat frustasi saat kau tak ada " ucap Ryan, nampak raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
"maafkan aku....aku baik-baik saja "
"syukurlah " Ryan bernafas lega, lalu ia melirik pria di sebelah Bella. Bukankah ini asistennya Sean, kenapa dia disini, pikir Ryan
"maaf nona Bella saya permisi " pamit Tio meninggalkan lorong rumah sakit.
Bella mengangguk.
"sayang kenapa kau disini, siapa yang sakit ?? apa bibi mu " cecar Ryan.
"bukan bibiku,,,ayo masuk " ajak Bella.
Ryan dan Bella masuk bersamaan, mata Ryan membulat setelah tahu yang dirawat itu Sean.
" ayah ian " teriak Zyan menghambur ke dalam tubuh Ryan.
"jagoan ayah " sapanya.
"kenapa gak bilang kalau pergi,, ayah mengkhawatirkan mu jagoan "
"maaf yah,,, Zyan sama mommy lagi jenguk Daddy Sean."
apa.....jadi Bella telah memberi tahu Zyan tentang Sean ,
"Sean " panggil Bella
Sean tersenyum namun ia menatap sinis pria yang berada disamping Bella.
"Bella kau lama sekali " keluh Sean
"maafkan aku,,,,kau ingin apa,, biar aku ambil kan" tawar Bella.
"tolong suapi aku bell,,,aku ingin makan " pinta Sean manja
cih...dasar manja , batin Ryan
" baiklah " ucap Bella. " Ian kamu duduk saja dulu ya bareng Zyan di sofa "
Ryan mengangguk, membawa Zyan duduk disofa. Ryan terus memperhatikan Bella dan juga Sean , hatinya terasa terbakar saat Sean mencari perhatian dengan Bella
"ayo Sean makan " Bella menyuapi sedikit demi sedikit. Sean tersenyum menerima suapan demi suapan yang Bella berikan.
"Bella aku ingin minum " pinta Sean
"baiklah" Bella memberikan Sean minum, namun tiba-tiba Sean tersedak .
"maafkan aku Sean " Bella mengusap-usap dada Sean.
"tak apa sayang " Sean meraih tangan Bella lalu mengecupnya.
Melihat Sean yang pecicilan hati Ryan makin terbakar api cemburu, tangannya mengepal kesal.
Bella menarik tangannya, ia tak enak dengan keberadaan Ryan.
"sekarang minum obat ya " perintah Bella, lalu memberikan obat kepada Sean.
Dalam sekali teguk obat langsung masuk dalam tenggorokan nya.
"Daddy apa itu pahit" tanya Zyan polos, melihat Sean meminum obatnya.
"tidak boy,,, obatnya terasa manis, kalau meminumnya depan mommy mu " seringai Sean.
Ryan menatap tajam ke arah Sean, sedangkan Sean merasa sangat senang, memanasi pria yang berada di sebrang ranjangnya.
___________________________________________
Dukung terus yaa like comment and vote
Biar author semangat up nya 🥰🥰
Happy reading 💐💐💐