Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Cemburu buta


Menjelang makan malam Bella baru membukakan pintu kamarnya. Setelah puas tidur seharian dilanjutkan dengan berendam air hangat tubuh Bella kembali segar.


" Kemana Sean " guman Bella melihat sekeliling. Ia berjalan menuruni anak tangga.


" Bi apa melihat Sean ? tanya Bella menghampiri bi Marni yang sedang duduk disofa ruang tengah.


" Sean sedang bersama Zyan bell . Kamu mau makan bell ?


" Nanti saja bi aku mau mencari Sean."


Bella pun menuju ruang lukis Zyan. Hanya disitulah Zyan berada.


" Sean . Zyan " panggil Bella.


" Sayang " sahut Sean.


" Mom ".


" Kalian sedang apa ?


" Aku sedang belajar melukis dengan Zyan " jawab Sean.


" Kau melukis " Bella sedikit tak percaya dengan ucapan Sean.


" Iya . Lihat lah ini " Sean memperlihatkan lukisannya kepada Bella.


" Apa ini Sean " Bella mengkerutkan keningnya.


" Itu buah pisang sayang "


" Pisang " ulang Bella bingung.


" Iya "


" Tapi ini tak seperti pisang Sean . Ini seperti ulat besar "


" Apa ? ulat kau bilang "


" Iya ulat besar , bentuknya tak mirip dengan pisang " komentar Bella.


" Kau menghina hasil karya ku sayang " Sean tak terima.


" Tapi ini kenyataan Sean " kukuh Bella.


" Mom , Daddy baru belajar melukis jadi ya harap maklum saja " tukas Zyan.


" Oh begitu "


Zyan mengangguk lalu melanjutkan melukis kembali.


" Apa kalian sudah makan ? tanya Bella.


" Aku sudah mom bareng Daddy " jawab Zyan.


" Jadi kalian sudah makan " Bella tertunduk lesu.


" Kau ingin makan sayang ? biar aku temani "


" Kau serius ? tapi kau kan sudah makan "


" Tak apa , ini demi kamu sayang " goda Sean mengerlingkan matanya.


" Baiklah. Zyan mommy mau makan dulu ya. "


" Iya mom. " jawab Zyan.


Tiba di meja makan para pelayan dengan cepat menyajikan makanan untuk Bella dan juga Sean.


" Kau yakin akan makan lagi ?"


" Iya makan sedikit saja."


Bella mengambil lauk yang ada di hadapannya. Rasa lapar telah menguasai perutnya yang ingin segera diisi.


" Sayang besok kita akan hadir di acara pernikahannya Ryan," ucap Sean disela-sela makannya.


Bella langsung menghentikan aktivitas makannya lalu ia menatap Sean. " Baiklah , terserah kau saja Sean."


" Jam berapa kita berangkat ?" tanya Bella kemudian.


" Kau ingin melihat akadnya atau resepsi pernikahannya ?" Sean balik tanya.


" Aku ingin menyaksikan akad nikahnya," jawab Bella.


" Baiklah . Besok pagi jam 9."


Bella terdiam ia tak melanjutkan makannya.


" Ada apa ? kenapa tak dilanjutkan makannya ?"


" Tidak ada apa-apa Sean ," elak Bella. Ia pun kembali makan dengan tenang.


Usai makan Sean menuju kamarnya sedangkan Bella ia menemui Zyan dikamarnya.


" Zyan ," panggil Bella.


" Iya mom ," sahut Zyan.


" Kamu belum tidur ?"


" Belum mom , aku sedang membaca dulu."


Bella mengangguk pelan. Ia duduk di samping Zyan.


" Zyan apa kamu mau ikut sama mommy ?"


" Kemana mom ?"


" Ke pernikahanya ayah ian ," jawab Bella.


" Ayah ian mau menikah mom ?"


" Iya sayang ."


" Aku ikut mom ," sahut Zyan antusias. " Tapi kapan mom ?"


" Oke mom , aku ikut. Aku kangen banget sama ayah ian."


" Iya sayang , jangan lupa besok siap-siap ya."


" Oke mom."


" Ya sudah ini sudah malam, kamu tidur sayang."


" Iya mom." Zyan langsung menyimpan bukunya di nakas samping tempat tidurnya.


" Selamat malam sayang ," Bella mencium kening Zyan.


Bella keluar dari kamar Zyan lalu melangkah menuju kamarnya.


" Kau dari mana?" tanya Sean yang sedang duduk bersandar diranjang.


" Aku habis dari kamar Zyan," jawab Bella.


Bella mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.


" Sean besok Zyan ikut ke acara pernikahannya Ian," seru Bella.


" Apa ? ikut ," Sean mengkerutkan keningnya.


" Iya , aku yang mengajaknya," jawab Bella.


" Kenapa Zyan kau ajak ," nada suara Sean terdengar kesal.


" Zyan juga berhak tahu karena selama ini Ian yang menjaga Zyan dari bayi sampai umur 4 tahun," jelas Bella.


" Jadi karena itu kau mengajaknya , supaya kalian bisa bernostalgia dengannya," kesal Sean.


" Kau apaan sih Sean . Pemikiran mu jauh sekali," balas Bella tak terima.


" Apa kau masih menyimpan rasa padanya bell," Sean menatap tajam mata Bella.


" Maksudmu apa Sean,"


" Kau masih menyukainya kan ," tekan Sean.


" Kau gila . Aku tak menyukainya," ucap bella tegas.


" Lalu kenapa kau diam saat aku mengajak mu pergi ke acara pernikahannya," decak Sean.


" Aku hanya berpikir untuk mengajak Zyan saja," Bella beralasan.


" Kau bohong," hardik Sean.


" Sean aku tak bohong," Bella meyakinkan Sean.


" Jujur padaku bell . Apa kau masih menyimpan rasa padanya ," Sean mulai terbakar api emosi. Rahangnya mengeras.


" Tidak Sean. Aku tak menyukainya ataupun punya rasa padanya."


" Jangan bohong," teriak Sean. Wajah Sean sudah memerah menahan emosi.


" Aku berani bersumpah Sean."


" Aku tahu kau masih menyimpan rasa padanya kan ," bentak Sean.


" Sean harus aku bilang berapa kali kalau aku tak menyimpan rasa padanya. Jangan aneh-aneh Sean."


" Aku tak kan marah jika kau jujur Bella."


Bella menghela nafasnya kasar. " Hentikan cemburu buta mu itu Sean. Aku tak menyukainya ataupun menyimpan rasa padanya. Aku hanya mencintaimu Sean."


Sean masih terlihat emosi. Tatapan matanya tak lepas dari manik hitam Bella. Mencari pembenaran atas perkataan Bella padanya.


" Terserah kau saja ." Sean beranjak dari ranjang lalu keluar dari kamarnya. Pintu terbanting keras saat Sean keluar.


" Dia kenapa sih ." Bella mengelus dadanya kaget.


Sean yang kesal memilih pergi dari kamarnya, ia menuju balkon untuk menenangkan hatinya yang sedang emosi.


" Argghh sial," teriak Sean.


" Aku tahu kau berbohong bell," guman Sean.


Sean mencengkram erat besi pagar yang berada dibalkon. Tatapan penuh emosi.


Esoknya Sean dan Bella telah bersiap pergi ke acara pernikahan Ryan. Begitu pun dengan Zyan dan juga bi Marni ikut menghadiri acara pernikahan Ryan. Bi marni ingin tahu wanita mana yang telah meluluhkan hati Ryan yang beku karena masih menginginkan Bella.


Tiba di tempat acara Sean menggandeng tangan Bella. Sedang Zyan bersama dengan bi Marni. Walaupun hati Sean masih marah tetapi ia mencoba bersikap biasa. Ia tak ingin Ryan melihat Bella dan dirinya tak mesra.


" Bella itukah wanita yang akan menjadi istri Ian," tanya bi Marni. Melihat Selena berjalan menuju meja untuk akad.


" Iya bi , itu Selena . Gadis yang dulu pernah kerumah kita," jawab Bella.


" Ian beruntung mendapatkan gadis secantik dan seramah dia ," tukas bi Marni.


Bella mengangguk pelan. Melihat Ryan akan menikah ada rasa bahagia di hati Bella. Pria yang begitu baik yang sudah ia anggap kakak dan saudara akhirnya menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.


Akhirnya kau menerima Selena ,Ian. Aku bahagia sekaligus senang kau memilih Selena. Wanita yang kuat dan penuh semangat, sama seperti mu dulu. Penuh semangat dan kuat mendampingi ku saat aku rapuh. Aku doakan kau bahagia selamanya Ian, batin Bella.


Bella menyeka air matanya yang menetes. Perasaannya sangat bahagia melihat Ryan bangkit dari kegalauannya. Ada rasa bahagia yang tak terkira dihati Bella.


Namun tak dengan pemikiran Sean. Melihat Bella menyeka air matanya ,ia yakin bahwa Bella menangis karena tak rela Ryan menikah dengan Selena.


Awas saja kalau kau mendekati keluarga ku Ryan. Akan kupastikan kau hancur , geram Sean dalam hati.


Tangan Sean mengepal kuat menahan emosi. Sorot matanya tajam melihat lurus ke arah Ryan yang sedang bersiap untuk akad.


.


.


jangan lupa like comment and vote, itu sangat berharga buat author. Biar semangat buat nulisnya. 🥰🥰


.


.