Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Kecolongan


Bella tersenyum. " tentu saja akrab ,dia kan mantan pacar ku "


" apa " pekik Sean.


" kau kenapa Sean ? Bella mengernyitkan keningnya heran.


" kau mengundang mantan pacarmu kesini " amuk Sean.


" memangnya kenapa ? lagian dia sudah menikah " kilah Bella.


Sean menghembuskan nafasnya kasar, ia tak ingin merusak momen bahagia ini dengan cemburu buta.


Acara berlanjut hingga sore hari setelahnya acara diakhiri jam 5 sore. Bi marni diantar supir Sean kerumahnya ,sedangkan Sean ,Bella dan Zyan kerumah Sean.


" mom aku ke kamar dulu ya " pamit Zyan setelah tiba dirumah Sean.


" iya sayang , mandi lalu istirahat ya "


" baik mom "Zyan langsung pergi ke kamarnya di lantai atas.


" ayo sayang kita juga istirahat " Sean merangkul pinggang Bella.


" tentu saja , aku sangat lelah "


Sean dan Bella pun menuju kamar mereka mengistirahatkan tubuh yang telah seharian berdiri menyambut para tamu.


Tiba di kamar Bella mulai melepaskan aksesoris yang menempel di rambutnya.


" mau aku bantu " tawar Sean.


" tak perlu aku bisa sendiri mending kau mandi "


" baiklah " Sean pun melangkah menuju kamar mandi.


Setelah melepas semua aksesoris dan gaun pengantinnya Bella mengambil bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya.


ceklek , bunyi pintu kamar mandi menandakan Sean yang telah selesai dengan kegiatan mandinya.


Sean yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dari pinggang sampai pahanya saja , memamerkan otot perut dan kulit cokelat nan eksotisnya.


" kau mau mandi bell ? tanya Sean mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


" iya " jawab Bella datar , lalu ia melangkah menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Bella selesai dengan mandinya. Ia berjalan menuju ruang pakaian, mengambil kaos dan celana panjangnya.


" bell " panggil Sean.


" iya , ada apa ?


" kemarilah " Sean menepuk kasur disebelahnya.


Bella menghampiri Sean lalu duduk disebelahnya.


" kita akhirnya sudah menikah lagi , " Sean menjeda ucapannya. " tapi aku belum mengingat tentang pernikahan kita dulu "


Bella tersenyum. " tak apa Sean , jangan kau paksakan , kalau sudah waktunya pasti kau mengingatnya "


" terimakasih bell " Sean menarik tubuh Bella ke pelukannya.


" aku bahagia bell " ucap Sean.


" aku juga " balas Bella.


Sean menangkup kedua pipi Bella , mengecup bibir Bella lalu ********** perlahan.


" bolehkah aku memintanya bell " pinta Sean dengan tatapan sayunya.


Bella tersenyum, sedetik kemudian ekspresi wajah berubah " tidak " Bella memundurkan tubuhnya dari Sean.


" why ? tanya Sean lesu.


" apa kau tidak capek seharian ini ? decak Bella.


" aku tidak merasa capek aku masih kuat "


" tapi aku capek Sean , ingin istirahat " ucap Bella memelas.


Sean menghela nafasnya. " baiklah aku tidak akan meminta sekarang , ya sudah kita tiduran saja " ajak Sean.


Bella memicingkan matanya. " kau serius kan hanya tiduran "


" iya sayang , aku takkan macam-macam padamu,"


Akhirnya Bella pun tidur disamping Sean.


" bell "


" hmm " Bella mulai memejamkan matanya.


" kenapa kau takut kalau aku macam-macam padamu?


" Karena kau pemaksa , dan lagi kau pernah memperkosaku dua kali " dengus Bella.


" maafkan soal itu , dulu aku sudah tak tahan melihat tubuhmu , dan lagi entah kenapa junior ku hanya tegang hanya melihat lekuk tubuhmu " kekeh Sean.


" cabul "


" hehe maafkan aku sayang " Sean mengeratkan pelukannya.


" jangan macem-macem " kecam Bella.


" iya sayang tidak hanya memeluk saja " kekeh Sean.


Selena bersama Omanya tiba di rumahnya. Oma Eva langsung menuju kamarnya begitu pun Selena masuk ke kamarnya.


" pernikahan nona Bella sangat sederhana tapi berkesan sekali , aku ingin pernikahan ku dengan Mr Ryan seperti ini " guman Selena melihat foto-foto dirinya diponselnya.


" nona Bella dan Mr Sean sangat cantik dan gagah , tapi tak setampan Mr ryan wajahnya " kekeh Selena.


" aku kirim ke Mr Ryan akh , biar dia tahu rasa tidak di undang ke pernikahannya nona Bella " Selena cekikikan membayangkan raut wajah Ryan marah.


Selena mengirim foto dirinya dengan Bella dan juga sean yang mengapit tubuhnya.


" pasti Mr Ryan ngambek , haha " Selena tertawa kencang membayangkan wajah Ryan yang kesal.


Dikantor Ryan.


Ryan tengah sibuk dengan laporan-laporan yang harus ia diselesaikan. Bunyi dering ponselnya mengalihkan kesibukannya.


Ryan meraih ponselnya disisi dekat berkas-berkas yang menumpuk. Sekilas ia melihat nama gadis tengil di layar handphonenya.


" menganggu saja " dengus Ryan meletakkan kembali ponselnya tanpa membuka pesan dari Selena.


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tak ada habisnya.


Pukul 9 malam Ryan baru menyelesaikan semua pekerjaan yang tadi sore menumpuk. Ia berjalan pulang menuju parkiran kantor. Ryan memeriksa ponselnya melihat riwayat chat yang menumpuk dari Selena.


Ryan malas membukanya namun ia penasaran dengan apa yang Selena kirim hampir 10 pesan.


Perlahan ia membuka chat dari Selena , seketika mata Ryan membulat sempurna melihat apa yang dikirim oleh Selena.


" tidak mungkin " Ryan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Bella kau ... " ucapan Ryan terjeda . " bodoh kenapa aku bisa kecolongan , arrgh sial gara-gara sibuk dengan kerjaan aku tak bisa menggagalkan pernikahan mereka " Ryan menggenggam erat ponselnya.


Ryan berlari menuju mobilnya. Ia akan kerumah Selena memintanya untuk menjelaskan kenapa ia bisa di undang di pernikahan Bella , sedangkan ia tak di undang.


" sial , kenapa bisa secepat ini mereka menikah " Ryan mengeratkan genggaman tangannya pada setir mobilnya.


Tak butuh waktu lama mobil Sean tiba digerbang rumah Selena. Ryan menekan klakson mobilnya berkali-kali meminta security rumah Selena membuka gerbang.


" maaf tuan ini sudah malam nyonya Eva melarang kami membuka gerbang untuk setiap orang yang bertamu lewat jam 9 malam " ungkap security rumah Selena.


" bilang pada selena bahwa aku ingin menemuinya " kesal Ryan.


" tapi tuan "


" bilang saja " bentak Ryan emosi.


Security itu terjengit mendengar bentakan Ryan yang emosi. Ia langsung menuju posnya menghubungi pelayan yang berada didalam untuk memberitahu bahwa ada yang ingin bertemu dengan tuan rumahnya.


Tak lama security itu membukakan gerbang rumah Selena membiarkan mobil Ryan masuk ke pelataran rumah Selena.


Ryan bergegas keluar dari mobilnya mengetuk kasar rumah Selena.


" Selena buka , " Ryan menggedor-gedor pintu rumah Selena.


Pintu terbuka menampakkan Selena yang tengah berdiri di balik pintu rumahnya.


Ryan langsung mendekati Selena.


" kau , bagaimana bisa kau berada di pernikahan Bella ? tanya Ryan emosi , matanya menyiratkan kekesalan.


" tentu saja aku di undang " Selena bersedekap menatap Ryan.


" cih , kau bahkan tidak mengenalnya "


" jangan salah aku sudah berteman dengan nona Bella "


" pembohong "


" kalau aku bohong mana mungkin aku di undang ke acara pernikahannya "


" dengar ya Mr Ryan , nona Bella telah menikah dengan Mr Sean tadi pagi dan aku telah menyaksikannya " terang Selena tersenyum mengejek.


" bohong , itu semua hanya akal-akalan kalian saja kan agar aku percaya bahwa Bella telah menikah " sangkal Ryan.


Selena menghela nafasnya. " ya sudah kalau kau tak percaya , ya jelas nona Bella sudah menikah dan sekarang mungkin dia sedang malam pertama dengan suaminya Mr Sean "


" tidak , itu tidak mungkin " teriak Ryan.


" Mr Ryan kau ini kenapa ? datang malam-malam kemari hanya untuk menanyakan tentang pernikahan nona Bella "


" aku tahu kau ini sangat jail , aku hanya ingin meminta penjelasan darimu kenapa kau bisa di undang sedangkan aku tidak " geram Ryan tak terima.


" aku sudah bilang padamu aku telah berteman dengan nona Bella , apa kau tak dengar " sergah Selena.


" aku tak percaya " sentak Ryan.


" ya sudah , ini sudah malam aku lelah dan mengantuk jadi sampai jumpa Mr Ryan " Selena membalikkan tubuhnya melangkah menuju anak tangga.


" tunggu aku belum selesai " teriak Ryan.


Namun Selena tidak memperdulikan Ryan ia terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" argghh sial " teriak Ryan , melangkah keluar dari rumah Selena.


.


..


Jangan lupa like comment and vote.


.


.


.