Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Sebuah rencana


Mentari pagi menyinari bumi, hiruk pikuk ibukota memulai aktivitas disetiap masing-masing orang yang tinggal di kota besar ini. Bella bergegas bangun menuju dapur untuk membuat kan sarapan bubur untuk Sean.


"Sean ayo bangun,,,aku sudah membuat bubur untuk mu " Bella menggoyangkan badan Sean.


Sean meregangkan otot-ototnya,perlahan membuka matanya.


"hallo istriku " ucap Sean dengan suara khas bangun tidurnya.


"aku bukan istrimu " ketus Bella


"ayo bangun,,, cepat makan sarapanmu "perintah Bella


"suapin " ucap Sean manja


"makan sendiri " Sentak Bella, meninggalkan Sean, namun tangan Sean dengan cepat menarik tangan Bella, hingga tubuh Bella terjerembab ke dalam pelukan Sean.


"morning sayang " seringai Sean.


"lepaskan Sean " berontak Bella


"sebentar saja,,,aku merindukanmu sayang " Sean semakin erat memeluk Bella.


"Sean please, " lirih Bella.


Namun tidak menggubris ucapan Bella, ia semakin hanyut memeluk Bella.


"Daddy " teriak Zyan dari ambang pintu kamar


Bella tersentak mendengar teriakkan Zyan.


"Sean lepaskan ada Zyan "


Sean tidak melepaskan pelukannya,ia semakin erat memeluk.


"mommy sama Daddy sedang apa ??? tanya Zyan telah tiba samping ranjang.


"Zyan...kemari...ayo kita pelukan " ajak Sean


"memang boleh dad,,,kan Daddy masih sakit ??


"tak apa sayang,,,ayo " bujuk Sean.


Bella tersenyum canggung, hingga Zyan naik ke kasur dan memeluk tubuh Sean dan Bella.


"ini hangat " ucap Zyan polos.


"Zyan mau kan seperti ini terus,,, bujuk mommy mu untuk menikah lagi dengan Daddy " ucap Sean.


Bella mencubit perut Sean, sembarang saja berbicara dengan Zyan yang masih kecil.


"Daddy selalu bilang menikah,,, menikah itu apa dad ?? kini Zyan membalikkan perkataan Sean


"menikah itu menyatukan seorang pria dan wanita, berjanji untuk setia sehidup semati " jelas Sean.


"Zyan gak ngerti dad " ucap Zyan


"hentikan Sean,,Zyan masih kecil,,kau jangan mengajari yang tidak benar " kesal Bella.


"maafkan aku "


"Sean lepaskan kau harus sarapan " bujuk Bella.


"tapi kau menyuapi ku bell "


"iya baiklah" ucap Bella malas.


Sean melepaskan pelukannya untuk Bella, tidak untuk Zyan. Sean tak ingin melepaskan pelukan dengan anaknya.


"ayo makan " Bella mengangkat sendok berisi bubur dihadapan Sean.


Sean menerima suapan dari tangan Bella, sedikit demi sedikit bubur habis tanpa tersisa.


"Sean besok aku akan kembali ke Surabaya" ucap Bella setelah memberikan Sean obat


"kembali.... untuk apa kau kesana lagi bell,,,kau tetap disini,,,kau istriku bell" tekan Sean.


"aku juga punya kehidupan Sean,,,aku harus bekerja,dan lagi Zyan sekolah disana "


"tidak bell,,,kau tak boleh pergi lagi,, tinggal lah disini dengan ku,,,, walaupun aku belum mengingat tentang pernikahan kita,,tapi setidaknya kamu tetap disini" pinta sean


"tidak bisa Sean " tolak Bella


"kenapa bell " Sean menatap sendu wajah Bella.


"aku lebih nyaman tinggal di sana "


Sean tertunduk sungguh ia ingin Bella tinggal di rumahnya.


"baiklah kalau itu keputusan mu,,,,tapi aku minta padamu jangan melarang ku bertemu dengan Zyan."


"iya tentu saja "


Sean kembali memeluk tubuh Zyan yang sedang menonton film di handphonenya. Tak habis pikir oleh Sean, kenapa Bella tidak mau tinggal dikota ini, ia memilih pergi jauh dari jangkauannya.


Kini mereka bertiga tengah berada di ruang tamu, Zyan sedang bermain mobil-mobilan bersama Sean. Tio membelikan mainan untuk Zyan,agar dia tak merasa bosan saat Bella menemani Sean dirumah sakit.


Mungkin dari jauh terlihat seperti keluarga yang utuh dan harmonis, namun itu hanya fatamorgana. Bella belum siap menerima Sean kembali, bayang-bayang masa lalu masih terlintas jelas di benaknya.


Ketakutannya saat menikah dengan pria itu, terlebih saat dirinya di culik oleh Daniel. Bella benar-benar masih trauma. Trauma dengan sifat kasar Sean, ia takut Sean akan berbuat seperti itu lagi, terlebih sekarang ada Zyan di kehidupannya. Bella tidak ingin Zyan melihat perilaku Sean yang kasar, cukup dia saja yang mengalaminya.


"Bella " teriak seseorang dari ambang pintu.


Semua menoleh kearah suara itu.


"ayah ian" teriak Zyan menghampiri Ryan.


"aku sedang bermain mobil-mobilan yah bareng Daddy Sean "jawab Zyan antusias


"oh ya....ayah ian boleh tidak ikut main "


" boleh dong yah,ayo " Zyan menarik lengan Ryan menuju karpet yang penuh dengan mainan.


"hai bell " sapa Ryan tersenyum


",hai " balas Bella


Sean bangun menghampiri Bella yang sedang duduk.


", untuk apa kau kesini " tanya Sean angkuh.


",tentu saja aku ingin bertemu Bella dengan Zyan"


"Bella istri ku,,, untuk apa kau menemuinya"


"dia calon istriku"


Kedua pria itu saling ngotot dan melempar tatapan tajam.


"stop,, kalian tidak malu,,ada Zyan "tekan Bella.


Ryan kini duduk disebelah sisi Bella yang kosong. kini Bella diapit dua pria yang menyukainya.


"kalian lagi ngapain sih,,," Bella risih.


Namun kedua pria itu semakin mendempetkan tubuhnya ke tubuh Bella. Membuat Bella agak kesakitan.


Tatapan kedua pria itu saling menatap tajam, seakan ingin membunuh satu sama lainnya.


"ishh...kalian ini kenapa sih " Bella semakin risih.


Saking kesalnya Bella menjewer telinga dimasing-masing kedua pria tersebut.


"awww sakit " rintih mereka berdua.


"minggir gak ??? bentak Bella.


Tapi kedua pria itu tidak mau mengalah malah semakin mendempet tubuh Bella.


Bella mengencangkan jewerannya.


"aww sakit sayang " rengek Sean.


"aww ampun sayang " rengek Ryan.


Zyan melihat kedua pria yang dijewer Bella langsung menghampirinya.


"mom kenapa dijewer ayah ian sama Daddy Sean ??? tanya Zyan.


" karena mereka nakal sayang ,,makanya mama jewer " jawab Bella tersenyum.


"ayah ian sama Daddy makanya jangan nakal,, liat dong Zyan aja gak nakal,,,iya kan mom " ucap Zyan


"iya pinter sayang " ucap Bella gemas.


"iya,,iya ampun aku gak akan nakal " rengek Ryan.


"iya sayang lepaskan sakit " ampun Sean.


bella melepaskan jewerannya lalu ia beranjak mengajak Zyan kembali bermain.


"ini gara-gara kau " Sean melotot tajam.


"ini juga gara-gara kau brengsek" balas Ryan tak kalah tajam.


Sean menarik kerah baju Ryan, begitupun sebaliknya mereka saling melayang kan tinju gertakan.


"kalian kenapa lagi sih " kesal Bella.


Dalam sekejap mereka berdua diam, mengubah posisi duduk tegap. Seperti anak kecil yang takut diomeli ibunya.


Di kantor Daniel ia mendapat laporan bahwa Sean masuk ke rumah sakit setelah pulang dari rumahnya, dan kabar yang mengejutkan,Bella berada dirumah Sean. Daniel menyewa beberapa orang untuk memata-matai Sean.


"aku tak menyangka kau kembali lagi kesini,, setelah sekian lama ku mencari mu ternyata kau kembali, Bella " guman Daniel menatap lurus ke arah kaca dinding di kantornya.


"apakah dia telah kembali lagi kepada Sean, tapi Sean belum mengingat ingatannya ?? akh sial kalau saja dulu tidak ada yang membawanya pergi, mungkin sekarang dia berada digenggaman ku,, gadis itu memang berbeda, membuat darahku berdesir, seperti kembali muda "


Daniel kembali menghubungi orang suruhannya untuk terus memata-matai Sean dan Bella. ia ingin tahu kemana saja Bella selama ini dan tinggal dimana.


",papa " suara Sabrina mengalihkan pandangannya.


"Sabin,,, kau kesini??


"iya pa "


"ada apa Sabin???


",apa rencana kita pah,,,,aku tidak ingin berpisah lagi dengan Sean. " keluh Sabrina.


" tenang saja,,, sebelum ingatan Sean kembali, kita masih aman,,, papa sudah menyusun rencana,kau tunggu saja "


"benarkah pah,,, papa memang terbaik "


___________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰


Happy reading 💐💐💐