Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Hilang arah


"ada apa ini ma ??? tanya Daniel saat tiba dirumah nya.


jeni menghubungi suaminya agar segera pulang atas apa yang terjadi tadi dirumahnya


"Sean datang kemari marah-marah pah..dia mengancam akan menjebloskan Sabin ke penjara" jelas jeni.


"kenapa dia mengancam seperti itu" tanya Daniel heran


"dia menuduh Sabin telah mencoba merencanakan penabrakan terhadap istrinya"


Sementara Sabrina hanya tertunduk, menggigit bibirnya takut akan ancaman Sean,terlebih lagi rencana penabrakan yang ia lakukan tanpa di ketahui oleh papa nya.


"apa benar itu Sabin" tanya Daniel menatap Sabrina


"Bu...kan...Sabin pah "Sabrina gugup.


"jangan bohong kamu Sabin,, sikap mu saja sudah menunjukan kalau kamu yang berbuat" bentak jeni.


"sudah ma...jangan marah-marah lagi,,,sabin tidak mungkin melakukannya" bela Daniel


"papa jangan membela anak yang salah" bentak jeni.


."buktinya apa kalau Sabin yang merencanakan penabrakan itu" tanya Daniel


"Sean memang belum membawa bukti...tapi mama yakin Sean tidak akan menuduh Sabin tanpa ada bukti ataupun saksi." terang jeni.


"papa akan urus semuanya,, papa akan coba bujuk Sean kalau benar Sabin yang melakukannya, ia harus meminta maaf pada Sean dan istrinya"


"Sabin ikut papa kerumah Sean "perintah Daniel.


"mama ikut" pinta jeni.


"tidak.. Mama dirumah saja,biarkan papa dan Sabin kerumahnya,,papa janji akan meminta maaf padanya"


"ya sudah... selesaikan dengan baik-baik pah,,jangan sampai Pake emosi,,,sean sudah sangat emosi saat datang kemari,..papa tahu kan Sean menyeramkan saat marah" pinta jeni


"iya mah... tenang saja papa akan bicara dengan baik-baik sama Sean" Daniel menenangkan istrinya.


"ayo Sabin ",ajak Daniel


"tunggu....Sabin kalau kamu tidak bersalah kamu tak usah takut, tapi kalau kamu bersalah bertanggungjawab atas perbuatan mu" tekan jeni.


",mama apaan sih...Sabin tak salah mah" elak Sabrina.


"kamu masih saja angkuh Sabin,,, sudahlah sana pergi,, minta maaf lah pada Sean dan istrinya"


"tapi....." ucapan Sabin terjeda, Daniel menahannya untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Berdebat dengan jeni tidak akan menang,selain pintar membaca situasi jeni juga pintar berdebat.


"iya mah...pasti papa akan meminta Sabin minta maaf pada Sean." ucap Daniel


jeni mengangguk. Lalu Sabin dan Daniel pergi menuju rumah Sean.


Di mobil menuju perjalanan rumah Sean.


"Sabin,,apa benar yang dikatakan mama mu " tanya Daniel.


"bukan aku pah " jawab Sabrina gugup.


"jawab yang jujur Sabin" bentak Daniel.


"a..ku...ya aku yang menyuruh orang untuk menabrak wanita murahan itu" ucap Sabrina.


" kenapa kau bodoh sekali Sabin...papa sudah bilang padamu jangan bertindak gegabah..kau malah bertindak seenaknya" bentak Daniel emosi


"papa terlalu lama bertindak..aku sudah tak tahan ingin membuat wanita murahan itu lenyap "


"tapi jangan bertindak bodoh Sabin...Sean tidak semudah itu dibodohin dengan rencana recehmu."


"lalu aku harus apa pah " ucap Sabrina mulai putus asa


"kita minta maaf padanya dulu,,,kalau bisa bujuk istrinya supaya memaafkan tindakan bodoh mu" perintah Daniel


"aku...minta maaf sama wanita murahan itu....tidak papa...aku tidak akan Sudi" tolak Sabrina gengsi


"turunkan ego mu Sabin...kau mau dipenjara atas perbuatan mu"


"aku tidak mau papa....tapi setidaknya papa bantu aku..aku tidak Sudi meminta maaf kepada wanita murahan itu.."


"Sabin....Sean orang yang berkuasa dimana-mana.. sekalipun papa bisa membantu mu,,,tapi tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan Sean."


"arrgh gara-gara wanita murahan itu, hidup ku sial" teriak Sabrina kesal.


"sudah ikuti apa perintah papa,,minta maaf padanya,dan juga bujuk istrinya supaya Sean mau memaafkan mu"


"tapi pah...Sean belum punya bukti"


"kau mau menunggu ada bukti....jangan bodoh Sabin...kalau sampai Sean lebih dulu mendapatkan bukti,maka dia semakin mudah memasukkan mu kedalam penjara...dan itu akan memberatkan mu" bentak Daniel.


"aarggh " teriak Sabin kesal, pasalnya ia tidak ada jalan lagi mau tidak mau ia harus meminta maaf kepada istrinya Sean.


"ya sudah aku mau meminta maaf sama wanita murahan itu" kesal Sabrina.


",itu lebih baik...nanti kita pikirkan lagi rencana balas dendam kita...kau jangan lagi bertindak gegabah" perintah Daniel.


"baiklah pa".


Sementara itu Sean yang baru tiba dirumah memanggil semua pelayan,meminta berjejer menanyai satu persatu pelayanannya.


"bagaimana apa kalian menemukan istriku" Sean bersekedap menatap semua pelayannya.


"maafkan kami tuan,,kami belum menemukan nyonya" jawab serempak semua pelayan nya.


"apa....kerja kalian apa hah,, sampai tidak tahu istriku kemana" bentak Sean marah


Semua pelayan tertunduk ketakutan mendengar kemarahan Sean.


"kalau kalian tidak menemukan istriku,,,semua akan ku pecat " teriak Sean


Semua pelayan bergemetaran ketakutan, hanya bisa menunduk tidak berani menatap tuannya.


"kau....kau yang berjaga di gerbang rumah,,apa kau tidak melihat istriku keluar rumah" tunjuk Sean ke arah pria berseragam serba hitam, penjaga pos gerbang.


"tidak tuan,,,saya tidak melihat" menggeleng-geleng ketakutan.


"kemari kau "perintah Sean


Dengan ragu penjaga pos itu menghampiri Sean dengan perasaan takutnya.


"kau bodoh...tidak becus bekerja kenapa sampai tak melihat istriku keluar" teriak Sean setelah melayangkan pukulan.


penjaga pos terhuyung menerima pukulan Sean,,darah menetes dari sudut bibirnya.


"maaf kan saya tuan " menundukkan kepalanya.


Saat Sean akan menendangnya, Bella yang baru keluar dari kamar nya memangil Sean dengan lantang.


"Sean " teriak Bella menatap Sean tajam


Semua menoleh ke arah suara tersebut, begitu pun Sean, ia menatap istrinya dengan perasaan senang, dan cemas.


"sa....yang..." guman Sean


"apa yang kau lakukan padanya?? Bella menghampiri Sean,masih dengan tatapan tajamnya.


Sean tidak menggubris perkataan Bella,ia langsung memeluk tubuh Bella, perasaan senang, khawatir dan bersalah menjadi satu


"kau kemana saja sayang" melepaskan pelukannya,menatap lembut mata Bella.


"apa yang kau lakukan Sean"


"aku hanya memberi mereka pelajaran"


"pelajaran apa yang kau berikan,,,, memukul nya hingga babak belur,,atau sampai kau menghilangkan nyawanya,, seperti kau pernah lakukan padaku" sarkas Bella tajam.


Sean terperangah mendengar perkataan Bella.


"tidak sayang "


"lalu ???


",maafkan aku "guman Sean.


"minta maaf padanya,,,kenapa harus minta maaf padaku "bentak Bella.


Sean berbalik berhadapan dengan penjaga pos yang dihajar nya.


"maafkan saya"


"tidak apa-apa tuan...saya sudah ceroboh tidak bekerja dengan baik" balasnya.


"bapak tidak ceroboh... bapak sudah cukup baik menjalankan pekerjaan bapak.. sekali lagi maafkan suami saya ya pak" ucap Bella.


"tidak apa-apa nyonya"


"sebaiknya obati luka bapak.. sekarang pergilah" kata Bella.


Sean mengibaskan tangannya, menyuruh semua pelayan bubar.


Bella duduk disofa diikuti Sean disebelahnya.


"kau dari mana saja tadi" cecar Sean


"aku dari kamar di ujung ruangan ini,,aku lelah jadi aku tertidur" ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Bella kau membuatku gila,,,aku mencari-cari kau sampai ke toko kue bibimu." ucap Sean sedikit emosi


"apa...kau sampai ke sana " Bella tersenyum miring


"iya...ku pikir kau pergi dari rumah dan pergi ke toko bibi mu"


Bella semakin tertawa


"kenapa kau ketawa hah....aku cemas padamu aku takut terjadi hal yang diluar pikiranku,," Sean kesal.


"tidak ada Sean...kau itu berlebihan...aku tidak akan kabur ataupun pergi dari rumah mu.." Sean masih tertawa.


"aku hanya takut" lirih Sean.


Bella tersenyum hangat, "aku tidak akan pernah meninggalkan mu,,cuma hanya kau membentak ku..aku menghindari mu agar kau bisa lebih tenang saja" Bella memegang tangan Sean


"terimakasih bell...maafkan aku telah membentak mu...aku sedang banyak pikiran"


"tidak apa....tapi ingat Sean..kau jangan main kekerasan lagi Sean.. kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah." pesan Bella.


"ya aku terbawa emosi,takut dan khawatir padamu... memikirkan kau diluar sana membuatku hilang arah "


Bella tersenyum tipis, " tenang lah. ...kau jangan khawatir lagi Sean...aku disini" memeluk tubuh Sean.


"jangan pernah pergi lain bell " mencium puncak kepala Bella.


Bella mengangguk dipelukan Sean.


Hati Sean merasa lebih tenang sekarang,Bella tidak meninggalkannya. Perasan takut kehilangan dan khawatir bercampur menjadi satu. Apa jadinya kalau Bella benar-benar meninggalkan nya, entahlah..mungkin sean akan kembali ke sifat buruknya


Sekarang pikirannya tertuju pada Sabrina ,ia ingin menjebloskannya ke penjara,memberi pelajaran kepada mantan kekasihnya itu.


Bella melepaskan pelukannya, menatap hangat Sean. " kau sudah makan sean"


"belum...aku tidak lapar saat kau pergi dari ku" jawabnya


"aku ada dirumah mu Sean...tidak pergi kemana-mana "kekeh Bella.


"maaf kan aku" ucap Sean tersenyum.


Seorang pelayan menghampiri mereka.


"maaf tuan..nyonya..ada tamu " ujar si pelayan


"siapa " tanya Sean


"tuan Daniel dan nona Sabrina " jawab si pelayan.


Mendengar kedua orang itu datang kerumahnya, rahang Sean mengeras, sorot mata Sean berkilat emosi, tangannya mengepalkan kuat. Kemarahannya memuncak kembali.


_______________________________________________


happy reading 💐💐💐


dukung terus yaa


Like comment and vote


biar author semangat buat up