
Usai mengantar bella dan Zyan pulang kerumah bi Marni. Ryan kembali ke rumah,namun kedua orang tua Ryan menunggu nya di ruang tengah.
"Ryan. " panggil Hendro.
Ryan berhenti sejenak saat ia akan menaiki anak tangga.
"ada apa???tanya Ryan.
"kemari sayang...mama sama papa ingin bicara dengan mu" ujar Anita.
Ryan menghampiri mereka duduk dihadapan kedua orang tua nya.
"ada apa mah ,,pah ???
"papa ingin bicara denganmu sayang " ucap Anita.
Ryan melirik papa nya yang siap memberondong pertanyaan.
"Ryan calon istri mu itu bukankah dia istri Sean Wiraguna " tanya Hendro tanpa basa basi.
"iya "
"lalu kenapa kau mau menikahi wanita yang masih berstatus istri orang "
"mereka sudah berpisah pa,,,sudah 5 tahun berlalu. secara hukum dan agama mereka sudah sah berpisah "
"tapi apa mereka sudah berucap satu sama lain dengan perpisahan mereka, jangan memanfaatkan situasi Ryan.. jangan karna Sean hilang ingatan kamu bisa memanfaatkan ketidakberdayaan dia " sentak Suhendro.
Suhendro memang mengetahui bahwa Sean pernah kecelakaan dan juga hilang ingat.
"Bella tidak tahu Sean masih hidup, dan lagi Sean hilang ingatan, untuk apa mereka bersama lagi,,Bella sudah cukup bahagia dengan hidupnya yang sekarang,,aku menjaga dan merawat nya,,,,apa salahnya aku menginginkan dia."
"Ryan " bentak Suhendro. " papa pikir dia wanita lain nyatanya dia istri Sean,,, putuskan hubungan dengannya Ryan " lanjutnya.
Ryan terperangah mendengar ucapan papa nya, rahangnya mengeras , " tidak....aku mencintai nya,,, walaupun Bella masih mencintai Sean,,,akan ku pastikan dia milikku" teriak Ryan.
"Ryan jangan bodoh kamu,,,apa kamu pikir setelah Bella mengetahui kalau suaminya masih hidup,,,dia mau hidup denganmu"
"aku tidak perduli lagi,,,,aku akan menikahi Bella dengan atau tanpa restu kalian aku akan menikahi nya,,,dan ku pastikan akan aku ajak pergi menjauh dari kota ini atau mungkin aku akan mengajaknya pergi dari negri ini" Ryan tak mau kalah
"sayang jangan begitu,,, mama tidak ingin kamu pergi lagi, " Anita terisak .
"mama dan papa tidak menyetujui keputusan ku,,,maka aku akan pergi dari sini,,," ancam Ryan.
"sayang " Anita menghampiri Suhendro meminta sang suami menuruti kemauan putranya.
"Ryan sadar lah,,Bella bukan milikmu " kukuh Suhendro.
"aku tidak peduli "
Anita memegang tangan Suhendro air matanya mengalir dari kedua matanya, pertengkaran suami dan anaknya membuat dia sedih.
Suhendro menghembuskan nafas kasar, " baiklah kalau kau mau menikahi nya,,,tapi tanggung resiko sendiri,,,papa dan mama angkat tangan saat Sean tahu,,,kau tahu seberapa mengerikan pria itu saat marah "
"aku tidak akan takut dengan pria seperti Sean yang seorang penjajah wanita" Ryan berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Suhendro menenangkan istrinya yang terus menangis, melihat ia dan Ryan bertengkar hatinya sangat takut dan sedih,ia seperti mengingat kejadian dulu saat Mahesa menolak untuk melanjutkan perusahaan,ia memilih pergi dari rumah menjadi seorang pelukis di Paris,
Suhendro sebenarnya tidak ingin Ryan menikah dengan Bella, apa lagi Bella belum mengetahui keberadaan Sean. Tapi karna melihat sang istri yang tak mau kehilangan putranya, Suhendro akhirnya mengalah,, ia tak ingin kehilangan Ryan seperti ia kehilangan Mahesa.
Setelah pertemuan dengan kedua orangtua Ryan, Bella kembali ke Surabaya beraktivitas seperti biasa.
Tapi ia masih memikirkan pertemuan itu, keluarga Ryan seperti tidak menyukainya.
Bella mendesah, "di saat aku menerima nya ,malah orang tua yang tidak menyukai ku " gumamnya pelan.
"hei kenapa ??? Lia teman kerja Bella menepuk pundaknya.
"ah .....tidak hanya lelah saja "
"apa yang kau pikirkan??? Lia mencoba menyelidik
"tidak ada Lia,,, pekerjaan ku masih banyak " elak Bella.
"ingat bell lusa kita akan ke Jakarta," ujar Lia
"apa... kenapa juga aku di ikut sertakan." keluh Bella
"kau kan manager pemasaran,,jadi kau juga ikut bell "
"memangnya siapa saja yang ikut???
"pak Ramon, aku...kamu lalu Rendy " jawab Lia
"hah,,,aku benci pergi ke sana " desah Bella.
"memang nya kenapa bell"
"tidak apa,,,,hanya saja aku harus meninggalkan Zyan"
"iya kau benar,,,, ya sudah aku pergi dulu"
Bella mengangguk, moodnya lagi kurang baik, pertemuan dengan keluarga Ryan masih terlintas di benak nya. Dan lagi ia harus kembali lagi ke kota itu, membuatnya semakin tak mood.
Saat jam makan siang Ryan menelpon Bella, Ryan sekarang berada di Jakarta mengurusi proyek barunya.
"hallo sayang " sapa Ryan
"hallo ian..." balasnya
"kamu sudah makan???
"sudah,,, kamu sendiri gimana??? tanya Bella balik
Bella tersenyum tipis "Zyan juga merindukan mu,"
"kau tidak merindukan ku bell,,,,hanya Zyan saja yang rindu padaku ???
"tidak " sanggah Bella.
"awas ya kalau ketemu " kekeh Ryan
"kamu mengancam ku Ian???
"kamu itu selalu serius bell" kekehnya , "bell...aku mau kasih tahu kamu,,besok lusa aku akan pergi ke Singapura, ada proyek yang harus ditinjau " lanjutnya lagi
"berapa lama???
"sekitar 4 sampai 5hari "
"hah... pasti Zyan akan sangat merindukan mu "
"apa kau tidak rindu padaku bell??? goda Ryan
"hmmm,,,, sepertinya tidak,,, pergilah,,,jaga dirimu baik-baik,dan pulang dengan selamat"
"tentu saja sayang"
"ya sudah ian,,,aku harus kembali bekerja, pekerjaan ku sedang banyak " undur Bella
"oke,,,,tapi apa kamu tidak memberi ku ciuman bell"
"tidak '"
"ayo lah,,sebuah kecupan juga tak apa "
"tidak " Bella langsung menutup panggilannya.
Bella kembali ke ruangannya,sedangkan Ryan tersenyum dengan tingkah Bella yang kembali ke sifat aslinya,dingin dan jutek.
Lusa nya, Ryan pergi ke Singapura dan Bella pergi ke Jakarta, Bella terpaksa meninggalkan Zyan dengan mbak Tuti, untung nya Zyan sangat pengertian dan mau ditinggal.
Bisa saja Bella membawa Zyan ikut dengannya ke Jakarta, lalu dititipkan ke bi Marni,tapi sepertinya tidak mungkin, Bella yakin selama dalam pekerjaan pasti ia akan sangat sibuk.
Diperjalanan menuju kota Jakarta, perasaan Bella seakan tak enak,ia merasa akan hal yang akan terjadi,tapi entah itu apa. Setibanya di Jakarta Bella dan kedua temannya menuju hotel yang telah disewakan Ramon untuk ketiga pegawainya, termasuk ia sendiri menyewa kamar hotel.
"hah,,, akhirnya sampai juga,,,aku tak menyangka bisa ke kota ini " Lia merebahkan tubuhnya di kasur empuk hotel
"apa bagus nya ke kota ini Lia " dengus Bella
"cih...kau ini tak tahu apa...kota dengan sejuta kesenangan " decak Lia
"aku tidak peduli,,,yang jelas aku datang ke kota ini untuk bekerja " Bella meninggalkan Lia,ia menuju kamar mandi.
Usai mandi Bella membuka koper nya ia ingin bersantai dulu di kamar hotel, sebelum bekerja esoknya.
"bell...kata pak Ramon nanti malam kita disuruh datang ke acara ulang tahun rekan bisnisnya" ucap Lia
"apa... kenapa dadakan,,,aku tidak bawa baju untuk ke pesta" keluh Bella
"jangan kan kamu,,,aku juga sama "
Bella mendesah, bos nya itu memang suka memberi perintah dadakan.
"bell ,,,gimana kalau kita ke butik,, " usul Lia.
Bella tampak berpikir sejenak, bisa saja Bella menolak pergi ke pesta rekan bisnisnya, tapi bos nya pasti akan marah-marah tidak menuruti perintah nya.
"baik lah ayo "
Mereka pun pergi ke luar hotel mencari butik yang cocok dengan kantong mereka berdua. Setelah berputar-putar mengelilingi semua butik di sepanjang jalan, akhirnya mereka menemukan butik yang sesuai dengan mereka.
Waktu hampir malam saat mereka tiba di hotel, dengan cepat merek bersiap untuk mandi dan berdandan. Niat hati ingin bersantai malah sibuk tidak jelas, pikir Bella kesal.
Seseorang mengetuk pintu kamar hotel mereka, Lia berlari ke arah pintu kamar,takut bos nya yang mengetuk.
"hah...kau ini ren.. mengagetkan ku saja,,,aku kira bos Ramon" Lia bernafas lega
"hehe,,,aku kesini untuk menjemput kalian berdua,bos Ramon bilang padaku untuk bareng kalian" ujar Ramon.
"baiklah...tunggu sebentar aku panggil Bella dulu " Lia kembali masuk kedalam memanggil Bella.
Tak lama Bella dan Lia keluar, Rendi terlihat terpaku melihat Bella yang sedikit berbeda.
"kau sangat cantik bell "puji rendi terpesona melihat Bella.
Pasalnya Bella menggunakan gaun berwarna silver dengan model gaun A-line dress hanya sebatas lutut nya, menampakkan kaki jenjangnya.
Bella hanya tersenyum, mendengar pujian dari Rendi.
"air liur kamu menetes ren " gurau Lia.
Tanpa sadar Rendi mengusap bibirnya,padahal Lia hanya bergurau, melihat Rendi yang diam seperti patung menatap Bella.
"ayo kita pergi,,nanti bos Ramon ngamuk " ajak Lia
_____________________________________________
Dukung terus yaa like comment and vote
Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰
happy reading 💐💐💐💐