
Kini Bella sudah dipindahkan ke ruang inap. Tubuh Bella terpasang bebagai alat penunjang hidup. Ryan yang sejak semalam menunggu Bella ,kini duduk disamping Bella. Ia tidak tidur semalaman terus menatap Bella yang terbaring diranjang.
Pukul 7 pagi perawat masuk untuk memeriksa kondisi Bella.
"maaf pak, bisa anda pindah dulu, saya mau mengecek pasien " seru perawat.
"suster apa dia baik-baik saja " tanya Ryan
"dokter akan memberikan yang terbaik untuk pasien pak,,bapak berdoa saja " ungkap perawat ada nada tak pasti dengan ucapannya.
Setelah mengecek kondisi Bella, perawat keluar. Ryan kembali duduk disamping Bella, ia terus menerus menatap wanita yang akan jadi istrinya itu.
"bell bangun sayang, ayo kita nikah secepatnya" guman Ryan pilu. Ryan terus menggenggam tangan Bella.
Dering handphone Ryan, mengalihkan perhatiannya, dilihatnya Ramon yang menghubunginya.
"hallo ian " sapa Ramon disebrang sana
"halo Mon, ada apa ??
"kau tahu kenapa Bella gak masuk kerja ??
Ryan menghela nafasnya. " semalam Bella kecelakaan Mon, sekarang dia dirawat dirumah sakit umum."
"ya ampun,yang bener, ya udah entar siang gue kesana "
" iya mo, makasih"
"ya udah gue tutup dulu "
"iya Mon " Ryan mengakhiri panggilannya. ia kembali menatap Bella.
Dikantor, Ramon kini sibuk dengan laporan Bella yang belum beres, terpaksa ia alihkan ke anak buah yang lain. Harusnya hari ini meeting penting para investor, namun laporan yang Ramon inginkan belum selesai.
"ada aja masalahnya " gerutu Ramon.
"bos ini laporan yang anda minta, ternyata Bella udah menyelesaikan semuanya, cuma terselip di laporan lain. " Rendi masuk menyerahkan map yang di minta Ramon.
"oh ya tuhan, untunglah " Ramon mengecek lembar per lembar laporan yang Bella kerjakan.
"memangnya Bella kemana bos " tanya Rendi
"semalam Bella kecelakaan,.. oh ya semalam memang dia pulang jam berapa??
"apa bos,, bella kecelakaan, saya tidak tahu bos, saya pulang jam 7 malam, tapi emang Bella masih ada jam segitu ," jelas Rendi.
"iya katanya, nanti siang saya akan kerumah sakit mau lihat kondisi Bella "
"boleh saya ikut bos " pinta Rendi
"kau jenguknya pas pulang kerja saja,, kau tahu hari ini hari sibuk, saya cuma sebentar ke rumah sakit nya "
"baiklah bos,, kalau begitu saya permisi"
Ramon mengangguk,ia kembali fokus ke pekerjaannya. Namun disaat sedang fokus ,dering handphone membuyarkan konsentrasi.
"ah sial siapa sih yang telpon Mulu " gerutu Ramon.
Ramon mengangkat tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"hallo siapa ini " bentak Ramon.
" kau marah padaku Mon ??? sahut orang disebrang sana.
"memangnya ini siapa, jangan ngomong yang gak penting, gue sibuk " sentak Ramon.
"gue Sean , sialan " suara berat Sean berdengung di handphone Ramon saking kerasnya.
"astaga Sean, kau ini kalau ngomong pelan-pelan, gue juga denger " dengus ramon.
"loe yang duluan nyolot "
"hehe maaf paduka " kekeh Ramon. "ada apa nih telpon gue " lanjutnya lagi
"gue mau nanyain kerjasama yang kita buat,loe udah menyelesaikan semuanya?? tanya Sean.
"ah iya gue udah menyelesaikan semuanya, tinggal kita meeting aja "
"oke, sebentar lagi gue sampai kantor loe "
"oke " Sean langsung mematikan panggilannya.
"Sean apa kau tahu, " Tut Tut Tut
"ah sialan main matiin aja si Sean, bodo amat lah " kesal Ramon.
Padahal ia ingin memberitahu Sean tentang kecelakaan Bella, namun telponnya dimatikan sepihak.
Meeting akan segera dimulai, semua jajaran devisi dan para investor bersiap memasuki ruangan meeting. Sean datang sendiri tanpa asistennya. Tio ditunjuk untuk tidak ikut, ia mengurusi perusahaan di Jakarta.
Sean masuk keruangan meeting, penampilan yang gagah dan kharismatik membuat semua orang diruangan tersebut kagum dan segan padanya. Sean mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ia rindu, namun tak terlihat.
Ramon selaku CEO di perusahaannya, memulai meeting dengan para investor. Sean terlihat fokus,namun hatinya bertanya-tanya,mencari keberadaan Bella. Biasanya Bella akan ikut meeting tapi ia tidak terlihat.
Dua setengah jam berlalu, meeting baru selesai. Semua orang yang berada di ruang meeting satu persatu keluar. Menyisakan Ramon dan Sean diruangan,
"Mon , Bella kemana?? tanya Sean
"kau belum tahu Sean, Bella kecelakaan "
"apa.... kau serius " raut wajah Sean menegang.
"iya,, tadi pagi gue telpon ian, dia lagi nungguin Bella dirumah sakit, semalam katanya kecelakaan " jelas Ramon.
"dimana dia dirawat " tanya Sean tegang.
"dirumah sakit umum, gue entar siang mau kesana "
Sean langsung keluar dari ruangan berlari menuju parkiran mobilnya. Nafas Sean memburu, dadanya berdegup kencang, perasaannya begitu takut dan cemas.
"sialan si Sean, tiap gue ngomong langsung kabur mulu " gerutu Ramon.
Tak lama mobil Sean tiba diparkiran rumah sakit, berlari menuju resepsionis menanyakan ruangan mana Bella dirawat. Setelah mendapat informasi Sean terus berlari mencari ruangan Bella. Tepat didepan ruang Bella, Sean berhenti menetralkan perasaan cemasnya berusaha untuk tenang.
Pintu dibuka, tampak Ryan yang duduk di samping Bella menggenggam tangannya. Sean perlahan melangkah mendekati ranjang Bella, melihat Bella terbaring dengan banyak alat penunjang hidup, hati Sean berdenyut nyeri.
"Bella,,, sayang kau kenapa??? ucap Sean pilu
Ryan melihat kedatangan Sean, ia sedikit geram , namun ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar apalagi dalam kondisi Bella saat ini.
"Bella koma, " ucap Ryan datar.
"apa....koma " sean terkejut.
" sebaiknya kita bicara diluar, biarkan Bella tenang " ajak Ryan melangkah keluar dari kamar Bella
Sean mengangguk, mengikuti langkah Ryan yang duluan keluar.
"katakan apa yang terjadi pada Bella " tanya Sean,
"gue juga gak tahu kejadian seperti apa, tapi ada bapak-bapak yang nolongin Bella, menurut ceritanya, saat Bella menyebrang ada mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Bella, lalu mobil itu kabur " jelas Ryan.
"kabur.... berarti Bella dibiarkan begitu saja oleh pengendara itu, bajingan " geram Sean
"bapak-bapak yang nolong Bella , dia tahu mobil dan plat mobilnya, dia sempat mengingatnya."
"terus apa kata dokter " tanya Sean
"Bella kehilangan banyak darah, patah tulang dan benturan dikepalanya" jelas Ryan
"takkan ku biarkan yang menabrak Bella bisa hidup tenang, " geram Sean, matanya memancarkan aura kemarahan.
"iya gue setuju,, tapi gue pikir ini ada unsur kesengajaan " tebak Ryan
"kenapa kau bisa berpikiran seperti itu. ?? Sean mengkerutkan keningnya.
"apa kau sudah memutuskan hubungan dengan Sabrina ??
"iya, setelah tahu kebenaran bahwa gue telah menikah dengan Bella, gue langsung memutuskan hubungan dengan Sabrina"
"iya mungkin saja, tapi gue gak bisa nuduh, kalau tidak ada bukti "
"ya gue baru ingat, pas kalian akan kembali lagi ke Surabaya, ada seseorang yang memata-matai rumah gue " terang Sean.
Ryan menaikkan alisnya, " kau sudah menangkapnya??
"sudah, dia mengaku orang suruhan Daniel "
"sialan pria tua itu, tak ada kapok nya " geram Ryan
"gue memang belum mengingat apapun tentang kejadian itu, tapi Tio sudah memberitahu bahwa Daniel lah dalang dari hilangnya Bella dan kecelakaan gue "
"cih...kau tak berguna Sean jadi suami " decih Ryan
"maksudmu apa hah " Sean melotot tajam kearah Ryan
"kau tak bisa menyelamatkan Bella, dan gue yang telah menyelamatkan Bella dari kebejatan Daniel," sarkas ryan.
"gue tahu gue memang tak bisa menyelamatkannya, bahkan melupakannya, tapi mau sampai kapanpun, Bella akan tetap jadi milik gue karna dia masih istri gue " kecam Sean.
"dia tak pantas dengan suami seperti bajingan kaya loe, sudah cukup kau buat dia menderita Sean, biarkan dia hidup tenang bersama gue " tekan Ryan
Sean yang kesal menarik kerah baju Ryan, tangannya melayang hampir meninju wajah Ryan, namun langsung di tahan oleh Ramon yang baru tiba.
"woy, sabar Sean, ini rumah sakit jangan buat keributan " cegah Ramon.
Sean melepaskan cengkeramannya, mendorong tubuh Ryan.
"sabar kawan, calm down, kalian ini bertengkar terus " cerocos ramon.
Kedua pria itu terdiam saling membuang pandangannya.
"Ian,, bagaimana keadaan Bella " tanya Ramon.
" Bella koma " ucap Ryan datar.
"apa.... koma.. memangnya parah banget ian??
"iya, dia kehilangan banyak darah, patah tulang dan benturan keras dikepalanya." jelas Ryan
"astaga,, apa kau sudah tahu yang menabraknya ???
"dia kabur ,,, Bella di tolong sama bapak-bapak penjual ketoprak "
"sialan banget tuh orang," geram Ramon.
"terus bagaimana dengan Zyan, apa anaknya sudah tahu' " tanya Ramon
"belum,, tapi pengasuhnya tahu, semalam dia menangis terus mencari keberadaan Bella. "
"Pasti dia mengetahui kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja" seru Ramon.
Sean melangkah memasuki kamar Bella. Ryan dan Ramon mengikuti dari belakang.
"astaga, kau harus mencari pelakunya ian " seru Ramon melihat kondisi tubuh Bella dengan banyak alat penunjang hidup.
"pasti " ucap Ryan dingin.
"biar kan gue saja yang mencarinya, karna itu tanggung jawab gue sebagai suaminya "tukas Sean.
Ryan dan Ramon terdiam, melihat kondisi Bella yang memprihatinkan membuat mereka lebih baik diam, daripada harus berdebat di depan Bella.
___________________________________________
Dukung terus yaa like comment and vote
Biar author semangat up nya 🥰🥰
happy reading 💐💐💐