Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Bertemu sean


Pesta ulang tahun berlangsung meriah semua orang dari kalangan berada hadir di acara tersebut. Bella dan teman-temannya tak lama sampai, mereka langsung mencari keberadaan bos mereka Ramon.


"wahh... ternyata seperti ini pesta orang-orang kaya " Lia berdecak kagum


"kau ini norak Lia " ketus Rendi.


"Yee. ..biarin aja orang kenyataan "


"sudahlah...ayo cari bos Ramon." Bella menengahi.


Mereka mencari keberadaan Ramon yang berada ditengah-tengah orang-orang kaya yang lain. Bella dan teman-temannya menghampiri Ramon yang tengah tertawa dengan rekan bisnisnya.


"bos " panggil Rendi.


Ramon menoleh ke arah pegawai nya.


"oh hei...kalian sudah tiba."


",iya " jawab mereka serempak.


"ya sudah nikmati pestanya, saya hanya ingin mengajak refreshing kalian pergi ke pesta ini. " ucap Ramon.


apa....cuma untuk menikmati pesta orang-orang yang tak berguna ini ,gerutu Bella.


Mereka hanya tersenyum dan mengangguk.


"bos Ramon baik banget ya ngajak ke pesta orang-orang kaya " seru Lia antusias.


"kau ini jangan norak Lia " bisik Ramon kesal.


"kenapa sih...kau ini mengganggu mood ku saja,,,aku sedang menikmati pesta orang kaya "gerutu Bella.


Bella dan teman-temannya menikmati pesta rekan bisnis Ramon. Bella sebenarnya malas untuk datang ke pesta, ia sedikit trauma dengan pesta orang-orang kaya.


"mohon perhatian semua " seorang pengisi acara mengalihkan perhatian para tamu pesta.


"terima kasih kepada semua tamu yang telah hadir, kini kita sambut yang sedang berulang tahun, Sean Wiraguna dan tunangannya Sabrina Priscilia " teriak pengisi acara.


Bella yang tadinya acuh, menoleh ke arah panggung, jantungnya berdegup kencang,lidahnya kelu, tubuhnya bergetar hebat menatap Sean di atas panggung.


"se...an....." lirih Bella. "kau masih hidup " guman Bella kemudian.


Bella menatap intens pria yang selama ini ia anggap sudah tiada, sekarang berdiri diatas panggung dengan menggandeng mantan kekasihnya dulu. Mata Bella berkaca- kaca menatap Sean dari kejauhan. Rasa rindu yang mendalam dan rasa kecewa melihat Sean menggandeng wanita lain.


Hampir air mata Bella mengalir namun ia tahan.


"bell... ternyata teman bos kita tampan banget ya,apa lagi cewe disebelahnya,,kaya model badannya "celetuk Lia.


Bella tidak menanggapi ucapan Lia,ia memalingkan wajahnya, rasa sakit di dada begitu sesak Bella ingin segera pergi dari pesta ini.


Ramon memanggil Bella dan rekannya, menyuruh mereka menghampirinya.


"iya bos ada apa ???tanya Rendi,mereka menghampiri bosnya Ramon.


"saya akan memperkenalkan rekan bisnis kita kepada kalian." jawab Ramon.


Hati Bella semakin bergemuruh ketika dua sejoli yang tadi berada di atas panggung menghampiri mereka. Bella ingin pergi, namun ia tidak mungkin bisa, apa nanti kata bos nya. Ramon pasti akan marah besar, mengabaikan rekan bisnisnya.


"kenalkan ini Pak Sean,,,,dia akan menjadi rekan bisnis kita selama disini "ungkap Ramon.


Sean tersenyum begitupun dengan wanita yang digandeng Sean.


"hallo semua,,, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik " sapa Sean.


Sean mengulurkan tangannya menyapa pegawai Ramon. Bella enggan berjabat tangan dengan Sean,tapi ia harus menyingkirkan rasa ego nya dihatinya.


"Rendi "


"Lia "


Sean mengulurkan tangannya ke arah Bella,namun tangan Bella seakan berat membalasnya,Lia yang melihat Bella diam saja,ia menyenggol lengan Bella.


"bella ".


Sabrina menatap tak percaya wanita yang berada di hadapannya ini adalah istri Sean. Ia terus menatap tajam ke arah Bella, menyunggingkan senyumnya, merasa bangga memiliki Sean sekarang.


"semoga kalian menikmati pesta nya " ujar Sean.


"tentu saja Pak Sean kami sangat menikmati pesta nya" ucap Ramon.


Rendi dan Lia mengangguk setuju.


"maaf,,,saya mau ke toilet dulu" pamit Bella buru-buru.


Sabrina yang melihat Bella pergi ,ia pun ikut pamit.


"aku ke toilet dulu ya sayang" ucap Sabrina kepada Sean.


Sean mengangguk, melanjutkan perbincangan dengan Ramon. Sabrina menyusul Bella yang berada di toilet.


"ah sial... harusnya aku tak ikut kesini" Bella membasuh wajahnya.


Saat menatap kaca pantulan di cermin menampakkan Sabrina yang menyunggingkan senyumnya.


"hallo Bella,,,,tak ku sangka kita bertemu lagi "


Bella tak bergeming,ia masih berdiri dihadapan wastafel.


"mau apa kau " ketus Bella


"aku hanya ingin memperingati mu,, supaya kau jangan berharap lagi dengan Sean. karna Sean akan segera menikah denganku " seru Sabrina


Dada Bella terasa sakit tapi ia berusaha bersikap biasa.


"oh ya.... selamat kalau gitu "


Sabrina menarik sudut bibirnya, "jangan kau dekat-dekat dengannya, karna kau tak pantas dengan sean " hardik Sabrina lalu meninggal Bella.


Bella memejamkan matanya, hatinya terasa sakit. Bella menghela nafasnya menetralkan perasaan dan sikapnya. Ia ingin marah kepada Sean, ia ingin menampar wajahnya yang seolah tidak mengenalinya.


"arrrghhh... kau dengan gampangnya melupakan aku,,, dasar pria bajingan " teriak Bella, ia tak peduli kalau ada yang mendengarnya.


Setelah merasa baikan Bella kembali menghampiri teman-temannya.


"kau dari mana saja bell,,,,lama sekali " bisik Lia.


"tapi gimana,,aku gak berani ngomong sama bos Ramon." seru Lia


"aku yang ngomong "


Bella menghampiri bosnya yang masih berbicara dengan Sean.


"bos Ramon... bisakah aku pulang duluan, aku merasa tidak enak badan"


"kau sakit bell " tanya Ramon khawatir


" hanya tidak enak badan saja "jawab Bella


Sean menatap wanita dihadapannya, memandangnya dari atas sampai bawah, sedikit terpesona dengan penampilan nya.


"ya sudah kamu boleh pulang " ucap Ramon.


Bella mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan Ramon dan Sean. Sean terus memandang kepergian pegawai Ramon yang sedikit menarik hatinya.


"hei...kau kenapa Sean " tanya Ramon.


"ahh tidak...siapa pegawai mu itu,,,aku lupa namanya" tanya Sean penasaran.


."dia Bella "


"dia cantik juga "


"iya dia memang cantik...tapi sikap nya sangat dingin dan jutek "


" woww berarti dia sangat galak "kekeh Sean.


"ya bisa bilang begitu,,, awalnya aku juga menyukainya,,tapi sikap dinginnya tidak mudah didekati ataupun dirayu,,dan lagi dia sudah punya anak "


"berarti dia sudah menikah ???


Ramon mengangguk


"tapi bodynya masih bagus "


"semua pegawai pria di perusahaan ku sangat menyukai nya,,, tapi ya gitu dia terlalu dingin dan juga jutek " ungkap Ramon


Sean menyeringai licik, sebuah keinginan untuk mencoba mendekati pegawai Ramon itu.


Bella dan Lia telah sampai dikamar hotel, Jujur Bella sangat ingin kembali ke Surabaya,ia merasa tidak nyaman disini, apa lagi kenyataan bahwa Sean masih hidup dan tidak mengenalinya, hatinya sangat sakit.


Penderita yang selama ini Bella alami ternyata sia-sia, orang ia pikir telah tiada ternyata masih hidup, dan seolah tidak mengingat nya.


"bell..." panggil Lia.


"bell...Bella " teriak Lia pasalnya Bella tidak menanggapinya.


"ah iya kenapa ???


"kau yang kenapa?? dari tadi melamun mulu" gerutu Lia.


"tidak....aku hanya merindukan Zyan."


"kenapa kau gak telpon saja" usul Lia


"dia pasti sudah tidur,,,ini sudah malam "


"ya sudah kamu istirahat bell,,,besok kan kita mau meeting dengan rekan bisnisnya bos Ramon."


Bella mengangguk, ia mulai membersihkan tubuhnya, melupakan kejadian dipesta tadi.


Esoknya Bella dan rekan-rekannya bersiap menuju perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan bos nya Ramon.


Ramon dan para pegawainya menunggu diruang meeting yang berada di perusahaan yang akan mereka ajak kerja sama.


Pintu dibuka dua orang pria menghampiri mereka.


"maaf sudah menunggu " ucap Sean.


ah sial...kenapa harus dia , kesal Bella.


"tidak apa...kami baru sampai " ucap Ramon.


"kalau begitu kita mulai meeting nya " ucap Sean.


Mereka mengangguk kembali fokus dengan masalah pekerjaan. Sean dengan profesional menjelaskan proyek yang dibangunnya. Ramon sangat menyukai hasil kerja perusahaan Sean. Ia dengan yakin akan menjadi investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan Sean.


"baiklah pak sean saya sangat suka dengan proyek mu," ungkap Ramon


"terimakasih"


Sesudahnya Ramon dan pegawainya pamit undur diri karna Ramon akan meeting dengan perusahaan lain.


Mereka pun bersalaman, Tio asisten Sean baru menyadari kehadiran Bella. ia terus menatap Bella ia tak percaya istri tuan nya yang telah lama menghilang berada di depan matanya dan Sean. Tentu saja Sean tidak mengingat nya , karena Sean hilang ingatan. Tio ingin memberi tahu Bella tapi tidak mungkin ia menarik Bella ke suatu tempat,pasti bos nya akan curiga.


Saat Sean menjabat tangan Bella, Sean menahan tangan Bella dalam genggamannya. Bella melotot tajam kearah Sean.


"lepaskan " desis Bella


Sean menyeringai ke arah Bella, Bella yang terakhir menjabat tangan Sean, otomatis ditinggal oleh Ramon dan rekan-rekannya.


Bella ingin berteriak minta tolong,namun itu tak mungkin, Sean pasti akan mencari alasan membela diri. Bella menarik tangannya melepas genggaman Sean,tapi Sean semakin erat menggenggamnya.


"lepaskan tuan " desis Bella.


Sean tersenyum dan melepaskan tangannya. Bella berlari mengejar rekan-rekannya, hati Bella sakit dan kesal bertemu dengan Sean.


pria brengsek ,


Sean menatap kepergian Bella,mencium tangannya yang tadi menggenggam erat tangan Bella.


kau wangi... ahhh kenapa aku bergairah dengannya, hanya mencium bekas genggamannya saja,, milikku terangsang, *aku menginginkan nya,


___________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰


happy reading 💐💐💐💐*