
"apa kau sudah lega bell" tanya Sean saat mengendarai mobil.
"sudah,,,aku tidak akan merasa ketakutan lagi"
Sean tersenyum
"Sean terimakasih kamu telah memberiku kekuatan untuk berkata jujur pada bibiku" Bella menggenggam tangan Sean
"itu sudah menjadi tugasku sayang,," Sean mencium tangan Bella.
"semoga ke depannya kita akan baik-baik saja" Bella berharap
"asal kau percaya padaku,, tidak terpengaruh oleh orang lain... semua nya akan baik-baik saja" yakin Sean
"iya Sean" balas Bella
Mobil melaju menuju rumah Sean,setelah menyelesaikan masalah dengan bi Marni mereka kembali ke rumah. Karena ini hari minggu Sean ingin bermalas-malasan di rumah.
"tumben kamu mau tidur Sean " ucap Bella mereka sedang berada dikamar nya.
"aku lelah sayang "jawab Sean lesu
Bella mengernyitkan dahinya,tumben-tumbenan Sean lelah biasanya ia selalu terlihat gagah dengan otot-otot kekarnya.
"kemari lah sayang"panggil Sean
Bella menghampiri Sean yang sedang berbaring. "ada apa Sean "Bella duduk ditepi ranjang
Sean mendekat menyelusupkan kepalanya di perut Bella.
"Sean" ucap Bella risih
"tolong diam saja, aku hanya ingin seperti ini" Sean semakin menekan kepalanya di perut Bella.
Awalnya Bella risih,perlahan ia mengelus rambut Sean.
"Sean "
",hmm.."
"setelah apa yang kita lalui, aku mengerti kita ditakdirkan bersama,walau dengan cara yang salah"
"apa kau mulai mencintai ku bell,,,"
"entahlah"
Sean mendesah mendengar ucapan Bella. Sulit sekali membuat Bella jatuh hati padanya. Sean menyingkapkan kaos menciumi perut Bella.
"sean,, hentikan geli"
"kapan tumbuh benih cinta kita didalam perut ini"
"benih mu tidak berkualitas jadi belum tumbuh" ledek Bella
Mendengar ledekan Bella,Sean mengigit kecil perut Bella.
"aww....Sean sakit " memukul lengan Sean
"kau meragukan kualitas benihku sayang" Sean bangkit lalu ia duduk di hadapan bella.
"itu kenyataan Sean" Bella bercanda, tapi ekspresi wajahnya datar membuat Sean sedikit tersinggung.
"kalau begitu aku akan menggempur mu setiap saat,agar benihku cepat tumbuh di perut mu" seringai Sean
"jangan gila kamu Sean,"delik Bella
Sean langsung mengukung tubuh Bella. mengunci tangan Bella.
"Sean ini masih siang" bentak Bella
"kenapa...kau meledekku tadi,,, sekarang aku akan memberi hukuman padamu" ia mulai mencium bibir Bella, ciuman yang awalnya penuh nafsu,perlahan menjadi ciuman lembut,Bella pun membalas ciuman Sean.
Perlahan sean melonggarkan cekalan tangannya,bergerak perlahan menyingkap kaos Bella sampai ke dada,membuka pengait bra yang membungkus buah dadanya. Sean melepaskan ciumannya menyelusuri leher jenjang Bella perlahan ia meraup buah dada Bella, Bella mendesah tertahan merasakan gelenyar aneh yang merasukinya.
"akh ...Sean.."meremas rambut Sean
Sean melucuti pakaian Bella melempar nya ke segala arah. Bersiap untuk menghujani tubuh Bella. Dua insan berbeda jenis itu melepaskan gairahnya di siang hari, tidak peduli peluh keringat bercucuran,Sean dan Bella saling membalas gairahnya masing-masing.
Pukul 5 sore Sean dan bella masih bergelung selimut, pergumulan panas mereka pada siang hari membuat mereka kelelahan dan berakhir dengan tidur saling berpelukan.
Bunyi handphone Bella berdering membangun keterlelapan mereka,Bella mengerjapkan matanya tangannya terulur mencari benda pipih nya
"hallo " sapa Bella
"hallo Bella,,, gimana kamu udah ngomong sama suamimu masalah aku minta kerjaan" sahut orang di sebrang sana.
"hah...aku lupa Lusy.... nanti aku tanyain"guman Bella setengah sadar.
" sayang,,,kamu berisik banget sih" seru Sean memeluk tubuh Bella
"Bella kau lagi sama suamimu,, lagi tidur yaa??? tebak Lusy
"iya lus,,kami sedang tidur" jawabnya
"apa kau abis,,,ehemm ...bercinta" tanya Lusy malu-malu
"iya" jawab Bella tanpa sadar.
"maaf kalau gitu yaa,, aku ganggu kalian ya udah lanjutin" Lusy mengakhiri panggilannya.
Sedangkan Bella masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya,ia melanjutkan kembali tidur sorenya.
Dikediaman rumah Daniel.
"apa papa punya rencana memisahkan Sean dan wanita murahan itu" ucap Sabrina sedang berada di ruang kerjanya.
"tentu saja,,, papa akan membalas atas perlakuan dia ke kamu dan papa, gara-gara membela wanita murahan itu dia menghajar papa"
"hancurkan wanita murahan itu pah" pinta Sabrina penuh emosi.
"kita harus sabar Sabin, menghadapi Sean tentu bukan hal mudah, ia mempunyai kekuasaan dan pintar, kita harus hati-hati jangan bertindak gegabah" jelas Daniel.
"kalau bisa singkirkan wanita murahan itu pah,aku tidak terima saat dia menampar ku" kesal Sabrina
Pintu terbuka,, jeni masuk kedalam mengagetkan Sabrina dan Daniel.
"kalian sedang apa???tanya jeni,
"tidak ada ma,,,kita sedang ngobrol saja" jawab Sabrina,ia memang tidak melibatkan mama nya , karena ia tahu mama nya pasti tidak mendukung tidak seperti papa nya yang selalu mendukung apa pun walaupun itu salah.
"tumben-tumbenan kamu ke ruang kerja papa ,,jadi mama kesini pingin tahu,.kalian memangnya ngobrolin tentang apa???
Sabrina dan Daniel saling melirik,mereka tak ingin jeni tahu tentang rencananya.
"tidak ada obrolan penting sayang,,Sabin hanya ingin mengobrol saja" jawab Daniel
"oh gitu.. ya sudah lanjutkan,,mama mau siapkan makan malam" jeni pun keluar dari ruangan.
"pah,. jangan sampai mama tahu rencana kita,. kalau mama tahu pasti mama akan memberitahu Sean"
"tenang saja,,, papa akan membuat rencana kita serapi mungkin." ucap Daniel.
Keesokan harinya Bella tengah berada di halaman belakang menikmati secangkir teh di pagi hari, setelah sarapan dan mengantar Sean berangkat kerja, ia ingin menikmati kesendiriannya. Bella memang menyukai kesendirian.
Handphone berdering
"hallo" sapa Bella
"bell,, udah belum nanya ke suamimu???tanya Lusy tanpa basa-basi
"nanya apa lus?? Bella balik tanya.
"ya ampun Bella,,,aku udah ngingetin kamu lho berkali-kali,, kemaren sore juga aku telpon mu"
"kemarin sore,,,?!
"iya,,, kemarin sore....aku menghubungi mu terus kamu bilang lagi tidur abis bercinta" jawab Lusy blak-blakan.
"kau serius Lusy,, aku bahkan tidak ingat" Bella terkejut
"iya,,, kamu ngomong seperti itu,kalau kamu gak percaya cek aja riwayat panggilan kemarin"
oh ya ampun malu banget,,, guman Bella
Bella mengecek riwayat panggilan kemarin dan benar saja Lusy menghubunginya sore hari ketika ia dan Sean sedang tidur.
"Bella ....Bella..." teriak Lusy
"iya,,, iya aku dengar,,,gak usah teriak-teriak gitu Lusy" Bella sebal
"jadi gimana kamu udah bilang belum sama suamimu"
"belum,,,aku lupa kemarin,,nanti aku tanyain pas dia pulang kerja,"
"hah...sebaiknya kamu telpon dia sekarang daripada nunggu dia pulang kerja,, lama...nanti kamu lupa lagi" perintah lusy
"ya ampun Lusy kamu benar-benar tidak sabaran banget sih"
"aku ingin cepat-cepat pindah kerja bell,,,pengen kerja kantoran"
"ya udah..aku telpon suamiku sekarang, aku matiin dulu yaa"
"oke" ucap Lusy sumringah.
Bella pun akhirnya menghubungi Sean.
"hallo Sean" panggil Bella
"hallo sayang..ada apa..baru ditinggal sebentar sudah menghubungi ku,,apa kau kangen padaku" sahut Sean disebrang sana
"tidak... aku hanya ingin bertanya padamu"
"bertanya apa??
"temanku menanyakan kerjaan, di kantor mu ada lowongan tidak???
"temanmu siapa??? Sean balik bertanya
"teman ku wanita namanya Lusy,dia teman satu kerjaan saat di toko swalayan" jelas Bella.
"entahlah aku tidak mengurusi masalah lowongan pekerjaan itu bagian HRD"
"tapi bolehkah temanku bekerja di perusahaan mu Sean, dia sangat membutuhkan pekerjaan"
"nanti aku tanyakan dulu pada Tio"jawab Sean
"terimakasih Sean,ya sudah aku tutup dulu"
"tunggu.." tahan Sean
"ada apa Sean"
"kau menghubungi ku cuma karena temanmu meminta pekerjaan padaku !?
"lalu kenapa?? tanya Bella bingung
"ucapkan kata mesra untukku,, supaya aku semangat untuk bekerja "
"hah..."Bella kaget
"ayo katakan sayang " Sean tersenyum jail
"tapi aku tidak tahu harus berkata apa"
"ayolah kau pasti bisa"
Bella menghela nafasnya, " baiklah,,,Sean selamat bekerja,semoga kamu selalu semangat saat bekerja"
"itu bukan kata-kata sayang, bell"
"sama saja Sean,,, sudahlah sampai jumpa." Bella memutuskan sepihak panggilannya.
Sedangkan Sean menggeleng-gelengkan kepalanya, cuma sebuah kata-kata mesra Bella sangat sulit mengatakannya. Padahal dulu semua wanita yang dikencaninya selalu berkata-kata manis dan mesra padanya, tapi Bella tidak mau dan tidak pernah berkata mesra padanya, penolakan yang selalu Bella berikan kepada Sean.