
Jam makan siang Bella dan Lia tengah makan di resto sebrang kantor mereka.
"bell kamu kenapa kemarin ?? tanya Lia menyuapkan makanannya.
"aku lagi gak enak badan aja " jawabnya.
"oh,,,,.tapi kemarin aku liat pak Sean ke kantor bos kita,,apa ketemu ma kamu bell "
Bella hanya menggelengkan kepalanya.
"walaupun aku sebal sama pak Sean,,tapi mau gimana pun dia sangat tampan "cengir Lia
"kenapa kau tidak dekati dia saja,,,,mungkin dia mau sama kamu Lia " saran Bella.
"gak akh...aku takut dilecehkan sama dia...aku kan gak mau ngelakuin hubungan tanpa ada ikatan pernikahan "
Bella menggeleng kepalanya, ia melanjutkan kembali makan siangnya.
"bell....liat itu " tunjuk Lia ke arah belakang tubuh Bella.
"apa "'
"belakang kamu bell "bisik Lia
Suara deheman seseorang mengalihkan perhatian Bella, iapun menoleh ke arah belakang. Bella menghembuskan nafasnya kasar, kembali melanjutkan makannya.
"boleh aku gabung " pinta Sean.
Lia melirik Bella,namun ia tampak cuek dengan kehadiran Sean. Akhirnya Lia mengangguk setuju. Sean duduk di sebelah Bella.
"Lia ayo kita pergi, sebentar lagi sudah masuk jam kerja " ajak Bella, beranjak dari tempat duduknya
"eh ..iya ...ayo " Lia gelagapan.
"Bella,,,kau mau kemana ??? Sean mencekal tangan Bella.
"lepaskan Sean " Bella menatap tajam Sean.
"temani aku makan siang " pinta Sean.
"aku masih bersikap baik padamu,,, lepaskan tangan ku "
"temani aku bell " mohon Sean.
Lia menatap kedua sejoli itu bergantian, sama-sama keras kepala.
"apa kau ingin aku membenci mu Sean,..jangan paksa aku " Bella menghempaskan tangan Sean
"ayo Lia " ajak Bella, Lia menunduk ke arah Sean, berlalu pergi dengan Bella.
" Bella kau sangat berani padanya " ucap Lia berjalan beriringan dengan Bella menuju gedung kantornya.
"aku tidak peduli kalau dia orang berkuasa ataupun rekan bos kita,,,yang jelas dia seorang pria brengsek " sungut bella.
" iya kau benar "
Sean termenung di resto,sikap dingin Bella membuatnya merasa bersalah. Walaupun ia belum mengingat pernikahan dengan Bella tapi ia benar-benar merasa mencintai Bella.
"kau disini rupa nya " Ramon menghampiri Sean lalu duduk di hadapannya.
"ck...ada apa " decak Sean.
"kau kenapa Sean,, sepertinya sedang kesal "
" tidak ada apa-apa " ketus Sean.
"jangan bilang kau masih memikirkan Bella " tebak Ramon.
"bukan urusanmu "
"kau ini Sean,,, sebentar lagi kau akan menikah dengan Sabrina, urus dulu tuh tunangan mu itu"
Sean tidak menggubris perkataan Ramon, ia mengalihkan pandangannya. Bunyi dering hp Sean, seseorang menghubungi, dilihat nama yang terpampang dilayar benda pipihnya, membuat Sean berdecak sebal.
"kenapa kau Sean.... siapa yang menelepon mu??? tanya Ramon.
Sean mengangkat tangan nya tanda Ramon harus diam. Ramon pun mengangguk mengerti.
"hallo " sapa Sean.
"Sean kau dimana,,, kenapa tidak pulang-pulang...aku merindukanmu sayang " ucap seorang wanita disebrang sana.
"maafkan aku Sabin,,aku sedang ada pekerjaan di perusahaan Ramon " Sean beralasan.
"cepat lah pulang Sean,,,papa ingin bicara denganmu" pinta Sabrina.
."kalau urusan ku telah selesai akan segera pulang Sabin "
"baiklah,,, sampai jumpa sayang "
Sean mengakhiri panggilannya.
"ada apa Sean " tanya Ramon .
"gue harus kembali ke Jakarta " ucap nya.
"iya itu bagus,,,,lagian kau disini juga tidak ada kerjaan kan " celetuk Ramon.
Sean mendesah ," menurut mu gue harus bagaimana Mon,,gue merasa tidak ada cinta untuk Sabrina."
"apa semenjak ada Bella,,,cinta loe ilang buat sabrina??? tebak Ramon .
"tidak juga,,,gue sudah merasakannya semenjak kecelakaan 5 tahun lalu,,,rasanya berbeda dengan sebelumnya. bahkan gue gak pernah bisa bercinta dengan Sabrina,, walaupun dia selalu memaksa gue untuk bercinta dengannya, gue benar-benar tidak bisa bergairah sama sekali,, rasanya hambar walaupun hanya sekedar ciuman."
"kau pernah bilang kalau kau pernah menikah dengan Bella,,, lalu kenapa kau bisa lupa dengannya"
"entahlah,,,yang gue denger dari Tio,,gue menikah dengan Bella selama 8 bulan, tapi saat itu Bella menghilang dan besoknya gue di temukan di dalam jurang, mobil gue hangus terbakar sedangkan gue terpental keluar." jelas Sean
"apa kau tidak ingat sama sekali saat kecelakaan itu "
"sepertinya ada hal aneh di cerita loe ini, Bella hilang dan loe ditemukan dijurang,,,apa kau sudah menyelidiki peristiwa yang terjadi pada loe Sean "
"Tio sudah menyelidikinya,, tapi tidak ada jejak sama sekali "
"apa kau sudah bertanya pada Bella"
"belum "
"kenapa kau tidak menanyakan,,,kau bodoh sekali Sean,,bukanya bertanya malah memperkosa dia " sarkas Ramon.
"gue terlalu bersemangat saat dengan dia,, hingga lupa menanyakan hal itu " Sean tersenyum miring.
"dasar otak lu cabul terus Sean " ejek Ramon
Sean mentertawakan sikapnya yang benar-benar tidak bisa menahan diri saat dekat dengan bella.
"jadi gimana apa perlu gue bantu ?? tawar Ramon.
"tak perlu...biar gue saja yang bicara dengan Bella " tolak Sean.
"serius "
Sean menganggukkan kepalanya.
"tapi kalau kau butuh bantuan hubungi gue "
"itu pasti ".
Kini Bella berpindah ruangan ke tempat yang lebih banyak dilalui pegawai. Ia takut jika Sean datang lagi memperkosanya. Bella fokus dengan pekerjaannya, namun dering telepon genggamnya menggangu konsentrasinya.
Dari dering panggilan hingga beberapa chat yang masuk ke handphonenya.
Bella mengecek layar handphonenya, beberapa panggilan dari Sean dan juga Ryan, beberapa chat dari Ryan.
[, Bella kamu sudah makan ]
[ bell,,,makan siang dengan ku ya ]
[ bell aku ingin bertemu denganmu ]
[ sayang aku merindukanmu ]
Beberapa chat yang dikirim Ryan untuk Bella.
Bella mendesah kenapa hidupnya serumit ini, di saat ia akan melangkah menuju pernikahan masa lalunya kembali lagi. Sejujurnya Bella juga bingung dengan perasaannya antara benci dan cinta terhadap sean. Tapi disisi lain Ryan yang selalu menemaninya dan membantunya hingga saat ini, Bella tak ingin berhutang budi kepada Ryan, ia pun tak ingin menyakiti perasaan Zyan yang sudah terlanjur dekat dengan Zyan.
apa yang harus aku lakukan
tok tok tok
"masuk " sahut bella
" bell kamu dipanggil ke ruangan pak Ramon " ucap Sena sekertaris Ramon.
"iya oke " Bella pun beranjak dari duduknya melangkah menuju ruangan Ramon.
Bella sampai diruangan Ramon, mengetuk pintu lalu masuk kedalam. Bella sedikit terkejut ada Sean diruangan Ramon.
"ada apa bos " tanya Bella
"begini bell... laporan proyek pak Sean apa kamu sudah menyelesaikannya ???
"sudah "
"baiklah,, nanti kita meeting jam 3 sore,,kau persiapkan semuanya " titah Ramon.
" baik bos "
Sean terus menatap wanita pujaan hatinya, tanpa berkedip sedikit pun, tiap Bella menjawab pertanyaan Ramon, Sean menatap intens bibir Bella yang seolah menggodanya, meminta dicumbui.
"kalau begitu saya permisi " pamit Bella.
Ramon mengangguk. Sean menatap punggung Bella hingga dibalik pintu ruangan Ramon.
"hentikan otak cabul loe Sean " sarkas Ramon.
"ah kau ini... mengganggu imajinasi liar gue saja "dengus Sean.
"lagian diliatin mulu,,,apa lagi kalau bukan mikir mesum "
"dia sangat menggairahkan "
"sudah jangan bicara hal itu dengan gue,,, "
"kenapa....apa kau juga tertarik pada Bella " Sean menaikkan sebelah alisnya.
"kalau iya kenapa " Ramon cengengesan
"jangan berani macam-macam Mon,,,lalu kau tak ingin terjadi sesuatu pada mu " ancam Sean, aura dinginnya keluar, sorot mata yang tajam seakan membunuh.
"bercanda Sean,,,kau serius sekali " Ramon mencairkan suasana
"jangan bercanda soal Bella ,,,karna dia milikku " kecam Sean.
"ya ampun Sean kau ini posesif sekali,,,belum juga dimiliki tapi sudah merasa memiliki " sarkas Ramon .
Sean tidak menanggapi ucapan Ramon,ia lebih memilih pergi meninggalkan kawannya itu.
___________________________________________
Dukung terus yaa like comment and vote
Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰
happy reading 💐 💐💐