
"ian" Isak Bella saat menghubungi Ryan.
"Bella ada apa??? tanya Ryan panik
"tolong aku...tolong jemput aku di kantor " Bella menangis sesenggukan
Tanpa menanyakan lagi Ryan akan menjemput Bella ."baiklah,, tenang kan diri mu okey....aku akan segera ke kantor mu" ucap Ryan.
"terimakasih" Isak Bella
Bella masih berada di toilet, ia tak berani keluar. Ia benar-benar terhina oleh perilaku Sean yang kelewatan.
Handphone Bella kembali berdering, bos nya Ramon menghubunginya.
"Bella kau dimana??? tanya Ramon
"bos saya mau ijin pulang " jawab Bella masih terdengar isakan.
"kau kenapa bell.... apakah kau sakit ??? tanya Ramon cemas.
"aku tidak enak badan bos...saya minta ijin pulang "
"baiklah kalau begitu.. saya ijinkan kamu pulang,, kalau ada apa-apa tolong hubungi saya "
" iya bos " Bella mengakhiri panggilannya.
Tak lama Ryan menghubungi Bella, memberi tahu bahwa dirinya telah sampai di depan kantor Ramon. Dengan buru-buru Bella langsung menuju lobi kantor menuju mobil Ryan. Ia takut akan bertemu lagi dengan Sean.
"ayo ian kita pergi dari sini " pinta Bella.
Ryan mengangguk langsung tancap gas melajukan mobilnya. Bella masih diam membisu.
"bell kamu kenapa???
"Ian bisakah kita ke apartemen mu " pinta Bella.
Ryan mengangguk, " baiklah "
Mobil melaju kencang membelah jalanan. Pikiran Ryan menerka-nerka apa yang terjadi pada Bella. Ia terus melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Kini mereka telah sampai di unit apartemen Ryan. Bella duduk di sofa ruang tamu, kepalanya tertunduk air matanya terus mengalir.
"bell minumlah " Ryan memberikan segelas air putih.
"terimakasih ian " Bella meneguk air minumnya.
Ryan terus memperhatikan Bella yang sedang minum.
"apa kamu sudah tenang bell, " tanya Ryan
Bella mengangguk, terlihat jelas sisa-sisa air mata diwajahnya.
"ada apa sayang " Ryan memegang pundak Bella.
"ian apakah kamu masih mau menikah dengan ku ??? tanya Bella sendu
"tentu saja sayang....aku sangat ingin menikahimu "
"tapi.... " kata Bella terjeda, memejamkan matanya.
"tapi kenapa bell "
"Ian maafkan aku....aku telah melakukan kesalahan besar " Isak Bella.
"maksudmu apa bell " Ryan makin penasaran
"aku diperkosa Sean " Bella menangis.
Mendengar perkataan Bella, dada Sean bergemuruh, emosinya memuncak.
"Bella apa itu benar " sentak Ryan.
"maafkan aku ian " Bella menangis
"kapan dia melakukannya" nafas Ryan memburu
"tadi di ruangan ku,"
"dasar brengsek " teriak Ryan mengepalkan tangannya.
"Ian maafkan aku...aku tidak bisa menjaga diriku " Bella terus menangis.
Ryan terdiam ia benar-benar emosi, sorot mata Ryan mengelap ia ingin menghajar Sean. Ia beranjak dari duduknya menyambar kunci mobilnya.
"ian kau mau kemana " tanya Bella.
Namun Ryan tidak memperdulikan Bella ia terus melangkah keluar meninggalkan Bella. Tubuh Bella melosot air mata tumpah, rasa bersalah dan penyesalan menyelimutinya. Ia sudah pasrah saat Ryan tak ingin menikahi nya.
Mobil Ryan melaju kencang menuju kantor Ramon. Ia ingin tahu keberadaan Sean dimana.
"Ramon.... dimana Sean " teriak Ryan saat masuk kedalam ruangan Ramon.
Ramon yang sedang fokus pada pekerjaannya, terkejut dengan kedatangan Ryan.
"ada apa ian " tanya Ramon heran.
"dimana Sean tinggal " dada Ryan turun naik menahan amarahnya.
"memangnya ada masalah apa Ian "
"jangan banyak tanya,,,dimana Sean tinggal " teriak ryan sorot matanya benar-benar tajam.
"dia tinggal di apartemen xxx unit 447"
Ryan pun berlalu pergi dari ruangan Ramon.
"tunggu ian... ada apa sebenarnya?? tahan Ramon.
" dia memperkosa Bella " Ryan melangkah pergi.
"apa..... " mata Ramon melotot tak percaya.
" gila si Sean...cari gara-gara terus... brengsek emang " kesal Ramon.
Ramon pun menyambar kunci mobilnya,ia ingin melerai pertikaian antara kedua sahabatnya itu.
Di apartemen Sean ia sedang menyesap wine menatap lurus ke arah kaca dinding yang menampakkan hiruk pikuk kota Surabaya. Pikirannya tertuju pada saat ia bercinta dengan Bella, walaupun singkat tapi bagi Sean itu sangat berkesan. Sudah lama ia ingin merasakan sensasi gejolak gairahnya, Bella satu-satunya wanita yang bisa membangkitkan gairahnya kembali.
Pintu apartemen terdengar ada yang menggedor-gedor. Mengusik imajinasi Sean.
"ah ****...siapa yang menggedor-gedor pintu " geram Sean melangkahkan kakinya menuju pintu. Saat Sean membuka pintu secara tiba-tiba seorang pria menendang Sean hingga tersungkur.
"akhh sialan " pekik Sean.
"kau apa kan Bella hah " bentak Ryan emosi.
Sean menyunggingkan senyumnya, " kenapa...dia masih istriku "
"kau lelaki bajingan " Ryan menonjok wajah Sean, memukul perut Sean berkali-kali. Sean yang tak bisa menghindar menerima serangan dari ryan yang terus-menerus melayangkan tinju kepadanya.
Sean menangkis pukulan tangan Ryan, membalas pukulan tinju ke arah wajah Ryan. Perkelahian didalam apartemen Sean membuat seisi ruangan berantakan. Ramon yang dari tadi mengikuti Ryan, kini melihat kedua sahabatnya saling tinju dan serang. Ramon mencoba menghentikan perkelahian mereka, namun ia tak sebanding dengan Sean dan Ryan. Mereka terlalu kuat saat diselimuti oleh kemarahan.
"hei stop....apa kalian tidak bisa berhenti" teriak Ramon mencoba melerai.
"minggir kau " Sean mendorong tubuh Ramon hingga terjerembab.
"sialan si Sean...dia memang mengerikan saat marah " gerutu Ramon.
"Bella,,,kamu dimana??? tanya Ramon panik
"ada apa bos,,"
"cepat kemari Sean dan Ryan berkelahi,mereka tidak bisa dilerai " pekik Ramon.
"apa..... baiklah,,tapi dimana??? tanya Bella panik
" di apartemen xxx..no 447.. cepat kemari bell,,,saya tak sanggup melerai mereka " teriak Ramon.
"iya baiklah bos " Bella mematikan panggilannya, ia segera pergi menuju apartemen Sean, dan sialnya apartemen milik Sean dan Ryan satu gedung cuma beda lantai saja. Sean lantai 25 sedangkan Ryan lantai 20, Bella bergegas menuju lift naik ke atas menuju apartemen Sean.
Bella sedikit berlari menuju unit Sean, saat tiba Bella melihat Sean dan Ryan berkelahi,ruangan menjadi berantakan tak karuan. Bella menatap nanar kedua pria itu.
"hentikan " teriak Bella.
Kedua orang itupun berhenti melihat ke arah Bella.
" Bella " seru mereka berdua.
"hentikan " ucap Bella pelan, ia pun menghampiri mereka berdua.
"jika kalian terus seperti ini ,,,,aku akan pergi "
"jangan bell " sentak mereka berdua.
Tiba-tiba Bella memejamkan matanya dan melosot ke lantai.
"Bella " pekik mereka berdua.
Mereka berdua dengan sigap menahan tubuh Bella. Membopong tubuh Bella ke arah sofa.
"ini gara-gara kalian Bella pingsan " tukas Ramon
kedua pria itu mendelik Ramon dengan tatapan tajam.
"cari minyak telon " titah Sean
"kau yang mencarinya,,,ini rumah mu brengsek " bentak Ryan.
Sean beranjak mencari kotak P3K , tak lama ia menemukan kotak tersebut, memberikannya pada Ryan.
Ryan langsung menggosok minyak telon ke arah hidung Bella.
"ayolah sayang bangun lah " ucap Ryan
Sean melotot tajam ke arah Ryan, ia menyingkirkan tangan Ryan dari hidung Bella.
"biar aku saja " Sean mencoba menggosok minyak telon ke arah Bella.
"ck kalian ini....Bella pingsan juga masih saja berantem.... turunkan ego kalian dulu " decak Ramon.
" eughhh " lenguh Bella.
"sayang " ucap Ryan lembut
"istriku " ucap Sean tak mau kalah
Sedangkan Ramon hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya yang sama-sama punya ego yang tinggi.
"kalian " seru Bella pelan.
"Bella maafkan aku " lirih Ryan.
" ian maafkan aku " balas Bella.
"istriku kau tak apa-apa " kini Sean mulai mencari perhatian Bella
Bella terdiam ia tak membalas ucapan Sean.
"ayo kita pulang bell " ajak Ryan.
Bella mengangguk, namun tangan Sean menahan tubuh Bella.
"kau tidak boleh pulang,, kau istriku bell " kecam Sean
"tidak bisa,,,Bella harus pulang dengan ku " sanggah Ryan.
Bella memegang kepalanya,rasa pusing masih terasa di kepalanya.
"bisa tidak kalian diam " sentak Bella
Mereka pun kembali diam ,Ramon melihat kedua sahabatnya terdiam saat disentak Bella hanya senyum-senyum sendiri.
"kenapa kalian berkelahi " tanya Bella
"aku memberi pelajaran padanya" tunjuk Ryan
"aku hanya membela diri " bela Sean.
Bella menghembuskan nafasnya, "obati luka kalian, " perintah Bella
"nanti saja " jawab mereka serempak.
Ramon tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya yang takut dengan Bella.
"diam kau " bentak Sean dan Ryan.
"hahaha...kalian kompak sekali,,,, Bella seharusnya kau biarkan saja mereka mati babak belur....kau juga lihat kan ruangan ini hancur berantakan karena ulah kekanakan mereka " ledek Ramon masih tertawa.
Bella meraih kotak P3K tersebut, mengambil kapas dan alkohol diteteskan sedikit ke kapas. Bella mulai mengobati luka diwajah Ryan.
"aww sayang pelan-pelan " Ryan menyeringai ke arah Sean.
Sean pun tak tinggal diam saat Bella mengobati luka Ryan.
"istriku,,,aku tidak kau obati " manja Sean
Bella pun mengobati luka Sean, ia pun sama membalas tatapan menyeringai ke arah Ryan.
"sayang aku belum selesai " rengek Ryan.
"aku duluan istriku " pinta Sean.
Mereka berdua terus merengek minta diobati, Bella menjadi geram mendengar rengekan mereka, akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"sayang kau mau kemana?? teriak Ryan.
"istriku aku masih sakit " teriak Sean
Bella membalikkan badannya, menatap tajam ke arah mereka berdua.
"obati saja sendiri " bentak Bella, berlalu pergi.
Ramon semakin mengeras ketawanya melihat tingkah Kedua sahabatnya yang saling merengek .
__________________________________________
Dukung terus yaa like comment and vote
Biar author semangat up nya 🥰🥰
happy reading 💐💐💐