
Beberapa hari setelah kecelakaan Bella tidak diperbolehkan keluar dari rumah oleh Sean alasannya harus sembuh total. Sebenarnya Sean takut jika istrinya keluar ada yang akan mencelakainya lagi.
"bagaimana perkembangan orang yang telah menabrak istriku apa sudah ketemu." tanya Sean, ia sedang berada di kantornya.
"saya sudah kumpulkan informasinya tuan,, sebentar lagi orang kita menangkap dia" jelas
"secepatnya Tio...aku sudah emosi sekali.. berani-beraninya orang itu mau mencelakai istriku" teriak Sean emosi.
"baik tuan"
"oh ya...pria yang menolong istriku apa dia sudah sembuh???
"dalam proses pemulihan tuan"
"temui dia,..beri dia kompensasi aku tidak ingin berhutang budi padanya." titah Sean
" baik tuan... segera saya temui dia"
"pergilah" perintah Sean.
"tanganku sudah gatal ingin menghajar orang yang telah mencelakai Bella" geram Sean mengepalkan kedua tangannya.
Mobil Tio melaju cepat kearah rumah sakit tempat dimana Ryan sedang dirawat. Setelah mengurus pembayaran perawatan Ryan,ia menemui Ryan di kamar inapnya.
ceklek.
"saudara ian..." seru Tio
Ryan menoleh seorang pria berjas rapi menghampirinya.
"iya saya sendiri" sahut Ryan dengan raut bingung.
Tio mendekati pria yang bernama ian itu, sekilas ia seperti mengingat seseorang,tapi dia lupa orang itu.
"saya Tio asistennya tuan Sean Wiraguna suami dari Bella." Tio mengulurkan tangannya
"saya Ian "membalas uluran tangannya.
"saya datang kesini atas permintaan tuan Sean, ia ingin memberi anda kompensasi telah menyelamatkan istrinya" jelas Tio
Ryan mengernyitkan keningnya, "saya ikhlas membantu Bella... karena dia ponakan dari bos tempat kerja saya...bilang padanya saya tidak butuh kompensasi darinya" Ryan tersinggung
"berapa pun yang anda minta tuan Sean pasti akan memberikannya"
"saya tidak butuh... sudah cukup dengan dia membiayai perawatan saya selama di rumah sakit ini...saya tidak ingin yang lain... ucap kan padanya saya berterima kasih telah membiayai perawatan saya" ucap Ryan tegas, harga dirinya merasa direndahkan oleh Sean.
"kalau itu keinginan anda.. baiklah...tapi ingat jangan anda mengungkit masalah balas budi ini lagi" pesan Tio tegas
"pergilah..saya tidak akan mengungkit nya lagi" rahang Ryan mengeras ia merasa direndahkan oleh kedua orang itu, Sean dan asistennya Tio.
Tio meninggalkan ruangan tersebut dengan santainya. Sedangkan ryan mengepalkan kedua tangannya,begini kah jadi orang dari kalangan biasa,orang kaya bertindak semaunya, mengukur semua hal dengan uang,pikir Ryan.
Tidak lama kepergian Tio,bi Marni dan karyawan lainnya menjenguknya.
"ian sudah mendingan" tanya bi Marni
"sudah Bu.... besok saya pulang"
"kasian sekali kamu nak..jauh dari orang tua jadi gak ada yang ngurusin " ucap bi Marni iba
"makanya cepat nikah ian..biar ada yang ngurusin" timpal Alan.
"nikah...loe duluan aja yang nikah sama Reni tuh"ledek Ryan
"apa-apaan sih kamu ian,,nikah ma dia ogah banget deh " Reni bergidik
"jangan gitu,,, kalau jodoh gimana" ejek Ryan tertawa.
"udah-udah jangan berisik...ini rumah sakit" ucap bi marni.
"iya bu maaf" alan dan Reni kompak.
"ciyee kompak.. berarti jodoh nih" ledek Ryan
"Ian udah akh jangan diledekin terus" ujar bi Marni.
Ryan cekikikan sedangkan dua orang tadi melotot tajam ke arah Ryan.
"besok kalau kamu pulang...ibu akan jemput kamu ya.."
"tidak usah Bu..saya bisa pulang sendiri" tolak Ryan.
"tidak apa-apa ian...kamu sudah saya anggap anak sendiri "
"saya tidak mau merepotkan ibu..." ucap Ryan tak enak hati.
"jadi cuma ian aja Bu yang di anggap anak" celoteh Reni
bi Marni tersenyum, " semua karyawan di toko, sudah ibu anggap sebagai anak"
"kamu ren..ngiri terus ma anak lain" ejek Ryan lagi.
"apaan sih" dengus Reni.
"sudah-sudah...kalian ini ribut mulu.. ingat ini rumah sakit" ujar bi marni.
"Bu gimana kabar Bella,,apa dia baik-baik saja?? tanya Ryan
"dia baik...tapi Sean melarangnya untuk keluar rumah sebelum sembuh total" terang bi Marni.
"syukurlah,"Ryan bernafas lega.
Dikantor Sean,Tio memberitahu bahwa pria yang menolong istrinya tidak menerima kompensasi yang diberikan oleh Sean.
"sombong sekali dia "teriak Sean
",tapi dia berjanji tidak akan mengungkit balas budi nya"
"tetap saja,,,,dia sangat akrab sekali dengan istriku,,pantas Bella selalu ingin pergi ke toko,,ternyata dia akrab dengan Bella."
"selidiki latar belakangnya,,aku tak ingin dia dekat-dekat dengan Bella ",titah Sean.
"sebenarnya tuan...saya pernah melihat dia,,tapi saya lupa" ucap Tio
"kau bodoh Tio,,mana mungkin kau bisa lupa bila pernah melihatnya."
"maafkan saya tuan...saya akan mengingatnya kembali" Tio menunduk
"pergilah " perintah Sean.
"baik tuan" Tio undur diri berlalu pergi meninggalkan ruangan Sean.
"sepertinya Tio sudah pikun.. bagaimana mungkin dia lupa seseorang" guman Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dirumah Bella merasa bosan,sudah beberapa hari ini dia dilarang keluar oleh Sean,padahal kondisinya sehat-sehat saja,tapi Sean bersikap protective.
"apa yang harus aku lakukan" guman Bella.
"nyonya " seru Lala.
"kalau anda bosan..nyonya bisa berkebun, memanjakan diri di ruang spa,atau fitness," saran Lala
"aku tidak mau La "tolak Bella
"maafkan saya nyonya...telah lancang menyuruh anda melakukan yang tadi saya sarankan" Lala menunduk
"tidak apa-apa La,,justru aku senang..kau perhatian sekali padaku " Bella tersenyum
"terimakasih nyonya"
"aku ingin berenang saja... cuaca nya cukup cerah untuk berenang"
"kalau begitu saya ambilkan baju renang anda nyonya"
"tidak usah...biar aku sendiri saja"tolak Bella
Bella menuju kamarnya mencari baju renang yang agak tertutup,tapi ia tidak menemukannya. Dengan terpaksa ia memakai bikini,model two-pieces swimwear dengan jenis strap yang di ikat di bagian bra dan ****** ********.
Sebelum ia menuju kolam renang,Bella menutup tubuhnya dengan bathrobe.
"Lala "panggil Bella
"ada apa nyonya? Lala menghampiri Bella
"aku mau berenang,tolong jangan sampai ada yang melihat ataupun datang ke arah kolam renang" titah Bella.
"baik nyonya " Lala menundukkan kepalanya
"baiklah . terimakasih" Bella berlalu pergi menuju kolam renang yang letaknya samping ruang santai,
Bella membuka bathrobe nya,bersiap untuk menceburkan diri ke kolam renang.
"ya ampun segar sekali " celotehnya. Bella terus berenang kesana kemari menikmati indah nya panas di sore hari.
"sedang apa kau" suara berat Sean mengagetkan Lala yang sedang berdiri di pintu arah kolam renang.
"tuan....saya sedang menjaga nyonya"ucap Lala menunduk
"menjaganya"Sean mengernyitkan keningnya
''iya tuan... nyonya sedang berenang"
"pergilah" perintah Sean.
Sean menutup pintu yang mengarah ke kolam renang, perlahan ia melihat Bella sedang berenang dengan asyiknya. Sean menanggalkan seluruh pakaiannya,menyisakan boxernya , perlahan masuk ke dalam kolam renang. Bella tak menyadari kehadiran Sean,ia terus berenang kesana kemari.
Sean menyelam, meraih tubuh Bella lalu memeluknya.
"aaawww"pekik Bella
"kau berenang sendirian tanpa mengajakku sayang"
"Sean...kau "teriak Bella
"kau sangat sexy sayang" bisik Sean di telinga Bella
"Sean lepaskan..nanti ada yang lihat"
"tidak akan ada yang berani yang melihat kesini"
"iya tapi lepaskan" pinta Bella.
"tidak akan...kau akan kabur jika aku lepaskan" tolak Sean.
"Sean ku mohon lepaskan,,kakiku awww......"pekik Bella
"kenapa bell" Sean panik
"kaki ku kram"
Sean membopong tubuh Bella ke tepi kolam renang. Mengangkat tubuh Bella didudukan di kursi santai.
"sudah berapa lama kamu berenang " Sean berjongkok mengurut kaki Bella yang kram
"aku tidak tahu,,,tapi sepertinya sangat lama"
Sean memakaikan bathrobe ke tubuh Bella, membopongnya ke kamarnya.
"jangan ulangi lagi berenang lama-lama," ucap Sean,menaiki tangga menuju kamarnya.
"maafkan aku Sean" sesal Bella.
Sean mendudukkan Bella di sofa kamar nya,ia pun perlahan mengurut kaki Bella yang kram.
"sepertinya kau cocok jadi tukang pijit"ledek Bella cekikikan.
"boleh saja...asal yang aku pijat wanita semua" balas Sean
"itu maunya kamu" dengus Bella.
Sean tersenyum mengurut-urut kaki Bella.
"gimana sudah mendingan" tanya Sean
"iya mendingan" Bella menggerak-gerakkan kakinya.
"sayang kalau ingin berenang tunggu aku dirumah"
"memang nya kenapa...tadi aku bosan jadi aku berenang saja,"
"pertama aku takut kejadian tadi menimpa mu saat aku tak ada,
kedua aku tidak ingin tubuh indahmu dilihat orang,"
"maafkan aku Sean"
"iya tidak apa-apa, sekarang kamu mandi air hangat"perintah Sean.
"iya baiklah"
Setelah Bella masuk ke kamar mandi, handphone Sean berdering, asistennya lah yang menelponnya
"hallo" seru Sean
"tuan,,,saya sudah menangkap orang yang mencelakai istri tuan"
________________________________________________
happy reading 💐💐💐
dukung terus yaa like comment and vote
biar author semangat up nya.
Ryan Suhendro