Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Bertemu lusy


Pagi hari


"Sean,,,boleh kah aku mengunjungi bibiku?? saat memasangkan dasi di kerah kemeja Sean.


"tentu saja boleh,, bersenang-senang lah" jawab Sean


"terimakasih " mencium pipi Sean.


"pagi-pagi kau sudah menggodaku sayang" seringai Sean.


"aku tidak menggoda mu,, lagian cuma cium pipi menggoda, aneh" Bella mengerucutkan bibirnya


"" bibirmu jangan seperti itu,, aku jadi ingin mencium mu"


"udah akh,,, ayo kita sarapan, nanti kamu telat " melangkah pergi tapi Sean menahannya.


"sebentar " menatap Bella dengan lembut, Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Bella perlahan mencium bibir Bella dengan lembut,ciuman penuh cinta tanpa ada nafsu di dalamnya.


"aku mencintaimu" lirih Sean di hadapan wajah Bella.


" aku akan mencoba mencintaimu" balas Bella.


Sean menyunggingkan senyumnya, setidaknya ada jawaban mencoba mencintainya. sebelumnya Bella hanya membalas kata-kata cinta sean dengan kebencian.


"ayo kita ke bawah" ajak Sean. Bella mengangguk.


Setelah sarapan dan mengantar Sean berangkat kerja, Bella bersiap pergi ke toko bibinya, sudah lama ia tak mengunjungi bibinya.


Tak selang beberapa waktu Bella tiba di toko bi Marni. Senyum Bella selalu tersungging di bibirnya.


"ren, bi marni ada??? tanya Bella menghampiri Reni.


"Bu Marni belum datang mbak," jawab Reni


"ya sudah, aku akan menunggunya"


"mau saya buatkan kopi apa teh mbak"?? tanya Reni


"teh hangat saja"


"baik"


Seperti biasa Bella duduk di meja favoritnya,meja yang di ujung ruang dekat dengan dinding kaca mengarah ke arah pemandangan jalan raya.


"Bella" sapa Ryan duduk di hadapan Bella


"ian " sahut Bella


"aku khawatir padamu, bagaimana keadaan mu setelah kejadian malam itu" tanya Ryan cemas.


"aku baik-baik saja, maafkan aku sudah merepotkan mu"


"tidak Bella,, kalau kamu butuh bantuan hubungi aku, jujur selama beberapa hari ini aku mengkhawatirkan mu,, aku ingin menghubungi mu tapi kamu melarang ku menghubungi duluan, aku benar-benar frustasi"


"ian,,, terimakasih kamu sudah khawatir padaku, terimakasih juga atas bantuan mu,, terimakasih " Bella tersenyum tulus menatap Ryan


Ryan terpesona melihat Bella tersenyum,senyum yang belum pernah ia liat, senyuman pertama yang langsung menggetarkan hatinya.


Ryan berdehem menetralkan sikapnya.


"sama-sama,, tapi kalau kamu membutuhkanku ingat hubungi aku" pesan Ryan.


Bella mengangguk dan tersenyum tipis


stop bell... jangan tersenyum lagi,hatiku rasanya ingin memiliki mu,, seandainya saja kau bukan milik orang lain, sudah ku pastikan kau akan menjadi milikku,batin Ryan .


" bella,,,kalau boleh tahu waktu malam itu kamu kenapa???


"tidak ada apa-apa,, hanya salah paham saja masalah nya sudah selesai,"


"oh begitu,, " Ryan tidak lagi bertanya,


Bella mengangguk pelan.


"silahkan mbak teh nya" Reni meletakkan teh dihadapan Bella.


."terimakasih"


"ian ngapain kamu disini ayo kerja, malah godain cewe mulu " Reni melirik sekilas Bella.


"kau mengganggu saja ren,,aku sedang ngobrol sama Bella" tukasnya


"sudahlah ian,,, kamu kerja dulu saja, nanti bibiku marah padamu,, disangka nya aku yang mengganggu pekerjaan mu"


" iya baiklah, nona cantik" mengedipkan sebelah matanya.


Bella memutar bola matanya malas.


Di dapur toko kue


" Ian kamu sering banget gangguin ponakan bos kita" ucap Reni


" kenapa memangnya,, ??


" dia kan sudah menikah,, suaminya sangat tampan dan gagah tahu" terang Reni


"memangnya kamu sudah bertemu dengannya" tanya Ryan


"sudah,,,dia pernah kesini sekali,,kau tahu dia itu sangat romantis"


"romantis bagaimana???


"suami nya pernah mencium bibir istrinya di sini,,, tanpa malu mereka melakukan itu padahal ada aku yang sedang berjaga, untungnya lagi sepi pengunjung, awalnya aku syok tapi lama-lama pengen seperti mereka"


"nikah dulu baru bisa cium-ciuman."


"tapi aku belum ketemu jodohnya, apa kamu mau menikah dengan ku ian??


"ogah,, mending kamu sama alan , sepertinya dia naksir kamu tuh"


"gak mau akh,, dia itu nyebelin" Reni mengedikkan bahunya.


"justru dia kaya gitu. dia nyari perhatian kamu ren"


"ogah " Reni berlalu pergi.


Ryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya.


Bella masih menunggu bibinya,sudah pukul 11 bibi nya tak kunjung datang.


"bi Marni ko belum datang juga ya" guman Bella pelan.


Bella mencoba menghubungi nomor bibinya.


"hallo bi,,,bibi dimana aku ada di toko nih"


"bibi lagi bantuin tetangga hajatan bell,, bibi kira kamu gak ke toko" sahut Bi Marni


"oh gitu,,, ya sudah Bella pulang saja ya, "


"maaf ya bell,, kamu gak bilang sih"


"iya bi gak apa-apa" balas Bella mengakhiri panggilannya.


" maaf saya tidak sengaja" Bella menundukkan kepalanya


"Bella "


Bella mengangkat kepalanya " Lusy "


"arghh,,, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi" pekik Lusy kegirangan


"aku senang bisa bertemu kamu disini"sahut Bella


"gimana kalau kita ngobrol dulu, aku kangen sama kamu bell " mohon Lusy


"iya baiklah, ayo kita duduk disana" Bella menunjuk meja favoritnya.


Keduanya duduk saling berhadapan.


"kamu sombong sekali bell, mentang-mentang udah nikah sama cowok tajir lupa sama aku"dengus Lusy


"maafkan aku lus,,, aku ganti hp jadi aku tidak ingat nomor-nomor lama"


" oh gitu,, gimana nikah sama cowok tajir pasti enak dong bisa belanja-belanja terus."


" kau tahu sendiri aku tidak pernah suka belanja-belanja" jawab Bella


"iya juga sih, penampilan kamu juga masih kaya dulu, kemeja panjang celana jeans," Lusy menggeleng-gelengkan kepalanya


"aku lebih nyaman begini"


"memangnya suamimu gak menyuruhmu belanja barang-barang branded gitu,secara dia pengusaha sukses di negri ini"


"tidak,,, aku selalu menolaknya"


"wah,, parah banget ,, harusnya manfaatin suami kaya mu itu"


"udah akh,,kamu mau pesen minum gak??


"oh iya,, aku haus " Lusy cekikikan


Bella menggeleng-gelengkan kepalanya


" Reni " panggil Bella


"iya mbak" Reni menghampiri meja Bella


"tolong buatkan es cappucino 2 ya " pinta Bella


"baik mbak" Reni berlalu pergi.


"bell,,,ini toko kue punya mu???


"bukan ini punya bi Marni" jawab Bella


"ternyata ini toko bi Marni, , bagus juga ya " Lusy menatap kagum.


Beberapa saat kemudian Reni membawa es cappucino


"silahkan mbak"


"terimakasih ren" balas Bella.


Selepas Reni pergi


"lus,, kamu masih kerja di toko swalayan" tanya Bella


"masih,, lagian aku mau nyari kerjaan dimana lagi bell,,"


"sudah lama aku gak ke sana, apa kabar teman-teman disana??


"mereka baik,, tapi sebagian ada yang udah resign" ucap Lusy menyesap es kopinya.


Bella mengangguk


" bell,, gimana kabarnya Devan???


Seketika ekspresi wajah Bella menjadi datar, " aku gak tahu"


"sayang banget ya,,, Devan juga gak kalah ganteng dengan suamimu,, dia pria baik"


"iya kau benar " jawab Bella datar.


hah,, kenapa harus mendengar namanya lagi, desah Bella


"oh ya bell,,, tanyain dong sama suamimu ada lowongan kerja gak buat aku,, aku bosen kerja capek gajinya dikit " keluh Lusy


"memang kamu mau kerja apa di perusahaan suamiku?


"apa aja lah, manager juga gak apa-apa" cengir Lusy


"kalau apa saja, mending jadi OB aja,," ejek Bella


"ko kamu gitu bell,, gak pengen gitu sahabatnya sukses" Lusy cemberut.


" iya deh,, nanti aku tanyain dulu ke suamiku" Bella tertawa renyah.


"aku juga ingin sukses bell,, kaya kamu nikah sama cowok tajir, ya kalau aku kerja di perusahaan suamimu kan aku bisa deketin cowok-cowok ganteng dan juga tajir"


"kau ini mau kerja apa mau nyari cowok sih,, pikiran cowok mulu, lagian aku juga belum sukses yang sukses itu suamiku"


"sama saja bell"


"terserah kamu lah" Bella menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka berdua larut dalam pembicaraan, bercerita tentang masa-masa saat masih bekerja di toko swalayan.


"Bella kamu masih disini?? tanya Ryan menghampiri mereka berdua


"iya "


Lusy menatap ke arah pria yang memanggil Bella. Ganteng,itu yang dipikiran Lusy.


"aku kira kamu sudah pulang"


"tidak "


Lusy melirik Bella mengisyaratkan ia ingin berkenalan dengan pria di hadapannya.


"oh iya ian,,ini temanku, Lusy " Bella memperkenalkan Lusy kepada Ryan


Lusy langsung mengulurkan tangannya," Lusy"


"ian" Ryan membalas uluran tangan Lusy


"kalau begitu aku permisi dulu,, ini sudah sore, kalian silahkan ngobrol" Bella beranjak dari tempat duduknya.


"tapi bell..." cegah ian


"udah ngobrol sama aku aja ya" potong Lusy.


"ya udah aku pulang dulu ya lus,"


"oke" jawab Lusy antusias.