
.
.
" Oma mommy mana ?" tanya Zyan.
" Oma juga tidak tahu Zyan."
Bi Marni mencoba menghubungi Bella namun tak diangkat-angkat. Lalu kembali menghubungi Sean.
" Hallo Sean ! Kalian dimana ? Zyan menanyakan kalian," tanya bi Marni.
" Maaf bi tadi kami tak pamit . Kami ada urusan sebentar nanti kembali lagi saat jam makan malam," sahut Sean.
" oh begitu , ya sudah kamu bicara sama Zyan biar dia tak menanyakan kalian lagi." Bi Marni memberikan ponselnya kepada Zyan.
" Dad kalian dimana?"
" Maaf boy , Daddy sama mommy sedang ada urusan. Nanti malam kami pulang."
" Baiklah dad." Zyan kembali memberikan ponsel kepada Bi Marni.
" Bagaimana Zyan apa mau pulang saja ?" tanya bi Marni.
" Iya Oma ,lagian bosan juga disini."
" Ya sudah ayo ," ajak bi Marni.
Bi Marni dan Zyan meninggalkan tempat dimana Ryan melangsungkan pernikahannya.
Bella keluar dari kamar mandi. Ia sudah mandi namun masih menggunakan kemeja kebesaran Sean.
" Kau sudah mandi sayang?" tanya Sean.
" Iya ," ketus Bella.
" Kenapa kau tak mengajakku mandi bersama," goda Sean.
" Jangan macam-macam . Ingat kau tak boleh menyentuhku selama sebulan."
" Aku sudah meminta maaf padamu, dan lagi tadi kau menganiaya ku bertubi-tubi. Kau masih saja menghukum ku dengan itu."
" Biarin lah . Biar tahu rasa."
" Kau tega sekali pada ku bell," Sean pura-pura sedih.
" Bodo amat," sahut Bella datar.
Bella keluar dari kamarnya meninggalkan Sean. Ia mencari dapur , perutnya keroncongan ingin di isi. Setelah memukul Sean bertubi-tubi tenaganya seakan habis belum lagi Sean sempat memperkosanya. Sungguh sial hari ini ,pikir Bella.
Tiba didapur Bella membuka lemari kulkas , namun tak ada sayuran ataupun daging. Hanya minuman dingin saja.
" Tidak ada apa-apa," guman Bella. Ia kembali membuka semua lemari yang berada didapur.
" Hanya ada mie instan. Ini lebih baik." Bella mengambil mie instan lalu memasaknya.
Sepuluh menit berlalu mie instan sudah siap disantap.
" Mie instan memang terbaik," seru Bella menyeruput kue mie instan yang masih panas.
" Sayang kau sedang apa ?" tanya Sean duduk disamping Bella.
" Kau tak lihat aku sedang apa ," ketus Bella.
" Lagi makan mie instan."
Bella melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Sean disampingnya.
" Kau makan sendirian tidak menawari ku sayang."
" Bikin saja sendiri," ketus Bella.
Sean menghela nafasnya. Bella masih marah padanya. Sean menghubungi seseorang untuk membawakannya makanan. Dia juga kelaparan setelah kejadian tadi.
Usai menghabiskan mie instan nya Bella mencuci mangkuk yang kotor. Lalu kembali ke kamarnya. Ia masih mendiamkan Sean.
Tak lama makanan tiba. Sean ingin mengajak kembali Bella untuk makan. Makan mie instan tidak ada gizinya menurut Sean.
" Sayang , kamu mau makan lagi," tanya Sean masuk kedalam kamar.
" Tidak," jawab Bella datar.
" Kalau kau tak mau makan lagi temani aku saja," pinta Sean.
" Aku tidak mau."
" Ayolah sayang , aku tak bernafsu saat makan sendirian," bujuk Sean.
" Kau menyebalkan Sean." Bella pun akhirnya menuruti keinginan Sean.
Kini di meja makan telah banyak menu makanan yang lezat. Sedikit ngiler Bella melihat makanan yang terlihat enak.
" Kau yakin tak mau makan lagi ," tawar Sean.
" Tidak . Kau makan saja," ketus Bella. Padahal ia juga ingin makan lagi ,tapi karena gengsi Bella menahannya.
Sean makan dengan lahap. Bella sesekali menelan ludahnya melihat Sean makan dengan lahapnya.
" Apa itu enak Sean," tanya Bella tiba-tiba, sesekali ia menelan ludahnya.
Sean melirik Bella. " Ini sangat enak , sepertinya aku akan menghabiskan ini semua," tukas Sean.
Sean tahu bahwa sejak tadi Bella terus menerus menelan ludahnya. " Apa ? kau akan menghabiskan ini semua."
" Iya . Lagian kan kau tak mau makan lagi."
" Kau mau," Sean menatap Bella.
Bella mengangguk cepat.
" Duduk di pangkuanku , nanti akan aku kasih makanan ini," perintah Sean.
" Apa ? jangan aneh-aneh Sean," desis Bella.
" Kalau kau tak mau ya sudah . Aku tak memaksamu," sahut Sean cuek.
Bella kembali memandang makanan yang tinggal setengah. Ia menginginkan tapi tak mau menuruti keinginan Sean.
" Aku akan menghabiskannya," gertak Sean kembali.
" Jangan," sahut Bella cepat.
" Kau tak mau duduk dipangkuanku jadi ya aku akan habiskan makanan ini . Apa lagi steak ini sangat juicy," Sean memakan sepotong steak dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat menggugah selera.
Kembali Bella menelan salivanya. Seakan terbawa nikmat dengan makanan itu.
" Arghh," teriak Bella menggeleng-geleng kepalanya. " Baiklah aku mau," Bella langsung duduk dipangkuan Sean. Lalu memakan steak dihadapannya. Rasa juicy sepotong steak seakan membuatnya melayang. Sungguh sangat lezat.
Sean menikmati wajah Bella yang terlihat begitu lahap dengan makanan dihadapannya.
" Enak sayang," tanya Sean.
" Iya ini enak sekali," jawab Bella terus menyuapkan makanannya.
Beberapa menit menunggu Bella menghabiskan makanannya. Sean hanya diam sambil memperhatikan wajah Bella. Kadang ia tertawa kecil melihat Bella yang begitu rakus.
" Kenyang nya ," Bella bersandar di tubuh Sean.
" Sudah puas sayang."
" ehem ," Bella mengangguk.
Sean melingkarkan tangannya diperut Bella. " Tapi aku belum puas."
" Kau kan sudah makan banyak Sean , aku cuma makan sisa kamu saja," tukas Bella.
" Bukan itu sayang ," mencubit pipi Bella.
" Lalu ?" Bella menegakkan tubuhnya menatap Sean.
" Aku menginginkan mu," seringai Sean.
" Aku kan sudah bilang kau jangan menyentuh ku selama satu bulan."
" Kapan aku menyentuh mu . Kau malah duduk dipangkuanku," telak Sean.
" Karena kau yang memintanya," sentak Bella.
" Aku tak memaksamu sayang," kilah Sean tersenyum jail.
" Kau," Bella menunjuk ke arah wajah Sean.
Sean menyeringai tangannya mengelus paha Bella. " Lepaskan." Bella menyingkirkan tangan Sean dari pahanya.
Bella akan berdiri namun tangan Sean menahan pinggang Bella. "Lepaskan," ronta Bella menggoyang-goyangkan tubuhnya.
" Kau mau kemana ? aku hanya meminta imbalan padamu sayang," seringai Sean.
" Maksudmu apa ?" Bella melotot tajam.
" Kau memakan jatah makanan ku , jadi kau harus membayarnya sayang."
" Kau gila. Makanan sisa saja aku harus membayarnya," sentak Bella tak terima.
" Aku hanya meminta imbalan dari tubuhmu saja sayang," goda Sean.
" Dasar penipu," Bella kembali memberontak. Tenaganya tak sebanding dengan tubuh besar Sean.
Sean dengan mudahnya menahan tubuh Bella walaupun bersikeras memberontak. Tangan Sean terus mengelus paha Bella. Hingga di pusat inti Bella , Sean menekan tangannya.
" ah Sean ," pekik Bella diiringi *******.
" Aku hanya ingin ini saja sayang," Sean tersenyum mesum.
" Sean lepaskan."
" Yakin mau dilepaskan," Sean semakin cepat menekan jarinya.
" ah tidak. ah ya lepaskan," Bella tak bisa menguasai tubuhnya. Permainan jari Sean membuat Bella semakin tak karuan. Tubuh Bella memanas seketika.
" Bagaimana ? kau mau aku melepaskannya?" goda Sean terus memainkan jarinya dengan ritme cepat.
" Jangan," nafas Bella tercekat menahan permainan panas jari Sean.
" Aku akan melepaskannya," Sean sengaja mempermainkan Bella.
" Tidak . Lanjutkan Sean," desah Bella.
Sean terus memainkan jarinya hingga cairan hangat membanjiri jarinya. Tanda Bella sudah mendapatkan puncaknya.
.
.
Jangan lupa like comment and vote
.
.