Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Pulih


Hari berlalu dengan cepat Sean kembali pulih dan sudah kembali ke rumahnya. Tio menyuruh semua pelayan membereskan barang-barang Bella yang berada di kamarnya, dokter menyarankan untuk tidak memaksa Sean mengingat kembali ingatan yang hilangnya, kalau sampai Sean mencoba mengingat, akan berakibat fatal.


Saat dirumah sakit Tio memaksa Sean untuk mengingat kejadian setahun kebelakang, tapi Sean merasakan sakit kepala yang hebat, membuatnya kembali drop, hingga harus dirawat dengan intensif.


Tio tidak ingin mengambil resiko, akhirnya memutuskan untuk membereskan barang-barang Bella,dan menyimpannya dikamar lain. Kini Sean sudah kembali kerumahnya, dengan pengawasan Tio tentunya, ia sengaja menginap dirumah tuannya,agar bisa memantau kondisi kesehatan Sean.


"Tio apakah selama saya sakit,,, perusahaan terkendali???


"tentu tuan,,,,saya sudah meng-handle nya dengan baik"


Sean mengangguk. Disaat mereka berbincang tentang perusahaan. Sabrina melenggang masuk ke dalam rumah Sean, menghampiri Sean yang berada di ruang tamu.


"sayang " Sabrina mencium pipi Sean


"eh sayang...." balas Sean tersenyum.


"aku kangen padamu" ucap Sabrina manja


Sedangkan Tio mencoba menahan diri untuk tidak terlihat emosi.


"aku juga sayang..."


"kamu sudah makan sayang... kalau belum aku membawamu makanan"


"aku belum makan,,,ya sudah ayo kita makan," Sean beranjak dari duduknya merangkul Sabrina menuju ruang makan.


Tio tidak bisa berbuat apa-apa melihat tuannya bersama wanita licik itu. Andai Sean mengingat semua pasti dia jijik merangkul nya.


Keesokan harinya Sean mulai bekerja kembali, setumpuk pekerjaan yang tidak terjamah harus ia selesaikan. Sean bekerja dengan fokus, sesaat pandangan matanya tertuju pada sebuah foto dimeja kerjanya,foto berukuran 5r itu, menampakkan seorang wanita cantik yang tengah tersenyum. Tapi Sean belum bisa mengingatnya.


siapa wanita ini,,, cantik... tapi sayang aku tak mengingatnya, batin Sean.


Sean pun meraih foto itu lalu ia simpan di laci kerjanya.


Sabrina dengan bebasnya melenggang masuk ke dalam ruangan Sean.


"sayang " sapa Sabrina manja.


"Sabin " balas sean tersenyum


"apa kau sibuk,,,, jangan terlalu sibuk sayang,,,kamu baru pulih,," Sabrina berdiri di belakang Sean memijat pundaknya.


"tidak,,,aku hanya mengecek laporan saja " Sean masih fokus dengan berkas-berkasnya.


"oh ya,,,papa mengajak mu makan malam,,,apa kamu bisa????


"tentu saja aku bisa"


"baiklah,,,kalau begitu aku pergi dulu " Sabrina meraih wajah Sean lalu mencium bibir Sean.


Sean merasakan ciuman Sabrina,tapi ia merasa ada yang berbeda, begitu hambar dan tidak menggairahkan kan, walaupun sabrina menciumnya dengan penuh gairah.


Ehemm


Tio berdehem begitu keras membuat Sean dan Sabrina terkejut. Tio manatap tajam Sabrina yang tak tahu malu.


"aku pergi sayang " pamit Sabrina, melangkah pergi namun ia menatap tajam Tio.


Tio kembali fokus berhadapan dengan Sean.


"kenapa kau tidak mengetuk pintu Tio " ucap Sean menatap tajam Tio.


"saya pikir tuan sedang bekerja,,,tapi saya salah.. nampaknya tuan sedang menikmati cumbuan dengan wanita itu " sarkas Tio


"kau sepertinya tidak menyukai Sabrina,"


"tuan akan tahu sendiri, seperti apa wanita itu " tekan Tio


"he is my girlfriend " menekan kata-katanya


"terserah tuan saja,,,saya tidak mau mempersalahkan itu,,,,nanti tuan akan tahu dengan sendirinya,,,"


Sean tidak menyukai kata-kata Tio yang menekan pacarnya,Sabrina. Sejauh ini Sean hanya mengingat Sabrina ialah pacar nya.


"ini laporan yang ada minta.... saya permisi tuan" Tio menunduk lalu keluar dari ruangan Sean .


Sean tidak menggubris perkataan Tio, ia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Malamnya Sean sudah tiba dikediaman rumah Sabrina, kedua orang tua Sabrina menyambut kedatangan Sean.


Mata Daniel fokus menatap Sean yang ternyata masih hidup . Kemarin saat Sabrina bebas dan pulang kerumah,Sabrina menceritakan semuanya bahwa Sean kecelakaan dan hilang ingatan. lalu ia ingin memastikan bahwa Sean benar-benar hilang ingatan.


"om...Tante " sapa Sean tersenyum


"Sean... akhirnya kita bertemu kembali " jeni memeluk Sean.


"gimana kabar om " sapa Sean tersenyum


Namun Daniel masih diam membeku menatap Sean. hingga istrinya menyenggol lengan suaminya membuyarkan lamunannya.


"ah iya...aku baik "


"kalau begitu ayo kita makan malam" ajak jeni.


Mereka bertiga makan dengan tenang,tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, Daniel masih menatap Sean seolah tak percaya bahwa Sean hilang ingatan.


Setelah selesai makan malam, mereka bertiga menuju ruang tengah.


'" Sean bagaimana keadaan mu,,, katanya kamu habis kecelakaan" tanya jeni.


"iya tante,,,, sekarang aku sudah pulih"


"mama " Sabrina lirik mama nya.


"om senang kamu kembali lagi pada Sabrina, Sean " timpal Daniel


"Sabin masih kekasih saya om,,,saya sangat mencintainya "ujar Sean.


"tapi Sean...." jeni akan berbicara tapi ditahan oleh suaminya.


"diamlah ma " bisiknya.


"ada apa Tante " tanya Sean ia heran dari tadi jeni akan bertanya namun ditahan terus oleh Sabrina dan Daniel.


"tidak ada apa-apa Sean " jeni tersenyum kaku.


"Sean...apa kau tidak ingat apa yang terjadi padamu saat kecelakaan??? tanya Daniel


" saya tidak ingat sama sekali om"


"apa asisten mu tidak menyelidiki kecelakaan mu??? tanya Daniel kembali


" Tio sudah menyelidiki tapi ia tidak menemukan apa-apa,,,ini murni kecelakaan" ujar Sean


"oh begitu " Daniel bernafas lega, ternyata geng mafia yang ia sewa bisa di andalkan, sampai Sean tidak mengingat kejadian waktu itu.


Mereka pun bertiga berbincang tentang semua hal,namun jeni ia merasa bersalah, tak seharusnya Sean yang sudah menikah mendekati wanita lain, meskipun itu putrinya.


Sabrina dan Daniel terus menerus menahannya untuk tidak mengorek masa lalu nya.


Jepang, Osaka


Ryan mengantar Bella memeriksakan kehamilannya. Bella sangat antusias karena kandungan menginjak 4 bulan, otomatis bayi yang dikandungnya sudah membentuk.


Bella dan Ryan dengan seksama mendengar penjelasan dari dokter kandungannya.


"ian, lihat dia sudah membentuk bayi " ucap Bella antusias


Ryan tersenyum menggenggam tangan Bella,ia memperhatikan layar USG melihat bayi Bella,dia merasa terharu, ini kah yang akan ia rasakan seandainya sudah menikah dan akan mempunyai bayi.


Setelah pemeriksaan dan mengambil obat, Ryan dan bella kembali pulang kerumahnya.


Dokter menyarankan agar Bella selalu istirahat, berhubung psikis Bella belum stabil.


"Bella istirahat lah...ingat kata dokter apa " pesan Ryan. saat tiba dirumah


"iya ian..." balas Bella tersenyum.


Ryan mendekati Bella, memegang kedua bahunya.


"jadi kan bayi mu sebagai penyemangat hidupmu bell,,,,relakan semuanya,,,buka lah lembaran baru,,bayimu butuh kamu,,,ia ingin kamu kuat,,menjadi ibu yang hebat untuknya...ku mohon padamu bell,,,relakan yang sudah tak ada" ucap Ryan.


"iya ian,,,,maafkan aku...dan terimakasih untuk semuanya,,,aku akan mencoba bangkit dan membuka lembaran baru,,,demi anakku "


Ryan tersenyum dan memeluk Bella. Bella tak pernah menolak saat Ryan memeluknya,justru dengan sebuah pelukan Bella akan merasa tenang.


"istirahat lah....kalau butuh sesuatu aku ada di bawah " ujar Ryan


Bella mengangguk dan berlalu pergi menuju kamarnya.


Ryan duduk di teras belakang,ia membuka laptopnya memeriksa laporan pekerjaannya ,Walaupun ia pergi jauh dari negaranya, bisnis yang ia jalankan tetap ia kontrol. Saat sedang fokus handphone nya berdering, seseorang menghubungi.


"hallo Rio " sapa Ryan


"hai bro, gimana kabar loe disana?


"gue baik "


"gimana temen loe itu,,apa dia baik-baik saja "


"iya berangsur membaik walau kadang ia belum stabil mentalnya "


"gue doain biar cepat sembuh,,"


"thanks rio "


"oh iya,,,gue udah selidiki geng mafia yang pernah culik temen loe,,,, mereka udah gak berurusan lagi dengan orang yang menyuruhnya.... sepertinya orang yang menyuruhnya itu udah gak mau lagi nyariin temen loe itu" jelas rio.


"begitu "


"iya,,,, sebenarnya ini udah aman kalau loe mau balik lagi ke Indonesia..."


"nanti saja... setelah temen gue lahiran dan kondisi metalnya udah pulih total "


"oke kalau gitu,,,ya udah gue tutup dulu ya,,"


" iya bro... thanks banget udah bantuin gue "


."sama-sama,," panggil terputus.


Ryan mendesah ada keraguan kalu ia pulang ke Indonesia, tapi tidak mungkin menyembunyikan Bella disini terus, belum lagi dengan bibinya,pasti wanita tua itu khawatir dengan keponakannya. Selama ini Ryan meminta Rio untuk menyelidiki kasus penculikan Bella, namun memang tidak semudah itu, geng mafia yang disewa Daniel memang jeli dan bersih.


Ryan tak menyangka selama ini Daniel yang ia kenal baik,tega menculik istri dari mantan pacar anaknya.


_____________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰


happy reading 💐💐💐