Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Terbangun


" tuan, Daniel sudah di tahan " seru Tio


" bagus " balas Sean disebrang sana.


Sean menyeringai mendengar kabar yang Tio infokan.


"Daniel sudah di tangkap " seru Sean


"bagus kalau gitu " ucap Ryan datar.


" Sean , mari kita bicara " ajak Ryan dingin.


Sean mengernyitkan keningnya.


" mau bicara apa kau " tanya Sean heran.


" ayo ikutlah denganku " ajak Ryan, beranjak dari duduknya.


Sean mengikuti langkah Ryan yang berada didepannya. Ryan terus berjalan hingga sampai kantin rumah sakit . Mereka duduk di meja kosong.


Kini mereka duduk berhadapan, 2 cangkir kopi telah tersedia di depan masing-masing kedua pria itu.


"apa yang kau ingin bicarakan ,?? tanya Sean menyesap kopinya.


" ini tentang Bella" jawab Ryan.


"ada apa memangnya ?? tanya Sean datar.


" lepaskan Bella " ucap Ryan dingin.


Sorot mata Sean seketika menyipit menyiratkan ketidaksukaan.


"apa maksudmu ,"


" lepaskan Bella, dan rela kan Bella menikah denganku " ucap Ryan tegas


" itu takkan pernah terjadi, gue masih suaminya " sentak Sean


" tapi apa kau tahu saat masa-masa tersulit nya, saat dia tahu kau telah meninggal, di saat dia terpuruk dan depresi karna rasa bersalahnya, disaat dia membesarkan anakmu sendirian, apa kau ada disampingnya, bahkan kau tidak mencarinya selama 5 tahun itu "


Sean tertunduk.


" biarkan Bella bahagia, kalian menikah Karena terpaksa, karena kau menjeratnya dengan hutang yang tak bisa Bella bayar , saat menikah denganmu dia selalu menderita olehmu, kau selalu kasar padanya. dan lagi berada di sisimu Bella selalu terancam oleh orang-orang yang tak menyukai mu " terang Ryan


Sean semakin bersalah pada Bella, tapi ia juga tidak ingin jauh darinya ataupun berpisah.


" lupakan Bella, kau juga sudah tak mengingatnya "


" tapi aku mencintainya "


" lupakan, Bella juga tidak lagi mencintaimu "


" gue tidak mau, kalau bukan Bella yang bicara langsung padaku " ucap Sean tegas


" terserah, yang jelas Bella sudah tidak mau lagi denganmu " Ryan beranjak dari duduknya, lalu pergi.


Sean masih diam menyesap kembali kopinya yang dingin. Pikirannya melayang setelah apa yang Ryan ucapkan padanya.


Memang benar Sean belum mengingat tentang Bella, namun jauh dari lubuk hatinya ia sangat mencintai Bella. Ia bertekad akan terus mendapatkan hati Bella kembali.


Satu bulan berlalu


Kondisi bella masih tetap sama, ia belum juga terbangun dari komanya. Setiap harinya Sean dan Ryan bergantian berjaga, Zyan sesekali datang kerumah sakit menemani Sean ataupun Ryan.


"ayo Zyan ayah antar pulang, ini udah sore " ajak Ryan


" iya ayah "


"gue balik dulu " ucap Ryan kepada Sean.


Sean mengangguk, ia berjongkok dihadapan Zyan.


"Zyan pulang ya sayang, Daddy akan jagain mommy " ucap Sean lembut


"iya dad ,"


", ya sudah ayo Zyan kita pulang, " ajak Ryan.


"ayo yah, dah dad " Zyan melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Ryan dan Zyan, Sean kembali duduk disamping Bella. Rutinitas setiap hari memandang wajah bella yang semakin pucat dan tirus.


" Bella sayang, bangun lah .. ayo kita menikah lagi,, akan ku bawa kau ke tempat yang indah, berjalan-jalan bersama dengan Zyan, sayang maafkan aku yang melupakan mu, sungguh aku tak tahu kalau aku telah menikah denganmu, maafkan aku selama ini tidak mencari mu, maafkan aku yang tidak menemanimu saat kau terpuruk, maafkan aku yang tak menemanimu saat kau melahirkan anak kita, menemanimu saat Zyan tumbuh, maafkan aku sayang. " Sean menggenggam tangan Bella, tak terasa air mata Sean menetes.


Air mata keluar dari sudut mata Bella. Ia bisa mendengar ucapan Sean, namun belum bisa bangun dari komanya.


"sayang kau menangis " ucap Sean terkejut melihat air mata mengalir dari sudut matanya.


"kau mendengar ku sayang "


" sebentar aku akan panggil dokter " Sean bergegas keluar memanggil dokter.


Dokter dan Sean tiba diruangan Bella, memulai memeriksa kondisi Bella. Sedangkan Sean berada tak jauh dari ranjang Bella melihat dokter memeriksa tubuh Bella.


" bagaimana dok " tanya Sean tak sabar.


" kondisi nona Bella mulai stabil, besok pagi alat-alat ini akan kami lepas " ucap dokter


" apa tidak apa-apa dok ? tanya Sean khawatir


" tidak apa-apa, kita tinggal menunggu nona Bella bangun dari komanya, kondisinya sudah cukup baik "


" lakukan yang terbaik dok " pinta Sean.


Dokter mengangguk , setelah memeriksa kondisi Bella, dokter keluar dari ruangan Bella.


" sayang, akhirnya aku bisa sedikit senang, kau merespon ku,, aku takut sekali jika kau meninggalkanku, please hold on honey " Sean menggenggamnya tangan Bella.


Esok pagi perawat melepaskan alat-alat yang melekat di tubuh Bella. Sean menunggu didepan kamar Bella.


" hai bro " sapa Ramon.


"kau " menyipitkan matanya, " ngapain pagi-pagi sudah kemari "tanya Sean heran


" iya gue ingin jenguk lah,, kebetulan gue lewat jalan ini, jadi sekalian aja lewat, jengukin Bella. " ujarnya.


" oh "


"bagaimana kondisi Bella " tanya Ramon, duduk disamping Sean.


" apa.....ko bisa "


" iya,, kondisi bella sudah stabil, tinggal menunggu Bella bangun "


" hah... syukurlah " Ramon bernafas lega.


Perawat keluar dari kamar Bella.


" silahkan pak , anda boleh masuk " ucap perawat.


" terimakasih sus " Sean masuk kedalam diikuti Ramon.


Sean menatap sendu Bella, alat-alat yang melekat ditubuhnya, membuat ia lebih baik.


" semoga Bella cepat bangun, gue prihatin banget melihat Bella seperti ini " ucap Ramon.


" gue juga berharap seperti itu " balas Sean.


Devan mengendarai mobilnya, ia akan berkunjung ke rumah Bella, sudah sebulan terakhir ini ia tidak bertemu Bella, ia baru sempat mengunjungi Bella kembali.


Mobil terparkir di depan rumah Bella, ia keluar melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Bella. Pintu di ketuk , tak lama pengasuh Zyan keluar .


" anda mencari siapa ya ? tanya Tuti


" saya teman Bella, apa Bella ada dirumah ?


" mbak Bella tidak ada dirumah , mbak Bella sedang dirawat dirumah sakit pak " jelas Tuti


" memang Bella sakit apa mbak " tanya Devan


" mbak Bella kecelakaan, sudah sebulan belum bangun pak "


" dimana Bella di rawat mbak "


" dirumah sakit umum pak "


" baiklah., terimakasih mbak, saya mau kesana saja ,sekalian mau lihat kondisi Bella "


" iya pak "


Devan bergegas pergi meninggalkan rumah Bella, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Setibanya dirumah sakit Devan menuju resepsionis menanyakan ruangan Bella dirawat. Setelah mendapat informasi ia bergegas pergi menuju kamar Bella.


Pintu kamar Bella dibuka, nampak 2 pria berada diruangan tersebut. Salah satu pria tersebut Devan mengenali nya, yaitu Sean pria yang merebut Bella dari sisinya, membuat hidupnya didera berbagai masalah.


" siapa kau " tanya Sean


" kau tak kenal aku Sean " balas Devan dingin.


" memangnya siapa kau " tanya Sean kesal


" aku pria yang kau rebut pacarnya " balas Devan dingin


Sean memicingkan matanya, sungguh ia benar-benar tak mengingatnya.


" kau merebut wanita yang mana lagi Sean " tanya Ramon


" gue gak tahu, dan lagi gue juga gak mengingatnya "


Devan sedikit bingung dengan sikap Sean yang seolah tak mengenalinya. Tapi ia tak peduli ,niat awal datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bella. Ia pun menghampiri Bella yang terbaring.


Bella ada apa denganmu ,batin Devan.


" hei kau, menjauhkan dari istriku, " bentak Sean


" aku tahu dia istrimu, aku hanya ingin menjenguknya, dan lagi bukankah kau sudah berpisah dengan Bella "


" tahu apa kau, aku masih suaminya " sentak Sean.


" Bella yang bilang padaku, bahwa dia telah berpisah denganmu "


" sejak kapan kau mengenal Bella ?? tanya Sean


" aku mantan pacarnya, saat kami masih hubungan kau malah merebut Bella dari sisiku " ucap Devan dingin.


" aku tidak ingat , jangan kau mengada-ngada " Sean ngotot, ia tak terima ada pria yang mengaku pernah jadi milik Bella sebelumnya, cukup sudah ia berebut dengan Ryan, kini ada lagi yang mengaku-ngaku sebagai mantan kekasih Bella.


" kalau kau tak percaya kau bisa tanyakan dengan asisten sialan mu itu "


" kau mengatai asistenku, takkan ku biar kan kau " Sean langsung maju akan melayang kan tinju, namun di tahan Ramon.


"sabar Sean, ini rumah sakit apa lagi ini diruangan Bella, kau bisa menggangu kondisi kesehatan Bella" tahan Ramon.


Sean menghempaskan tangannya, ia melotot tajam ke arah devan , sorot matanya seperti ingin menguliti tubuh pria didepannya.


" sebaiknya kau pergi, kau tak berkepentingan disini " desis Sean.


" aku tidak mau, aku masih ingin melihat Bella " Devan bersikeras


Sean memejamkan matanya kesal, pria yang baru ia temuin membuatnya ingin menyingkirkan sejauh mungkin dari Bella.


" pergi dari sini " bentak Sean


Devan tak bergeming, ia masih diam menatap bella.


" ku bilang pergi " Sean menarik kerah Devan


Ramon yang berada disitu bersiap untuk menahan amukan Sean.


" ku bilang aku tak mau " ucap Devan datar, ia melotot tajam kearah Sean,


Sean mengeratkan genggaman kerah devan, tangannya akan melayangkan tinju ke wajah Devan.


" stop " teriak suara yang tak asing oleh mereka bertiga.


Mereka melirik ke arah sumber suara tersebut, mata mereka menatap tak percaya, Bella terbangun.


___________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


biar author semangat up nya 🥰🥰


happy reading 💐💐💐