
Dua bulan berlalu pernikahan Sean dan Bella semakin hari semakin membaik, walaupun Bella tidak pernah menyatakan cinta kepada Sean,tapi ia memperlakukan Sean layaknya seorang istri yang mencintai suaminya.
Seperti biasa hari ini Bella mengunjungi toko kue bibinya, kegiatan sehari-hari untuk mengisi kekosongannya, kadang Bella membantu membuat kue, membantu menyiapkan pesanan kue bi Marni,yang semakin hari semakin membludak ramai pembeli.
"pegalnya" Bella memijit tengkuknya
"mau aku pijitin ?? tanya Ryan
Bella melotot, "jangan macam-macam kamu ian"
"memangnya aku salah,, aku hanya menawari bantuan,, biar kamu gak pegal-pegal lagi"
"tidak... terimakasih" tolak Bella
"ya sudah.."
"ian apa pesanannya masih banyak???tanya Bella kembali melanjutkan membungkus kue
"masih,,, 100 pc lagi" jawab Ryan
"hah,,, " Bella menarik nafasnya.
"kenapa ??
"tidak apa-apa "
"kalau kamu capek,, istirahat saja dulu,,tadi katanya pegal" suruh Ryan
"iya sih... tapi ini masih banyak"
"kamu itu bukan karyawan toko ini,,,jadi gak perlu khawatir"
"aku cuma ingin membantu,, apa lagi sekarang lagi banyak pesanan"
"tidak apa-apa bell,,,ini sudah tugas kami semua sebagai karyawan Bu Marni"
"ya sudah aku istirahat bentar,,, nanti aku bantuin lagi"
"iya " ryan menganggukkan kepalanya.
Bella duduk di tempat favoritnya, meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal, seharian ia berdiri membungkus kue, dan membantu membuat kue-kue pesanan, karyawan lain pun sibuk dengan kerjaan masing-masingnya.
"bell ini coklat panas,, biar kamu rileks " Ryan menyodorkan secangkir coklat panas.
"terimakasih " Bella tersenyum.lalu menyeruput coklat panasnya.
"sama-sama... apa kamu masih pegal???
"iya masih"
"mau aku pijitin"
Bella terdiam nampak menimang tawaran Ryan
"iya.. bolehlah"
Ryan mendekati Bella berdiri dibelakangnya, Bella menyingkirkan rambut panjang nya ke samping agar Ryan bisa leluasa memijit tengkuknya. Hati Ryan berdegup kencang melihat tengkuk Bella yang putih dan jenjang, terlihat sexy menurutnya.
Perlahan tangannya memijat tengkuk Bella, perasaan gugup menyentuh kulit Bella yang halus. Dadanya berdegup kencang tak karuan. Seakan ada dorongan ia ingin mencium tengkuk Bella,,tapi Ryan mencoba menepis dorongan itu, Ryan tak tahu apa yang terjadi padanya, rasanya ia menginginkan lebih dari sekedar pijatan, ia ingin memijat seluruh tubuh Bella sampai Bella mendesah.
akh ini gila,,,aku harus menghentikannya,batin Ryan frustasi
"sudah bell..,," Ryan melepaskan tangannya.
"oh... terimakasih" Bella tersentak kaget, ia sedang menikmati pijitan Ryan yang sedikit mengurangi rasa pegalnya.
Ryan dengan buru-buru pergi meninggalkan Bella,ia menuju kamar mandi lalu mengunci nya.
"akh sialan...kenapa aku bisa berpikiran mesum gini sih " runtuknya.
"tubuh bella benar-benar halus dan putih" Ryan melihat tangannya yang tadi menyentuh kulit putih Bella.
"arrgh kenapa aku tak tahan...aku ingin membawa Bella pergi dari sini dan mengajaknya ke hotel, menikmati tubuhnya yang.......... aarrrghhh sadar Ryan" ia mengacak rambutnya frustasi.
Senjata tempur Ryan sudah berdiri tegak saat membayangkan kulit mulus Bella.
"hah bagaimana ini,,, masa aku keluar dengan keadaan seperti ini" Ryan melihat ke bawah celananya.
"Bella,,, gara-gara kau senjataku jadi bangun,,,lagian bodohnya aku menawarinya pijatan" meruntuki kebodohannya.
Beberapa menit kemudian Ryan keluar dari kamar mandi.
"Ryan kamu dari mana?? tanya Bella
aduh gimana ini,,, cuma melihat dia pikiranku jadi mesum lagi, batin Ryan
"dari kamar mandi,, mules" jawabnya asal
"oh,,,, ayo bantuin lagi,...ini masih banyak yang belum terbungkus" ajak Bella
"kamu suruh yang lain aja bell,, aku mau bantu di belakang" Ryan buru-buru pergi meninggalkan Bella, ia tidak ingin berbuat yang menghilangkan akalnya ketika berdekatan dengan Bella.
Malam hari dirumah Sean
"kau kenapa sayang" tanya Sean melihat Bella memijat-mijat kakinya
"kakiku pegal Sean,,,, seharian aku berdiri bungkusin pesanan kue bi Marni" ucap Bella
Sean menghampiri istrinya yang memijat kaki di sofa kamar nya.
" sini biar aku pijat " Sean duduk disebelah Bella, mengangkat Bella ke atas pahanya.
Perlahan Sean memijat kaki Bella dengan lembut, Bella memperhatikan Sean yang ternyata punya sisi lembut dan perhatian.
"Sean... bolehkah aku bertanya??
"tanya apa " Sean masih fokus memijat kaki Bella
"kalau aku sakit parah atau aku menua dan menjadi jelek,, apakah kamu masih mau sama aku" tanya Bella
Sean mendelik "pertanyaan macam apa itu sayang.... aku menikahimu apa adanya..mau kau sakit atau jadi jelek aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang" jawab sean yakin
"benarkah itu" tanya Bella tak percaya
"sepertinya kau tidak yakin padaku bell"
"bukan seperti itu,, kau itu tampan, kaya dan berkuasa,,,bisa saja kau meninggalkanku suatu saat nanti"
"apa kau perlu bukti bell" Sean mendesah
"tidak,,, hanya waktu yang akan memberikan jawabannya" ucap Bella.
Sean tidak lagi bicara ia melanjutkan memijat kaki Bella.
"sudah Sean,,,sudah mendingan" Bella menurunkan kakinya,tapi di tahan Sean.
Bella mendelik menatap Sean.
Sean menarik Bella kehadapanya menatap lembut mata Bella.
"apa pun yang terjadi padamu aku akan tetap mencintaimu dan menjagamu sampai tua nanti" ucap Sean lembut
Bella tersenyum lembut,Bella mengecup bibir Sean. " terimakasih Sean"
Sean tersenyum ia pun kembali membalas kecupan Bella,,kecupan yang berubah jadi ciuman panas. Sean mengangkat tubuh Bella ke pangkuannya. Menarik lingerie dengan satu tarikan hingga tubuh Bella polos.
"aku mencintaimu Bella",bisik Sean dengan nada sensual
Bella tersenyum kembali mencium bibir Sean. ia mengabsen seluruh bibir Sean, memberikan gigitan kecil,Sean mengerang tertahan. Bella membuatnya bergairah. Sean mendudukkan Bella kembali di sofa. Sean berjongkok di depan Bella, membuka lebar paha Bella menarik nya ke depan wajahnya.
Dada Bella berdegup kencang merasakan gelenyar yang menggelitik perutnya. Sensasi permainan lidah Sean membuat ia beberapa kali pelepasan,tapi Sean tidak mau berhenti semakin dalam ia menekan,semakin bella tak karuan mendapatkan sensasi itu.
Setelah puas Sean mendudukkan Bella di pangkuannya, memposisikan tubuhnya dengan tubuh Bella,bersiap memasuki bagian intim Bella.
"bergeraklah sayang" desah Sean
Bella bergerak perlahan menggoyangkan pinggulnya, dari pelan hingga bergerak cepat. Membuat Sean terus-menerus mendesah nikmat.
Setelah pergumulan panas mereka,kini mereka berdua berbaring di ranjang.
"Sean kau belum tidur"
"belum,,,,kenapa...apa kau ingin lagi" seringai Sean
"tidak,,,aku sudah lelah,,,,"
"lalu kenapa kau tidak tidur sayang" Sean memeluk tubuh Bella dari belakang.
"apa kau menginginkan seorang anak Sean" tanya bella
"tentu saja sayang,, aku sangat menginginkannya...untuk apa aku setiap hari menanamkan benih di rahimmu tanpa menginginkan anak" jelas Sean
"kau ini" memukul manja lengan Sean
"kenapa kau bertanya seperti itu bell"
"tidak apa-apa,,,hanya saja aku merasa tidak pantas menjadi ibu dari anak-anakmu"
"hei...kenapa kau bicara seperti itu... aku sudah katakan padamu,,aku sangat sangat mencintaimu sayang,,jangan merendah seperti itu,,,tentu saja aku sangat menginginkan anak dari rahimmu,,menjadikan kau sebagai ibu dari anak-anakku,,, karena kau adalah istri ku" membalikkan tubuh Bella dihadapannya.
"jangan berbicara seperti itu lagi sayang, kumohon hanya kau yang ku cintai" Sean mengecup bibir Bella.
"maafkan aku Sean" lirih Bella.
"sudah lupakan,,,ayo kita tidur,,,aku susah mengantuk"
Sean memeluk Bella erat,dan mulai terlelap,sedangkan Bella masih dengan pikirannya.
kenapa aku masy belum bisa mencintai Sean, batin bella