Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Sensitif


Sesampainya di rumah Bella langsung bergegas masuk ke dalam menaiki anak tangga menuju kamarnya. Perasaannya terasa perih,setelah Sean mencengkram erat tangannya menyisakan sedikit perih.


Bella masuk ke kamar mandi mengunci pintu kamar mandinya. Bella mengguyur tubuhnya di bawah air shower, menangis tersedu-sedu memegang tangannya yang masih perih.


sakit.... lirih Bella


Menekan dadanya ,sungguh Bella tak tahu dengan perasaannya, akhir-akhir ini Bella merasa sangat sensitif.


Sudah setengah jam Bella dikamar mandi,Sean yang dari tadi menunggunya merasa khawatir.


"Bella....kau sedang apa...kenapa lama sekali didalam" Sean menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Bella bukalah,,,kau sedang apa" teriak Sean


Tak lama pintu kamar mandi terbuka,


"kau sedang apa kenapa lama sekali didalam" tanya Sean cemas


"tidak ada...aku hanya sedikit mules,,jadi agak lama dikamar mandi"


"apa kau salah makan bell..."


"aku makan sama dengan mu Sean"


"ah iya benar...."


" sudah tak apa Sean...minggir aku mau pakai baju" Bella melewati Sean yang berdiri di hadapannya.


"bell...apa aku Carikan obat untuk mu???? usul Sean.


"tidak Sean,,,aku sudah mendingan" jawab Bella tersenyum tipis


"baiklah,,,, aku mandi dulu"


Bella mengangguk, entah kenapa dadanya terasa sakit setelah berbicara dengan Sean.


kenapa harus sesakit ini,apa aku mulai ketularan syndrome lebay,,,ahh itu tidak mungkin aku bahkan tidak bergaul dengan siapapun,selama menikah dengan Sean,batin Bella bingung.


Selesai memakai baju Bella merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya , sejenak ia terlintas wajah Devan,sang mantan kekasihnya.


Devan,lirihnya


Bella membalikkan tubuhnya menyamping,tapi bayang-bayang Devan menghampirinya,kenangan masa-masa pacaran dengannya, senyumnya yang menenangkan dan sikapnya yang santun, tiba-tiba hadir di pikirannya.


hah... kenapa aku kepikiran dia...sudah lama sekali,,, dimana dia sekarang apa dia mendapatkan kehidupan yang menyenangkan,, maafkan aku Dev karna ketidakberdayaan ku,,kau menderita dan harus pergi., lirih bella.


"Bella...ada apa...apa perutmu masih sakit " duduk di tepi ranjang


"tidak Sean...sudah mendingan" elak Bella


"lalu kenapa kau diam saja,,,"


"tidak ada apa-apa,,,aku hanya lelah,,,aku mau tidur dulu '" Bella menyelimuti seluruh tubuhnya membelakangi Sean.


Melihat sikap Bella yang seakan menghindarinya,Sean merasa kurang nyaman. ia pun beranjak dari ranjang duduk di sofa memangku laptopnya, kembali mengerjakan pekerjaannya.


Sebenarnya Bella belum mengantuk,hatinya sangat sakit saat berdekatan dengan Sean, sejak kejadian tadi sore di restoran perasaan Bella terasa sakit, genggaman tangan Sean yang erat masih menyisakan perih ditangannya


Entahlah kenapa Bella merindukan sosok mantan pacarnya,Devan.


Devan tak pernah berbuat kasar ataupun menyakiti perasaannya, ia selalu menghargainya, merangkulnya saat titik terendah,, menenangkan saat ia sedih,, Bella merindukan sosok itu,sosok yang selalu tersenyum hangat padanya . Tak terasa air mata lolos begitu saja dari matanya.


Malam ini Bella merindukan Devan sang mantan kekasihnya, ia tahu memikirkan pria lain itu berdosa terlebih ia sudah menikah ,tapi entah kenapa hatinya merindukan Devan. Air mata terus menerus keluar tanpa permisi, membuat Bella merasa kesal pada dirinya sendiri.


Keesokan pagi harinya Bella menyiapkan keperluan Sean setelahnya pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Sean.


Pelayan yang melihat mata Bella sembab, berpikir bahwa tuannya menyiksa kembali majikan perempuannya lagi.mereka ingin bertanya tapi segan, itu bukan ranahnya.


Sarapan sudah siap tinggal menunggu kedatangan Sean saja, tak lama Sean datang sudah berpakaian rapi,duduk di kursinya.


Sean menatap bella heran,mata Bella begitu bengkak.


"Bella kenapa matamu???


Bella menyentuh matanya ," tidak apa-apa Sean,, mungkin digigit semut" Bella beralasan


"tidak mungkin,,, sepertinya kau habis menangis "


"tidak Sean..."


"jangan bohong denganku Bella " suara Sean terdengar berat menahan amarahnya.


"a..ku.. tidak apa-apa " Bella tergagap.


"Bella jujur padaku" bentak Sean.


"apa kau memikirkan pria yang menolong mu itu" sorot mata Sean berubah menyeramkan


"tidak..."


"jangan bohong" Sean menggebrak meja makannya dengan keras.


Bella terkejut saat Sean menggebrak meja, perasaan takut menyeruak kembali,Bella membisu ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"katakan,,,apa kau berniat kabur dengan pria itu,," teriak Sean penuh emosi.


Bella menggeleng pelan,air matanya mengalir dari kedua matanya.


"katakan... sebelum aku kasar padamu" ancam Sean


Mendengar ucapan Sean, Bella perlahan beranjak dari tempat duduknya berlari kencang menuju gerbang rumah Sean, pas kebetulan gerbang sedang dibuka tanpa adanya penjagaan,Bella berlari sekencang-kencangnya menjauhi rumah Sean. Ia tidak peduli lagi dengan semuanya, yang ia ingin menjauh dari Sean, sikap kasar Sean tidak bisa berubah.


Sean yang masih duduk di mejanya terlihat kesal dan emosi dengan sikap Bella,ia berpikir pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah.


"tuan,,,nyonya berlari keluar gerbang "seru satpam yang menjaga gerbang


"damn it " teriak Sean berlari menuju mobilnya, ia mengendarai mobil untuk mengejar Bella.


Sean terus menerus memukul setir mobilnya, amarahnya memuncak, perkataan Bella kemarin kembali terngiang, ucapan yang akan meninggalkannya sekarang terbukti ia kabur dari rumahnya.


Bella terus berlari tanpa arah tujuan, perlahan ia berjalan memasuki gang-gang kecil,ia tahu Sean pasti mengejarnya,jadi ia memilih jalanan sempit.


Rasa kecewa dan sakit menyelimuti hatinya,Bella tak ada niat untuk kabur, tapi melihat sikap kasar Sean ia memilih pergi,ia takut Sean akan menyiksanya kembali.


Sampai diujung jalan sebuah mobil berhenti di depan Bella, beberapa orang turun menghampiri Bella langsung membekap mulutnya ,,Bella yang tak siap,telat berteriak meminta tolong, tubuhnya dibawa masuk kedalam mobil oleh beberapa orang tersebut. Mobil langsung melaju kencang meninggalkan jalanan.


Sudah setengah hari Sean menyusuri jalanan,tapi nihil tidak menemukan Bella. ia hampir frustasi memutuskan untuk pergi ke toko kue bibinya. Sean keluar dari mobilnya bergegas masuk ke toko kue, terlihat bi marni dan Ryan yang sedang mengecek pesanan.


" bi apa Bella kemari " tanya Sean tanpa basa-basi


"Bella.....tidak Sean " jawab Bi Marni heran.


Sean terdiam, ini kali keduanya ia menanyakan keberadaan istrinya ke bibinya.


"Sean ada apa...Bella tidak ada dirumah atau kenapa??? cecar bi Marni


"tadi pagi kami bertengkar lalu ia pergi dari rumah,,,aku mencarinya tapi belum ketemu" jelas Sean.


Ryan yang dari tadi hanya diam dan menyimak, mendengar Sean berkata seperti itu ia langsung mencengkram kerah kemeja Sean.


"apa yang kau lakukan padanya hah" sorot mata Ryan berkilat emosi


"lepaskan....kau siapa mencampuri urusanku" sentak Sean tak kalah menyoroti mata Ryan.


"kalau sampai terjadi sesuatu pada Bella,,tak kan ku maafkan" Ryan melepaskan cengkeramannya.


"aku tahu,,,kau kan yang mempengaruhinya sehingga dia pergi dariku" bentak Sean.


"kurang ngajar kau " Ryan menghajar pelipis Sean . saat Sean akan membalas Bu Marni menghalangi.


"sudah cukup,,, bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah,,,, sebaiknya kita cari Bella sama-sama " ucap bi Marni


Sean dan Ryan saling menatap tajam satu sama lain. kedua pria itu sangat emosi dan juga kesal.


"bibi akan cari tahu ke teman-temannya,, Sean sebaiknya kau juga mencarinya kembali." ujar bi marni


" baiklah bi " Sean keluar dari toko bi Marni melajukan mobilnya


"dan kamu ian,,, kenapa kau memukul Sean..."


"aku kesal padanya bu.... bisa-bisanya Bella kabur dari rumah,,, pasti Sean berbuat kasar padanya " Ryan kesal.


"tidak mungkin...Sean sangat baik ian" elak Bu Marni


"ibu hanya melihat satu sisi saja,,,,tapi tidak melihat keseluruhannya "


bi marni terdiam, Ian benar dia hanya melihat satu sisi kebaikan Sean saja tapi tidak melihat sisi lainnya.


______________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


jangan lupa rating 5


biar author semangat untuk up


terimakasih 🥰😍🥰


happy reading 💐💐💐💐