
Setibanya dirumah bella langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya meninggalkan Sean yang berada di belakangnya.
"kau kenapa sayang? tanya Sean setibanya di kamar
"aku tidak kenapa-kenapa " jawabnya ketus
Sean menghampiri Bella yang sedang duduk di sofa. "ada apa cepat katakan"
Bella menatap Sean, " aku kesal padamu" sinis Bella
"kesal kenapa" Sean duduk disebelah Bella.
"kau ini sangat sombong, sampai merendahkan orang lain" ketus Bella
"siapa yang aku rendahkan" tanya Sean bingung
"kau tadi berbicara membayar mahal seluruh perawatan ian,"
"lalu ",
"aarggh...kau ini " teriak Bella kesal
", Bella kalau ngomong jangan setengah-setengah aku tidak paham" ucap Sean masih bingung
"Sean... kalau kau membantu orang harus dengan ikhlas"
"iya aku membantu dia,membayar mahal perawatannya,,apa yang salah... itung-itung aku balas budi padanya telah menyelamatkan mu"
"tapi jangan berbicara seperti itu,,, seperti kamu merendahkan orang yang menolongmu Sean " jelas bella
"kenapa... toh dia membutuhkannya"
"astaga...seann" teriak Bella dongkol.
"kau ini kenapa bell,,,jadi mempermasalahkan hal sepele ini" tanya Sean menatap bingung.
Bella menarik nafasnya dalam-dalam, menghadapi Sean memang harus sabar apa lagi dengan sikap sombongnya.
"Sean...kamu menolong orang harus ikhlas,tanpa ada embel-embel di dalamnya,,jadi orang yang menerima pertolongan kamu merasa dihargai apa lagi dia telah berkorban nyawa padaku,,, cukup kamu membalasnya dengan diam,tanpa pamrih." ucap Bella selembut mungkin memberi tahu Sean.
"oke.." jawab Sean malas.
"ya sudah sana,,,aku mau nonton film"usir Bella
"kau mengusir ku bell...????
"memangnya kenapa,,,aku mau nonton dengan tenang"
"tapi bell... bolehkah aku minta jatah" ucap Sean tanpa malu-malu.
"ini masih siang sean...kau ini tidak tahu waktu..lagian aku masih sakit Sean... bukankah tadi kau bilang sama orang-orang kalau aku belum sembuh betul" Bella membalikkan ucapan sean
"aku akan pelan-pelan"
"tidak...aku masih sakit,tunggu sampai sembuh total" sarkas Bella.
Sean tertunduk lesu,sudah beberapa hari junior nya tidak di asah, sekalinya minta di asah di tolak mentah-mentah.
Di kontrakan Ryan.
"Ryan sebaiknya kamu istirahat beberapa hari lagi ya...tidak usah pikirkan kerjaan" suruh bi Marni
"tapi Bu...saya sudah sembuh"
"tapi jangan di paksakan kalau masih sakit ya" ujar bi Marni.
"iya bi".
", cepat sembuh ya bro" ucap Alan
"makasih Lan " balasnya.
"ya sudah ibu sama alan pamit dulu,,ibu tidak enak lama-lama disini, asistennya Sean menunggu di mobil" Bu Marni pamit.
Tio memang diperintah Sean untuk mengantarkan Bi Marni ke kontrakan Ryan,tapi ia tidak ikut masuk ke dalam kontrakan,ia menunggu di mobil.
"iya bu,,, terimakasih buat semua telah membantu ku"
"sudah jangan dipikirkan,,jaga kesehatan mu" ujar bi Marni,
Bi marni dan Alan masuk kembali ke mobil Tio.
"kita mau kemana Bu???tanya tio.saat mereka masuk kedalam mobilnya
"ke toko saja" jawab Bi Marni.
Mobil melaju menuju toko kue bi Marni. Setelah mengantar bi Marni dan Alan,ia menuju gedung tua untuk menginterogasi pria yang kemarin menabrak istri bos nya.
Tio melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana si pria tua itu di ikat.
"bagaimana...apa dia sudah mengingatnya" tanya Tio kepada anak buahnya.
"sepertinya dia memang tidak tahu bos " jawab anak buahnya.
"aarggh sial...terus bagaimana ada info dari yang lain???
"ada bos...mereka mengirim kan foto orang yang menyuruh tukang ojek ini menabrak tuan kita" anak buahnya menyerahkan handphone.
Tio menatap layar handphonenya, memperhatikan orang yang menyuruh tukang ojek itu.
"cari tahu....bawa mereka kesini"perintah tio
",tuan tolong lepaskan saya...saya tidak tahu menahu,,,kasian keluarga saya mencari keberadaan saya" mohon si tukang ojek. sudah dua hari dia di sekap, bahkan sesekali anak buahnya Tio menghajarnya saat menginterogasinya.
"itu salahmu kenapa kau tidak mengingat orang yang menyuruhmu...selagi orang itu belum ketemu kau tak bisa keluar dari sini" suara berat Tio mengintimidasinya.
Tio berlalu pergi meninggalkan gedung tua itu,menuju rumah Sean untuk memberikan informasi mengenai foto yang diberikan anak buahnya.
Sesampainya di rumah Sean,ia mengetuk pintu rumah Sean, seorang pelayan membukakan pintunya.
"tuan Tio" seru si pelayan
"bilang pada tuan Sean ,saya menunggunya di ruang kerja" perintah tio melenggang masuk ke dalam rumah Sean.
"baik tuan " ucap si pelayan itu lalu pergi menuju kamar Sean.
Sean memasuki ruang kerjanya, yang sudah ada Tio menunggunya.
"ada info apa " tanya Sean dingin
"anak buah kita mengirimkan foto orang yang menyuruh tukang ojek yang menabrak istri anda" Tio menyerahkan handphonenya.
Sean sekilas melihat layar handphone Tio lalu mengembalikannya.
" baik tuan" Tio menganggukkan kepalanya
",kalau perlu ancam mereka" perintah Sean.
"baik tuan"
", pergilah"
Tio mengangguk melangkah pergi meninggalkan ruangan Sean.
arrgh sial kenapa belum ketemu juga orang yang mencelakai istriku...takkan ku biarkan mereka hidup dengan tenang,geram Sean.
Saat pikiran Sean melayang entah kemana,pintu ruang kerjanya terbuka.
"Sean... kau sedang apa???tanya Bella menghampiri
"hah...bell.. kenapa?? tanya balik Sean terkejut.
"kau kenapa Sean sepertinya sedang memikirkan sesuatu??
"tidak ada apa-apa" Jawab Sean datar
"kemana Tio... bukankah dia ada disini???
"dia sudah pergi " jawab Sean
Bella menganggukkan kepalanya, " Sean kamu masih marah padaku"
"tidak " jawab Sean datar.
"ya sudah... kalau begitu aku mau masak dulu" Bella membalikkan badannya menuju arah pintu
"tunggu " tahan Sean
"ada apa Sean" Bella membalikkan badannya ke arah Sean
"kau tak usah memasak.. biarkan pelayan yang memasak,,aku ingin kau menemaniku di kamar" Sean menghampiri Bella membelai lembut pipinya.
Bella menyipitkan matanya, "ada apa,,kau tidak akan macam-macam kan???
",tidak sayang,,,aku janji tidak akan macam-macam padamu,,,aku hanya ingin kau menemaniku tidur" Sean memeluk tubuh Bella.
"baiklah,,,ayo " Bella tersenyum.
Sean dan Bella pun tiba dikamar,lalu mereka berbaring bersama diranjang saling memeluk.
Sean menyelusupkan kepalanya di leher Bella,mendekap tubuh Bella yang selalu membuatnya tenang.
"bell...aku sangat mencintaimu" lirih Sean.
"benarkah itu" nada Bella seakan meledek ucapan Sean.
"ck...kau tak percaya padaku?? decak Sean
"iya iya aku percaya" Bella tertawa.
"jangan pernah meninggalkan aku bell,,,apa pun yang terjadi" pinta Sean
"Sean...kau sudah puluhan kali berkata seperti itu"
"aku hanya takut" lirih Sean
"kalau aku pergi...kau bisa menikah lagi dengan wanita lain"
"berarti kau berniat untuk pergi" Sean mendongakkan wajahnya menatap Bella.
"kau ini kenapa Sean.....ko melow gini" tanya Bella heran.
"jawab pertanyaan ku Bella,,,kau berniat pergi meninggalkan ku??? ucap Sean dingin
"a..ku..tidak berniat seperti itu Sean" ucap Bella gelagapan.
"lalu.." menatap tajam Bella.
"ya kalau aku pergi meninggalkan mu,..karna maut memisahkan kita" kilah Bella,mencari alasan yang tepat. Sepertinya suaminya ini sedang sentimen.
",kau harus berjanji seperti itu bell,,,,jangan sampai mengingkari janji mu padaku,,,apa lagi berniat meninggalkan ku dan menikah dengan pria lain" cecar Sean tegas
"baiklah suamiku" ucap Bella tersenyum
"katakan lagi" pinta Sean
"apa??? tanya Bella bingung
"kau tadi bilang apa...coba katakan lagi???
"maut memisahkan kita !?? ucap Bella asal
"bukan itu"
"lalu apa,,,aku tidak mengerti Sean" ucap Bella tak sabar
"kau bilang tadi....suamiku" ucap sean menirukan ucapan Bella.
oh ya ampun cuma ucapan begitu,, sampai membuat ku bingung, batin Bella.
"kata lagi sayang "pinta Sean lagi
Bella menghembuskan nafasnya, "suamiku " dengan nada menggoda
"lagi " Sean tersenyum
"suamiku "
"lagi sayang "pinta Sean manja
"suamiku.. suamiku.. suamiku... suamiku.... suamiku.. suamiku...." ucap Bella berulang ulang
Sean tertawa senang mendengar ucapan Bella yang mulai kesal.
________________________________________________
dukung terus yaa
jangan lupa like comment and vote
biar author semangat buat up
happy reading 💐💐 💐