
" Kalau kau tak mau akan ku dorong kau," ancam Ryan.
" Tak kan bisa." Secepat kilat Selena menyambar bibir Ryan lalu ********** dengan penuh gairah. Ryan yang awalnya menolak akhirnya membalas ciuman ganas Selena.
Kena kau, batin Selena menyeringai.
Ciuman terus berlangsung tanpa diduga Ryan mengangkat tubuh Selena, mengapit tubuh Ryan dengan kedua kaki Selena.
Ryan membawa Selena menuju kamarnya. Sampai di kamar Ryan merebahkan tubuh Selena.
" Kau selalu menggodaku Lena," suara serak Ryan menahan gejolak gairah.
" Aku menginginkan mu Ryan,"lirih Selena menatap sayu Ryan.
" Baiklah kalau kau menginginkannya. Ingat tak kan ku biarkan kau menyerah begitu saja. Kita lihat seberapa kuat kau melayani ku," ucap Ryan menatap lekat wajah Selena.
Selena mengangguk mantap.
Dan akhirnya Ryan mulai mencumbui seluruh tubuh Selena. Memberikan sentuhan-sentuhan yang penuh gairah.
Hingga penyatuan, Ryan kesulitan menjebol Selena. Sangat sempit hingga menjepit milik Ryan.
" Kau masih perawan?"
Selena mengangguk. Rasa sakit dan perih begitu menyiksanya. Ryan tak henti-hentinya menerobos masuk namun tetap belum bisa.
" Kau begitu agresif padaku. Ku kira kau sudah pernah melakukannya, nyatanya kau masih perawan,"ucap Ryan terus mendorong miliknya.
Selena hanya terdiam. Ia sedang merasakan perih yang amat luar biasa dibawah sana. " Ryan bisakah berhenti dulu. Aku kesakitan," rintih Selena.
" No Lena ! sejak awal menikah kau selalu menggodaku kini terima akibatnya," Ryan mendorong dengan kuat miliknya.
" aww," pekik Selena, mencengkram erat kedua lengan Ryan.
" Nikmati saja Lena."
Selena hanya bisa pasrah.Ternyata tak seenak yang dibayangkannya. Ini terasa sakit dan perih sampai sekujur tubuh.
Namun lambat laun rasa sakit telah tergantikan dengan kenikmatan yang diberikan oleh Ryan.
Hingga tengah malam Ryan terus menggempurnya. Tiada ampun untuk Selena yang telah menggodanya habis-habisan.
" Aku lelah," rintih Selena.
" Aku belum lelah. Ini akibatnya kau menggodaku Lena."
Ryan terus menekan miliknya. Mencari kenikmatan dari lubang surgawi Selena.
Hingga pelepasan itu datang. Ryan terkulai lemas diceruk leher Selena.
" Terimakasih,"ucap Ryan. Nafasnya masih terengah-engah setelah mencapai puncak kenikmatannya.
Selena memejamkan matanya karena kelelahan. Ryan bangkit dari tubuh Selena, berbaring disisi Selena.
" Hah ! Ini gila , aku melakukannya," Ryan menyugarkan rambutnya.
" Itu hukuman mu karena kau selalu menggodaku," Ryan membelai lembut pipi Selena yang sudah berada di alam mimpi.
Esoknya Selena bangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
" Astaga aku kesiangan," pekik Selena. Ia beranjak dari ranjang namun rasa sakit di antara kedua pahanya, membuatnya kembali duduk ditepi ranjang.
" Ahh sakit sekali," Selena memegang miliknya.
" Ini pasti bekas semalam, ternyata sangat sakit," rintih Selena.
" Kemana Ryan ? Apa sudah berangkat ? gara-gara kejadian semalam aku jadi kesiangan," Selena memukul kepalanya sendiri.
Namun pandangannya teralihkan ke nakas samping tempat tidurnya. Roti bakar dan susu sudah tersaji dan tak lupa sebuah catatan kecil dari Ryan.
Begitulah isi catatan tersebut. Selena tersenyum menatap catatan dari Ryan kemudian menatap sarapan yang telah disiapkan oleh suaminya itu.
" Ini kah rasanya diperhatikan," Selena senyum-senyum.
Setelahnya dia memakan sarapan yang telah disiapkan oleh suaminya. Rasa sakit berganti dengan rasa gembira bagai berbunga-bunga disekelilingnya.
Dikantor pun Ryan terus menyunggingkan senyumnya. Entah apa yang membuatnya selalu tersenyum, biasanya ia akan bersikap dingin dan marah-marah kesemua karyawannya.
" Tumben pak Ryan senyum,"bisik karyawan Ryan, saat Ryan jalan melewatinya.
" Pasti sudah dapat jatah kali sama istrinya," balas karyawan lain.
" Hihihi iya juga ya."
" Tapi kan nikahnya sudah lama. Dulu pas awal nikah dia tak seperti itu. Malah tambah arogan ,suka marah-marah tak jelas,"balas karyawan tersebut.
" Sudah jangan ngomongin lagi. Takut kedengaran sama bos kita."
Begitulah bisik-bisik para karyawan yang berpapasan dengan Ryan.
Beberapa bulan kemudian
Sean kini sedang menikmati saat-saat kebersamaan dengan keluarga kecilnya di pantai.
Suasana yang damai dan tenang, membuat keluarga kecil Sean sangat bahagia. Kini Bella sedang mengandung buah hati mereka yang kedua.
Menginjak usia kehamilan yang baru dua bulan. Sean dengan ektra hati-hati menjaga Bella. Ia ingin merasakan saat menjaga kehamilan dengan Bella. Dulu saat dirinya hilang ingatan tak pernah terpikirkan untuk menikah atau pun mempunyai seorang anak.
Ingatan Sean pun berangsur pulih. Potongan-potongan memori yang menghilang seakan hadir lagi saat kebersamaan dengan istrinya, Bella.
" Sayang aku mencintaimu," ucap Sean. Kini mereka duduk di teras villa dekat pantai sambil mengawasi Zyan yang sedang bermain dengan para pelayannya.
" Aku juga suamiku," balas Bella hangat.
Sean mencium punggung tangan Bella. Kemudian menyentuh perut Bella yang masih rata. " Daddy mencintaimu sayang," ucap Sean mengelus perut Bella.
Bella tersenyum hangat. Ia tak menyangka dengan takdir yang dijalaninya. Menikah terpaksa tanpa cinta, hingga akhirnya cinta membawanya untuk berjuang hidup bersama selamanya. Dan kini mereka tengah menunggu kelahiran anak keduanya. Sungguh jalan Tuhan tak pernah tahu.
Bella pikir ia takkan pernah mencintai Sean. Namun kenyataannya ia mencintai suami yang arogannya itu. Kebencian yang ia tanamkan dulu kini telah menjadi cinta tulus yang seakan tak pernah pudar.
Sean dan Bella berkomitmen untuk saling menjaga dan saling mempercayai hubungan pernikahan ini sampai tua nanti.
Dilain tempat Ryan tengah berdiri gugup didepan kamar mandi. Menanti Selena yang sedang mengetes hamil atau tidaknya.
Karena beberapa hari ini Selena sering mual dan pusing. Dan lagi Selena telat datang bulan.
" Bagaimana sayang," tanya Ryan tak sabaran. Saat Selena keluar dari kamar mandi.
Selena menunduk dengan raut wajah lesu. " Sayang katakan," Ryan memegang bahu Selena tak sabar.
" Ini sayang," Selena memberikan tespeknya.
Ryan meraih tespek tersebut. Dilihatnya nampak dua garis merah terpampang jelas.
" Kau hamil sayang," ucap Ryan haru.
Selena mengangguk haru.
" Terimakasih sayang," Ryan memeluk tubuh Selena.
Kebahagiaan Selena akhirnya terwujud. Ryan menerimanya dengan sepenuh hati. Dan kini buah cinta mereka tumbuh di rahim Selena. Ryan pun tak menyangka ia akan sangat mencintai Selena. Wanita yang dulu ia benci sekarang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
.
.
.