Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Mati rasa


Hari dan bulan berganti begitu pun tahun,waktu terasa begitu cepat, kini Zyan tumbuh jadi anak yang aktif dan pintar. Kini usia Zyan 4 tahun, dimana ia sedang aktif-aktifnya dan serba ingin tahu, termasuk menanyakan bagaimana rupa ayahnya.


"mom... Daddy itu seperti apa ???tanya Zyan disela sarapannya.


"iya dia seperti daddy-daddy " celetuk Bella.


"momy ini gak lucu tahu " Zyan ngambek.


Bella hanya terkekeh melihat tingkah anaknya yang begitu menggemaskan.


"mom,,,kenapa mommy tidak menikah saja dengan ayah ian,,,,dia baik mom "


"Zyan kamu dapat kata-kata itu dari mana??? Bella terkejut dengan ucapan anaknya.


"itu mama Nadira selalu bilang sama Zyan,,kenapa mommy gak nikah aja sama ayah ian, gitu mom "


dasar emak-emak julid,,, ngajarin yang gak bener, gerutu Bella


"sayang dengar mommy,,,jangan dengerin hal yang menurut kamu bukan obrolan anak kecil,,okey "


"oke mom "


"habiskan sarapan mu,,,,nanti jangan nakal ya saat mommy kerja,,"


"oke mom "


"anak pintar,"


Bella dan Zyan kembali melanjutkan sarapannya,usai sarapan Bella pamitan dengan mbak Tuti. Mbak Tuti pembantu yang dipekerjakan Ryan untuk membantu Bella.


Setelah Zyan berumur 2 tahun Bella mulai mencari pekerjaan ia tidak ingin merepotkan Ryan lagi, sudah banyak Ryan membantu, sudah saatnya dia mulai mandiri tidak bergantung dengan Ryan lagi, namun Ryan selalu membantu Bella,tanpa sepengetahuannya, termasuk dengan pekerjaannya.


Bella bekerja di perusahaan milik sahabat Ryan, Ramon. Tanpa sepengetahuan Bella, Ryan meminta Ramon untuk menerima Bella sebagai pegawainya. Kini Bella sudah bekerja selama 2 tahun lamanya, berkat kerja kerasnya Bella sekarang mendapatkan posisi yang lumayan tinggi,menjadi manager pemasaran.


Perusahaan yang bergerak di bagian properti yang sangat besar di kota Surabaya.


Sebuah pesan masuk di hp Bella.


"bell..nanti siang makan bareng yuk " isi teks yang di kirim Ryan ke Bella.


"oke " balas Bella


Bella kembali melanjutkan pekerjaannya kembali, ia tidak ingin menunda-nunda pekerjaannya, cepat selesai cepat pulang juga. Bella ingin cepat pulang bertemu dengan Zyan anaknya.


Sebenarnya Ryan sudah beberapa kali mengajak Bella untuk menjadi istrinya, tapi selalu ditolak Bella. Ryan ingin Bella fokus mengurusi Zyan tanpa harus bekerja.


Jam makan siang Bella menuju resto yang biasa dia dan Ryan bertemu. Sesampainya di resto Ryan sudah duduk manis menunggu Bella.


"maaf aku telat ,,," ucap Bella duduk di hadapan Ryan.


"tidak apa...aku sudah memesan makanan yang kamu suka" Ryan tersenyum.


", terimakasih,,kamu selalu pengertian " Bella tersenyum.


Ryan dan Bella makan siang dengan tenang, sesekali terselip obrolan.


"bell,,,aku akan ke Jakarta lagi,,papa ku membutuhkan ku lagi "


"pergilah ian....jangan kecewakan orang tua mu,,," ujar Bella tersenyum.


"aku berat meninggalkan mu lagi,,, apa lagi Zyan aku akan sangat merindukan nya."


"kamu bisa video call Ian "


"benar juga,, tapi lebih enak lihat langsung " Kekeh Ryan.


Ryan memang bolak balik Jakarta Surabaya, setelah Bella tinggal di Surabaya, Ryan tidak lama pulang ke Jakarta kerumah orang tuanya, ia kembali lagi kerumah orangtuanya untuk melanjutkan perusahaan papa nya. Mahesa sang kakak sudah tidak mau lagi mengurusi bisnis papa nya, ia memilih tinggal di Paris hidup jadi seorang pelukis, itulah impiannya, jadi Ryan mau tak mau harus mengambil alih perusahaan papanya.


Walaupun Ryan bolak-balik Jakarta Surabaya,ia tidak pernah tahu bahwa Sean masih hidup, ia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Di sebuah ruangan sepasang kekasih yang sedang kasmaran tak henti hentinya mendesah dengan ciuman yang masih saling membelit. Sabrina duduk di pangkuan Sean memberikan sebuah ciuman yang penuh gairah. Sean membalas ciuman gairah Sabrina, tangannya bergerilya menyentuh tubuh Sabrina.


Sabrina dengan cepat membuka sleting celana Sean namun dicegah oleh Sean.


"cukup Sabin " ucap Sean dengan nafas memburu


"ayo lah Sean....aku ingin " Sabrina memohon.


Sabrina menggerutu kesal, Sean tidak pernah mau diajak bermain lebih, mentok di ciuman saja.


"kau ini kenapa tidak mau bermain lebih Sean " gerutu Sabrina.


"aku harus kerja Sabin " Sean beralasan.


"kau selalu begitu,,, apa aku kurang menggairahkan untukmu" cecar Sabrina.


"tidak sayang,,, kau sangat menggairahkan dan juga sexy "


"tapi kau tidak mau di ajak bercinta lagi denganku"


Sean menghela nafasnya, entah kenapa ia merasa kurang bergairah saat bersama Sabrina, itu pun ciuman terasa hambar. Hanya untuk menyenangkan Sabrina, Sean selalu membalas ciumannya tanpa ada gairah sedikit pun.


Pernah ia coba untuk bercinta dengan Sabrina tapi gairah itu hilang begitu saja, walaupun sabrina bertelanjang bulat, rasa gairahnya tidak ada untuk Sabrina, seperti mati rasa.


"Sabin sebaiknya kamu pulang,, aku harus bekerja, sebentar lagi aku ada meeting " pinta Sean.


"ahh...kau ini Sean..".Sabrina menghentakkan kakinya, merapikan bajunya yang sedikit acak-acakan.


Sean kembali fokus pada berkas-berkas dimejanya.


"ya sudah aku pergi dulu " Sabrina mencium pipi Sean, berlalu pergi meninggalkan ruangan Sean.


Sean mendesah entah sampai kapan gairahnya hilang begitu saja, saat ia meminta wanita panggilan pun ia merasa tidak bergairah walaupun wanita panggilan yang Tio berikan cantik dan juga sexy. Gairahnya menguap begitu saja.


"tuan, 10 menit lagi meeting dengan pak Suhendro" seru Tio. membuyarkan lamunan Sean


"ah iya... baiklah "


Sean membereskan dokumen yang akan dibawa untuk meeting, Tio mengikuti langkah Sean dibelakangnya.


Sesampainya di ruangan meeting. Pak Suhendro telah tiba dengan sekertaris nya Siska. Mereka saling berjabat tangan, Siska yang terlihat cantik dan sexy, menarik perhatian Sean.


"silahkan duduk " ucap Sean.


Mereka duduk dan memulai pembicaraan tentang bisnis. Namun mata Sean sesekali menatap Siska yang menurutnya begitu menggairahkan.


"baik lah pak Sean,..saya sudah paham...oh iya besok lusa anak saya akan datang dari Surabaya,,,,saya akan mengenalkan anda dengannya,,,, semoga anda bisa bekerja sama dengannya" ucap pak Suhendro.


"tentu saja pak,,, semoga jalinan bisnis saya dengan anda berlangsung baik"


" baiklah kalau begitu saya permisi pak Sean " Suhendro bangkit dari duduknya menjabat Sean dan juga asistennya Tio, begitupun dengan Siska ia menjabat tangan Sean, namun Sean memberikan tatapan penuh gairah, hingga Siska salah tingkah.


"Tio....saya ingin kau atur jadwal dengan sekertaris nya pak Suhendro,, aku menginginkan malam panas dengannya" titah Sean, saat Suhendro dan Siska sudah pergi


Tio menghela nafasnya, sampai kapan tuannya bermain-main dengan wanita lain, sedangkan istrinya sampai sekarang belum diketemukan.


Sean benar-benar tidak mengingat kejadian kecelakaan itu, dan bayang-bayang istrinya pun ikut hilang begitu saja.


" baiklah tuan "


dia begitu cantik dan sexy,,,apa aku akan kehilangan gairah ku lagi atau tidak...kita lihat apa dia bisa membuat ku bergairah, batin Sean.


Tak sulit untuk Tio melakukan tugasnya mencari wanita-wanita yang akan Sean tiduri, termasuk siksa. Dengan senang hati siksa menerima tawaran Sean untuk bermalam panas dengannya.


"tuan " panggil Tio saat diruangan Sean.


"ada apa???


"saya sudah menghubungi sekertaris tuan Suhendro, ia langsung menerima tawaran tuan. ia akan menunggu tuan di hotel xxx no 4456." ucap Tio.


Sean menyeringai, " baiklah "


"kalau begitu saya permisi tuan" pamit Tio.


aku kira akan sulit mengajak siksa,, ternyata dia sama saja dengan wanita yang pernah aku tiduri.,batin Sean.


______________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up nya 🥰🥰🥰


happy reading 💐 💐💐💐