Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Keceplosan


keesokan harinya Ryan sudah mulai beraktivitas seperti biasa,ia merasa jenuh sudah beberapa hari berbaring di ranjang rumah sakit.


"kamu sudah sembuh ian,,,ko' udah kerja lagi sih???tanya Reni saat Ryan masuk kedalam toko.


"aku bosan,,sudah beberapa hari hanya terbaring di ranjang"jawabnya


"hmm...ya sudah...jangan terlalu capek, kamu baru sembuh" ucap Reni perhatian.


"iya terimakasih ren, telah perhatian padaku" Ryan berlalu pergi ke dapur toko.


Reni melanjutkan kembali perkerjaannya, membereskan kue-kue di etalase. Tak selang berapa lama bi Marni datang.


"pagi Bu " sapa Reni


"pagi...oh ya ren pesanan Bu Dina udah siap belum ya??? tanya bi Marni


"sudah bi... tinggal dikirim saja"


"Alan kemana???tanya bi Marni


"Alan lagi nganter pesanan Bu, ke komplek perumahan grand royal residen"


"berarti masih lama dong....mana ian masih sakit lagi" guman bi marni


"Ian ada Bu,dia ada di belakang" ucap Reni.


"ian masuk kerja ren"tanya bi marni heran


"iya Bu,,, sebentar saya panggil kan" Reni menuju dapur toko memanggil Ryan.


bi marni tampak mengecek kembali pesanan kue yang akan di antar.


"Bu " sapa Ryan.


."kenapa kamu sudah kerja lagi ian... memangnya kamu sudah sembuh betul?? tanya bi Marni


"sudah mendingan Bu,,,lagian bosan Bu berbaring terus diranjang"


"tapi kalau kamu masih lemas kamu pulang saja ya " perintah bi Marni


"iya Bu...kalau saya merasa lelah,,akan istirahat"


"ya sudah...apa kamu bisa mengantar pesanan kue ini???


"bisa Bu...kemana Bu??


"ke rumah Bu Dina"


",saya siap Bu..." ucap Ryan sigap.


",oke kalau gitu ini sudah ibu cek tinggal kamu tata aja ya" perintah bi Marni


Dengan sigap Ryan menata pesanan kue di motornya. Saat sedang sibuk merapikan barang pesanan nya, seorang wanita memanggilnya.


"Ryan" sapa Sabrina , ya orang yang menyapa ialah Sabrina sang mantan dulu.


Ryan menoleh melihat Sabrina menghampiri nya.


"ternyata kamu masih kerja disini Ryan ?!! dengan nada mengejek nya.


"itu bukan urusanmu" ketus Ryan masih merapikan barang pesanannya.


"ck, kenapa kamu tidak pulang saja, membantu bisnis papa mu itu " decak Sabrina


"itu bukan urusanmu" kembali Ryan berkata seperti tadi.


"kamu ini lelaki menyebalkan " Sabrina menghentakkan kakinya kesal.


"sudah sana pergi jangan menggangu ku" usir Ryan.


"aku kesini untuk membeli kue mu tahu,,, seharusnya layani aku dengan benar"


"kalau mau membeli kue ya sana masuk ke dalam,, bukan di luar"


"aku ingin kamu yang melayani"


"aku sibuk.. kamu tidak lihat aku sedang merapikan barang pesanan" Ryan menunjuk motornya yang sudah siap untuk berangkat mengantarkan pesanan.


Sabrina mendengus sebal,ia menatap bekas luka di tangan Ryan.


"seharusnya kamu hati-hati Ryan" ucap Sabrina


"apa maksudmu ??


"seandainya kau tidak menolong wanita itu kau tidak akan terluka " ucap Sabrina ,ia reflex mengatakan itu tanpa sadar apa yang dikatakannya.


"kapan aku berbicara tentang menolong wanita ??tanya Ryan menyelidik


Dahi Sabrina mengkerut ia keceplosan berbicara seperti itu kepada Ryan.


"akh tidak...aku tidak tahu" jawab Sabrina gelagapan


"jangan kau bohong pada ku Sabin" tangan Ryan mencengkram kuat lengan Sabrina.


"lepaskan...aku tidak mengerti maksudmu" berontak Sabrina


"kau kan yang ingin mencelakai istri Sean??? ucap Ryan emosi menatap tajam Sabrina.


"aku tidak....akhh Ryan lepaskan sakit" rintih Sabrina, Ryan mencengkram nya sangat kuat,ia tidak perduli dengan rintihan Sabrina,yang ingin dia tahu kebenaran kecelakaan beberapa hari lalu.


"katakan " bentak Ryan


."tolong lepaskan aku Ryan...sungguh aku tidak tahu " Sabrina memohon.


"dengar Sabin,,kalau kau sampai melukai segores saja tubuh Bella,kau berurusan denganku" ancam Ryan menatap tajam, menghempaskan cengkeramannya dengan kasar.


Sabrina merintih kesakitan atas tindakan Ryan padanya.


awas saja kau Ryan,,,akan ku balas kau...


aarrrghhh sialan...kenapa Ryan juga malah membantu wanita murahan itu..2 pria yang pernah jadi milikku sekarang malah membela wanita murahan itu,batin Sabrina kesal.


Dikediaman rumah Sean,Bella uring-uringan tidak diijinkan keluar rumah oleh Sean, walaupun Bella memaksa tapi dengan tegas Sean melarangnya keluar.


"hah menyebalkan...padahal aku sudah sembuh, kenapa tidak boleh keluar sih " gerutu Bella.


Bella yang saat ini sedang berjalan-jalan di taman belakang, berteriak kencang mengungkapkan kekesalannya.


Nada dering hp menghentikan teriakan nya.


"hallo " seru Bella


" hallo Bella...apa kabar??? suara wanita disebrang sana. yang tak lain Lusy temannya.


"aku baik...ada apa Lus ???


"kau ini...aku menghubungi karna aku kangen padamu"sahut Lusy


"oh " balas Bella datar.


"ck..kau ini bell... teman mu menelpon malah seperti itu" decak Lusy


"lalu aku harus apa Lus??


terdengar helaan nafas Lusy, "weekend ini kita jalan yuk" ajak Lusy


"aku tidak janji Lus.. masalahnya Sean tidak mengijinkan aku keluar rumah."


"kau seperti burung di sangkar emas bell" ledek Lusy.


"ya mau gimana lagi.."ucap Bella pasrah.


"kau tanyakan saja dulu pada suamimu itu,,kali di ijinin " saran Lusy


"hmmm baiklah akan aku coba"


"ya sudah aku tutup dulu ya," pamit Lusy, lalu mengakhiri panggilannya.


Bella mendesah panjang, bisakah dia dapat ijin dari Sean. Tapi kalau belum bertanya padanya mana tahu Sean mengijinkan, pikir Bella.


Pukul 7 malam Sean baru tiba di rumahnya,ia langsung menuju kamarnya. Rasa lelah seharian bekerja belum meeting yang menyita waktunya, membuatnya ingin segera berendam.


"Sean kau sudah pulang" Bella menghampiri Sean membukakan jas kerjanya.


"aku sangat lelah,,aku ingin berendam" ujar Sean.


"baiklah akan aku siapkan" Bella menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Sean, setelahnya ia keluar menemui Sean.


" Sean sudah siap" panggil Bella.


"terimakasih sayang" Sean berlalu menuju kamar mandi.


akan aku coba bertanya padanya,, bagaimana pun aku bosan dirumah terus, batin Bella


Beberapa menit kemudian Sean sudah selesai dengan mandinya, nampak raut wajah Sean terlihat segar setelah mandi .Bella memperhatikan gerak-gerik Sean yang sedang memakai kaos polos dan celana pendeknya.


Setelahnya Sean menghampiri Bella yang sedang duduk di sofa menonton televisi. Bella nampak ragu-ragu berbicara dengan Sean,tapi kalau tidak bertanya ia akan terjebak terus di sangkar emas Sean.


"Sean.." Bella mulai berbicara


"hmm " balasnya.


"bolehkah aku minta ijin padamu??? tanya Bella dengan hati-hati


"ijin kemana?? tanya Sean datar tanpa menoleh ke arah Bella.


"tadi siang temanku Lusy mengajakku jalan-jalan weekend ini"


"lalu "


",aku ingin minta ijin padamu Sean,,,, bolehkah aku pergi bersama Lusy weekend ini"


Sean menoleh menatap Bella, "No Bella,,, kau harus tetap dirumah." ucap Sean tegas.


"aku sudah lama tidak jalan-jalan dengan Lusy Sean,"


"lalu apa masalahnya"


"aku rindu hidupku dulu" desah Bella pelan mengalihkan pandangannya.


Sean menghela nafasnya, "bukan aku melarang mu sayang,,,tapi....." Sean menjeda ucapannya.


"tapi kenapa " sambar Bella.


"tidak ada...." Sean mengelus pipi Bella


"jadi bagaimana mana,,,aku di ijinin gak???tanya Bella memastikan.


"baiklah...tapi dengan syarat kau pergi bersamaku"


"hah " Bella melotot


"kau bisa keluar bersamaku,,,kalau tidak mau ya sudah aku tak ijinkan" tegas Sean.


Bella mendesah ,"ya baiklah"


"begitu lebih baik sayang" mengelus puncak rambut Bella.


Wajah Bella merengut sebal, tidak bisakah ia berjalan-jalan sendiri dengan temannya, itu yang ada di benak Bella.