
"saudara Devan anda sekarang bebas"ucap pak polisi, membukakan sel tahanan.
"saya bebas pak? Devan terkejut
"iya"
Didepan kantor polisi Bu Marta menunggu Devan keluar, perasaan cemas dan khawatir menyelimuti hati Bu Marta.
"Bu,,,,,"panggil Devan, Bu Marta langsung memeluk anaknya, begitupun sebaliknya Devan membalas pelukan Bu Marta.
"Dev,,,,ayo kita pulang"ajak Bu Marta haru
"iya Bu..."balas Devan
Sesampainya di rumah bu Marta mengajak devan bicara. " Dev,,,,,ayo kita pindah dari sini"ajak Bu Marta tiba-tiba
"pindah,,,,, maksud ibu kita pindah kemana?Devan heran
"kita pergi dari kota ini,"
"tapi kenapa harus pindah Bu"
"ibu sudah menjual rumah ini kita harus pindah Dev,,ibu tak ingin kamu mengejar Bella lagi."kecam Bu Marta
"tapi bu,,,,"
"cukup Devan,,,,ibu tidak mau tahu kita harus pindah,,,apa kamu tidak sadar apa yang telah suami Bella lakukan padamu"bentak Bu Marta emosi
Devan tertunduk ia tidak bisa menerima keputusan Bu Marta,ia masih ingin membebaskan Bella dari suaminya.
"nanti malam kita akan berangkat kemasi barang-barangmu Dev,,,"perintah Bu Marta.
Mau tidak mau Devan menuruti kemauan ibunya,ia harus meninggalkan wanita yang dicintainya. Walaupun Bella mengatakan bahwa dia mencintai suaminya, tapi bagi Devan itu hanya alasan Bella agar menjauh dari Devan, atau Bella di ancam oleh suaminya, pikir Devan.
Dikamar dirumah Sean ia sedang memangku laptopnya mengerjakan pekerjaan yang belum terselesaikan. Bella datang dari luar membawakan secangkir teh hangat untuk Sean,ia duduk di samping Sean yang terlihat sibuk.
"Sean bolehkah aku keluar menemui bibiku'"
"boleh saja,,,,asal kau di antar oleh supir"Sean masih fokus ke laptopnya
"iya baiklah,,,"
"ingat bell,,,, kamu jangan macam-macam"ancam sean
"aku hanya menemui bibiku Sean,,"balas Bella dingin,sikap protective sean membuat ia tak bebas melakukan hal apapun.
"iya baiklah"sahut Sean
Bella bersandar di sofa menghela nafasnya, pikirannya berkelana memikirkan Devan. Sean melirik Bella yang sedang melamun.
"bell,,,"seru Sean ,Bella masih diam
"Bella,,,"sentak Sean
Bella menoleh. "iya"
"kenapa kamu melamun,,,apa kamu masih memikirkan mantanmu itu??sentak Sean menatap tajam Bella
"tidak Sean,,,'"
"lalu,,,,apa yang kamu pikirkan???delik sean
"a,,,ku,,,,,"Bella tak ingin Sean marah lagi, kalau sampai marah,sean tidak mengijinkan ia keluar rumah.
Bella meraih laptopnya dan meletakkan di meja,ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Sean.
"sudah lama kita tidak melakukannya Sean",ucap Bella dengan nada menggoda.
Sean tersentak tiba-tiba Bella menggodanya,Sean menyeringai ia tak akan melewatkan kesempatan untuk mencumbui Bella. Diangkatnya tubuh Bella ke ranjang.
"kau ingin sayang"suara serak Sean menahan gejolak hasratnya.
"iya,,,"ucap Bella dengan tatapan sayunya. ya Bella harus merendahkan dirinya saat Sean marah,ia masih trauma saat Sean marah ia tak segan-segan berbuat kasar dan Bella masih takut.
Tak ingin menunggu lama Sean meluncurkan aksinya, hasratnya yang telah lama tak tersalurkan sekarang menggebu-gebu mencumbui Bella dengan rakus.
Tubuh Bella menerima setiap sentuhan Sean,tapi hatinya menolaknya. Ia belum bisa menerima Sean menjadi suami sepenuhnya.
Setelah beberapa jam pertempuran panasnya,Sean mengakhiri permainannya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini, kapan lagi Bella meminta duluan,pikirnya.
Tubuh Bella terbaring lemas ia pun langsung terlelap saking lelahnya. Sean tidak akan puas saat bergumul dengannya,ia akan terus menerus menggempurnya walaupun Bella sudah kelelahan.
"terimakasih sayang"mencium kening Bella.
...💐💐💐...
"bi,,"sapa Bella saat datang ke toko kue bibinya
"Bella,,,"bi Marni memeluk Bella rasanya rindu tidak bertemu beberapa hari.
"kamu sehat bell,,,,"tanya bi Marni melepaskan pelukannya
"aku sehat bi,,,,'"Bella tersenyum
"ayo kita duduk dulu,,,,"ajak bi Marni
Bella dan bi Marni duduk saling berhadapan.
"bell,,,,bibi mau tanya masalah kemarin kenapa Devan bisa dijebloskan ke penjara???
"Sean cemburu melihat aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu"bohong Bella
"bi,,,Sean itu orangnya posesif ia tidak mau aku dekat-dekat dengan mantan"Bella beralasan
"apa sebegitunya dia sampai memenjarakan Devan?
Bella mengedikkan bahunya sungguh ia tak ingin bibinya mengetahui masalahnya.
"bibi jadi takut bell sama suamimu"
"takut kenapa bi,,,,dia tidak akan pernah berbuat macam-macam sama bibi"
"suamimu sepertinya tidak ingin kehilanganmu bell,,,, buktinya cuma masalah sepele dia bisa berbuat seperti itu,"
"sudahlah bi jangan pikirin dia,,,aku kesini buat ketemu bibi,kenapa bibi ngomongin dia terus,,,"ucap Bella tak suka
"maaf ya bell,,,,"bi marni tak enak
"aku ingin kue bi,,,aku ingin red Velvet"pinta Bella
"sebentar ya bell,,,bibi ambilkan"bi marni beranjak menuju etalase kue
drrtt drrtt drrtt
"hallo"seru Bella
"bell,,,kamu ke kantor sekarang"perintah Sean
"tapi aku baru sampe di tempat bibi"sahut Bella
"pokonya kamu ke kantor sekarang"Sean memutuskan panggilannya.
Bella mendesah ada apa dia disuruh ke kantor, pikirnya.
"ada apa bell??tanya bi marni cemas
"Sean menyuruh ku datang ke kantornya"desah Bella
"ya sudah kamu ke kantor sekarang, dari pada dia marah padamu"perintah bi Marni.
"tapi bi aku belum memakan kuenya"
"ya sudah bibi bungkuskan kuenya biar kamu bisa makan di kantor,"
"terimakasih bi"
Bella buru-buru ke ruangan Sean ia tidak ingin Sean marah. Bella masih trauma saat Sean sedang marah sean tak segan-segan berbuat kasar. Pintu ruangan dibuka,Bella menghampiri Sean yang tengah duduk di kursi kerjanya.
"Sean " seru Bella
"kemarilah" perintah Sean
Bella menghampiri Sean tepat didepan kursi yang diduduki Sean, ia pun menarik Bella duduk dipangkuan nya dan memeluknya.
"Sean lepaskan ini kantor, kalau ada orang yang tiba-tiba masuk gimana?? berontak Bella.
Sean tidak membalas ucapan Bella,ia memeluk erat tubuh Bella menciumi leher jenjangnya.
"Sean lepaskan"
"diam bell,,,,aku merindukanmu",lirih Sean di telinga Bella
"tapi Sean ini kantor"bentak Bella.
"aku tahu,,,,aku sudah mengunci pintunya saat kamu datang"
"bagaimana bisa???Bella keheranan, masalah nya Sean dari tadi tidak beranjak dari tempat duduknya.
"aku tinggal memencet tombol saja bell"
Bella mendesah sekaya apa sean sampai pintu saja terkunci otomatis oleh tombol.
Sean menyingkapkan kaos Bella sampai dadanya melihat bukit kembar yang terbalut kain bra.
"Sean "teriak Bella, namun Sean langsung ******* bibir Bella dengan rakusnya sampai Bella kehabisan nafas.
"kau gila Sean" nafas Bella ngos-ngosan
"aku tergila-gila padamu bell,,,, ******* kembali bibir Bella,perlahan tangannya meremas buah dada Bella yang begitu pas di genggamannya.
Bella mendesah nikmat buat Sean semakin bersemangat melanjutkan aksinya. Dilepaskannya bra yang membalut buah dadanya, ciuman yang awalnya dibibir sekarang pindah ke buah dada Bella. Menghisap dan menggigit buah dada Bella, sesaat Bella terbuai oleh sentuhan Sean,tapi ia kembali sadar mendorong tubuh Sean menjauh dari dadanya.
"Sean ini kantor"kata Bella dengan nafas memburu.
"aku tidak peduli bell,,,"meraih pinggang Bella memulai aksinya,Sean membopong tubuh Bella ke arah sofa dibaringkan nya tubuh Bella perlahan.
Sean menatap Bella dengan kabut gairah yang dari tadi menginginkan lebih.
Dibukanya satu persatu pakaiannya yang melekat di tubuh Bella. Sean memulai aksinya dihujani nya tubuh Bella seakan tidak ada puasnya. Bella pasrah saat Sean menggaulinya,
"bell aku sungguh tidak tahan melihat tubuhmu",desah Sean menatap gairah
******* demi ******* menjadi saksi bisu pergumulan Sean dan Bella di ruangan kerjanya. Kurang dari 1 jam Sean mengakhiri pergumulan panasnya. sebenarnya ia masih ingin tapi karena pekerjaan kantor yang belum beres terpaksa ia akhiri.
"bersihkan dirimu bell,," Sean menunjuk ruangan yang ada di dalam ruangan nya.
Bella mengangguk meraih pakaian yang bercecer dilantai akibat ulah Sean. Di ruangan yang ditunjuk Sean sebenarnya sebuah kamar lengkap dengan ranjang dan lemari pakaian, terdapat kamar mandi juga.
Bella membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pergumulan mereka, hatinya pilu saat melakukan hubungan intim dengan orang yang tidak ia cintai.