Terbelenggu Cinta

Terbelenggu Cinta
Osaka


Ryan bergegas masuk menuju unit apartemennya, ia ingin mengecek keadaan Bella. Dibukakan pintu kamar menengok ke arah Bella, ternyata Bella tidak tidur ia sedang duduk disenderan kasurnya.


"bell... kenapa gak tidur " Ryan menghampiri Bella.


"Ian gimana,,,apa kamu ketemu sama Sean ?? tanya Bella cemas


Ryan menunduk ingin ia mengatakan bahwa Sean telah tewas terbakar dimobilnya.


"gimana ian...apa kamu ketemu dengan Sean "tanyanya lagi


Ryan menggeleng perlahan, raut wajah Ryan menampakkan kesedihan.


"ian jangan katakan kalau Sean........" kata-kata Bella terjeda seolah ia mengetahui apa yang terjadi.


Ryan langsung memeluk Bella erat, air mata Bella mengalir deras dari kedua matanya, rasa sakit dan penyesalan menyelimutinya.


"ian kenapa Sean ninggalin aku.....aku menyesal telah pergi darinya" Raung Bella dalam dekapan Ryan.


"aku menyesal ian,,, seandainya aku tidak pergi dari rumahnya mungkin hal ini takkan terjadi."


"sudah bell,,,, tenang " Ryan mengusap-usap kepala Bella.


Bella menangis meraung-raung mengingat penyesalannya.


"sebaiknya kamu istirahat "ryan melepaskan pelukannya


"bagaimana aku bisa istirahat sedangkan suami ku entah apa yang terjadi padanya"


Sebenarnya Ryan tidak ingin memberi tahu detailnya,tapi Bella terus-terusan memaksa untuk menceritakannya. Dan akhirnya Ryan menceritakan bahwa Sean dan mobilnya di tabrakan kejurang dan mobilnya meledak hangus terbakar.


Mendengar itu badan Bella seakan lemas tak bertulang, ia tak menyangka Daniel akan berbuat demikian dan tidak menempati janjinya. Ryan mencoba menenangkan Bella yang terus-terusan menangis dan menyesali atas tindakannya yang pergi dari rumah Sean.


" Bella sekarang dengarkan aku...kita harus pergi dari sini" ucap Ryan.


"kenapa harus pergi,,,aku ingin melihat jasad suamiku ian "


"itu tidak mungkin Bella....orang yang telah menculik mu pasti tidak akan diam,,,dia akan terus mencari mu,apa kau ingin disekap lagi oleh mereka??


Bella menggeleng kuat. cukup kejadian tadi saja yang membuatnya trauma dan kehilangan suaminya.


"aku akan bantu kamu pergi dari sini "


"tapi kemana ian ????


"kita pergi ke Jepang ".


"tapi....."


"sudah tenang saja aku yang akan mengurus nya,, sebaiknya kita siap-siap ,,,kita pergi malam ini " ucap Ryan.


Bella hanya mengangguk.


Pukul 3pagi Ryan membawa Bella pergi ke landasan pesawat milik temannya. ia akan membawa Bella dengan menggunakan pesawat pribadi milik temannya Rio.


"terimakasih loe udah mau bantuin gua,,,,gua berhutang sama loe " ujar Ryan saat pamit pada temannya Rio.


"sama-sama bro,,,loe juga udah sering banget bantuin gue...jadi ya apa salahnya giliran gue bantuin loe " balasnya.


Ryan tersenyum memeluk temannya.


"ingat pesen gue jangan ada yang tahu gue kemana dan sama siapa " ujar Ryan.


"oke...aman sama gue. "


Setelahnya Ryan pamit,lalu menaiki pesawat membawa Bella pergi jauh dari negaranya.


Ryan memang mempunyai kehidupan biasa,,tapi itu hanya kedok untuk keluarganya, sebenarnya ia mempunyai perusahaan yang tidak diketahui oleh papa nya. Ia membangun bisnisnya sendiri diluar negri saat ia berkuliah dulu. Hingga bisnisnya berkembang pesat ia mengalihkan perusahaannya kepada orang yang dipercayainya


Saat papa nya ingin ia meneruskan perusahaan kepada Ryan,ia menolak karna itu bukan hak nya, ada yang lebih berhak yaitu Kakak Ryan, Mahesa. yang kini tinggal di Paris hidup sebagai seorang pelukis, Mahesa yang tidak ingin hidupnya diatur oleh papa nya pergi meninggalkan tanah kelahirannya,dan menetap di Paris. Ryan memang menuruti keinginan papa nya jadi seorang pembisnis tapi ia merasa tidak punya hak untuk meneruskan perusahaan papa nya. jadi ia memilih pergi meninggalkan rumah dan hidup di jalanan.


Hidup di jalanan membuat ia berteman dengan beberapa geng motor, Namun ia tidak sekalipun ikut melakukan hal yang biasa geng motor lakukan, ia hanya ikut nongkrong dan berdiskusi tentang bisnis. Bisnis yang ia dan geng motornya jalani ialah bisnis bar diskotik dan cafe. Namun ia mulai jenuh dengan kehidupannya yang mengurusi bisnis tersebut,ia kembali mengalihkan bisnisnya kepada orang kepercayaannya.


Ia pun mulai mencari kontrakan kecil untuk hidup barunya, ia ingin merasakan bagaimana jadi orang yang benar-benar biasa dan tidak mempunyai apa-apa. Hingga pertemuannya dengan bi Marni yang mengajaknya Bekerja di toko kuenya.


Perjalanan menuju ke Jepang kurang lebih dari 7 jam lamanya, Bella selama diperjalanan tidak bisa istirahat dengan tenang, pikiran tertuju kepada Sean, disaat Sean meninggal ia tidak ada disampingnya, penyesalan demi penyesalan yang sekarang Bella rasakan, air matanya mengalir tanpa jeda.


Setelah perjalanan panjang tibalah mereka di ibukota Osaka, Ryan mempunyai rumah dikota tersebut. rumah yang ia bangun untuk singgah di Jepang kala ada perjalanan bisnisnya.


Tiba dirumah Ryan yang di desain minimalis dengan seluruh lantai yang mendominasi kayu itu,tampak asri dan nyaman.


"masuklah bell" Ryan membukakan pintu rumahnya


Bella melihat sekitar ruangan yang cukup nyaman, dengan cat dinding mendominasi hitam dan putih.


"ini rumah siapa ian ???tanya Bella


"ini rumah temanku,,,dia memintaku untuk tinggal di sini sementara waktu" Ryan berbohong


Bella hanya mengangguk,Ryan membimbing Bella menuju kamar tidur yang berada di lantai atas.


"kalau kamu butuh sesuatu panggil aku...aku ada dibawah "ucap Ryan


Bella hanya mengangguk, setelah Ryan pergi Bella duduk ditepi ranjang, tiba-tiba air matanya mengalir,ia merindukan Sean.


Sean maafkan aku... maafkan aku meninggalkanmu...andai waktu bisa berputar aku ingin tidak pergi darimu,, maafkan aku sayang ....tangis Bella dalam hati.


Seminggu berlalu Bella masih diam dan murung, dia hanya akan duduk di balkon kamarnya sambil termenung sampai berjam-jam. Ryan yang melihat Bella kian terpuruk hanya bisa menemaninya,kadang disepanjang malam,Bella sering bermimpi buruk, berteriak menjerit dan menangis.


Ryan selalu sigap saat Bella terus-terusan menjerit dalam mimpinya. memeluk erat menenangkannya.


Dipagi hari Ryan sedang membuat sarapan untuk Bella, namun tiba-tiba Bella turun dari lantai atas menghampiri Ryan yang berada di dapur.


"kamu bikin apa ??? tanya Bella saat tiba di dapur.


Ryan terkejut biasanya Bella tidak pernah keluar dari kamarnya,bahkan Ryan selalu datang tiap pagi mengantarkan sarapan untuknya, Bella selalu termenung di balkon kamarnya.


"ah..aku..bikin roti bakar sama susu " jawab Ryan gugup.


Bella mengangguk pelan.


"apa kau sudah lapar,,,maaf aku terlambat mengantarkan sarapan untuk mu"


"tidak...aku hanya ingin sarapan disini saja." ucap Bella,ia duduk dimeja makan.


Ryan tersenyum tipis,ia menyiapkan sarapan untuk Bella dan dirinya, sarapan pun berlangsung dengan hening.


"Bella apa kau ingin jalan-jalan?? tanya Ryan setelah sarapan.


"hmm boleh...tapi aku ingin jalan-jalan sekitar sini saja" pinta Bella.


" tentu saja,,,aku akan menemanimu".


Ryan dan Bella pun berjalan-jalan disekitar rumahnya, jalan disepanjang rumah Ryan berjejer pohon sakura yang menghiasi di sepanjang jalan.


Bella sedikit merasa tenang menghirup udara segar disepanjang jalan. Ryan memang memilih rumah didaerah yang cukup asri jauh dari kebisingan kota.


"Bella apa kau suka???


Bella menoleh, menganggukkan kepalanya.


Ryan tersenyum tipis,melihat Bella yang mulai membuka dirinya,ia sedikit lega. Ryan dan Bella terus berjalan hingga udara mulai cukup panas Ryan mengajak Bella untuk pulang.


"kamu ingin makan apa Bell " tanya Ryan saat tiba di rumahnya.


"terserah kamu saja " Bella duduk di sofa menyandarkan kepalanya dan terpejam.


Bella...Bella..Bella..Bella...


suara Sean seakan menggema ditelinga Bella,ia membuka matanya,dadanya berdegup kencang napas Bella tersenggal-senggal, Ryan yang melihat Bella seperti itu, ia berlari menghampiri Bella,


"ada apa Bell " Ryan menggenggam tangan Bella.


"Sean....Sean.." ucap Bella nafas Bella memburu


Ryan memeluk tubuh Bella yang bergetar hebat.


"tenang bell,,,tenangkan dirimu,,,ada aku disini" Ryan memeluk tubuh Bella.


Air mata Bella mengalir dari kedua matanya, rasa penyesalan kepada Sean terus-menerus menghantuinya.


Bella menangis histeris dipelukan Ryan. ia merindukan suaminya sean.ia ingin pulang menemui jasad Sean.


"Ian....aku ingin pulang,,,aku ingin melihat jasad Sean ,Ian "pinta Bella berlinang air mata


"Bella....tenangkan dirimu,,,"


"Ian aku mohon aku ingin pulang,,,"


"Bella tenang..." Ryan memeluk Bella erat yang masih meracau ingin pulang. Lama Bella menangis dipelukan Ryan,ia mulai sedikit tenang.


Perlahan Bella tertidur dipelukan Ryan. Ryan membopong tubuh Bella ke kamarnya, membaringkan tubuh Bella dikasur dan menyelimutinya. Ryan duduk di tepi mengusap pelan rambut Bella, rasa kasian melihat Bella yang masih mengingat suaminya.


Wajah Bella kian hari kian pucat dan tirus,lingkar hitam di bawah matanya, begitu membekas. Ryan tidak bisa berbuat banyak hanya bisa menemaninya disaat-saat ia membutuhkan ketenangan.


______________________________________________


Dukung terus yaa like comment and vote


Biar author semangat up 🥰🥰🥰


happy reading 💐💐💐💐💐