Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Quenby


Siang menjelang sore, seperti biasa keluarga besar daddy Thomas berkumpul di ruang makan untuk makan sore tentunya mereka sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai.


Mereka makan tanpa ada mengeluarkan suara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum, para wanita kecuali mommy Gloria, Maya dan Quenby membereskan piring - piring dan gelas - gelas yang tadi digunakan sedangkan yang lainnya berkumpul di ruang keluarga.


Quenby duduk bersebelahan dengan Fico sambil sekali - sekali melirik membuat orang tua dan saudara - saudaranya tersenyum melihat kelakuan Quenby yang jarang tersenyum.


" Kak, lihat kak Quenby dari tadi melirik kekasihnya." Usil Nathan putra nomer 4.


" Maklum Nat, sebentar lagi kekasihnya pergi selama 3 bulan." Goda Aleandro putra nomer 1.


" Ada yang kangen nih." Goda Maximus putra nomer 2.


" Aku baru lihat kalau kak Quenby tersenyum biasanya jutek sama aku." Goda Yohanes putra nomer 5.


" Iya benar, kok aku baru perhatian ya." Ucap Cantika putri bungsu nomer 7


" Tidak tahu saja, selama berada di rumah sakit kak Quenby tidak mau jauh - jauh dari kak Fico." Ucap dokter Kasandra nomer 6.


" Kakak - kakak dan adik - adik rese deh." Ucap Quenby dengan bibir dimajukan.


" Kalian ini senang banget godain Quenby, duluan kalian juga begitu." Ucap mommy Gloria.


" Memang dulu kak Nathan bagaimana mom?" Tanya Maya penasaran.


" Tanya sama saudara kembarnya." Ucap mommy Gloria.


" Dulu Nathan itu jarang tersenyum, kalau ketemu sama wanita galaknya minta ampun dan jika ada yang mau mendekatinya langsung di maki - maki." Ucap Aleandro.


" Iya benar, dulu pertama kali kita bertemu kak Nathan galak banget sampai aku kesal." Ucap Maya


" Ceritakan dong kak awal ketemunya soalnya kak Nathan tidak mau bercerita tahu - tahu datang bersama kak Maya waktu kami ada acara kumpul - kumpul." Ucap dokter Kasandra kepo sambil melirik ke arah kakak kembarnya.


" Waktu itu aku pulang dari makan siang ada anak kecil yang bernama Dita mau diculik terus aku bantuin tolongin Dita tapi tiba - tiba ada bapak macan datang." Ucap Maya sambil melirik ke suaminya membuat mata Nathan mendelik tapi Maya hanya tersenyum menyeringai tanpa ada rasa takut sedikitpun.


" Bapak macan?" Tanya mereka serempak mengulangi perkataan Maya sambil serempak menatap Nathan sedangkan pelakunya hanya diam tanpa berbicara sedikitpun.


" Iya bapak macan yang bernama kak Nathan, tiba - tiba datang dan marah-marah tidak jelas setelah dibisiki anak buahnya marahnya tiba - tiba menghilang entah kemana dan ingin mengantarku ke kantor tapi aku tidak mau eh pas sampai di kantor aku di marahin sama bu macan alias bosku." Adu Maya.


" Memang kenapa dimarahi?" Tanya Quenby penasaran.


"  Karena aku terlambat datang ke kantor pas selesai jam makan siang." Ucap Maya.


" Jelaskan lebih detail kak." Pinta dokter Kasandra.


Maya pun menceritakan dari awal dirinya makan siang, menolong Dita, ketemu Nathan hingga dirinya di pecat dan ditawarkan Nathan untuk bekerja di kantornya sedangkan yang lainnya mendengarkan dengan setia.


" Kak Nathan memang galak kak, aku saja kadang suka kesal dengan omelan kak Nathan." Ucap dokter Kasandra.


" Iya benar kak Nathan memang galak dan benar kata kak Maya kalau kak Nathan dapat julukan bapak macan." Ucap Cantika.


" Tapi aku lihat sejak Nathan membawa Maya ke mansion sikap Nathan berubah apalagi sejak menikah." Ucap Quenby


" Iya benar berubah, tidak galak seperti dulu lagi." Ucap Aleandro.


" Sudah cukup ngomongin aku?" Tanya Nathan sambil memeluk istrinya dari arah samping.


" Hehehehe..." Tawa mereka terkekeh - kekeh.


" Maaf sayang." Ucap Maya sambil membalas pelukan suaminya dan bersandar di dada bidang suaminya.


cup


" Nanti malam double." Bisik Nathan


" Apanya yang double?" Tanya Maya ikut berbisik kemudian mengambil cangkir yang berisi teh manis untuk di minum.


" Hukumanmu karena sudah ngomongin aku di depan keluargaku." Bisik Nathan.


" Uhuk.... Uhuk... Uhuk..." Maya langsung terbatuk - batuk sambil meletakkan cangkir tersebut di atas meja.


" Minum pelan - pelan aku tidak minta." Ucap Nathan sambil membelai punggung Maya.


" Kak Maya memang apa yang dibisikkan kak Nathan?" Tanya dokter Kasandra kepo.


" Anak kecil ngga boleh kepo." Ucap Nathan.


" Kak Aska, marahin kak Nathan masa aku dikatain anak kecil." Adu dokter Kasandra.


" Kakak tidak berani karena kak Nathan kan galak." Ucap Aska


" Kasihan deh ngga ada yang bantu." Goda Nathan


Semua orang tertawa bersama sedangkan dokter Kasandra hanya bisa cemberut dengan keusilan kakak kembarnya dan bersamaan kedatangan kepala pelayan.


" Maaf tuan besar, nyonya besar, tuan muda dan nyonya muda." Ucap kepala pelayan sambil menundukkan kepalanya tanda hormat kemudian berjalan mendekati Nathan.


" Ada apa paman?" Tanya Nathan


" Maaf tuan muda, ada nyonya Bela." Ucap kepala pelayan.


" Suruh dia masuk." Ucap Nathan dengan wajah dingin.


" Baik tuan." Jawab kepala pelayan kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.


" Kasandra dan Cantika, anak - anak ada di ruang bermain jangan sampai ada yang keluar khususnya Dita." Ucap Nathan.


" Baik kak." Jawab dokter Kasandra dan Cantika serempak.


" Maya kamu temani Dita jangan sampai keluar." Perintah Nathan.


" Ok." Jawab Maya patuh dengan wajah berbeda tanpa di sadari oleh Nathan tapi keluarga Nathan mengetahui perubahan wajah Maya.


Maya, dokter Kasandra dan Cantika berjalan ke arah ruang bermain sedangkan yang lainnya menunggu kedatangan Bela.


" Aku akan menemani istri dan anak - anakku." Ucap Aska yang tidak bisa jauh dari istrinya yang bernama dokter Kasandra.


" Aku juga ingin menemani istri dan anak - anakku." Ucap Robert yang juga tidak bisa jauh dari istrinya yang bernama Cantika.


" Ok." Jawab Nathan singkat dan padat.


Ke dua pria tampan itupun berdiri dan berjalan ke ruang bermain menemani istri dan anak - anak mereka.


" Nathan, sepertinya kamu sayang pada Dita?" Tanya Aleandro.


" Tentu saja aku sangat sayang pada Dita."Jawab Nathan.


" Tapi apakah kamu tidak tahu wajah Maya?" Tanya Aleandro


" Memang kenapa dengan wajah Maya?" Tanya Nathan yang tidak peka.


" Nathan, kakak ingin bertanya jika seandainya kamu di suruh memilih Maya atau Dita mana yang kamu pilih?" Tanya Aleandro tanpa menjawab pertanyaan Nathan.


" Aku pilih dua - duanya." ucap Nathan


" Kakak kan bilang siapa yang kamu pilih?" Tanya Aleandro mengulangi perkataannya.


" Aku akan memilih..." Ucapan Nathan terpotong oleh kedatangan Bela dan seorang pria bertubuh gendut.


" Selamat sore Nathan." Sapa Bela tanpa menyapa yang lainnya.


" Ada apa datang ke sini?" Tanya Nathan dengan wajah sinis.


" Aku datang bersama pengacaraku untuk mengambil putri kandungku." Ucap Bela dengan nada santai.


" Aku menolaknya." Ucap Nathan dengan nada tegas.


" Kalau begitu bersiaplah kita bertemu di sidang kecuali..." Ucap Bela menggantungkan kalimatnya.


" Kecuali apa?" Tanya Nathan sambil menahan amarahnya.


" Kecuali kamu menikah denganku maka aku tidak akan mengambil Dita." Ucap Bela dengan nada santai sambil memainkan kuku - kukunya yang runcing.


" Kita bertemu di sidang." Ucap Nathan.


" Baiklah kalau begitu, pengacara kita pergi dari sini." Ucap Bela sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruang keluarga dengan diikuti oleh pengacara.


" Tunggu." Ucap Nathan.


Bela langsung menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya sambil tersenyum menatap wajah tampan Nathan dan tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata menatap mereka dengan wajah sendu.