Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Nathan


Nathan kini sudah sampai di perusahaan, semua pegawainya seperti biasa menyapa Nathan dan seperti biasa juga Nathan tidak memperdulikan sapaan para karyawan dan karyawati hanya berjalan lurus menuju ke arah pintu lift khusus petinggi.


Nathan menekan tombol lift dan tidak berapa lama pintu lift terbuka dan Nathan masuk ke dalam kemudian menekan kembali tombol lift agar pintu lift tertutup rapat lalu menekan tombol dua puluh lima di mana ruangan CEO berada


Ting


Pintu lift terbuka dan Nathan langsung keluar dan berjalan ke arah ruang CEO bertepatan bertemu dengan adik kembarnya yang bernama Yohanes.


" Bagaimana kak hasil meeting nya?" tanya Yohanes penasaran.


" Keruangan ku," jawab Nathan tanpa menjawab pertanyaan Yohanes


" Ok," jawab Yohanes singkat.


Yohanes sudah bisa menebak kerja samanya pasti gagal sedangkan Nathan berjalan ke arah ruangan kerjanya dengan di ikuti oleh adik kembarnya.


ceklek


Nathan membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam begitu pula dengan Yohanes, Nathan duduk di kursi kebesarannya sedangkan Yohanes duduk di kursi berhadapan dengan kakak kembarnya dan hanya dibatasi oleh meja.


" Kerja samanya batal," ucap Nathan tanpa basa basi.


" Kenapa kak?" tanya Yohanes.


" Kamu masih ingat dengan Ardela?" tanya Nathan


" Ardela? hmmmm ... ( sambil berpikir )... oh iya kak aku ingat dia mempunyai kakak kembar yang bernama Ardila mantan kekasih kakak," ucap Yohanes.


" Ingat Yohanes di depan istriku jangan sebut nama itu," perintah Nathan


" Memangnya kenapa kak?" tanya Yohanes dengan wajah polosnya.


Nathan yang sedang kesal mengambil pena dan di lempar ke arah dada Yohanes tapi Yohanes dapat menangkapnya sambil tersenyum meledek kakaknya.


" Jika kamu mengatakan maka aku tidak segan - segan mengatakan tentang Barbara di depan istrimu," ancam Nathan sambil tersenyum devil.


" Aish, kakak aku kan hanya bercanda jangan di ambil serius," ucap Yohanes sambil tersenyum pepsodent.


Dulu Yohanes dan Barbara adalah pasangan kekasih namun karena Barbara ingin mengejar cita - citanya menjadi seorang artis membuat Yohanes meminta Barbara untuk memilih salah satu pilihannya yaitu berhenti menjadi seorang artis dan mereka akan menikah atau memilih menjadi artis maka hubungan yang terjalin dua tahun lebih kandas di tengah jalan.


" Kalau kakak boleh tahu, apakah perasaanmu terhadap Barbara masih ada?" tanya Nathan


" Tidak ada kak, perasaanku sudah tidak ada lagi kak karena sifat istriku sangat baik dan tidak suka menghamburkan uang berbeda dengan Barbara. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan Aurora wanita yang menerimaku apa adanya dan juga Aurora sangat berbeda dengan wanita lainnya," ucap Yohanes.


" Begitu pula dengan diriku karena itulah kakak mengatakan padamu jangan mengatakan sesuatu tentang wanita itu sebab kakak tidak ingin istriku salah paham mengira kakak masih mencintainya. Padahal di hati kakak hanya ada satu nama yaitu Maya, wanita yang kakak cintai seumur hidup dan tidak ada wanita lain selain Maya." ucap Nathan dengan nada tulus.


" Sama kak, di hatiku yang terdalam hanya satu wanita yang aku cintai yaitu istriku dan tidak ada wanita lain selain istriku," ucap Yohanes.


" Oh ya hari ini tidak ada meeting lagi kan?" tanya Nathan mengalihkan pembicaraan.


" Tidak ada lagi kak, hanya dokumen menumpuk yang harus selesai hari ini," ucap Yohanes.


" Ok, kirim sebagian dokumen ke sini," perintah Nathan.


" Baik kak," jawab Yohanes sambil berdiri.


Yohanes turun dari kursi kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu ruangan sedangkan Nathan menghubungi istri tercintanya. Siapa lagi kalau bukan Maya dan sambungan pertama langsung di angkat oleh Maya.


" Hallo sayang," panggil Maya


" Hallo sayang, lagi apa?" tanya Nathan sambil tersenyum.


Yohanes yang hendak membuka gagang pintu mendengar kakak kembarnya menghubungi seseorang dengan sebutan sayang membuat Yohanes membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah kakaknya membuat Nathan membalas tatapan tajam adik kembarnya.


" Ada apa Yohanes? kenapa menatap kakak?" tanya Nathan tanpa menunggu jawaban Maya.


" Kakak menelepon siapa?" selidik Yohanes.


" Siapa lagi kalau bukan kakak iparmu yang bernama Maya, memang siapa lagi?" tanya Nathan.


" Hehehehe... Maaf kak aku kira...." ucap Yohanes menggantungkan kalimatnya sambil membalikkan badannya.


Yohanes membuka gagang pintu kemudian keluar dari ruangan kerja kakaknya sedangkan Nathan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kembarnya.


" Sayang, apa maksud Yohanes mengatakan hal itu? Apa jangan - jangan selama ini sayangku menghubungi wanita lain selain aku?" tanya Maya dengan nada cemburu.