Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Dita Pingsan


" Benar apa yang dikatakan Aleandro lebih baik kita pulang," ucap daddy Thomas yang melihat wajah lelah dan sedih istrinya bercampur menjadi satu.


" Tapi mommy masih ingin menunggunya hingga Nathan, Maya dan Sela sadar," ucap mommy Gloria.


" Oma istirahat saja, biar kami yang menunggu mommy, daddy dan kak Sela," ucap Seli sambil menggenggam ke dua tangan mommy Gloria dengan lembut.


" Baiklah, ingat pesan oma kalian jangan bertengkar," ucap mommy Gloria


" Baik oma," jawab Delon, Jimmy dan Seli serempak


" Maximus kamu juga pulang bersama keluargamu dan antar kan mommy dan daddy," ucap Aleandro


" Baik kak," jawab Maximus patuh.


" Cantika kamu juga pulanglah bersama anak - anak biar kakak bersama ke tiga ponakan kakak," ucap Aleandro pada istrinya.


" Baik kak," jawab Cantika


Merekapun berpamitan dan meninggalkan Aleandro, Delon, Jimmy dan Seli serta Presdir Axel yang sejak tadi diam tanpa mengeluarkan suara hanya menggenggam tangan Sela dan berharap Sela sadar. Di tempat yang berbeda Fico, Aska dan Lemos membawa Dita ke sebuah rumah kosong milik Lemos yang jauh dari penduduk.


xxxxxxxx Adegan Mengandung Kekerasan Jangan Di Tiru Dan  Jika Tidak Suka Mohon Di Skip xxxxxxxx


" Paman baru tahu kamu punya rumah kosong yang jauh dari mana - mana," ucap Fico


" Aroma darah sudah lama sekali aku tidak pernah menciumnya," ucap Aska sambil menghirup bau anyir bekas pem bu nu han yang di lakukan oleh Lemos pada musuh - musuhnya.


" Ingat Aska, pesan istrimu," ucap Fico sambil menggelengkan kepalanya.


" Aku tahu tapi saat ini aku ingin menikmati aroma darah apalagi sebentar lagi keluar dari tubuh Dita," ucap Aska sambil menarik Dita ke dalam ruangan bau anyir darah yang sangat menyengat.


" Hoek.... Hoek..."


Dita yang tidak kuat mencium bau yang sangat menyengat membuat Dita mual dan memuntahkan apa yang tadi dimakannya.


" Lepas," ucap Dita sambil berusaha melepaskan ke dua pergelangan tangannya yang di genggam oleh Fico dan Aska.


" Aku tidak akan melepaskan dirimu kecuali kamu sudah sekarat," ucap Lemos dengan nada dingin dan wajah datarnya.


" Paman Fico dan paman Aska di situ ada tiang kita ikat ke dua tangan dan ke dua kakinya," ucap Lemos sambil mengambil selang air.


" Ok," Jawab Fico dan Aska serempak.


Lemos menyiram tempat tersebut sekaligus bekas yang tadi dikeluarkan oleh Dita kemudian berjalan ke arah Dita dan mengikat tangan Dita yang di pegang oleh Aska dengan menggunakan rantai sedangkan Aska langsung mengikat kaki kanan Dita kemudian berlanjut kaki dan tangan kiri Dita hingga membentuk huruf X.


" Pertama - tama Dita, kita apakan dulu paman?" tanya Lemos sambil berfikir mencari metode penyiksaan yang lain.


" Paman sudah lama tidak makan bola mata jadi paman akan mengambil sepasang bola matanya untuk paman makan," ucap Aska.


" Aska, ingat dengan Kasandra kalau kamu berjanji untuk tidak melakukannya," ucap Fico


" Aish, kurang seru nih kak Fico," ucap Aska dengan wajah di tekuk.


" Bagaimana kalau kita tetap melakukannya tapi bola matanya kita tu suk saja sampai ke dalam," usul Lemos


" Setuju," jawab Aska dengan wajah kembali ceria.


" Lemos kamu mata di sebelah kanan dan paman di sebelah kiri," ucap Aska


" Siap paman," jawab Lemos semangat


" Paman Fico tidak melakukannya?" tanya Lemos yang melihat Fico hanya diam.


" Pamanmu sudah bertobat kecuali ada orang yang berani menyentuh tante mu," ucap Aska


" Aduh kak, bukannya memang seperti itu," ucap Aska sambil tersenyum devil


" Paman Aska, ayo kita lakukan sekarang lebih cepat lebih baik," ucap Lemos mengalihkan pembicaraan karena dirinya pusing mendengar perdebatan ke dua pamannya.


" Baiklah," jawab Aska sambil mengeluarkan pisau lipatnya dari balik saku celana panjangnya begitu pula dengan Lemos.


Aska memegang dagu Dita membuat Dita berusaha melepaskan diri tapi sia - sia karena ke dua tangan dan ke dua kakinya di ikat membuat Dita hanya bisa menggeleng - geleng kan kepalanya membuat Aska memerintahkan Lemos untuk memegang pipi kanan Dita sedangkan Aska memegang pipi kiri Dita agar tidak bergerak.


" Paman hitung sampai 3 kita tu suk bersama - sama... satu... dua  ... tiga ..." ucap Aska menghitung


Jleb                 Jleb


" Akhhhhhhhh!!! Sakitttttttttt!!!" teriak Dita ketika ke dua matanya di tu suk oleh pisau lipat milik Aska dan Lemos.


" Bagaimana rasanya buta?" tanya Lemos sambil tersenyum menyeringai


" Brengs*k lebih baik kalian mem bu nuh ku," ucap Dita sambil berteriak kesakitan teramat sangat


" Pada saatnya nanti kamu akan ma ti jadi bersabarlah," ucap Lemos sambil menepuk - nepuk bahu Dita agar tenang.


Fico dan Aska hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap ponakannya yang bernama Lemos karena sikapnya yang lucu, polos dan kejam.


" Paman Fico dan paman Aska kenapa menggelengkan kepala? Apa kepala paman pusing? kalau pusing paman bisa istirahat di kamar sebelah," ucap Lemos dengan wajah polos.


" Paman tidak pusing," jawab Fico dan Aska


" Sekarang apa lagi paman?" tanya Lemos dengan wajah polosnya.


" Paman ingin mengukir wajah Dita yang sok polos itu," ucap Aska.


" Bagus paman kalau begitu aku membuat tato di dua gunung kembarnya," ucap Lemos


Sreeeettttttttttttt


" Akhhhhhhhh!!! Sakitttttttttt!!!" teriak Dita ketika wajahnya di ukir oleh pisau lipat milik Aska.


Sreeeettttttttttttt              Sreeeettttttttttttt


Dita berteriak kesakitan sedangkan Lemos menarik dengan kasar pakaian milik Dita kemudian Hingga menampilkan bungkusan yang menutupi gunung kembarnya kemudian melepaskan pengaitnya kemudian menariknya dengan kasar hingga menampilkan dua gunung kembar milik Dita yang sangat menantang.


" Paman, gunung kembarnya montok paman mau mencobanya?" tanya Lemos


" Tidak, lebih montok punya tante mu," jawab Aska keceplosan


" Aska kamu jangan mengajari hal mesum ke Lemos," ucap Fico dengan nada setengah oktaf


" Hehehe..."


" Paman Fico, Lemos tahu kok tapi saat ini Lemos belum menemukan gadis yang membuat Lemos berdetak kencang," ucap Lemos.


" Kamu tahu darimana?" tanya Fico penasaran


" Dari daddy, waktu itu Lemos pernah bertanya dan daddy mengatakan semuanya," jawab Lemos.


Fico hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Aska sibuk mengukir wajah Dita dan Lemos memegang salah satu gunung kembar milik Dita kemudian mengukir nya tanpa memperdulikan rintihan kesakitan karena bagi ke tiga pria tersebut suara rintihan kesakitan merupakan alunan merdu di telinga mereka. Setelah satu gunung selesai Lemos memegang satu gunung lagi yang masih polos dan kembali mengukir nya begitu pula dengan Aska setelah pipi satunya penuh ukiran yang bercampur darah segar Aska melakukan di pipi satunya.


Dita sangat menyesali perbuatannya karena sikap iri hatinya membuat Dita mengalami seperti ini. Rasa sakit yang teramat sangat membuat Dita tidak sadarkan diri tapi ke dua pria tersebut asyik mengukir sedangkan Fico hanya menatapnya dengan datar.


" Dita pingsan paman," ucap Lemos