
Merekapun masih melanjutkan mengobrol hingga menjelang sore sedangkan di tempat yang berbeda seorang wanita yang berjalan dengan angkuh mendekati salah satu anak buahnya.
" Bagaimana sudah sadar?" Tanya wanita itu.
" Maaf nyonya, mereka berdua belum sadar juga." Jawab anak buahnya.
" Hah... Lama sekali mereka belum sadar." Gerutu wanita itu.
" Sudahlah aku pergi dulu." Ucap wanita itu sambil pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
" Baik nyonya." Jawab anak buah tersebut.
Wanita itupun pergi meninggalkan tempat tersebut bersamaan kedatangan dua dokter cantik berjalan ke arah anak buah wanita itu.
" Maaf dokter, ruangan ini tidak boleh dimasuki oleh siapapun hanya dokter dan perawat yang terpilih." Ucap pria itu berusaha menghalangi agar dua dokter tersebut tidak boleh masuk bersama teman - temannya.
" Ini rumah sakit umum dan setiap orang boleh melewati tanpa ada larangan terlebih kami adalah dokter." Ucap salah satu dokter cantik tersebut.
" Memang benar tapi maaf tidak boleh." Ucap pria itu bersikeras.
" Tapi aku akan tetap jalan ke ruang perawatan itu." Ucap dokter cantik tersebut bersikeras.
" Dokter, kami berusaha untuk bersabar jika dokter tetap memaksa maka kami tidak akan segan menembak dokter." Ancam pria tersebut sambil membuka jasnya dan memperlihatkan pistol ke arah dokter tersebut.
" Maafkan teman kami tuan, kami akan pergi." Jawab dokter satunya dengan wajah ketakutan sambil menarik tangan temannya.
Ke dua dokter cantik itu pergi meninggalkan tempat tersebut dangan berbagai pertanyaan terlebih dokter yang tadi memaksanya untuk masuk.
" Mereka siapa ya?" Tanya dokter cantik itu pada temannya karena masih penasaran.
" Dokter Alexa Keyla Abner, yang selalu penasaran dan tidak pernah mempunyai rasa takut sedikitpun." Ucap dokter tersebut menyebutkan nama temannya dengan lengkap karena sangat gemas dengan temannya sekaligus sahabatnya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Cerita tentang dokter Alexa Keyla Abner dapat di baca di novel Perjalanan Sang Psychophat
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Dokter Anabel William, dokter yang sangat tahu akan jiwa kepo ku." Ucap dokter Alexa membalas ucapan temannya.
" Aish nyebelin." Ucap dokter Anabel.
Dokter Alexa hanya tersenyum dan berjalan ke ruang kerjanya bertepatan ponselnya berdering membuat dokter Alexa mengambil ponselnya dari saku jas dokternya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.
" Daddy tumben telepon aku." Ucap dokter Alexa
Alexa menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.
" Hallo dad." Panggil dokter Alexa
" Kapan kamu pulang?" Tanya daddynya.
" Bulan depan dad." Jawab dokter Alexa.
" Sayang, daddy Alvonso telepon." Ucap istrinya dari sambungan telepon.
" Iya sayang." Jawab suaminya.
" Alexa nanti daddy telepon lagi." Ucap daddynya.
" Baik dad, salam buat opa Alvonso dan oma Laras." Jawab dokter Alexa
" Oke." Jawab daddynya.
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus dan dokter Alexa menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya sedangkan di negara yang berbeda Fico duduk di samping istrinya yang sudah selesai di ambil peluru dari perut Quenby.
" Kak Fico." Panggil Quenby lirih
" Iya sayang." Jawab Fico sambil membelai rambut Quenby.
" Maafkan kakak yang belum bisa mengendalikan emosi kakak, kakak terpaksa melakukan itu karena kakak melihatmu di tembak." Ucap Fico dengan jujur.
" Bagaimana dengan kak Aska? Tanya dokter Kasandra sambil menatap ke arah suaminya.
" Sama seperti kak Fico katakan melihat istri yang aku cintai di sandera dan di tambah kakak iparku terluka membuatku gelap mata." Ucap Aska dengan jujur.
" Terima kasih buat suamiku dan Aska yang melindungi ku dan juga melindungi adik kembarku Kasandra tapi aku mohon kendalikan emosi suamiku dan adik iparku Aska." Pinta Quenby
" Apa yang dikatakan adikku sama seperti yang aku minta dan kami sangat berterima kasih di lindungi oleh suamiku dan juga kakak iparku." Sambung dokter Kasandra.
" Kami akan berusaha." Jawab Fico dan Aska serempak.
" Oh ya kak Quenby dan Kasandra, apakah kalian tahu kalau mommy dan daddy masih hidup?" Tanya Nathan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Nathan tidak perduli apa yang dilakukan oleh kakak iparnya yang bernama Fico dan adik iparnya yang bernama Aska asalkan Fico dan Aska tidak melukai ke dua saudara kembarnya.
" Kamu serius?" Tanya Quenby sambil tersenyum bahagia jika ke dua orang tuanya masih hidup
" Kakak serius?" Tanya Maya, dokter Kasandra dan Aska serempak.
" Aku serius, keluarga paman Alvonso berhasil meretas cctv waktu kecelakaan." Ucap Nathan.
" Tapi kak, kalau memang ke dua orang tua kita masih hidup lalu ke dua orang yang tadi di kubur siapa?" Tanya dokter Kasandra.
" Mereka orang lain, mommy dan daddy di bawa oleh mereka dan digantikan sepasang wanita dan pria." Jawab Nathan.
" Ceritakan lebih detail." Pinta Aska.
Nathan pun menceritakan semua apa yang dilihatnya dari rekaman cctv dari awal kejadian hingga mommy Gloria dan daddy Thomas di bawa oleh mereka dan dimasukkan ke dalam truk sedangkan Quenby, Maya, dokter Kasandra dan Aska dengan serius mendengarkan cerita Nathan.
" Itulah yang terjadi." Ucap Nathan mengakhiri ceritanya.
" Aku sangat senang mommy dan daddy masih hidup tapi mommy dan daddy kemana?" Tanya Maya dengan wajah sendu sambil memeluk suaminya dari arah samping.
" Hiks... Hiks... Mommy dan daddy... Hiks... Hiks... Quenby kangen." Ucap Quenby sambil terisak membuat Fico mengusap bahu Quenby agar berhenti menangis.
" Aku juga kak, semoga saja keluarga besar paman Alvonso dapat menemukan mommy dan daddy." Ucap dokter Kasandra penuh harap.
" Amin." Jawab mereka serempak.
" Kak Nathan." Panggil Maya sambil mulutnya di tutup karena menguap.
" Ya sayang." Jawab Nathan sambil memandangi istrinya
" Aku ngantuk." Jawab Maya.
" Ya sudah kita ke kamar." Jawab Nathan sambil berdiri dari ranjang dan menarik perlahan tangan istrinya.
" Aku juga ngantuk, kita tidur yuk." Ajak dokter Kasandra sambil berdiri.
" Ayo." Jawab Aska singkat.
" Kak Quenby dan kak Fico, kami istirahat dulu nanti kalau ada apa - apa telepon kami." Ucap Nathan.
" Ok." Jawab Fico singkat.
" Aku juga ya kak." Ucap Maya, Aska dan dokter Kasandra serempak.
" Ok." Jawab Fico singkat lagi.
Maya, Nathan, dokter Kasandra dan Aska keluar dari kamar pengantin Quenby dan Fico menuju ke kamarnya masing - masing sedangkan Fico yang melihat adik - adik iparnya sudah pergi langsung membuka kancing kemejanya satu demi satu setelah terbuka semuanya Fico membuangnya secara asal hingga terlihat perut kotak - kotak Fico membuat Quenby menatapnya tanpa berkedip.
" Aku tahu, kalau aku tampan." Ucap Fico narcis.
" Aish ternyata suamiku narcis juga." Ucap Quenby sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
" Sayang." Panggil Fico sambil melepaskan celana panjangnya hingga menyisakan celana boxernya.