Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Kenapa kamu memukul ranjang?


Setelah mengeluarkan segala sesak dihatinya Kevin menggendong jenasah ayahnya yang sudah terbujur kaku dan dibawa ke rumahnya untuk didoakan.


" Rena, Rina." Panggil Kevin sambil menggendong jenasah ayahnya.


ceklek


" Ada a..." Ucap Rena menggantungkan kalimatnya.


" Ayah!!" Teriak Rena histeris kemudian menutup mulutnya."


" Ssttt sudah biarkan kakak masuk dulu." Ucap Kevin


Rena membuka pintu utamanya dengan lebar kemudian melangkah ke arah samping agar kakaknya dapat masuk ke dalam.


" Ayah kenapa kak?" Tanya Rina sambil keluar dari kamarnya.


" Ayah!! Apa yang terjadi dengan ayah kak?" Tanya Rina sambil menutup mulutnya seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.


" Ayah sudah meninggal." Ucap Kevin sambil meletakkan jenasah ayahnya di ruang keluarga kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil bantal miliknya untuk dipakaikan ke kepala ayahnya.


bruk


bruk


" Apa yang terjadi kak? Kenapa wajah dan tubuh ayah penuh luka?" Tanya Rina sambil jatuh berlutut di depan jenasah ayahnya begitu pula dengan Rena.


Walau mereka bertiga sangat kesal dengan sifat ayahnya namun ketika ayahnya meninggal mereka tetap sedih dan merasa kehilangan.


" Kakak tidak tahu, waktu kakak lagi jalan-jalan kakak tidak sengaja melihat ada orang berbaring di jalan pas kakak lihat ternyata ayah." Ucap Kevin menjelaskan ke Rena dan Rina sambil mengangkat kepala ayahnya kemudian meletakkan bantal untuk ayahnya.


" Kenapa cobaan ini datang terus menerus kak?" Tanya Rena dengan wajah sendu.


" Mungkin ini doa kak Maya agar keluarga kita hancur." Ucap Rina yang menyalahkan Maya.


" Kakak akan menghubungi ketua RW dan RT untuk mengurus jenasah ayah." Ucap Kevin tanpa memperdulikan ucapan adik bungsunya yang bernama Rina.


Kevin langsung berdiri dan keluar dari rumah kecil tersebut dan berjalan ke arah ketua RT dan RW setelah selesai entah kenapa dirinya menghubungi Maya. Panggillan ke dua barulah Maya angkat.


" Ada apa kak?" Tanya Maya tanpa basa basi.


deg


deg


Jantung Kevin berdetak kencang mendengar suara merdu Maya. Suara merdu mantan istri yang sangat dicintainya sekaligus dicampakkan. Dirinya sangat menyesali kenapa menyia-nyiakan wanita sebaik Maya. Dirinya selalu ingat ketika pulang Maya selalu menyambutnya dengan senyuman hangat, menyiapkan minuman dan tidak pernah mengeluh ataupun marah.


Maya sangat sabar menghadapi sikapnya yang egois begitu pula dengan sikap keluarganya yang sangat keterlaluan melakukan Maya seperti pelayan hingga dirinya terjerumus mengkhianati pernikahannya dengan selingkuh mantan cinta pertamanya hingga berakhir dengan perceraian.


" Ada apa kak Kevin?" Tanya Maya ulang.


" Maya, bisakah kamu datang ke rumahku?" Tanya Kevin.


" Ke rumah kak Kevin? Memang ada apa ya?" Tanya Maya.


" Kakak ingin memberitahukan kalau ayahku meninggal dunia jadi bisakah da..." Ucapan Kevin terpotong oleh Maya.


" Sayang.." Panggil Maya dengan nada manja.


deg deg deg


Jantung Kevin berdetak kencang wajahnya yang sedih berubah menjadi cerah ketika Maya memanggil dirinya sayang.


" Maya, ulangi lagi perkataan yang tadi?" Pinta Kevin


" Yang mana?" Tanya Maya.


" Kamu bilang padaku dengan kata sa..." Lagi-lagi ucapan Kevin terputus dengan ucapan Maya.


" Sayang, aku ingin lagi mumpung keluargaku sudah pada pulang." Ucap Nathan


" Kemarin sudah, terus tadi pagi sudah tiga ronde sayangku apa tidak lelah?" Tanya Maya tanpa sadar kalau ponselnya masih menyala dan terdengar jelas percakapan Maya dengan Nathan.


" Justru melakukan itu tidak pernah bosan sayang, dua ronde ya?" Ucap Nathan sambil menaiki tubuh istrinya.


" Maaf sayang aku baru ingat lagi terima telepon, nanti aku kasih 2 ronde deh." Ucap Maya.


" Kalau nanti tiga ronde." Ucap Nathan sambil menciumi leher Maya.


" Sayang... ahhhh.. iya aku janji tiga ronde." Ucap Maya sambil mendesah.


" Kalau lama empat ronde." Ucap Nathan


" Aish ... Sayang yang ada punyaku lecet." Protes Maya.


" Pffftttt hahahaha... Makanya jangan lama-lama terima teleponnya kalau tidak mau lecet. Aku mau mandi dulu dan ingat jangan tidur ya." Ucap Nathan sambil tertawa lepas dan mengangkat tubuhnya untuk berjalan ke arah kamar mandi.


" Iya... iya." Ucap Maya


" Hallo kak Kevin." Panggil Maya


hening


hening


" Hallo kak Kevin." Panggil ulang Maya


" Iya hallo." Jawab Kevin


" Maaf kak tadi suamiku..." Ucap Maya menggantungkan kalimatnya.


" Apakah kalian berdua sudah melakukan hubungan suami istri?" Tanya Kevin sambil menahan amarahnya.


" Tentu saja sudah pas kami selesai menikah malamnya kami melakukan hubungan suami istri." Ucap Maya polos


" Memang kenapa kak?" Tanya Maya


" Kenapa waktu kita menikah kamu tidak memberikan tubuhmu padaku? Padahal aku sering meminta hak ku tapi kamu selalu menolaknya." Tanya Kevin tanpa punya rasa bersalah sedikitpun.


" Bukankah awal kita menikah kak Kevin tidak mau melakukan hubungan suami istri dengan alasan masih belum ingin mempunyai anak dan memintaku untuk menunggu kak Kevin agar sukses terlebih dahulu?" Tanya Maya


" Kakak ingat itu tapikan setelah itu kakak ingin melakukan hubungan suami istri tapi kamu selalu menolak setiap aku menyentuh tubuhmu padahal kita sudah resmi menikah." Ucap Kevin yang merasa tidak bersalah.


" Memang benar saat itu aku selalu menolaknya karena aku sangat lelah dari bangun pagi hingga jam delapan malam aku berkerja mencuci pakaian kita, orang tuamu dan juga ke dua adikmu, memasak buat kita semua, membersihkan rumah yang sangat besar, belum lagi ketika ke dua adikmu membawa teman sekolahnya dan rumah langsung seperti kapal pecah." Ucap Maya


" Bukankah selama ini kamu tidak pernah mengeluh kenapa sekarang mengeluh? Aku tahu mentang-mentang sekarang dapat suami yang kaya raya makanya kamu mengeluh." Cibir Kevin.


" Dengar ya kak, aku bukannya mengeluh tetapi aku malas ribut dengan kak Kevin dan juga keluargamu. Selama ini aku selalu diam karena aku berfikir kak Kevin suatu saat nanti bisa berubah tapi ternyata tidak sama sekali bahkan berani selingkuh di depanku." Ucap Maya dengan nada ketus sambil menahan amarahnya.


" Itu salahmu kenapa kamu tidak mau memberikan kepuasan pada suamimu. Jadi jangan salahkan aku jika aku berselingkuh dengan wanita lain." Ucap Kevin tidak mau kalah dan tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun.


" Ya sudah anggap saja aku yang salah dan kak Kevin yang benar. Sekarang lupakan aku wanita yang tidak tahu diri ini dan semoga kak Kevin menemukan wanita yang lebih segalanya dariku wanita yang hanya bisa mengeluh." Ucap Maya


Tut tut tut tut


Maya mematikan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian melemparkan ponselnya ke arah ranjang.


" Akhhhhhhhh... Dasar pria gi*a!!!" Maki Maya


bugh bugh bugh bugh bugh


Maya memukul ranjang berulangkali untuk melampiaskan kekesalannya pada Kevin.


" Sayang, kenapa kamu memukul ranjang? memang ranjang ada salah padamu?" Tanya Nathan sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.