
" Hehehe... Istrimu ganas juga," goda Maximus
" Iya donk," jawab Nathan bangga tanpa sadar.
" Auch sakit sayang," ucap Nathan.
Maya sangat kesal sekaligus malu mencubit pinggang suaminya sedangkan Nathan yang tidak merasakan sakit sedikitpun malah seperti di pijat membuat Nathan pura - pura berteriak kesakitan.
" Kak Nathan aku kan malu sama kak Maximus," bisik Maya.
Nathan hanya tersenyum mendengarnya sedangkan Maximus yang mempunyai telinga tajam mendengar apa yang dikatakan adik iparnya.
" Jangan malu May, istriku kadang juga ganas di ranjang," ucap Maximus sambil menahan tawa.
" Kakak konsentrasi kalau tidak kami melakukan lagi di dalam mobil," ancam Nathan.
" Silahkan saja kalau tidak punya malu," jawab Maximus dengan nada santai.
" Berhubung adikmu tidak mempunyai rasa malu sedikitpun maka adikmu yang tampan ini akan melakukannya," ucap Nathan sambil tersenyum menyeringai
cup
Nathan dengan sengaja mencium kening istrinya kemudian memegang dagu istrinya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah cantik istrinya untuk mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candunya membuat Maya menatap horor.
" Lanjutin lagi kakak lempar kamu di jalan raya," ancam Maximus.
" Aish... Kakak tega ingin melemparkan adikmu yang tampan ini dengan bertelanjang dada?" tanya Nathan narcis.
" Tega saja kenapa tidak" tanya Maximus dengan nada acuh.
" Lho tadi kakak bilang lakukan saja kalau tidak punya rasa malu," ucap Nathan.
" Kakak pikir kamu masih punya malu tapi ternyata urat malumu dah ilang," jawab Maximus.
" Ssstttt... sudah jangan bertengkar, kak Maximus maaf konsentrasi mengendarai mobil," ucap Maya
" Kak Nathan stop jangan dilanjutkan lagi biar kak Maximus konsentrasi mengendarai mobil," ucap Maya yang melihat suaminya akan mengeluarkan suaranya.
Nathan langsung terdiam membuat Maximus menahan tawanya melihat adik kembarnya tidak mengeluarkan suaranya hal itu membuat Nathan menatap tajam ke arah kakak kembarnya.
" Oh ya, kok kak Maximus dan kak Nathan tahu dari mana aku di culik?" tanya Maya mengalihkan perhatian.
" Waktu kakak dan kak Aleandro pulang dari rumah sakit mommy mengatakan kalau kamu di culik lalu kakak dan kak Aleandro langsung pergi menyusul Nathan tapi di tengah jalan kakak dapat pesan dari tante Laras kalau kamu di culik dan kami langsung datang ke tempat di mana kamu di culik," jawab Maximus.
" Terima kasih kak," jawab Nathan
" Terima kasih untuk apa?" tanya Maximus dengan nada bingung.
" Karena kak Aleandro dan kak Maximus membantuku menolong istriku," jawab Nathan dengan tulus.
" Kita ini tujuh saudara kembar dan sudah sepantasnya sesama saudara saling membantu," jawab Maximus.
" Aku akan mengajarkan anak kami agar saling tolong menolong baik sama saudara kandung maupun sesama saudara sepupu," ucap Maya.
" Betul apa yang dikatakan Maya, kakak juga akan mengajarkan anak - anak kakak seperti yang kamu katakan,' ucap Maximus.
Nathan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan Maya dan kakak kembarnya yang bernama Maximus kemudian mereka sama - sama terdiam sibuk dengan pikiran masing - masing.
" Oh ya kak Nathan, kak Nathan tahu dari mana kalau aku di culik?" tanya Maya.
" Sama seperti yang dikatakan sama kak Maximus kalau kakak di kasih tahu dari tante Laras kalau kamu di culik dan untung saja kami datang tepat waktu," ucap Nathan.
" Aku bersyukur sekali suamiku, kak Aleandro, kak Maximus, Yohanes dan Aurora datang tepat waktu," ucap Maya.
" Kita sangat berhutang budi dengan keluarga besar paman Alvonso, bagaimana kalau salah satu anak kita di jodohkan dengan salah satu cucu paman Alvonso?" sambung Maya.
" Kakak sangat setuju jika salah satu anak kita dijodohkan dengan keluarga besar paman Alvonso," jawab Nathan yang tidak merasa keberatan.
" Benar kata kalian kita banyak berhutang budi dengan keluarga besar paman Alvonso, terlebih mereka semua membantu membebaskan ke dua orang tua kita yang di culik oleh para musuh," sambung Maximus.