
" Adakah air garam?" Tanya Aska
" Ada paman," jawab Lemos
" Siramkan ke tubuhnya," jawab Aska tanpa ada rasa empati sedikitpun terhadap Dita
" Baik paman," jawab Lemos
Lemos mengambil detergen berisi air yang sudah tercampur dengan garam kemudian membuka tutup tersebut kemudian tanpa punya rasa empati sedikitpun Lemos menyiram wajah dan tubuh Dita membuat Dita memaksakan untuk membuka matanya namun matanya tidak dapat melihat semuanya gelap gulita membuat Dita berteriak kesakitan.
" Sakit!!!! Aku tidak kuat.... sakit!!!! aku mohon bu nuh lah aku," mohon Dita sambil berteriak kesakitan
" Jika kami membunuhmu sekarang terlalu enak buatmu jadi nikmatilah rasa sakit yang tidak pernah kamu bayangkan sama sekali seumur hidupmu," ucap Lemos dengan wajah datar dan dingin.
" Kamu itu anak yang tidak tahu diri, jika bukan karena karena adik ipar ku kamu tinggal di jalan karena ayah kandungmu sudah meninggal makanya kamu di rawat oleh adik ipar ku yaitu Nathan daddy mu sedangkan ibumu pergi meninggalkanmu bersama pria lain." ucap Fico
" Kamu dan ibumu sama - sama sangat jahat, ibumu telah membuat oma dan opa kami meninggal sama seperti yang kamu lakukan yaitu merusak rem mobil selain itu ke dua mertua kami di culik dan diberikan racun ketika kondisi koma oleh ibumu dan bukan itu saja ibumu menyewa mafia lain untuk menyerang mansion milik mertuaku untuk menghabiskan keluarga besar mertuaku," ucap Aska sambil menahan amarahnya.
" Kamu tahu aku dulu tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang dari keluarga yang sesungguhnya tapi semenjak aku menikah dengan istriku aku merasakan kehangatan sebuah keluarga dan aku berjanji dalam hatiku siapa saja orang yang mengusik atau menyakiti salah satu keluargaku dan juga keluarga istriku maka hukumannya seperti yang kamu rasakan saat ini. " sambung Aska.
" Kamu tahu Dita, setelah kejadian penyerangan kami sekeluarga berkumpul untuk membicarakan tentangmu yaitu kamu mau dipindahkan ke panti asuhan mengingat ibumu sangat jahat pada keluarga besar kami tapi sayang mommy angkat mu dan oma mempertahankan mu untuk tidak memindahkan mu ke panti asuhan. Seandainya saja saat itu opa kami bersikeras untuk memindahkan mu ke panti asuhan hal ini tidak akan mungkin terjadi dan keluarga Nathan akan baik - baik saja," ucap Fico
"Kesalahanmu sangat besar membuat ke dua adik ipar kesayangan kami yaitu daddy Nathan dan mommy Maya serta Sela mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan karena itu terimalah apa yang telah kamu lakukan." sambung Fico sambil mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celananya.
Fico yang awalnya tidak ingin menyiksa tiba - tiba jiwa psychophat nya bangun dari tidur panjangnya membuat Fico berjalan ke arah Dita berbeda dengan Aska jiwa psychophat nya terbangun dari tidur panjangnya ketika Aska tiba - tiba mencium bau darah yang sangat menyengat di indra penciuman yang sudah lama tidak pernah dihirupnya.
Fico, Aska dan Lemos mengukir tubuh Dita di tempat yang kosong membuat Dita berteriak kesakitan hingga suara Dita semakin melemah dan lama - lama tubuhnya mengejang.
Dita sangat tersiksa antara hidup dan ma ti, Dita ingin berteriak untuk segera di bu nuh namun suaranya sulit dikeluarkan hingga lima belas menit kemudian akhirnya Dita menghembuskan nafas terakhirnya karena banyaknya darah yang tidak pernah berhenti keluar dari seluruh tubuhnya.
" Dita sudah ma ti," ucap Lemos yang tidak melihat pergerakkan tubuh Dita
Aska mengecek nadi Dita dan memang Dita sudah meninggal kemudian Aska men lap pisau lipatnya ke pakaian Dita hingga pisau lipatnya menjadi bersih dan diikuti oleh Fico dan berlanjut ke Lemos.
" Kita apakan mayatnya?" tanya Aska.
" Kita buka ikatan ke dua tangan dan ke dua kaki Dita setelah itu kita masukkan ke dalam lubang," ucap Lemos sambil berjalan ke arah Dita dan melepaskan ikatannya.
Fico dan Aska ikut membantu melepaskan ikatan Dita setelah selesai Lemos menekan tombol dan otomatis dinding yang berbentuk segi empat seukuran tubuh anak kecil terbuka kemudian Lemos melempar tubuh Dita dengan di bantu Aska setelah selesai Lemos menekan tombol kembali dan dinding itu pun otomatis tertutup kembali.
" Sudah selesai sekarang kita mandi," ucap Lemos sambil berjalan
" Mandi di mana? Apa lagi aku tidak membawa pakaian ganti," ucap Aska sambil ikut berjalan sedangkan Fico hanya diam hanya mengikuti Fico.
" Nanti paman juga tahu," ucap Lemos
Setelah mereka keluar dari ruangan tersebut Lemos memegang dinding dan otomatis dinding tersebut tertutup dengan rapat kemudian Lemos berjalan ke salah satu ruangan dan membukanya yang menggunakan sensor tangan.
Pintu tersebut terbuka ke tiga pria tersebut masuk ke dalam dan melihat ruangan tersebut sangat bersih berbeda dengan ruangan yang tadi mereka masuki.
" Paman dulu yang mandi," ucap Fico dan Aska serempak
" Apakah paman Fico dan paman Aska mau mandi bersama?" tanya Lemos
" Tidak," jawab Fico dan Aska serempak lagi.
" Kalau begitu siapa yang mau mandi duluan?'' tanya Lemos
" Paman duluan," jawab Fico dan Aska serempak lagi dan lagi.
" Aish, adakah salah satu yang mengalah?" tanya Lemos
" Aska kamu kan adik ipar jadi di mana - mana adik ngalah sama kakak," ucap Fico
" Kak Fico di mana - mana kakak itu mengalah sama adik jadi sebagai kakak yang baik harus mengalah sama adik ipar," ucap Aska sambil berjalan ke arah kamar mandi.
" Tidak bisa," ucap Fico yang tidak mau mengalah.
" Paman Fico, sudahlah mengalah sama paman Aska," ucap Lemos sambil memijat keningnya
" Aish, menyebalkan... cepat mandinya jangan lama," ucap Fico
" Ok kakakku yang tersayang," jawab Aska sambil tersenyum menyeringai
Fico menatap tajam ke arah adik iparnya sedangkan Aska tidak merasa takut dan berjalan dengan santai ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Sudah lama kamu memiliki rumah ini?" tanya Fico sambil menunggu Aska selesai mandi.
" Lumayan lama paman sekitar dua tahun lebih," jawab Lemos sambil membuka kancing jasnya kemudian mengambil plastik hitam ukuran besar dan memasukkan jasnya ke dalam kantong plastik tersebut.
" Kenapa pakaianmu kamu masuk ke dalam kantong plastik hitam?" tanya Fico dengan heran.
" Mau aku bakar paman karena tidak mungkin aku bawa pulang yang ada ketahuan mommy dan ke dua adik kembarku," jawab Lemos
" Daddy sama ke dua kakakmu tahu kalau kamu seperti ini?" tanya Fico
" Maksud paman?" tanya Lemos dengan nada bingung
" Seorang psychophat," jawab Fico
" Psychophat?" tanya ulang Lemos tidak mengerti
" Apa yang kita lakukan tadi namanya psychophat, apakah kamu tidak tahu?" tanya Fico dengan nada bingung
" Tidak tahu paman karena yang aku tahu aku sangat suka mendengar orang berteriak kesakitan seperti alunan melodi indah di telingaku," ucap Lemos dengan suara polosnya.